THE HALF BLOOD PRINCESS - 20
Aku benar-benar terkejut manakala kulihat sosok Gavner masuk melalui jendelaku, ini pukul satu lebih seperempat, ia meletakan telunjuk di bibirnya memintaku untuk diam, dan aku menurut saja, dia duduk di ujung tempat tidurku, aku menyalakan lampu mejaku.

Hai Ghie, maaf membuatmu terkejut, kurasa kamu sudah terkejut dengan rencana keluargaku, dan sekarang kamu terkejut dengan kehadiranku di tengah malam buta begini, bukan maksudku untuk tidak sopan, aku hanya ingin menjelaskan segalanya. Ada tatapan penyesalan dalam matanya. Apa maksudnyaMau ikut denganku aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Aku mengangguk menyetujuinya, cepat-cepat kusambar mantel tidurku, dia membantuku melompati jendela kamar, semoga tidak ada yang menyadari kepergianku, lantai kayu agak berderit, rumah panggung memang sensitif terhadap gerakan tapi kurasa Gavner melakukannya dengan mahir, dia membantuku melompati jendela. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi, suatu malam yang pernah kulewati dengan seorang cowok berujung tragedi, semoga itu takkan terjadi lagi,.

Di gerbang rumah Gavner meninggalkan sepedanya, dia memboncengku dan mulai mengayuh sepedanya, ada perasaan canggung, ketika kami sedekat ini, entah kemana dia membawaku, aku hanya ingin mengikuti maunya, apalagi mauku sekarang hidupku tidak lagi meminta pertimbangan keinginan pribadiku, akan ada ikatan, dimana aku hanya akan menurutinya, pangeran yang agung sejak dilahirkan ini hanya ingin mendapatkan apa yang menjadi keinginannya, aku hanya akan mengikutinya, ini untuk kebahagianku, mungkin atau begitulah pendapat kakek dan nenekku, pesona darah biru dan wajah rupawan siapa yang bisa menolak tapi bila boleh meminta aku hanya ingin menghabiskan hidupku pada cowok dengan senyum jail yang tau bagaimana cara membuatku bahagia, Danteaku merasa bersalah padanya.

***

Kami berhenti di depan sebuah rumah pohon, lelucon apalagi iniapa dia menganggap aku seperti teman-teman yang bila dia inginkan untuk bermain maka akan menemaninya bermain

Naik yuk ajaknya, aku hanya mengangguk dan mengikutinya. Gavner menyalakan beberapa buah lilin untuk menerangi rumah pohon yang mirip rumah pohon tempat bermain anak-anak cowok yang baru beranjak dewasa, kakiku menginjak miniatur pesawat terbang, aku sedikit meringis, Gavner menatapku, mencari tau apa yang membuatku meringis.

Are you oke

Aku mengangguk

Bila saja ini drama, suasananya akan sangat sempurna, cahaya lilin yang temaram dan calon tunanganmu yang rupawan, ditengah malam buta, lalu kami akan menutup malam ini dengan ciuman hangat sambil menunggu datangnya pagi Itu bukan ide bagus buatku walaupun terdengar luar biasa menggoda dan romantis, tentu saja, tapi sekali lagi, bila sang pangeran yang mulia mengiinginkannya maka dia akan mendapatkannya, apakah aku keberatan atau tidak kurasa dia takkan memusingkannya.

Kami duduk di beranda rumah pohon, kaki kami melayang di udara, cahaya bintang dan bulan di langit terlihat indah, aku memilih menatap langit mencoba mengaguminya, mencoba tak ingin tau apa isi otak sang pangeran.

Ghie

Ya

Aku minta maaf

Untuk apa yang mulia tanyaku ketus Betapa beruntungnya menjadi dirimu, kamu memintanya maka kamu akan mendapatkannya.

Ghie!

Kamu mendapatkannya! Aku menyetujuinya, terima kasih karena telah memenjarakanku dalam sangkar emasmu yang mulia

Seandainya bisa memilih, maka kamu pasti akan menolak dia menebak padahal dia tau jawabannya.

Apakah aku punya pilihan

Maafkan aku

Untuk apa minta maaf bila kamu memang menginginkan hal ini, maaf takkan ada gunanya!hanya terdengar manis ditelinga

Ghiekamu berhak marah.

Marah pada yang mulia Kurasa aku tak bisa ada nada mengejek dalam suaraku yang kudengar serak, ini pasti karena aku telah kebanyakan menangis, haruskah aku menangis lagi

Kamu boleh menumpahkan amarahmu, lampiaskanlah Apa yang diinginkannya

menjadi pangeran yang terlihat sempurna Haruskah aku menangis bahagia karena seorang pangeran yang mulia memintaku untuk menumpahkan amarah padanya

Plakkkk, sebuah tamparan, kurasa cukup keras, kurasa cukup untuk mengurangi marahku. Gavner tersentak, dia memandangiku, alih-alih merasa terhina dan marah, dia malah meraihku, dan memelukku, membelai rambutku, dan membisikkiku, Menangislah dan akupun menangis.