Pada umumnya, tokohtokoh dari zaman ini mendasarkan pemikiran mereka pada penelaahan filosofis yang mendalamtentang manusia dan masyarakat serta menjadikan telaah ini sebagai asumsiasumsi dasar dalam menjelaskan realitas di sekeliling mereka. untuk itu, tidak jarang mereka harus ber kutat dalam dunia epistemologis yang rumit untuk mengerti lebih jauh tentang hakikat manusia, sebab pada umumnya mer eka menganggap bahwa manusia dan realitas hanya dapat di mengerti dari apa yang diketahuinya, dari kesadaran dan pengetahuan yang diperolehnya. Kalau toh tokohtokoh ini ber bicara mengenai demokrasi, seperti Locke, hume, dan Rousseau, biasanya mereka berbicara pada tingkat asumsi dan hakhak dasar, seperti hakhak alamiah (natural rights), manfaat dan hakikat ke bebasan, kehendak umum, dan legiti masi serta moralitas hukum yang mengikat masyarakat. Jika mer eka membahas sistem ekonomi dan kesejahteraan masya rakat, seperti adam Smith, pada umumnya mereka masuk ke wila yah hukumhukum dasar, peran kebebasan, dan hakikat moralitas ekonomi.
Kaum pemikir di abad ke19 memang tidak meninggalkan semua ciri khas pemikiran seperti itu. Seperti kata Isaac Newton, dalam dunia pemikiran, seorang tokoh berdiri di pundak tokohtokoh pemikir sebelumnya. tokohtokoh pemikir abad ke19 seperti hegel, Marx, Spencer, Nietzsche, dan Comte masih berkutat dengan pertanyaanpertanyaan dari zaman selumnya. Dari sini, sebagian dari mereka, dengan caranya masingmasing, mengembangkan kerangka besar yang melihat manusia sebagai bagian sejarah yang bergerak menurut hukumhukumnya sendiri. Bisa dikatakan bahwa tokohtokoh ini adalah system builders, kaum pemikir yang membangun sistem gagasan yang utuh dan menyeluruh yang dapat digunakan untuk menjelaskan setiap segi dari manusia, masyarakat, ilmu pengetahuan, dan sejarah. hegel, Comte, dan Marx adalah contoh terbaik dari kecenderungan ini.
Alexis de Tocqueville adalah pemikir besar Prancis yangmenj adi bagian dari tradisi abad ke19. Namun uniknya, ia tidak larut dalam semangat zaman itu untuk membuat sistem be sar. Dalam karyakaryanya, tidak kita temukan kutipankutipan dari hegel maupun Comte. Bahkan manakala ia berbicara tentang kelas sosialekonomi dan menjelaskan revolusi Prancis, tidak ada referensi satu pun tentang Marx, walaupun ia hidup se za man dengan pemikir Jerman ini. Dalam menolak arus konstruksi sistem besar seperti itu, Tocqueville tidak kembali kezaman sebelumnya, tetapi membuat tradisi baru dalam studi sosial, yang kemudian akan diteruskan oleh tokoh seperti Weber dan Durkheim di akhir abad ke19 dan awal abad ke20. (Kedua tokoh terakhir ini kemudian disebut sebagai peletak da sar sebuah displin baru dalam ilmu pengetahuan, yaitu so siologi.)
Dengan tradisi baru ini, Tocqueville mulai menjelaskanrealitas tidak dengan asumsiasumsi filosofis, tetapi langsungmeneliti aspekaspek mikro kehidupan pada masyarakat yang diamatinya. Di amerika, penelitian awal yang dilakukannya justru mengenai sistem penjara di negaranegara bagian New England serta pola kehidupan dan pemerintahan lokal di beberapa counties (kabupaten) dan townships (kecamatan) yang terpencil. Dia tidak berangkat dari ideide besar, dengan metode berpikir deduktif, namun dengan tekun dan kreatif melihat dan memp elajari pola pengelompokan sosial, kebudayaan dan adat kebiasaan lokal serta interaksi ekonomi dari masyarakat yang diamatinya. Dalam mempelajari sebabmusabab revolusi Prancis ia menghabiskan waktunya di beberapa kantor peme rintahan tingkat lokal untuk mempelajari arsiparsip dari masa lalu yang menyimpan buktibukti tertulis tentang perubahan pola kekuasaan, kecenderungan sentralisasi, dan bergesernya karakter kelas sosial dalam masyarakat.
Dari metode studi semacam itulah, selama sembilan bulan di amerika Serikat (18311832), lahir karya besarnya yang pertama De la dmocratic en Amrique (Demokrasi di amerika).SetelahituTocquevillemasihmelahirkanbeberapakaryalagi, namun yang paling berpengaruh adalah kajiannya ten tang Revolusi Prancis, LAncien rgime et la rvolution (Re zim Lama dan Revolusi Prancis). Pemikiran dalam karyakarya ini, terutama tentang demokrasi, memengaruhi berbagai aliran pemikiran hingga saat ini. tematema kontemp orer dalam studi politik dan sosiologi tentang masyarakat sipil, kelembagaan demokrasi, persamaan, pengaruh agama dan kebudayaan da lam perilaku politik dan sistem pemerintahan tidak mungkin di mengerti akarakarnya dengan baik tanpa mengkaji kembali pemikiran aristokrat Prancis ini. Bahkan di amerika Serikat, kaum pemikir dan pembuat kebijakan yang sekarang dianggap paling berpengaruh di Washington DC, yaitu kaum neokon servatif, dalam banyak hal diinspirasikan oleh pemikiran Tocquevilleten tang hakikat demokrasi serta hubungan antara sistem komersial dan peran agama.
***
PemikiranTocquevilletentangdemokrasibertumpupadapertanyaan: mengapa demokrasi di amerika bersifat liberal Mengapa amerika berhasil menghindari perangkap anarki di satu pihak, dan pelanggengan kekuasaan aristokrasi di pihak lain, sebagaimana yang terjadi di Prancis Mengapa demo krasi amerika berbeda dengan Inggris apa yang menjadi keunikan dan kekuatan demokrasi amerika
Terhadappertanyaansemacamitu,Tocquevillemengawalipen jelasannya dengan konsep persamaan, equality. Di amerika, dan juga di banyak negeri Eropa, proses industrialisasi dan ko mersiali sasi yang saat itu mulai berlangsung dengan pesat telah mengubah struktur interaksi masyarakat. Feodalisme, sistem sentralisasi ke kuasaan, dan aristokrasi sebagai kelas sosial mu lai pudar. Se bagai gantinya adalah proses urbanisasi, mo bilitas sosial yang tinggi, dan semakin tercerabutnya manusia modern dari kaitan dan akarakar sosial lama. Dalam rezim lama, manusia di kungkung oleh posisi sosialnya yang tak mungkin berubah. anak seorang pe tani juga akan menjadi petani, berikut semua atri but sosialnya. Demikian pula, keturunan seorang aristokrat akan tetap menjadi aristokrat, dengan segala warisan tanah dan pe kerja yang menjadi miliknya. Dengan pudarnya sistem ini ma nusia menjadi individu merdeka, sama dengan individuindividu lain nya, dan terbuka untuk bersaing dalam kehidupan di kota un tuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kalau dalam sistem feo dal sebelumnya semua anggota masya rakat diikat oleh je ja ring an yang sudah baku, dalam sistem baru ini mereka menjadi individuindividu yang bebas memilih: komunalisme berganti menj adi individualisme.
Persamaan inilah yang menjadi dasarnya demokrasi. Bahkan Tocqueville kadang menggunakan kata persamaan dandemokrasi secara bergantian. Keduanya adalah dua sisi matauang yang sama.
Sebagai bagian dari kaum aristokrat Prancis, Tocquevillemelihat proses menguatnya demokrasi tidak dengan hitam putih. Dalam uraiannya, kita bisa melihat harapan dan antusiasme, tetapi juga pesimisme, kecemasan, dan ironi terhadap merebaknya demokrasi, persamaan, dan individualisme. Justru di sinilah terletak salah satu daya tarik pemikirannya.
Dalamsatuhal,menurutTocqueville,karenaposisiindividusama dengan yang lainnya, dan karena tidak ada lagi yang mampu berkuasa sebagaimana kekuasaan kaum aristokrat seb e lumnya, kebutuhan akan kekuasaan negara akan meningkat. Ne gara, atau pemerintah, akan menjadi sangat dominan, dan cenderung menumbuhkan bentuk tirani baru, yaitu tirani mayo ritas.
Dalam hal lain lagi, sistem persamaan dalam konteks masyarakat komersial cenderung membuat individu hanya mencari kebahagiaan sesaat, dan bersaing mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Masyarakat akan berisi manusiamanusia medioker, tanpa keagungan, keberanian dan heroisme, serta tanpa hasrat mencari kejayaan bagi negerinya. yang penting ada lah perdamaian dan kesejahteraan dan sebuah situasi di mana anggotaanggota masyarakat dapat bekerja dengan te nang mencari hidup dan kebahagiaan.
Jadi, walaupun demokrasi dan persamaan adalah gejala uni versal dan pasti akan menjadi bagian dari masa depan umat manusia,Tocquevillemenganggapnyasebagaipedangbermatadua. Dan baginya, keunikan dan kekuatan demokrasi di amerika adalah karena di negeri baru ini sisi negatif dari proses persarnaan seperti itu dapat dilembutkan oleh tiga faktor, yaitu geografi,lembagapolitikdanpemerintahan,sertakebudayaandan adatistiadat lokal. Kombinasi ketiga faktor inilah yang tidak ada di Eropa yang juga mengalami proses industrialisasi dan komersialisasi.
Dalam soal geografi, Amerika adalah benua baru yangmenjanjikan kecukupan bagi penduduknya. Dari Pantai timur ke Pantai Barat, penduduk amerika tidak perlu khawatir akan tekanan lahan yang sempit, mereka bisa berekspansi ke Barat tanpa henti untuk mencari lahan dan penghidupan baru. Selain itu, wilayah ini dipersatukan oleh negara yang sama, tanpa potensi pesaing dari negaranegara tetangganya. Di Eropa, Inggris harus mewaspadai Prancis, yang harus pula memantau Prusia dan austria. Italia, Polandia, Spanyol, dan lainnya, harus terus merasa terancam oleh pergerakan politik di tiga negara terbesar dan terkuat ini. Proses sejarah politik di Eropa hanya berputar di persoalan semacam itu: perang dan damai oleh negaranegara he gemon. Di amerika, persoalan semacam ini bisa dikatakan ti dak pernah menjadi bagian dari sejarah mereka, dan karena itu kekhawatiran terhadap perang besar juga bersifat mi nimal.
Perang adalah sebab utama sentralisasi politik dan ekspansi birokrasi. Karena ancaman perang, masyarakat bergantung pada negara sebagai instrumen utama. Dan untuk itu, negara harus memungut pajak. untuk memungut pajak, negara harus mengembangkan aparat pemungut pajak dan birokrasi. Demikian seterusnya. hal inilah yang menjelaskan mengapa sentralisasi pemerintahan di Prancis berlangsung dengan eksp ansif. Di amerika, karena ketiadaan hal tersebut, sentrali sasi berlang sung minimal dan sistem pemerintahan tumbuh de ngan mengadaptasi kebutuhan lokal.
hal itulah yang menjelaskan mengapa kelembagaan politik amerika bertumpu pada sistem desentralisasi (federalisme), di mana keputusankeputusan penting dalam pemerintahan lebih banyak dilakukan di tingkat lokal. Sistem inilah yang mendorong merebaknya semangat partisipatoris dalam masyarakat. TocquevillemengamatibetapadikotakotakecilAmerikasemangat partisipasi publik begitu tinggi. Mereka terlibat dalam begitu banyak kegiatan sosial dan politik lokal, sebagaimana mereka juga terlibat dalam acaraacara keagamaan. Semangat dan keterlibatan semacam ini menjadi counter-balance yang po sitif terhadap kecenderungan negatif yang melekat pada demokrasi dan sistem persamaan.
Dalamsoalkebudayaandanadatistiadatlokal,Tocquevillemelihat sebuah kebetulan sejarah yang menguntungkan amerika: penduduknya berbicara dalam bahasa yang sama, berimigrasi dari negeri yang relatif sama, dan dengan agama yang sama. Dalam soal agama, imigranimigran awal amerika umumnya adalah kaum puritan, dengan kode moral yang mendorong individu untuk bekerja keras, membangun solidaritas, disiplin, dan kemandirian. Nilainilai semacarn inilah yang hidup dan men jadi sumber motivasi dalam aktivitas lokal, bahkan di daerahdaerah terpencil sekalipun. (Setengah abad setelah Tocqueville,MaxWebermengembangkananalisissemacaminiuntuk membahas sistem kapitalisme dan hubungannya dengan nilainilai keagamaan.)
Jadi, singkatnya, demokrasi amerika adalah contoh dari sebuah sistem politik baru yang dihasilkan oleh proses perubahan masyarakat modern, namun yang di dalam dirinya mengan dung unsurunsur yang memperkuat bangunan demokrasi itu sendiri. Dengan studinya yang pada zaman itu adalah sebuahterobosanbaru,Tocquevillememperlihatkanbagaimanasistem demokrasi harus dimengerti, dievaluasi, dan dijadikan model pemerintahan bagi negerinegeri lainnya.
***
Penerbitan buku yang memuat bunga rampai pemikiran Tocqueville ini patut disambut baik. Setelah jatuhnya pemerintahan Orde Baru, Indonesia memasuki masa transisi dan berada dalam sebuah proses panjang yang sering disebut sebagai masa konsolidasi demokrasi. Kita sudah melangkah cukup jauh, namun satu hal yang masih terasa amat kurang adalah studi dan pemikiran tentang demokrasi itu sendiri sebagai sebuah sistem pemerintahan.
Dalam berbagai diskusi publik, masih terjadi kebingungan dan convoluted thinking mengenai esensi dan faktorfaktor yang menentukan kuattidaknya sebuah sistem demokrasi. hal ini terjadi mungkin karena bacaanbacaan yang menarik dan bermanfaat dalam tema demokrasi dan proses politik memang masih sangat sedikit di negeri kita.
Karena itulah, saya berharap agar buku ini dapat mem perkaya khazanah intelektual kita dan mendorong kejelasan berpikir mengenai selukbeluk sistem demokrasi. Walaupun dil ahirkanhampirduaabadlalu,pemikiranAlexisdeTocquevillesaat ini masih menarik dan relevan untuk dibaca oleh semua kalangan.
Jakarta, 25 November 2005