KEPULANGAN KELIMA - 20
Kerap kali harus kutunggu malam datang mengirimkan

kabut dan sepoi angin ke halaman rumahku juga bisik-bisik ganjil

yang kadang tak pernah bisa aku pahami sebelum kutuliskan sebuah

puisi padamu, ibu

Malam ini, jendelaku

menggigil berangin-angin

Tiba-tiba kuingat kampung

halaman

aku rindu tembakau, sungai, padang rumput, pancuran,

serta aroma pepohonan, juga pagi serta malam-malam

masa kecilku

Kuingat satu per satu nama sahabat kubuka

dan baca satu per satu kenangan

O, tanah sejauh ini tanah

sejauh ini aku rindu

kampung halaman