A SHOULDER TO CRY ON - 20
WARTAWAN-WARTAWAN yang haus berita langsung menyerbu Imelda saat baru keluar dari ruang persidangan, memberondong dengan berbagai macam pertanyaan.

"Mbak Imelda, apa alasan Mbak mengganti kuasa hukum yang menangani kasus perceraian Mbak Apa benar rumor yang mengatakan Mbak punya hubungan spesial dengan pengacara sebelumnya"

Tidak ada satu kata pun yang diberikan Imelda untuk menjawab semua pertanyaan dari para wartawan infotainment itu. Bersama manajernya Imelda menerobos kerumunan wartawan dibantu beberapa aparat keamanan pengadilan yang membuka jalan di tengah kerumunan agar Imelda bisa bergerak menuju mobilnya.

Imelda mengenyakkan diri di sandaran kursi belakang mobilnya, menutup kaca mobil agar para wartawan berhenti mengarahkan kamera dan mengajukan pertanyaan yang sama padanya.

"Wartawan-wartawan itu makin gila," kata manajer Imelda saat mobil mereka sudah berjalan meninggalkan kantor pengadilan. "Untuk sementara jangan bikin berita apa-apa dulu deh. Gosip skandal kamu belum benar-benar teredam, kamu sudah memicu berita lain dengan mengganti pengacara. Pokoknya Mbak nggak mau kamu buat keputusan gila lagi yang akan memunculkan gosip baru."

"Bukannya bagus Semakin sering aku masuk infotainment, semakin dikenal banyak orang, bukan Bahkan dulu, saat aku baru memulai karier, Mbak merekayasa gosip untuk membuat aku dikenal orang, kan" timpal Imelda dingin.

"Sekarang beda, Mel, kamu sudah cukup terkenal tanpa gosip-gosip murahan itu... Berhentilah bersikap aneh, semua hal yang kamu perbuat sudah bikin banyak orang jengah."

Imelda menatap tajam pada manajer yang duduk di sampingnya. Inikah fungsi manajer saat artisnya sedang melewati banyak masalah Seperti inikah kata-kata yang harus didengar dari orang yang selama ini menyatakan diri sebagai orang yang terdekat dan paling peduli pada dirinya

"Kita langsung ke lokasi pemotretan, Pak," manajer Imelda memberi instruksi pada sopir. "Jangan, Pak! Kita balik ke apartemen," ralat Imelda tegas.

Manajer Imelda menatap marah. "Apa lagi sih, Mel Hari ini kita ada pemotretan untuk majalah."

"Aku mau balik ke apartemen. Sekarang!" tegas Imelda.

"Nggak bisa dong, Mel, kita sudah sepakat, kan Mereka bisa marah nanti, dan mungkin akan meminta ganti rugi."

"Aku bisa ganti, berapa pun yang mereka minta."

Manajer Imelda menghela napas putus asa. Dari raut wajahnya Imelda bisa melihat ketidakpercayaan di wajah manajernya. Mungkin selama ini manajernya mengira Imelda tidak akan pernah bisa membangkang, tidak bisa mengatakan "tidak" untuk semua saran, perintah, dan jadwal yang harus dijalaninya.

Tapi Imelda yang sekarang adalah Imelda yang sudah sangat lelah menjadi robot, menjadi apa yang mereka kehendaki. Imelda yang sudah tidak ingin tersakiti lagi.

***

"Kopi lo, Mar," kata Rio sambil meletakkan secangkir cappucino yang dipesan Damara.

"Thanks, Yo, tumben manajer sibuk kayak lo nganterin pesenan sendiri."

"Kebeneran aja gue lagi nggak ada kerjaan. Lagian gue kasihan liat lo duduk di sini malemmalem sendirian. Dan... juga gue lagi nyari tambahan, gue bisa jadi temen ngobrol kalo lo ngasih tip."

Damara tersenyum lebar menanggapi candaan temannya ini.

Setelah tawa Rio reda, ia mulai menatap serius ke arah Damara. "Gue makin prihatin ngeliat muka lo, Mar. Dari hari ke hari gue perhatiin makin kusut aja, kayak orang nggak tidur tiga hari. Kenapa sih, Mar Lo masih belum baikan sama Danu"

Damara mengulas senyum getir di bibirnya, terlalu banyak hal yang menyebabkan hidupnya terasa melelahkan, sampai-sampai ia sendiri tidak tahu mana yang membuatnya paling lelah.

"Udahlah, Yo, gue udah terlalu akrab sama berbagai masalah. Kalo gue nggak punya masalah, itu baru aneh..."

"Eh, tadi sore gue liat di infotainment, Imelda ganti pengacara ya Kok bisa gitu sih, Mar"

"Bisa aja, Yo, kalau dia udah nggak mau pake gue, ya... gue nggak bisa apa-apa," jawab Damara sekenanya. "Klien punya hak untuk ganti pengacara."

"Gue masih nggak ngerti kenapa dia harus ganti lo sama orang lain, padahal belakangan gue nyangka gosip kalian punya hubungan spesial itu bener..."

"Namanya juga hidup, semua bisa berubah drastis kalau memang diharuskan berubah."

"Jadi bener lo punya hubungan sama Imelda!" tanya Rio mendekatkan dirinya pada Damara dengan penuh keingintahuan.

"Sekarang udah nggak. Dia malah jadi orang yang paling benci sama gue," jelas Damara lalu menghela napas lelah.

"Alasannya apa Kenapa dia sampe benci sama lo"

Damara tidak langsung menjawab, tidak tahu harus memulai dari mana untuk menceritakan semuanya pada Rio. Sebab untuk mengungkapkan alasan sebenarnya, ia harus mengakui masih berhubungan dengan Anggun. Dan itu pasti akan mengecewakan Rio, sahabat yang selama ini tidak henti-henti mengingatkannya untuk tidak lagi berhubungan dengan Anggun.

"Banyak... terlalu banyak alasan untuk membenci gue," kata Damara lirih. "Lagi pula gue ngerasa nggak pantes buat dia, Yo."

"Kok gitu! Gue ngerasa nggak ada yang salah sama lo. Karier oke, kehidupan lo juga udah mapan."

Damara terdiam, bayangan Imelda saat mengatakan tidak ingin menyewa pengacara yang tidak bermoral tercetak jelas di benak Damara. Tatapan jijik Imelda saat mengatakan tidak mau berhubungan dengan laki-laki yang rela menukar hati dan tubuhnya demi uang telah menohok jantung Damara dan membuat hatinya mendadak kosong.

***

Banyak hal yang membuat Damara enggan pulang lebih awal dan memilih berlama-lama di kantor, mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan termasuk membereskan ruang kerjanya. Bukan hanya perseteruannya dengan Danu yang menyebabkan Damara merasa perlu menyibukkan diri, ada banyak alasan yang mengharuskan Damara untuk selalu bekerja. Damara menduga ia bisa gila kalau tidak mencari pelarian yang tepat dari semua masalah yang tengah memenuhi kepalanya.

Damara tidak akan membiarkan dirinya terpuruk, meratapi, menyesali, atau bahkan menyalahkan keadaan atas apa yang sedang dirasakannya. Ia tidak ingin kembali menjadi Damara yang lemah, walaupun sebenarnya sangat ingin menyandarkan tubuhnya pada seseorang yang dengan senang hati mendengar semua keluh-kesahnya, sejenak saja. Andai saja seseorang itu ada...

Handphone di saku kemeja Damara bergetar ketika ia tengah merapikan buku-buku yang menumpuk di atas meja kerjanya. Damara mengeluarkan handphone dari sakunya, dan begitu terkejut saat melihat nama Imelda terpampang. Merasa antara senang dan khawatir, Damara menekan tombol answer.

"Ya, halo..." kata Damara datar berusaha menutupi rasa senangnya. Tapi bukan suara Imelda yang terdengar di telinganya, melainkan suara seorang laki-laki asing yang langsung mengatakan ia menghubungi nomor Damara karena nomor teleponnya berada di urutan pertama recent calls di handphone Imelda.

"Iya, betul saya kenal dengan pemilik nomor ini... Ada apa Kenapa Mas yang menelepon saya" tanya Damara heran, sekaligus khawatir.

Laki-laki di telepon mengatakan Imelda mabuk berat di sebuah karaoke dan sekarang nyaris tak sadarkan diri. Laki-laki itu kemudian berinisiatif menelepon orang yang dikenal Imelda agar membantu membawanya pulang.

"Oke, saya segera ke sana! Bisa saya minta tolong Sebisa mungkin jangan sampai ada yang tahu lagi keberadaan Imelda di sana... Terima kasih sebelumnya."

Damara memasukkan handphone ke sakunya. Tanpa berpikir panjang, ia segera keluar dari ruang kerjanya. Ia harus segera datang untuk Imelda, entah apa yang akan terjadi kalau ia tidak cepat-cepat membawa Imelda pergi dari tempat itu.

Tiga puluh menit mengendarai mobil dengan kecemasan, akhirnya Damara sampai juga ke tempat karaoke yang disebutkan lelaki di telepon tadi. Karaoke tersebut diapit dua bar kecil yang pintunya tak pernah berhenti terbuka dan tertutup saat orang-orang setengah mabuk melewatinya sambil menggandeng pasangan yang mungkin baru mereka temui di dalam bar. Damara mempercepat langkahnya. Entah apa yang membawa Imelda sampai ke tempat seperti ini, padahal tempat ini terlalu berbahaya untuknya.

Damara berjalan di koridor temaram menuju ruangan karaoke yang disewa Imelda, beberapa kali berpapasan dengan pengunjung karaoke yang tidak sepenuhnya sadar, bahkan berpapasan dengan pasangan yang tak segan-segan berciuman di koridor. Mengabaikan semua pemandangan yang ia temui, Damara mulai mencari kamar nomor 23 tempat Imelda berada. Damara langsung mendorong pintu berplakat kuningan yang sudah usang, matanya langsung mencari sosok Imelda di ruangan berpenerangan temaram.

Damara menemukan Imelda menelungkup di atas sofa dengan posisi yang aneh, botol-botol minuman keras berserak di atas meja.

"Mel... kamu nggak apa-apa, Mel" Damara menepuk pelan pipi Imelda.

Imelda bergerak pelan, perlahan membuka mata dan menatap linglung ke sekeliling ruangan. Hingga akhirnya tatapan Imelda jatuh pada Damara yang menunduk di depannya.

"Ini sih udah kelewat mabok, masa sekarang gue lihat dia," kata Imelda terkikik lalu menggeleng-geleng seakan meragukan sendiri penglihatannya. "Gue bisa lihat dia!"

Tawa Imelda nyaring, sampai-sampai ia menelungkup kembali di sofa untuk menahan tawa gelinya.

Damara merasakan dadanya nyeri melihat kondisi Imelda seperti ini. Ya Tuhan... mengapa Engkau menghukumku dengan membuatku harus menyaksikan wanita yang kucintai seperti ini ratap Damara dalam hati.

"Bangun, Mel... Aku antar kamu pulang sekarang," kata Damara parau.

Mendengar suara Damara, Imelda menghentikan tawanya. Matanya yang memerah menyipit menatap Damara, berusaha mengumpulkan kesadarannya.

"Kamu betulan ada di sini"

"Iya, aku mau jemput kamu," kata Damara dengan sabar. "Ayo pulang, tidak baik kamu berada di sini."

Damara meraih tangan Imelda bermaksud menuntun Imelda keluar, tapi Imelda menyentakkan tangannya dengan kuat dari tangan Damara.

"Aku nggak minta orang seperti kamu datang ke sini," kata-kata dingin itu kembali terdengar.

"Aku nggak mau pulang sama kamu!"

"Tolong, Mel, jangan mempersulit keadaan. Tempat ini terlalu berbahaya untuk kamu."

"Bahaya... Bukannya ini tempat orang-orang seperti kamu berada Tempat kalian menawarkan jasa Kamu nggak bermaksud bilang orang-orang seperti kamu berbahaya, kan"

"Tolong, Mel..." desah Damara, rasanya ia sudah tidak tahan mendengar semua hinaan Imelda.

"Tolong untuk apa! Tolong supaya aku berhenti mengatakan semua fakta tentang kamu" tantang Imelda. "Kenapa Kamu merasa sakit mendengarnya"

Dengan menekan kemarahannya akibat hinaan Imelda, Damara membopong tubuh Imelda, memaksanya meninggalkan tempat ini.

"Lepasin! Apa-apaan kamu... Lepasin!" Imelda meronta kuat, memukul tubuh Damara yang terjangkau olehnya, membuat Damara terpaksa harus melepaskannya.

Imelda berusaha menegakkan tubuhnya yang sempoyongan, menatap marah pada Damara sebelum melayangkan tamparan keras.

"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu! Salah kalo kamu kira aku wanita yang bisa kamu bodohi!" tandas Imelda sengit.

Damara mengusap pipinya yang baru saja ditampar Imelda. Terasa panas dan begitu nyeri. Tapi ucapan Imelda membuat tamparan itu jauh lebih menyakitkan.

"Kamu sebaiknya pergi! Pergi saja ke tempat wanita yang selama ini memberikan apa yang kamu mau. Atau merayu wanita lain supaya kamu bisa dapat lebih banyak... Seperti apa sih cara kamu merayu mereka"

Cukup! Rasanya Damara tidak sanggup lagi menahan kemarahannya. Yang ingin ia lakukan sekarang ini hanya membuat Imelda berhenti bicara. Damara meraih tubuh Imelda, mendorong tubuh wanita itu ke sofa dan mencium bibirnya dengan kasar. Damara bisa merasakan Imelda meronta kuat berupaya melepaskan diri darinya, tapi sekuat apa pun Imelda meronta Damara tidak ingin semudah itu melepaskannya. Ia ingin Imelda berhenti menghinanya, ia ingin Imelda berhenti menyakitinya.

"Seperti itu cara aku merayu! Seperti itu cara aku mendapatkan uang," kata Damara keras, setelah akhirnya ia melepaskan Imelda. "Kalau kamu mau bayar aku, kita bisa melakukan lebih dari ini!"

Imelda menunduk, tubuhnya bergetar hebat. Air matanya menetes pelan ke tangan pucat di pangkuannya. Ada penyesalan menyelinap di batin Damara sekarang, ia sudah membuat Imelda begitu ketakutan dengan apa yang dilakukannya. Harusnya ia bisa mengontrol kemarahan dalam dirinya, seharusnya apa pun yang dikatakan Imelda untuk menyakitinya, ia tidak membuat wanita yang ia cintai seperti ini.

Dengan kemarahan yang seketika berubah menjadi penyesalan, Damara duduk kembali di samping Imelda, menatapnya dengan perasaan tidak keruan.

"Maaf, Mel, aku nggak bermaksud kasar sama kamu... Aku hanya nggak bisa mengontrol diriku," kata Damara, dengan hati-hati ia coba merangkulkan tangannya ke tubuh gemetar Imelda.

"Kamu menyakiti aku, Mar... terlalu dalam kamu menyakiti aku..." Suara parau Imelda bercampur isak tangis, menghentikan gerak tangan Damara. Ia kembali menarik tangannya.

Imelda mendongak, dengan tatapan nanarnya ia mengunci pandangan Damara, tatapan yang baru kali ini dilihat Damara dari Imelda. Sorot mata Imelda mengisyaratkan begitu banyak luka, penuh rasa sakit. Sampai-sampai Damara ingin membunuh orang yang sudah membuat wanita yang dicintainya seluka ini, tapi itu berarti harus membunuh dirinya sendiri, bukan

"Aku mau keluar dari sini," kata Imelda tiba-tiba. Mengejutkan Damara.

Imelda bangun dari sofa, mengusap air mata, dan menghela napas dalam.

"Aku antar kamu," kata Damara segera bangun dari sofa.

"Nggak perlu. Aku bukan wanita lemah yang butuh bantuan kamu," tegas Imelda, tanpa menatap Damara, ia memakai kacamata hitamnya lalu menyambar tasnya dari atas meja.

Tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk membuat Imelda mengerti dan membiarkannya membantu, Damara membiarkan Imelda berjalan meninggalkannya. Namun baru beberapa langkah saja, Damara melihat Imelda terhuyung, nyaris terjatuh. Damara refleks menangkap tubuh Imelda tepat sebelum jatuh menghantam lantai.

Tubuh Imelda melemah. Mata di balik kacamata gelap yang dilepaskan Damara terpejam. Setelah melepaskan jaket yang dipakainya untuk menutupi tubuh Imelda yang berpakaian agak terbuka, Damara segera membopong tubuh lemah Imelda.

***

Anka duduk di samping Danu, di sofa ruang tengah. Untuk pertama kali setelah mendengar pertengkaran antara Danu dan Damara, Anka mencoba memosisikan diri sebagai teman terbaik, yang siap mendengarkan segala keluh-kesah Danu.

"Ngapain, Nu" Anka mengumumkan keberadaannya pada Danu yang sedang menunduk serius membaca buku tebal. "Baca buku apaan"

"Bahasa Prancis, besok gue ulangan," jawab Danu tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah dibacanya.

Anka mengangguk singkat, bingung harus melanjutkan apa untuk mulai bicara tentang Danu dan kakaknya.

"Kak Damara belum pulang, dia lembur lagi ya, Nu" tanya Anka di tengah kebingungannya harus mengatakan apa.

"Mana gue tahu," cetus Danu sinis.

Anka terdiam. Rupanya ia salah menanyakan hal itu kepada Danu. Baru kali ini Anka melihat Danu sesinis ini bahkan selama bicara dengannya Danu sama sekali tidak melihat ke arahnya. Entah ini perasaannya saja atau memang benar adanya, Anka merasa ada yang berubah pada sikap Danu belakangan ini. Danu seperti tidak nyaman berada di dekatnya, sepertinya selalu menghindar.

"Lo kenapa sih, Nu Gue ada salah ya sama lo" tanya Anka akhirnya.

"Nggak ada yang salah. Gue lagi nggak pengin diganggu aja, Ka," jawab Danu, lagi-lagi tanpa menatap Anka.

"Jadi gue ganggu lo nih"

"Bukan gitu. Gue cuma lagi pengin sendiri... Boleh, kan"

Anka menatap tidak percaya ke arah Danu. Entah apa yang sedang dipikirkan Danu, Anka benar-benar tidak bisa mengerti. Dulu, saat ia menutup diri akibat kematian ayahnya, Danu mengatakan bahwa ia harus membagi apa yang dirasakannya agar orang-orang yang peduli padanya dapat menunjukkan kepedulian mereka. Tapi lihat yang dilakukan Danu sekarang, ia malah menolak berbagi apa yang sedang dirasakannya pada orang yang selama ini disebutnya sebagai sahabat.

"Lo nggak mau cerita tentang apa yang lo rasain ke gue Artinya lo udah nggak percaya lagi sama gue," tandas Anka. Menatap tajam ke arah Danu.

Danu bergerak serbasalah, seakan bingung apa yang harus dikatakannya pada Anka. Danu menutup buku yang sedari tadi seakan-akan menjadi pusat perhatiannya. Akhirnya tanpa pilihan ia membalas tatapan Anka.

"Nggak kayak gitu, Ka... Gue... gue nggak bisa cerita apa yang gue rasain ke lo."

"Emang kenapa Kenapa lo nggak bisa cerita sama gue, padahal selama ini lo selalu cerita semuanya sama gue, soal sekolah, Kak Damara, bahkan soal keadaan ayah lo di Bandung lo cerita semuanya. Kenapa sekarang nggak bisa"

Danu berdiri dan menghela napas panjang, lelah dengan perdebatan ini.

"Gue nggak mau bikin semua masalah yang ada jadi tambah ribet."

"Maksud lo..."

"Please, Ka, jangan paksa gue cerita," kata Danu datar. Seraya bangun dari sofa. "Gue mau tidur duluan, besok gue ulangan jam pertama... Kak Damara kayaknya nggak pulang, lo nggak perlu nunggu dia," kata Danu sebelum berjalan meninggalkan ruang tengah.

***

Damara duduk di samping tempat tidur Imelda, matanya menatap lurus dengan tatapan sulit diartikan ke arah Imelda yang terbaring di atas tempat tidurnya. Damara mengusap pelan pipi Imelda, perasaan menyiksa ini mulai terasa lagi dan menyesakkan dadanya.

Imelda bergerak gusar dalam ketidaksadarannya, membalik-balikkan tubuhnya seakan mencari posisi yang nyaman. Damara menyibakkan rambut Imelda yang menutupi wajahnya, tepat saat mata terpejam Imelda merembeskan setetes air mata.

Rasa sakit di dada Damara makin terasa begitu menyiksa. Ya Tuhan... apa yang telah dilakukannya, sampai-sampai membuat wanita ini begitu menderita Apa sesulit ini arti mencintai untuk orang-orang seperti dirinya Kalau memang benar orang seperti dirinya tidak pantas untuk dicintai dan mencintai, mengapa ia ditakdirkan merasakannya

Damara menghapus pelan air mata yang mengalir di pipi Imelda, berharap Imelda bisa merasakan penyesalannya. "Maafin aku, Mel. Aku nggak nyangka kalau perasaanku padamu justru menyakiti kamu... Aku cinta kamu, Mel... hanya itu yang bisa aku katakan."

Damara bangun dari kursi yang didudukinya, membalikkan tubuhnya untuk beranjak pergi setelah merapikan selimut yang menutupi tubuh Imelda.

Damara berlalu tanpa tahu sebenarnya Imelda mendengar semua yang dikatakannya, tanpa melihat air mata yang mengalir di pipi Imelda lebih dari satu tetes yang dihapusnya.

***

"Gue harus ke Bandung, Ndro," tegas Danu, saat ia mengeluarkan ransel besar dari lemari pakaiannya.

"Wah, jangan gila lo, Nu! Kak Damara kan bilang lo nggak boleh ke sana," kata Andro, terkejut dengan keputusan tak terduga Danu. "Nu, lo mana bisa pergi..."

"Kenapa nggak bisa Emang kalo tanpa izin Kak Damara, lo pikir gue nggak berani pergi... Lo salah, Ndro, gue udah cukup dewasa buat nentuin apa yang mau gue lakuin dalam hidup gue sendiri." Mata Danu menatap tajam ke arah Andro, seakan ingin menunjukkan pada Andro bahwa ia juga memiliki hak memutuskan apa yang harus ia lakukan. Danu melempar beberapa potong baju yang diambil dari lemari ke atas tempat tidur lalu memasukkannya dengan asal ke dalam ranselnya.

"Gue tahu lo berhak membuat keputusan apa aja di hidup lo. Tapi, Nu... lo harus inget kita Ujian

Nasional sebulan lagi... Lo salah kalo ngelakuin ini semua karena ngikutin emosi."

"Apa lo bilang!" refleks Danu membanting keras pintu lemari, membuat Andro yang berdiri tepat di samping lemari terperangah kaget. "Lo bilang gue ngambil keputusan ini gara-gara gue emosi!"

"Bukan gitu, Nu... Maksud gue..."

"Hampir tiap malam gue selalu ngebayangin gimana keadaan ayah gue di sana... dia sakit, Ndro! Sendirian, nggak bisa ngapa-ngapain. Apa menurut lo gue cuma nurutin emosi buat nemuin dia!"

Danu mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, menghela napas dalam sebelum menundukkan kepalanya dengan lesu.

"Gue takut kalo ayah gue kenapa-napa, Ndro... walaupun dia pernah jahat sama gue, dia tetap ayah gue dan gue tetap peduli sama dia," kata Danu parau.

Andro duduk di samping Danu, menepuk pelan bahu sahabatnya itu.

"Gue ngerti apa yang lo rasain, Nu," bujuk Andro. "Gue tahu lo pasti khawatir banget sama keadaan ayah lo di sana. Tapi bukan begini caranya. Kalau lo pergi dengan cara kayak gini, lo malah bikin semuanya jadi tambah runyam," jelas Andro. "Sekarang bisa aja lo pergi nemuin ayah lo, tapi sori, Nu... apa sih yang bisa dilakuin anak SMA kayak lo Ayah lo nggak cuma butuh perhatian dari anaknya, kan Dia juga butuh biaya pengobatan. Apa lo bisa sediain Cuma Kak Damara kan yang mampu ngasih itu semua"

Walaupun pahit, Danu harus mengakui apa yang dikatakan Andro memang benar. Tidak ada gunanya ia datang ke sana sendirian, tidak ada yang bisa dilakukannya di sana. Ayahnya tidak butuh sekadar perhatian, dia juga membutuhkan biaya besar untuk kelangsungan perawatannya. Dan sekali lagi Danu harus menelan kenyataan bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Danu mendesah.

"Sori, Nu, kalo yang gue omongin ke elo terlalu kasar."

"Nggak, lo bener kok, buat apa gue ke sana kalo gue nggak bisa kasih apa-apa..."

Dengan perasaan tidak keruan, Danu mengeluarkan semua pakaian yang tadi dijejalkannya ke dalam ransel, seperti mengeluarkan keinginannya untuk pergi menjauh dari semua hal yang membebaninya.

Tadinya Danu mengira dengan menemui ayahnya di Bandung ia bisa menghilangkan kecemasannya atas kondisi ayahnya, sekaligus belajar menerima kenyataan bahwa gadis yang selama ini begitu dipedulikannya, kini memberikan hatinya pada orang lain. Pada orang yang selama ini begitu dihormati dan dibanggakannya, orang yang selalu memiliki kemampuan untuk mengatasi segala masalah.

* * *

"Danu itu terlalu baik untuk menerima ajaran tentang kebencian. Sulit bagi Kakak membuat Danu mengerti apa yang Kakak rasakan," - Damara