(Budayawan dan Guru Besar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung)
Buku Fandy Hutari ini memperkaya sejarah teater modern Indonesia. Banyak data baru yang dia sajikan, terutama bersumber dari penerbitan berkala di zaman Jepang, seperti Djawa Baroe dan Asia Raja. Begitu banyaknya data, terutama judul-judul lakon yang dipentaskan oleh berbagai rombongan sandiwara di zaman Jepang, sehingga diperlukan penelusuran lebih lanjut tentang naskah-naskah lakon tersebut.
Propaganda lewat teater dan film memang signifikan pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam buku ini, hanya propaganda lewat teater (sandiwara) yang dibahas, padahal justru propaganda lewat film lebih bermakna bagi kegiatan propaganda perang karena film lebih banyak ditonton rakyat dan durasi pertunjukannya juga tidak sepanjang sandiwara. Informasi yang memuat kegiatan propaganda tentara Jepang di Indonesia ini pernah ditulis oleh Aiko Kurasawa yang juga diacu oleh Fandy, hanya judulnya lain. Tulisan Kurasawa itu dimuat dalam majalah Indonesia No. 44 Oktober 1987 terbitan Cornell, judulnya Propaganda Media on Java Under the Japanese 1942-1945. Dalam tulisannya itu dicantumkan daftar film-film propaganda Jepang dan juga lakon-lakon sandiwaranya. Dan ternyata jumlahnya lebih dari 20 atau 30. Disebutkan pula otak propaganda Jepang itu, yakni Kolonel Machida (1942-1943), Mayor Adachi (19431945), dan Kolonel Takahashi (1945). Mereka ini lulusan khusus ilmu propaganda dari sebuah universitas di Amerika Serikat. Mereka ini menyadari bahwa propaganda melalui senimanseniman modern di Indonesia kurang efektif karena kaum seniman modern hanya dikenal dalam lingkungan terbatas kaum terpelajar Indonesia. Propaganda untuk rakyat harus dilakukan lewat seniman-seniman pedesaan, seperti wayang, ketoprak, ludruk, sandiwara Sunda, dan lain-lain. Tidak mengherankan kalau Cak Durasim terkenal sebagai pahlawan teater Indonesia karena kritiknya terhadap pemerintahan pendudukan Jepang, akibat ludruk dan jenis teater tradisional yang lain tak pernah memakai naskah lakon. Jepang sulit mengontrol kegiatan teater tradisional yang berdasarkan budaya lisan ini.
Buku ini memang hanya menyoroti kegiatan sandiwara modern di masa pendudukan Jepang di Jakarta saja. Dan Jakarta itu pusat kegiatan kaum terpelajar di Indonesia. Namun, Jakarta sebenarnya juga dekat dengan rakyat Betawi yang memiliki sejumlah teater tradisionalnya juga, misalnya lenong. Apakah lenong juga dipergunakan sebagai alat propaganda Tentu saja ini bukan wilayah garapan Fandy dan harus ada penelitian lain yang khusus membahas kegiatan teater tradisional di masa pendudukan Jepang.
Membicarakan seni propaganda di Indonesia boleh dikatakan adalah kegiatan yang jarang dilakukan oleh para scholars Indonesia, mungkin karena seni semacam itu kurang menarik dilihat dari sisi estetika. Dan itu dibuktikan oleh paparan sinopsis lakon-lakon propaganda di dalam buku ini
dan satu lakon lengkap dalam lampiran. Jelas terlihat di situ betapa naif dan dangkalnya isi propaganda dalam bentuk yang jauh dari sugesti estetik. Padahal propaganda berhasil justru melalui daya tarik estetiknya. Dilihat dari segi ini, maka semua karya seni yang baik sebenarnya merupakan propaganda pikiran dan pengalaman senimannya.
Dalam seni propaganda memang terjalin hubunganhubungan spesifik antara sponsor propaganda, seniman, medium seni, dan publik sasaran propaganda. Medium seninya jelas kita ketahui, yakni sandiwara. Sandiwara ini pada akhir zaman kolonial terpecah menjadi dua, yakni rombongan amatir yang bertolak dari kaum terpelajar-intelektual dan rombongan sandiwara profesional yang sudah tumbuh di kotakota besar Indonesia sejak zaman stamboel di akhir abad-19. Kalau kita perhatikan, memang aktivis sandiwara di zaman Jepang merupakan campuran antara kedua jalur tersebut. Yang intelektual bertolak dari sastra drama, sedang yang profesional bertolak dari tradisi lisan. Sandiwara propaganda zaman Jepang lebih diarahkan pada golongan terpelajar, dengan naskah tertulis, yang dalam buku ini terkumpul dalam Panggoeng Giat Gembira I, II, III, yang merupakan temuan baru dalam penulisan sejarah teater modern Indonesia dan ditulis dalam Bahasa Indonesia.
Sasaran propaganda ternyata rakyat jelata, seperti dapat disimak dari isi propagandanya yang mendorong pengorbanan harta dan kerja kaum tani untuk membantu tanah air atau negeri yang tak lain adalah tentara Jepang. Begitu pula dorongan untuk menjadi romusha yang lebih tertuju untuk rakyat jelata. Sebenarnya medium sandiwara terpelajar itu salah alamat karena penonton sandiwara dengan naskah adalah kaum terpelajar yang dilayani oleh rombongan amatir. Rakyat kota lebih tertarik pada rombongan profesional yang bekerja secara improvisasi dalam teater. Adapun sandiwara yang melulu berisi tarian, nyanyian, dan lawakan lebih tertuju pada hiburan untuk para prajurit di front. Mungkin inilah sebabnya medium propaganda lebih ditujukan pada medium film, yang dalam buku ini diceritakan dengan adanya perpindahan sandiwara profesional ke film pada tahun 1938 melalui suksesnya film Terang Boelan.
Seniman propaganda kebanyakan merupakan penulispenulis baru, baik orang Indonesia, Korea, maupun Jepang. Ini menunjukkan bahwa para penulis sandiwara lama lebih sulit diatur oleh seksi propaganda Jepang. Meskipun mereka menulis sandiwara juga, misalnya Armijn Pane, tetapi karya mereka tidak seharfiah karya penulis-penulis baru yang lebih naif dan dangkal akibat segi eksplisit isi propagandanya yang lebih menekankan pesan daripada bentuk estetiknya.
Pemesan propaganda bukan partai politik, melainkan pemerintah pendudukan Jepang sendiri, sehingga tekanan kekuasaan lebih kuat daripada kreativitas senimannya sendiri. Inilah yang membuat penulis sandiwara lama yang sudah berpengalaman kurang berminat meramaikan sandiwara propaganda ini. Pemerintah pendudukan menyamarkan kepentingan perang Jepang di Asia dengan janji-janji kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Itulah sebabnya anjuran romusha, pengorbanan harta benda, kegiatan menanam, kerelaan mengorbankan jiwa, ditujukan demi kepentingan negeri dan bukan Jepang.
Propaganda perang Jepang rupanya berhasil mendapat jawaban dari para penulis sandiwara Indonesia akibat janjijanji kemerdekaan ini. Dalam pikiran para penulis ini, kalau Jepang menang perang, berarti kemerdekaan Indonesia akan terwujud. Para penulis ini menjadi korban propaganda Jepang sendiri.
Buku ini menyediakan data baru yang berlimpah untuk menyusun kembali sejarah teater modern Indonesia. Kita baru mengerti jelas duduk perkara dibentuknya badan pendidikan sandiwara di zaman itu. Pelatihan-pelatihan sandiwara yang diselenggarakan merupakan usaha pihak sponsor propaganda agar lebih mudah mengontrol kegiatan-kegiatan propaganda mereka. Pemaknaan data memang agak kurang dilakukan akibat berjibunnya data baru, terutama lakon-lakon yang muncul begitu subur di zaman Jepang.
Sejarah hubungan antara perang dan sandiwara mengajarkan pada kita bahwa kegiatan teater modern Indonesia memang masih membutuhkan sponsor kekuasaan. Dukungan pemerintah dalam bentuk dana, kegiatan, produksi, kalau dilakukan secara terencana, ternyata menghasilkan kreativitas tinggi. Zaman Jepang yang hanya berlangsung sekitar tiga tahun ternyata menghasilkan karya-karya sandiwara yang berlimpah, menyamai kegiatan sandiwara komersial-profesional zaman kolonial.
Saya sendiri menyambut baik penerbitan buku seperti ini, sehingga dalam gambaran umum sejarah teater modern lebih terbaca karakteristik masing-masing zamannya. Penulisan buku ini lebih menukik, sekalipun masih dalam penyusunan data, belum sampai pada menemukan hubunganhubungan sistem yang membangun suatu makna sejarah tertentu. Cara kerja Aiko Kurasawa dalam meninjau zaman ini bisa dilanjutkan, yakni terjun langsung dalam badan propaganda Jepang yang menyimpan semua arsip kegiatan mereka di Indonesia, yang tentunya berbahasa Jepang.
Film-film yang dibuat pada zaman itu, yang kebanyakan berdasarkan lakon-lakon yang populer di lingkungan sandiwara profesional zaman kolonial karena kebanyakan pekerja film berasal dari kaum profesional ini, masih dapat dilacak dalam bentuk buku-buku roman terbitan Gapura sekitar tahun 1950-an, misalnya film Bengawan Solo, yang berisi cerita dan gambar-gambar filmnya. Dengan demikian kita dapat melacak isi cerita lakon-lakon terkenal dari rombongan semacam Dardanella yang kemudian banyak dibuat film, misalnya Dokter Samsi.
Menyusun sejarah berarti menyusun apa yang terjadi di balik peristiwa-peristiwa yang teraktualisasi dalam artefak, yaitu cara berpikir kolektif sezaman. Dengan mengamati sandiwara-sandiwara zaman Jepang, kita mengetahui atau membaca alam pikiran yang terkandung dalam data faktual. Itulah sebabnya kita perlu mengetahui pula lakon-lakon utuh yang ditulis pada zaman itu. Siapa penulisnya, apa isinya, kapan ditulis, di mana diumumkan, siapa publiknya, dan bagaimana dimainkannya.
Dalam lampiran di buku ini disajikan lengkap lakon sandiwara berjudul Djarak yang ditulis oleh D. Djojokoesoemo (Djaduk Djajakusuma). Dalam lakon ini diungkapkan bagaimana membilang usia seseorang berdasarkan sudah berapa terang boelan yang dialaminya. Mengapa tidak disebut tahun tetapi terang bulan Itulah perhitungan hari dan tahun orang Jawa yang berdasarkan lunar (hitungan bulan). Yang kita sebut malam Jumat sebenarnya hari Jumat, sehingga yang berlaku bukanlah hitungan hari, melainkan, malam. Dari lakon ini kita tahu pikiran penulisnya sebagai warga budaya Jawa yang muncul begitu saja secara natural tanpa disadari. Itulah yang saya sebut alam pikiran kolektif dalam lakon itu.
Sandiwara-sandiwara propaganda jelas berisi propaganda, namun cara menyampaikan propaganda itu kadang menyimpan cara berpikir kolektif budaya semacam itu. Cara berpropaganda penulis Jawa bisa lain dengan penulis Sunda atau Melayu, yaitu dalam cara mengungkapkan isi propagandanya. Cara berpikir semacam itu dapat dilihat dalam roman-roman penulis Sumatera yang menempatkan hari Jumat lebih penting dari hari Minggu.
Penelitian lebih menukik dapat dilakukan bukan hanya dengan menunjukkan data baru, tetapi juga kandungan data tersebut. Dalam buku ini banyak penafsiran digantungkan pada komentar sezaman terhadap kegiatan sandiwara. Ini memang penting dalam pendekatan emik, namun dilanjutkan dengan pendekatan etik (teoritik) lebih membuka peluang adanya struktur atau pola di balik benda-benda (artefak sandiwara).
Untuk saudara Fandy Hutari saya ucapkan selamat atas kerja kerasnya memburu berbagai arsip yang selama ini diabaikan dalam penulisan sejarah teater modern Indonesia maupun jenis seni yang lain. Sudah waktunya para peneliti siap berisiko terserang bengek akibat menghirup bau apak arsip-arsip tua, jangan hanya berada di belakang meja kamar seperti selama ini saya lakukan dalam menulis sejarah teater modern Indonesia, meskipun saya juga membuka-buka majalah-majalah tua.