NIKEN DAN PANDU - 20
Anak laki-laki itu diam saja. Tidak berniat sama sekali untuk menjawab, malah melengos. Tidak putus asa, Niken pindah ke kursi sebelah satunya. "Namaku Niken.

Keluargaku biasa panggil aku Fei Fei. Kamu boleh panggil aku apa aja." kata Niken sambil menyodorkan tangannya untuk berkenalan.

Diliriknya Oma yang memperhatikannya terus. Niken lalu tersenyum.

Melihat senyum Niken yang begitu ramah, akhirnya anak itu membuka mulutnya. "Namaku Hendri. Keluargaku biasa panggil aku Hendri. Kamu boleh panggil aku Hendri."

"Kocak juga kamu rupanya." kata Niken tersenyum lebar.

"Aku sebenarnya ingin menemuimu setelah pemakaman sebulan yang lalu."

lanjut Niken. "Tapi kamu sepertinya menghindariku terus. Enggak jadi deh akhirnya. Aku cuma ingin mengucapkan bela sungkawa karena kamu kehilangan kedua orangtuamu, sama seperti aku. Cuma aku yang bisa mengerti persis bagaimana perasaanmu, harus kehilangan kedua orang-tuamu."

"Kamu nggak tau gimana rasanya. Aku nggak pernah dekat sama Mami apalagi Papi. Aku nggak begitu sedih koq."

"Kalau begitu aku benar-benar tahu persis perasaanmu. Karena aku juga nggak pernah dekat sama Papa Mama. Tapi aku tetap saja sedih, terutama kalau mengingat kata terakhir yang aku ucapkan pada Papa adalah selamat tinggal untuk sementara. Menyesal sekali kata terakhir itu aku ucapkan dengan penuh kebencian, lebih tepatnya kekecewaan. Lebih menyesal lagi karena aku tidak sempat berbaikan kembali. Aku yakin kamu pasti merasa hal yang sama, ya kan"

"Aku dari awal memang nggak suka rencana Mami mau tinggal di Semarang. Makanya aku nggak ikut ke Semarang. Mami duluan yang ke Semarang. Rencananya sesudah naik kelas nanti aku bakal dipindah ke Semarang. Aku masih ngotot nggak mau. Sejak Mami pergi dari Malang, aku sama sekali nggak mau ngomong sama Mami. Aku masih marah."

"Dan waktu kamu dengar kejadian naas itu, rasanya menyesal sekali kamu nggak sempat minta maaf sama Mami kan Banyak hal yang aku sesali, Hendri. Aku bahkan menyesal tidak memberikan kesempatan buat diriku sendiri untuk lebih mengenal Tante Mia. Aku benci sekali sama Tante Mia karena telah menghancurkan keharmonisan rumah tangga keluargaku.

Walaupun aku juga sadar, keharmonisan itu pasti sebetulnya sudah hancur sebelum ada Tante Mia."

"Kamu tahu Aku juga benci sama Papi, setelah tahu bahwa ternyata Papi itu punya istri pertama. Aku baru tahu nggak lama sebelum Mami mau pindah ke Semarang. Sejak itu aku benci Papi dan segala sesuatu yang berbau Tjakrawibawa, termasuk kamu, saat aku mendengar bahwa Papi punya anak perempuan dengan istri pertamanya. Rasanya kebencianku itu nggak beralasan. Maafin aku, ya. Eh, aku boleh panggil kamu cici" tanya Hendri, yang ternyata memanggil papa Niken "papi".

Niken heran. Kenapa Hendri mau manggil dia cici Baru saja dia akan bertanya "Kenapa" sebelum akhirnya sadar bahwa status Hendri itu termasuk adiknya. "Telat mikir. Bodoh sekali".

"Tentu saja boleh. Belum pernah ada yang memanggilku cici sebelum ini." "Hendri, dengerin aku. Seandainya Papa mewariskan apapun padaku, aku akan berikan padamu. Aku nggak butuh apapun dari Papa. Rumah di Jalan Kenanga itu punya Mama, dan kebetulan sudah jadi hak milikku. Itu sudah lebih dari cukup buatku."

"Cie, aku juga baru mau mengatakan hal yang sama. Aku nggak ingin pindah dari Malang. Di Malang aku tinggal sama Oma dan Opa dari Mami. Uang tabungan Mami cukup-cukup sekali buat menghidupi seratus anak. Jadi aku bermaksud menolak warisan apapun dari Papi. Jangan berikan padaku. Aku nggak mau."

"Nah lho... bagaimana ini" tanya Niken bingung.

"Dilihat aja nanti. Belum tentu diwarisi juga." kata Hendri tersenyum.

Niken jadi teringat Omanya yang duduk sendirian. Niken lalu berjalan ke arah Oma, mendorong kursi rodanya jadi Oma bisa duduk di sebelah Hendri juga.

"Oma, ini Hendri." kata Niken mengenalkan.

"Bagaimana sih kamu, Fei Oma tuh sudah kenal. Tadi Oma juga sudah bilang." kata Oma geli.

"Oh, iya. Lupa." kata Niken sambil menepuk dahinya.

Kebetulan yang dijadwalkan untuk hadir sudah hadir semua. Lalu acara pembacaan warisan dimulai. Dimulai dari warisan Papa, lalu Mama, lalu Tante Mia. Seperti dugaan Niken, semua milik Mama diwariskan untuknya, kecuali rumah tinggalnya di Kebumen yang memang sudah dihuni oleh Oom Yongki, adik mama. Mobil BMW yang memang diatasnamakan Mama, jadi milik Niken. Juga harta benda Mama di bank termasuk deposito, tabungan dan simpanan emas. Niken bahkan tidak tahu bahwa Mama memegang polis asuransi jiwa, jadi Niken sebagai ahli waris mamanya mendapat hak penuh atas asuransi jiwanya.

Semua harta millik Tante Mia tidak semua diwariskan ke Hendri, melainkan dibagi tiga. Sesudah adik-adiknya besar, baru mereka berhak mendapatkan warisannya masing-masing. Tapi sepertiganya langsung diberikan pada Hendri. Termasuk dua rumah di Surabaya dan beberapa mobil mewah. Sampai saat pembacaan warisan Papa, tidak ada satupun orang yang protes. Papa mewariskan banyak hal ke banyak orang. Sepertinya seluruh keluarganya mendapat jatah yang adil. Untuk adik-adiknya, untuk Oma, bahkan teman-temannya. Barang-barang yang diwariskan termasuk saham-saham miliknya, tanah di beberapa tempat termasuk apartemennya yang di Jakarta, uang, dan masih banyak lagi barang kecil-kecil yang sayangnya sudah hangus bersama terbakarnya rumah Kinanti.

Untuk Niken, Papa memberikan rumah Kinanti, yang sekarang tinggal berharga tanah. Papa lebih banyak memberikan warisannya pada Hendri, termasuk uang tabungan pribadinya, karena dia anak laki-laki satu-satunya. Niken merasa lega. Dia sudah punya rencana bagus untuk memanfaatkan warisan Papa. Tanah Kinanti akan dia jual dan uangnya akan dia gunakan untuk menolong korban demonstran di hari naas itu. Walaupun uang mungkin tidak akan cukup untuk melupakan dan menebus kejadian naas itu, tapi pasti sedikit banyak akan membantu meringankan beban banyak orang.

Warisan Mama yang jumlahnya tidak sebanyak warisan Papa, akan digunakannya untuk membiayai kuliah kedokterannya sampai selesai. Beres, kan

Segera setelah selesai pembacaan warisan, Hendri langsung maju ke depan dan berbisik-bisik pada bapak Notaris. Setelah itu dia duduk kembali. "Kenapa, Hen" tanya Niken.

"Aku ingin mewariskan warisan Papa itu untuk dibagi rata buat kedua adikku setelah besar nanti. Biar mereka nanti yang memutuskan kegunaan warisan Papa itu." kata Hendri. "Benarbenar ironis." gumam Oma. "Maksud Oma" tanya Niken.

"Papamu itu dari muda ingin punya anak laki-laki untuk diwarisi kalau dia sudah meninggal. Sesudah dia tidak ada, anak laki-laki satu-satunya malah tidak mau diwarisi. Apa bukan ironis namanya"

"Warisan Papi untuk kamu mau diapain, cie" tanya Hendri.

"Oh, aku sudah putuskan untuk menghabiskan semuanya untuk korban demonstran waktu lalu. Rasanya lebih tepat untuk itu." kata Niken.

"Oma bangga sekali punya cucu-cucu seperti kalian. Hendri, kamu harus mengajari adik-adikmu supaya bisa seperti kamu." kata Oma sambil memeluk kedua cucunya.

Sabtu kemarin adalah hari terakhir ujian nasional. Hari ini hari Senin. Murid-murid kelas tiga terlihat begitu ogah-ogahan datang ke sekolah. Bahkan daftar murid terlambat hari ini mendadak berlipat ganda dari hari-hari biasanya.

Sepertinya energi mereka sudah terkuras habis minggu lalu. Beberapa anak bahkan tak terlihat batang hidungnya. Gedung kelas tiga terpisah dari gedung induk SMA Antonius. Hari ini muridmurid diharuskan datang karena ada acara kerja bakti membersihkan kampus selama tiga hari berturut-turut. Dari tadi

pagi anak-anak kelas tiga terlihat menggerutu sambil mengutuki orang-orang yang bertanggungjawab atas ide gila kerja bakti ini. Untunglah tak satupun dari mereka yang mengetahui siapa otak dibalik ide gila tersebut. Kalau sampai ada yang tahu, pasti saat ini orang tersebut sudah lari pontang-panting dikejar-kejar anak seangkatan. Atau mungkin juga tidak. Tak terlihat ada satupun anak yang mempunyai energi cadangan untuk mengejar kambing sekalipun.

Kecuali Pandu. Anak itu dari tadi sibuk mondar-mandir dari ruang soundsystem ke ruang musik. Kegiatan anehnya ini luput dari perhatian semua orang, karena semua anak sedang sibuk, atau pura-pura sibuk bekerja bakti membersihkan ruang-ruang kelas.

Tiba-tiba

"Test... test.. Dengar semua suara saya" Suara Pandu terdengar dari seluruh loudspeaker yang ada di gedung kelas tiga, yang memang biasanya digunakan untuk pengumuman.

Kegiatan kerja bakti jadi mendadak berhenti total. Mendengarkan pengumuman jauh lebih menarik daripada kerja bakti. Beberapa anak berdoa komat-kamit agar pengumuman itu akan berbunyi "Anak-anak kelas tiga boleh pulang sekarang".

"Rekan-rekan Antonians, hari ini saya Pandu, dengan seijin kepala sekolah, akan menjadi radio DJ dadakan untuk menemani teman-teman yang sedang sibuk bekerja bakti dengan alunan musik. Maaf untuk sementara tidak bisa menerima request lagu, berhubung kompilasi lagu yang ada saat ini sangat terbatas jumlahnya. Akan tetapi jangan kuatir, selera teman-teman pasti terpenuhi. Di sini saya sudah sedia tembang-tembang instrumental, jazz, pop, rock, klasik, dan dangdut. Lagu pertama yang akan saya putar ini adalah rekaman suara saya sendiri. Jangan takut, cuma satu lagu ini saja yang belum dirilis ke publik. Saya harus mengucapkan terima kasih pada Mas Baron Kanginan yang mengiringi lagu ini dengan alunan pianonya, juga membantu merekam ke kaset. Lagu ini saya persembahkan untuk orang yang selama ini memenuhi otak dan hati saya, meski waktu mengerjakan soal-soal ujian. Fei, lagu ini buat kamu.. "

Niken yang sedang berdiri di atas meja membersihkan kaca jendela, tersontak kaget. Walaupun tidak ada anak yang tahu 'Fei' itu namanya, tapi dia tahu. Dua tiga detik setelah Pandu selesai berbicara, jantung Niken berdebar keras berusaha menduga-duga lagu apa kiranya yang akan dimainkan anak nekad ini.

Begitu Niken mendengar intronya yang dimainkan dengan piano, Niken tercenung. Lagu ini lagu kesayangan papanya! Dan sangat dikenalnya.. Tapi... bagaimana mungkin... Pandu kan tidak bisa bahasa...

mo ming wo jiu xi huan ni shen shen de ai shang ni mei you li you mei you yuan yin mo ming wo jiu xi huan ni shen shen de ai shang ni cong jian dao ni de na yi tian qi ni zhi dao wo zai deng ni ma ni ru guo zhen de zai hu wo you zen hui rang wu jing de ye pei wo du guo ni zhi dao wo zai deng ni ma ni ru guo zhen de zai hu wo you zen hui rang wo hua zhe shou zai feng zhong chan dou mo ming wo jiu xi huan ni shen shen de ai shang ni zai hei ye li qing ting ni de sheng yin

Walaupun semenjak kecil Niken biasa mendengar papa-mamanya bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin, Niken tidak pernah benar-benar berusaha belajar dan mengerti artinya.

Butuh konsentrasi penuh untuk menghayati lirik lagu tersebut dan memahami maksudnya. Sulit, tapi bukan di luar jangkauan kemampuannya.

Aku tak mengerti mengapa kusuka kamu mencintaimu sedalam dalamnya tanpa alasan, tanpa sebab

Aku tak mengerti mengapa kusuka kamu mencintaimu sedalam dalamnya

Sejak hari pertama ku berjumpa denganmu

Tahukah kau, aku menantikanmu

Jika kau memang peduli padaku

bagaimana bisa kau biarkan malam tak berujung menemaniku Tahukah kamu, aku menantikanmu Jika kau memang peduli padaku bagaimana bisa kau biarkan tanganku gemetar mengayuh di tengah2 angin Aku tak mengerti mengapa kusuka kamu mencintaimu sedalam dalamnya di kegelapan malam kudengar suaramu

Campur aduk perasaannya saat ini. Niken jadi menyadari betapa kangen dirinya untuk dipeluk papanya. Meskipun Niken tak pernah merasa dekat secara pribadi dengan papanya, papanya tetap papanya. Niken tak menyangka bahkan suara papanya pun masih dapat diingatnya dengan jelas. Suara serak dan batuk-batuknya di pagi hari, siulan dan senandung kecil papanya dari dalam kamar mandi tiap pagi dan sore bila suasana hatinya sedang enak. Mamanya sebaliknya bersuara sumbang dan tidak bisa mengikuti ritme, tidak hobi menyanyi seperti papanya. Sewaktu kecil, Niken pernah melihat mamanya berdiri terpaku di depan kamar mandi selagi papanya menyanyi-nyanyi kecil di "studio mini"nya itu. Seperti apa wajah mama waktu itu jadi tergambar jelas di ingatannya sekarang. Wajah yang mendambakan kehangatan dan memimpikan lagu-lagu yang dinyanyikan suaminya itu ditujukan untuknya. Niken baru menyadari sekarang bahwa sejauh-jauhnya hatinya dari orang-tuanya, banyak hal dari mereka yang secara tidak langsung berimbas besar di dirinya. Heran bercampur bangga pada dirinya sendiri karena dia sanggup mengingat hal-hal kecil seperti itu, hanya dengan mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Pandu. "Pandu!" serunya dalam hati. Bahkan beberapa saat dalam lamunannya tadi dia lupa bahwa suara yang sedang mengalun lembut dari loudspeaker murahan itu adalah suara yang paling dikangeninya saat ini.

"Terima kasih, Pandu..." batinnya lagi. Tak disadarinya air matanya mengalir pelan di pipinya. Didengarkannya lagi lagu itu dengan sepenuh hatinya dengan mata berkaca-kaca. "Pandu pasti sudah latihan mati-matian sebelumnya", pikirnya. Pasti sulit menyanyikan lagu ini dengan lafal yang benar, terutama buat orang seperti Pandu yang sama sekali tidak bisa mengucapkan sepatah katapun dalam bahasa Mandarin. Entah dia belajar dari siapa. Yang jelas bukan darinya. Niken pasrah, membiarkan perasaannya larut dibuai oleh lagu romantis Pandu. Perasaan yang sudah lama ditekan dan dihalang-halanginya untuk muncul ke permukaan, kali ini dibiarkannya lepas, liar tanpa kontrol. Dan harus diakuinya, perasaan ini indah dan sangat memanjakan dirinya. Sendirian di dalam ruang soundsystem, Pandu memejamkan matanya untuk menenangkan debar jantungnya. "Kira-kira Niken sedang apa sekarang, ya" Jantungnya yang berdegup keras ini bukan karena grogi suaranya terdengar di seluruh pelosok gedung kelas tiga, tapi karena lagu ini adalah cerminan murni dari suara hatinya yang menginginkan hanya seorang. Niken. Dia sudah membayangkan kemungkinan terburuknya. Niken tambah benci padanya dan tak ingin mengenalnya lagi. Sepertinya itu resiko yang harus diambilnya, untuk membuat gadis bodoh yang amat dicintainya itu mengerti akan perasaannya. Bahwa dia tidak akan gentar mencintai Niken sampai kapanpun, sampai Niken berhenti mencintainya sekalipun. Tapi tentu saja dia mengharapkan reaksi positif dari Niken. Tidak harus sekarang, asalkan suatu saat dalam masa hidupnya.

Larut dalam lamunannya, Pandu tak menyadari lagu itu sudah selesai sekitar semenit yang lalu. Keheningan itu memecahkan lamunannya. Cepat-cepat memencet tombol 'stop' untuk menghentikan putaran kasetnya, Pandu mulai bercuap-cuap lagi.

"Demikianlah maestro yang memang karyanya sudah tak asing lagi di telinga rekan-rekan sekalian. Maksud saya tentunya Mas Baron Kanginan. Malu sebenarnya suara saya diiringi Mas Baron. Tapi apa boleh buat, untuk menyanyikan lagu dalam bahasa asing saja sudah sulit, apalagi latihan pianonya. Untung ada Mas Baron yang mau membantu. Maaf tadi sunyi senyap setelah lagu selesai. Maklum DJ masih belum profesional. Baiklah! Tanpa panjang lebar lagi, saya putar lagu kedua, ini Aerosmith, Crazy...." Tangan Pandu sibuk menempatkan kaset pada slotnya, lalu menekan tombol 'play'. Niken sudah lama berdiri di luar ruang soundsystem sambil mengetuk-ngetuk pintu kayu itu. Sepertinya suara di dalam soundsystem terlalu keras sehingga ketukannya tak terdengar oleh Pandu. Tak sabar, digedornya pintu itu dengan kedua tinju tangannya. Mendengar gedoran pintu, Pandu meloncat dari kursinya dan membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, Niken langsung memberikan senyumannya yang terlebar untuk Pandu. Seperti terhipnotis, Pandu pun ikut tersenyum lebar.

Ketika dua detik kemudian senyum lebar Niken yang manis berubah menjadi tertawa kecil,

Pandu tergelitik untuk bertanya "Koq malah tertawa"

"Habis kamu lucu sekali." sahut Niken masih tergelak.

"Lucu bagaimana" Pandu mengerutkan alisnya.

"Ya yang tadi itu. Kamu lucu bisa nyanyi lagu mandarin segala. Dari semua kegilaanmu selama ini, rasanya yang kali ini bisa meraih penghargaan tertinggi. Ngomong-ngomong, aku boleh masuk nggak" tanya Niken sambil melirik ke dalam ruang soundsystem.

Setelah dipersilahkan masuk dan Pandu menutup pintunya kembali, Niken menatap Pandu yang masih menyandarkan punggungnya di pintu. Membaca wajah Pandu yang penuh tanda tanya, Niken tersenyum lagi, berusaha menghapus kegugupan dari wajah Pandu. Tapi ternyata tak semudah itu melenyapkan ketegangan itu hanya dengan sebuah senyuman. "Bagus tadi lagunya, Ndu" Suara Niken memecah kesunyian. "Terima kasih, Fei. Tapi kita berdua sama-sama tahu, bukan tanggapan seperti itu yang ingin kudengar darimu."

"Kamu tahu arti lagu tadi" Pertanyaan bodoh, Niken! serunya dalam hati. Pandu melongo.

"Tentu saja aku tahu arti lagu itu luar kepala. Buat apa aku nyanyi kalau nggak tahu artinya"

"Maaf,.. Bukan itu sebenarnya yang hendak aku katakan. Entah kenapa yang keluar di mulut jadi lain.." keluh Niken.

Perhatian Pandu mendadak terpusat ke arah putaran kasetnya. Mengikuti arah pandangan Pandu, Niken hendak mengingatkan Pandu bahwa lagu Aerosmith ini sebentar lagi selesai. Pandu langsung mengetahui apa yang hendak Niken katakan. "Tenang saja. Kaset itu isinya lagu-lagu kompilasi. Biarkan saja berputar sampai habis. Sekarang aku lebih tertarik ingin mendengar apa yang ingin kau katakan."

"Kamu tahu Lagu tadi... Papa sering mendendangkannya..."

Deg! Sesaat Pandu limbung mendengar kata-kata Niken. Tanggapan Niken ini jauh di luar dugaannya.

"Fei..." Pandu mendekat. "Sama sekali aku tak bermaksud mengkorek lukamu... "

"Kamu selalu begitu. Tidak pernah membiarkan aku selesai bicara. Aku juga tidak bilang kamu mengkorek luka, koq."

Pandu membisu. Dibiarkannya Niken menyelesaikan kata-katanya kali ini. "Mendengarkan lagumu tadi, aku jadi menyadari dua hal penting. Pertama, bahwa Papa dan Mama justru sekarang malah tambah dekat di hatiku. Aku bukan anak yang tak berbakti. Sampai kapanpun mereka tetap papa-mamaku, yang memang jauh dari sempurna. Seperti aku pun yang tak sempurna. Tapi aku harus menemukan jati diriku sendiri, kemauanku sendiri. Aku tak pernah ingin hidup di bawah bayang-bayang mereka selama mereka hidup, dan aku tidak ingin memulainya sekarang."

Wajah Pandu berubah cerah. Di luar perkiraannya, lagu tadi sudah menyelamatkannya lebih dari yang dia harapkan. "Yang kedua" tanya Pandu kemudian.

"Aku jadi menyadari betapa sulit mengenyahkanmu dari hidupku. Apapun yang kulakukan, sepertinya tak membuatmu menjauhiku. Justru sebaliknya. Benar-benar mengesalkan!"

Pandu menatap mata bening Niken. Rasanya tak salah bila dia menyimpulkan bahwa di situ ditemukannya penyesalan, kepercayaan dan harapan. Penyesalan akan keraguan dan sikapnya sendiri, kepercayaan akan cinta Pandu, dan harapan akan kebahagiaannya bersama Pandu. Ditemukannya pula jawaban atas semua pertanyaannya.

Secara refleks, Pandu menarik pinggang Niken ke arahnya bak penari salsa. Ingin rasanya memeluk dan mencium Niken saat itu juga. Untung dia ingat ini di ruang sound system, di sekolah, pada jam pelajaran pula. Bisa berabe kalau sampai ada orang tahu. Mereka bisa dikeluarkan dari sekolah sebelum hasil ujian diumumkan!

Dengan berat hati dilepaskannya pinggang Niken dari pegangannya. "Sebetulnya aku datang kemari cuma ingin berkomentar satu hal. Kenapa jadi berlarut-larut dan melenceng dari tujuan awal begini" Niken menepuk dahinya. "Komentar apa" tanya Pandu tertarik.

"Di kegelapan malam kamu sering mendengar suaraku" tanya Niken sambil tertawa keras sekali. "Menakutkan sekali! Kalau aku jadi kamu, aku akan bawa-bawa pisau dapur tiap mau tidur! Kamu kira aku tuyul!" "Mari masuk Niken. Pandu lagi tidur siang tuh. Katanya capek setelah tiga hari kerja bakti di sekolah. Dibangunkan saja. Sudah jam setengah lima sore ini." kata Ibu Pandu saat melihat Niken datang.

"Hei, bangun, jangan ngorok terus!" kata Niken, mengagetkan Pandu yang sedang tidur dengan pulas.

Niken lalu menyalakan lampu kamar Pandu.

"Kamu kejam deh. Masih pegal-pegal nih!" Pandu mengomel. Sepertinya dia belum betul-betul bangun.

"Jalan-jalan yuk." ajak Niken.

"Malas ah." kata Pandu bersiap-siap mau bobok lagi.

Niken cepat-cepat menarik bantalnya. Buk! Kepala Pandu membentur kasur. "Apa-apaan sih kamu, Fei Aku ngantuk nih..." kata Pandu sambil memohon-mohon Niken untuk mengembalikan bantalnya.

"Ayo lah. aku sudah sampai di sini masa' diusir sih Cuaca di luar cerah tuh. Ayo keluar yuk." ajak Niken lagi.

"Ah, kamu memang kalo udah ada maunya." Pandu mengomel sambil beranjak berdiri.

"Oke, aku mandi dulu, kamu baca-baca majalah tuh" lanjut Pandu sambil menunjuk tumpukan majalah di lemari bukunya.