HAKIKAT DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB TERHADAP PEMERINTAHAN UTSMANI - 2
Muhammad bin Abdul Wahhab mampu menjalin kerja sarna dengan Muhammad bin Sa'ud yang mengorbankan harta dan anak buahnya untuk menegakkan dakwah tauhid. Kerjasama ini terjalin dengan asas asas yang kokoh. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berhasil melanjutkan dakwahnya kepada manusia melalui taklim, penulisan brosur dan buku-buku kecil juga nasehat-nasehat. Dia terus melakukannyak mengajar dan menulis buku-buku kecil yang dibarengi dengan hujjah-hujjah dan dalil yang menerangkan kebenaran apa yang dia dakwahkan. Dia mengajak manusia untuk menumpas kemungkaran dan menghancurkan kubah-kubah kuburan, serta mencegah semua sarana yang mengantarkan pada kemusyrikan dan melakukan ibadah sepenuhnya hanya pada Allah Yang Maha Esa. [ ]

Dakwah yang dia lakukan berlangsung dengan cara yang damai, pelanpelan sambil mengetuk pintu hati dengan penuh lemah lembut dengan penuh hikmah dan nasehat yang baik. Dia terus mengajar siapa saja yang datang menghadiri majlisnya dan senantiasa menerapkan akidah yang dianutnya. Dia menjelaskan prinsip-prinsip dakwahnya, baik pada orang yang dekat maupun yang jauh. Namun dia ternyata dihadapkan pada kenyataan, dimana dakwah dengan cara lembut ini dihadapkan pada penerimaan yang sangat keras. Kebenaran diterima dengan pendustaan, sedangkan nasehat yang baik ditanggapi dengan konspirasi. Maka tidak ada cara lain kecuali memasuki fase jihad dan melakukan perubahan kemungkaran dengan menggunakan kekuatan. Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair,

Jika tak ada lagi kecuali kepada tombak yang harus menjadi tunggangan

Maka tak ada jalan bagi yang terpaksa kecuali menungganginya. [ ]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mulai didukung oleh pangeran Muhammad bin Sa'ud dengan bantuan pengikutnya dan senjata untuk mengumpulkan kaum mujahidin dari Dir'iyyah keluar batas negerinya, dengan tujuan menebarkan dakwah dan pengokohan tiang-tiangnya di Jazirah Arabia maupun di luar Jazirah Arabia. Syaikh sendiri yang langsung memimpin pengumpulan pasukan itu, persiapan dan pemberangkatan mereka. Walaupun demikian, dia terus mengajar, menulis surat pada orangorang yang dia anggap penting, menerima tamu, mengantar delegasi. Allah telah menyatukan dalam dirinya ilmu dan kedudukan, kekuatan dan kekokohan setelah melalui jihad yang panjang. [ ] Dia memiliki pandangan politik yang tajam, pengalaman yang sangat luas dalam masalah perang dan politik. [7]

Peperangan antara pendukung dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan musuh-musuhnya berlangsung dalam jangka waktu bertahuntahun. Kemenangan sering berpihak pada pendukung dakwah. Beberapa desa jatuh satu demi satu. Pada tahun 1178 M./1773 M., Riyadh berhasil ditaklukkan oleh Pangeran Abdul Aziz bin Muhammad bin Sa' ud. Sementara itu, penguasa lamanya Daham bin Dawud melarikan diri. Dia dikenal sebagai seorang pemimpin yang zhalim, kejam dan selalu melakukan gangguan kepada para dai. Dia telah mengingkari kesepakatan yang dia jalin dengan para penyeru dakwah. Setelah ditaklukannya Riyadh, maka wilayah yang tunduk dan berada di bawah pengaruh dakwah semakin luas. Banyak orang yang masuk ke dalam dakwah ini dengan suka rela. Kini telah sirna hambatan-hambatan yang sering menghadang mereka, masalahmasalah yang dulu beku kini telah terbuka, kemudahan datang setelah lama dilanda kesulitan. Harta melimpah, keadaan menjadi tenang dan stabil. Manusia merasa aman hidup di sebuah negeri Islam yang baru lahir, dimana selama masa waktu yang panjang manusia tidak bisa menikmati keamanan.

Setelah meninggalnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dakwah terus bergerak maju yang mendapat dukungan dari Sultan dan dengan dukungan kekuasan ini dakwah pindah ke Hijaz yang sebelumnya berada di bawah kekuasan Syarif Ghalib bin Musa'id yang mulai melakukan serangan yang sengit terhadap keturunan Sa'ud, baik melalui jalur agama ataupun militer. Konflik antara keduanya terus berlangsung hingga tahun 1803 M, tatkala keturunan Sa'ud memasuki Makkah tanpa ada halangan apapun dari pihak Syarif Ghalib yang sebelumnya menekankan perang ke Jeddah. Dua tahun setelah itu, keturunan Sa'ud berhasil memasukkan Mekkah dan Madinah ke dalam kekuasaannya. [ ]

Pengaruh gerakan Salafiyah ini terus merambah ke sebagian besar wilayah Jazirah Arab. Inggris merasa terancam dengan adanya pengaruh yang semakin besar ini pada kepentingan-kepentingannya. Pemerintahan Saudi awal telah berhasil melebarkan kekuasaannya ke Teluk Arab dan Laut Merah. Semua kawasan yang berada di Teluk Arab masuk dan berada di bawah kontrolnya. Pengaruh ini juga sampai ke wilayah Selatan Irak dan juga berpengaruh di jalan darat yang membentang antara Eropa dan kawasan Timur. Lebih dari itu semua, sesungguhnya asas-asas keagamaan yang menjadi fokus pemerintahan ini telah memutuskan ketidakmungkinan Inggris untuk menjadikannya sebagai sebuah negeri yang taat atau menjalin kerja samma dengannya. Sebab tujuan utama dari didirikannya negeri ini adalah, untuk melawan kejahatan orang-orang asing yang ada di kawasan itu. [ ] Orang-orang Qawasim (kawasan-kawasan) sekitar yang didukung oleh kekuatan pemerintahan Bani Sa' ud, mampu melakukan serangan telak pada armada Inggris pada tahun 1806 M. sehingga perairan Teluk berada di bawah kekuasaannya. [ ]

Dari segi politik, pemerintahan Bani Saud mencapai puncaknya pada masa Saud bin Abdul Aziz, mengingat pengaruhnya telah sampai ke Karbala di Irak dan Huran di negeri Syam. Bahkan, seluruh kawasan Teluk, kecuali Yaman, berada di dalam kekuasaannya.