A SHOULDER TO CRY ON - 21
SIANG ini Damara duduk di kursi di depan meja kerja Cakka. Lima menit lalu Cakka meminta Damara datang ke ruangannya, karena ada klien yang meminta Damara untuk menangani kasus perceraiannya.

"Siapa sih, Kka, klien baruku kesannya spesial banget" tanya Damara, penasaran dengan tingkah Cakka yang mengesankan klien yang akan memakai jasa Damara adalah orang yang istimewa.

"Pokoknya kamu lihat aja entar, soalnya kemarin dia minta supaya aku nggak ngasih tahu kamu siapa dia... Orangnya cantik, Mar! Beruntung kamu setelah lepas dari kasus Imelda malah dapat klien yang nggak kalah cantiknya."

"Aku kenal sama orangnya, Kka" tanya Damara lagi.

"Mana aku tahu kamu kenal sama dia atau nggak, tapi yang pasti sih dia kenal sama kamu. Dia langsung minta supaya kamu yang menangani kasusnya."

Damara terdiam, berusaha menerka-nerka siapa gerangan calon kliennya. Rasanya ia tidak mengenal ciri-ciri orang seperti yang digambarkan Cakka padanya, terlebih lagi wanita yang akan bercerai.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Damara.

Agni, sekretaris biro hukum mereka, membuka pintu ruang kerja Cakka. "Permisi, Pak...

tamunya sudah datang."

"Oke, tolong kamu antarkan dia ke sini."

"Baik, Pak."

Tidak lama berselang terdengar langkah Agni kembali dengan seseorang yang diyakini Damara sebagai klien yang dimaksud Cakka. Dari dinding transparan ruang kerja Cakka yang sebagian tertutup kerai, Damara melihat sekilas tidak ada yang begitu istimewa dari sosok wanita yang berjalan bersama Agni, terlihat seperti wanita kelas atas biasa.

Baru setelah Agni membawa wanita itu masuk, Damara merasakan aliran darahnya seperti berhenti. Ia nyaris membatu melihat Anggun berdiri dua meter di depannya, dengan senyum yang biasa tersungging di wajahnya.

"Silakan, Mbak Anggun... Maaf ruangannya agak kecil." Cakka mempersilakan Anggun duduk di sofa. "Ini Damara, yang kemarin Mbak Anggun minta untuk menangani kasus perceraian Mbak."

Cakka mengerling ke arah Damara, memberi isyarat agar Damara mendekati mereka. Di tengah keterkejutannya, Damara mendekati Anggun dan Cakka. Seperti biasa Damara melihat Anggun mengulas senyum angkuhnya.

"Ini Mbak Anggun, Mar. Mbak Anggun yang minta kamu sebagai pengacara untuk kasus perceraiannya."

Anggun mengulurkan tangannya ke arah Damara. Dengan linglung Damara menggerakkan tangannya dan menjabat singkat tangan Anggun.

"Apa kabar, Mar" sapa Anggun, tetap tidak menghilangkan senyumnya.

"Baik..." jawab Damara singkat.

"Oke, kalian bisa pakai ruangan ini untuk mendiskusikan kasusnya... Saya ada meeting di luar. Maaf, Mbak Anggun, saya tinggal ya."

Cakka keluar meninggalkan ruang kerjanya setelah menepuk pelan bahu Damara. Meninggalkan Damara berdua dengan Anggun.

"Mau apa kamu ke sini" tanya Damara tegas, setelah akhirnya ia bebas berbicara empat mata dengan Anggun. "Apa maksud semua ini"

"Apa begini cara kamu menghadapi semua klien yang kamu tangani kasus perceraiannya"

"Anggun, aku nggak bercanda! Aku serius... Aku mau tahu kenapa kamu bisa ada di sini"

Menerima todongan dari Damara, Anggun hanya tersenyum tipis. Ia kembali mendudukkan dirinya dengan santai di atas sofa, seakan menikmati keingintahuan Damara.

"Sama seperti klien-klien kamu yang lain, aku ke sini untuk meminta bantuan hukum untuk perceraianku," jawabnya santai.

"Cerai...! Apa maksud kamu dengan bercerai" tanya Damara, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kamu nggak mungkin cerai dengan suami kamu... Itu nggak mungkin kamu lakukan." Damara menggeleng.

"Kenapa Apa kamu pikir akan selamanya aku nggak berani mengambil keputusan ini" Mata Anggun menatap tajam ke arah Damara, membuat Damara tidak mengerti apa yang benarbenar diinginkan dan direncanakan Anggun kali ini. "Dulu aku pernah bilang, akan tiba saatnya aku berani melepaskan semuanya. Demi kamu... Dan, sekaranglah saatnya."

Damara tercengang. Tidak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapi pernyataan Anggun yang mengejutkan. Dulu mungkin ia akan senang menanggapi keputusan Anggun, tapi sekarang ia sudah melupakan keinginannya untuk mendapatkan ketulusan dari Anggun, ia tidak lagi menginginkan apa yang dirasakannya mendapat balasan dari Anggun.

Anggun bangkit dari duduknya, berjalan pelan mendekati Damara yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Perlahan Anggun melingkarkan lengan halusnya ke pinggang Damara, memeluk Damara seraya menyandarkan kepalanya di bahu Damara.

"Aku akan melepaskan semuanya untuk kamu, Mar. Jadi kembalilah padaku... Aku mencintaimu, Mar..."

Baru kali ini Damara mendengar Anggun mengucapkan kata cinta untuknya. Satu kata yang selama ini nyaris tidak berani diharapkannya dari seorang Anggun, kini didengarnya dengan jelas. Tapi entah mengapa, kata itu sekarang begitu sakit didengar hingga membuatnya begitu lemah.

***

Saat keluar dari ruang karyawan, setelah mengganti pakaian dan bersiap pulang, Anka melihat Damara duduk di salah satu meja kafe. Damara terlihat menyandarkan kepalanya ke sofa yang didudukinya, matanya terpejam dan tampak begitu lelah di mata Anka.

"Mau balik ya, Ka" tanya Nova sambil membawa baki dengan secangkir cappucino di atasnya.

"Iya..." jawab Anka singkat. "Itu pesanan siapa, Mbak"

"Mas Damara... repot nih, Mas Damara kebiasaan dateng pas kita mau tutup. Untung ganteng, jadi nggak terlalu bikin kesel," kata Nova setengah menggerutu.

"Sini, Mbak, biar saya yang bawa minumannya ke meja Mas Damara... sekalian saya jalan keluar."

"Oh, ya udah... Makasih ya."

Anka mengambil baki dari tangan Nova, berjalan menuju meja Damara. Damara sepertinya tidak menyadari ada yang mendatangi mejanya, ia tetap menyandarkan kepalanya ke sofa dengan mata terpejam. Dengan hati-hati Anka meletakkan cangkir cappucino hangat di atas meja Damara.

"Cappucino-nya, Kak," kata Anka setelah meletakkan cangkir cappucino pesanan Damara.

Damara bergerak pelan, dengan linglung ia membuka matanya dan menegakkan duduknya. Matanya memandang tak terarah ke sekeliling kafe yang sudah sepi.

"Maaf, bikin Kakak kaget."

Mendengar suara Anka, Damara mengalihkan pandangannya ke arah Anka yang berdiri tepat di samping mejanya.

"Eh, Anka... sori Kakak nggak sadar kamu di sini," kata Damara, tersenyum canggung, seakan malu dengan apa yang dilakukannya. "Kakak ketiduran sebentar tadi, jadi agak nggak connect." Damara mengusap wajahnya dengan lelah, menghela napas panjang.

"Kamu belum pulang, Ka" tanya Damara, seraya mengangkat cangkir cappucino-nya.

"Abis nganterin cappucino pesenan Kak Damara, saya bisa langsung pulang, Kak," jawab Anka.

"Jadi, jam kerja kamu udah selesai" tanya Damara. Anka mengangguk pelan. "Kamu nggak keberatan kan kalau duduk sebentar di sini Nunggu Kakak habisin ini, terus kita pulang samasama."

Anka mengangguk, lalu duduk di depan Damara dalam diam. Menunggu Damara menghabiskan cappucino-nya.

Tidak berapa lama, Damara bersuara. "Ayo kita pergi. Keberadaan Kakak pasti sudah cukup lama menahan mereka yang seharusnya sudah pulang," kata Damara seraya melirik ke arah beberapa pelayan kafe yang merapikan meja-meja.

***

Anka dan Damara duduk di salah satu kursi taman yang biasa dilewati Anka menuju halte bus.

"Maaf ya, Ka, kamu jadi nemenin Kakak di sini, padahal kamu pasti capek seharian sekolah terus kerja. Nggak masalah kan kalau kita duduk di sini sebentar sebelum kita ke halte depan cari taksi"

"Nggak apa-apa, Kak. Anka biasa pulang jam segini juga, malah biasanya masih harus berebutan naik Metromini."

Damara tersenyum kecil, setelahnya ia menghela napas berat. Anka menatap Damara dengan saksama, wajah Damara terlihat begitu lelah, seperti ada begitu banyak masalah yang membebaninya.

"Mau sampai kapan kamu ngelihatin Kakak kayak gitu Sejak di kafe tadi kamu ngelihatin terus... Tenang, Kakak nggak akan pingsan kok, kalo itu yang kamu khawatirkan."

Anka mengerjap kaget mendengar apa yang dikatakan Damara, rupanya dari tadi Damara sudah tahu Anka selalu menatap khawatir ke arahnya.

"Maaf, Kak, Anka cuma..."

Anka tidak melanjutkan kata-katanya. Akan terdengar konyol kalau ia mengatakan khawatir dengan keadaan Damara. Apa sih yang dikhawatirkan gadis delapan belas tahun atas apa yang membebani pikiran orang dewasa seperti Damara

Untuk beberapa saat, baik Anka maupun Damara tidak mengatakan apa-apa, mereka hanya diam. Hanya bunyi kendaraan bermotor di jalan raya yang sayup-sayup terdengar di telinga mereka. Angin malam menerpa wajah Anka, terasa sangat menyejukkan. Sekilas Anka melirik ke arah Damara yang hanya diam dengan mata menatap kosong ke depan. Anka bahkan sangsi Damara menyadari dan merasakan semilir angin yang menerpa wajah mereka.

"Andai hidup bisa setenang ini," kata Damara lirih. "Segalanya pasti akan berjalan baik.

Sayangnya, dalam kehidupan sangat sulit menciptakan ketenangan seperti ini."

"Alasan Kakak bicara soal ketenangan hidup karena masalah Danu ya" tanya Anka. Tapi tibatiba merasa lancang menanyakan hal itu.

"Mungkin itu salah satu alasannya..." Sekali lagi Damara menghela napas dengan lelah.

"Kakak tahu Sabtu besok Danu mau pergi ke Bandung Dia bilang, dengan atau tanpa izin Kakak dia akan tetap pergi."

"Bukan Danu namanya kalau tidak melakukan itu... Kakak mengerti benar Danu pasti melakukannya," kata Damara datar, ada nada kecewa dalam kata-katanya. "Danu itu terlalu baik untuk menerima ajaran tentang kebencian. Sulit bagi Kakak membuat Danu mengerti apa yang Kakak rasakan."

"Kakak sama Danu hanya perlu lebih banyak bicara tentang hal ini berdua, saya tahu benar Danu tersiksa, Kak."

Damara memutar pandangannya ke arah Anka, sekali lagi mengulas senyum yang entah mengapa selalu berhasil membuat peredaran darah Anka bekerja tidak wajar.

"Kamu satu-satunya orang yang paling mengerti Danu. Tapi harusnya kamu juga tahu bahwa Kakak juga teriksa dengan semua ini." Damara meraih tangan Anka, lalu meletakkannya tepat di dadanya. "Di sini... rasanya begitu sesak."

Anka merasakan sekujur tubuhnya merinding saat tangannya berada dalam genggaman Damara, menyentuh dada Damara. Detak jantung Damara yang dirasakan tangannya seakan membuat jantung Anka bekerja tidak keruan.

Damara melepaskan tangan Anka, mengusap lembut rambut Anka. "Kamu gadis yang sangat baik, Ka. Danu beruntung punya teman seperti kamu. Kalau saja Kakak punya teman seperti kamu yang mau mengerti semua hal yang Kakak alami, tentu akan sangat menyenangkan... Sayangnya Kakak tidak seberuntung Danu."

Damara bangun dari kursi taman, mengembuskan napas kuat-kuat, seakan dengan begitu ia bisa melepaskan semua beban menyesakkan dadanya.

"Ayo kita pulang, sudah malam... Kakak nggak mau kamu kecapekan di sekolah besok."

Anka masih diam, masih menelaah apa yang dikatakan Damara tadi. Kalau saja Damara memintanya menjadi orang yang mengerti semua hal yang dialaminya, dengan senang hati Anka bersedia menjadi sosok teman yang dibutuhkan Damara.

"Ayo, Ka..." ajak Damara sekali lagi.

Anka mengerjap, segera berdiri dari kursi taman yang didudukinya, tapi masih ada banyak hal yang dipikirkannya.

"Kak Damara... Saya bisa jadi teman Kakak kalo Kakak mau. Kakak bisa cerita apa saja sama saya, seperti Danu."

Senyum lebar menghiasi wajah Damara saat mendengar ucapan Anka. Sekali lagi dengan lembut Damara mengusap kepala Anka.

"Terima kasih atas kesediaan kamu, tapi rasanya mungkin kamu tidak akan mau lagi berada di dekat Kakak andai kamu mendengar apa yang Kakak ceritakan... dan Kakak nggak mau ambil risiko itu."

***

Kepala Damara yang terkulai membentur kaca pintu taksi yang membawa mereka pulang. Lima menit setelah masuk ke taksi, Damara langsung tertidur. Damara memang terlihat sangat lelah, tidak hanya fisiknya, tapi kelelahan batinnya juga tersirat jelas.

Banyak hal yang tidak dimengerti Anka tentang Damara. Mengapa pula Damara mengatakan bahwa ia mungkin tidak akan mau lagi berada di dekat Damara setelah mendengar cerita Damara Semua ini begitu membingungkan bagi Anka, apa yang sebenarnya yang sedang dipikirkan Damara Kalau hanya masalah Danu, tentu Damara tidak akan setertekan ini.

Suara benturan membuyarkan segala macam pertanyaan di kepala Anka. Lagi-lagi kepala Damara membentur pelan kaca pintu taksi. Anka menggeser posisi duduknya, dan dengan hatihati Anka menyandarkan kepala Damara di bahunya. Wajah Damara begitu dekat sekarang, menimbulkan getaran yang sangat aneh yang sepertinya baru kali ini dirasakan Anka.

***

Sinar matahari pagi yang masuk lewat sela-sela jendela kamar membangunkan Danu pagi ini. Matanya terasa begitu sulit untuk dibuka. Wajar memang kalau Danu kesulitan bangun, karena ia baru benar-benar bisa tertidur pada pukul tiga pagi. Terlalu banyak hal yang membuatnya sulit terlelap dengan tenang semalam, dan yang paling membuat matanya enggan terpejam adalah, ketika untuk kesekian kalinya ia melihat Anka pulang bersama Damara.

Danu duduk di sisi tempat tidurnya, terdiam sebentar seraya benar-benar terbangun dan sadar. Seiring dengan kesadaran Danu, ingatan memenatkan itu kembali memenuhi pikirannya. Sulit untuk mengatakan ia tidak terganggu dengan apa yang ia saksikan. Kedekatan Damara dan Anka membuat Danu merasa ada yang aneh di dalam dirinya.

Sambil menghela napas panjang untuk mengusir semua pikiran memenatkan, Danu menyibakkan selimutnya dan bangun dari tempat tidurnya. Ia tidak punya banyak waktu memikirkan hal-hal seperti itu sekarang. Ia harus menyiapkan diri untuk berangkat ke Bandung hari ini. Seperti yang sudah direncanakannya, ia akan pergi ke Bandung, dengan atau tanpa Damara. Ia sudah terlalu lelah untuk membuat Damara bersedia melupakan semua kebenciannya. Terlalu sulit untuk membuat Damara mengerti kecemasan yang dirasakannya sekarang.

Danu membuka lemari pakaiannya, mengeluarkan beberapa helai pakaian dan ransel yang biasa ia pakai untuk bepergian. Danu melangkah menuju meja belajarnya berniat mengambil beberapa barang, tapi gerakannya langsung terhenti saat melihat amplop putih tergeletak di atas meja belajarnya.

Penasaran, Danu segera membuka amplop itu dan terkejut saat menemukan sebuah kartu ATM di dalamnya dan selembar kertas. Danu membuka lipatan kertas untuk membaca tulisan di atas kertas itu.

Pakai uang ini untuk keperluan kamu di Bandung, termasuk untuk biaya yang mungkin diperlukan orang yang mau kamu temui di sana. Maaf hanya ini yang bisa Kakak lakukan sekarang. Dalam hal ini Kakak masih belum bisa menjadi apa yang kamu harapkan. Lakukan apa saja yang menurut kamu benar. PIN kartu ATM ini sama dengan tanggal ulang tahun kamu.

***

"Ngapain, Nu" tanya Anka, menghampiri Danu yang duduk di teras belakang. "Pagi-pagi udah bengong di sini."

"Eh, Ka... Nggak ngapa-ngapain. Gue lagi mikirin sesuatu aja," kata Danu pelan, tersenyum kaku pada Anka.

"Mikirin apa" tanya Anka lagi. "Kak Damara ya"

Danu mengangguk, membenarkan dugaan Anka.

"Kak Damara ninggalin kartu ATM di kamar gue. Dia minta gue pake uang itu buat semua keperluan gue di Bandung, termasuk buat biaya perawatan Papa kalo perlu."

"Bagus dong, berarti Kak Damara udah ngerti."

"Iya sih, tapi gue ngerasa Kak Damara ngelakuin itu sepenuhnya bukan buat nolong Papa," kata Danu datar. "Kak Damara belum bisa maafin Papa, padahal sebenarnya itu yang gue harapin dari Kak Damara."

Danu menatap Anka, berharap dengan menatap mata teduh Anka akan ada sedikit ketenangan yang bisa dirasakannya.

Anka tersenyum, seperti biasa mengusap bahu Danu setiap kali sahabatnya itu terlihat tidak bersemangat. "Nu, lo nggak bisa menutut Kak Damara ngerti semua yang ada di pikiran lo. Kak

Damara pasti punya pertimbangan sendiri. Buat lo mungkin gampang maafin ayah lo, tapi buat Kak Damara mungkin nggak segampang itu."

Danu tidak mengatakan apa pun, entah kenapa ia merasa apa yang dikatakan Anka terasa berat sebelah. Anka seperti begitu mengerti perasaan Damara. Dan Danu merasa Anka lebih membela Damara ketimbang dirinya.

"Dengan ngasih kartu ATM itu untuk biaya ayah lo, gue rasa itu awal yang bagus. Berarti Kak

Damara sebenarnya masih peduli, walaupun dia nggak secara terang-terangan nunjukinnya." "Oke, gue ngerti. Gue emang terlalu menuntut banyak dari Kak Damara. Seharusnya gue cukup bersyukur Kak Damara masih mau ngasih kartu ATM ke gue," kata Danu dingin, seraya bangun dari lantai.

Sekali lagi Danu menatap Anka yang sepertinya masih mencoba mengerti apa yang baru saja dikatakannya.

"Gue mau siap-siap jalan ke Bandung... Lo baik-baik di rumah. Satu lagi, hari ini lo janji sama gue akan berhenti kerja di kafe. Lo harus beneran berhenti kerja hari ini. Nggak baik kalo cewek pulang malem terus, walaupun lo pulang bareng Kak Damara," tandas Danu sebelum berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Anka yang tidak mengerti apa sebenarnya maksud Danu.

* * *

"Aku tidak pernah menyesal mencintai kamu, yang aku sesalkan hanya kamu terluka karenanya," - Damara