ISTIQAMAH DI JALAN ALLAH - 2
Adapun hadits Rasulullah yang memerintahkan untuk istiqamah adalah hadits di atas. Imam Nawawi dalam mengomentari hadits tersebut mengatakan bahwa hadits ini adalah salah satu hadits yang menjadi landasan ajaran Islam. DR. Mushthafa al-Buga dalam kitabnya al-Waafi ketika menjelaskan hadits ini menyebutkan pentingnya istiqamah hati, karena inilah landasan dari sikap istiqamah itu. Istiqamah hati dalam bertauhid kepada Allah dengan cara takut, mengharap, tawakkal dan beribadah kepada-Nya serta meninggalkan selain Allah . apabila hati bisa istiqamah dalam kebaikan maka anggota tubuh yang lain akan mengikutinya, sebagaimana sabda Rasulullah:

Artinya, Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya dan jika ia rusak maka rusaklah jasad seluruhnya. Ketahuilah ia adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Abdillah An-Numan bin Basyiir).

Hati adalah sumber kebaikan dan keburukan seseorang. Bila hati penuh dengan ketaatan kepada Allah, maka perilaku seseorang akan penuh dengan kebaikan. Sebaliknya, bila hati penuh dengan syahwat dan hawa nafsu, maka yang akan muncul dalam perilaku adalah keburukan dan kemaksiatan.

Keburukan dan kemaksiatan ini bisa datang karena hati seseorang dalam keadaan lengah dari dzikir kepada Allah. Ibnul Qoyyim al-Jauziyah berkata, "Apabila hati seseorang itu lengah dari dzikir kepada Allah, maka setan dengan serta merta akan masuk ke dalam hati seseorang dan mempengaruhinya untuk berbuat keburukan. Masuknya setan ke dalam hati yang lengah ini, bahkan lebih cepat daripada masuknya angin ke dalam sebuah ruangan."

Oleh karena itu hati seorang mukmin harus senantiasa dijaga dari pengaruh setan ini. Yaitu, dengan senantiasa berada dalam sikap taat kepada Allah Subhanahu wa Taala. Upaya inilah yang disebut dengan Istiqamah.