NIKEN DAN PANDU - 21
Setelah Pandu keluar kamar, Niken mengamati kamar Pandu dengan cermat. Nggak banyak berubah sejak terakhir dia kemari. Kamar kecil Pandu ini nggak begitu rapi, tapi nggak acakacakan. Paling mejanya aja yang penuh buku, sampai nggak ada tempat lagi untuk menulis. Wajar saja karena baru saja selesai musim ujian. Tapi diluar itu semuanya rapi. Tidak ada pakaian kotor di lantai, tidak ada makanan atau minuman di kamarnya. Eh, ada juga foto Niken di meja kecil dekat tempat tidurnya. Niken tersenyum sambil menyambar salah satu majalah yang tadi ditunjuk Pandu. "Kamu keluar dulu, gih." kata Pandu mengagetkan Niken. "Kamu koq kilat mandinya" tanya Niken.

"Ya ini udah selesai. Sekarang aku mesti ganti baju. Makanya kamu keluar dulu deh." kata Pandu sambil mengusir-usir Niken keluar dari kamarnya. Tadi dia lupa membawa pakaiannya ke kamar mandi, seperti biasanya, jadi sekarang dia cuma membalutkan handuk di pinggangnya.

Rambutnya basah habis keramas. Diam-diam Niken mengamati Pandu yang bertelanjang dada. Seksi juga, berotot lagi. "Hihi." Niken tertawa dalam hati.

"Eh. cepetan dong. Kamu koq malah bengong" kata Pandu lagi.

"lya iyaa... Galak amat! Ini aku keluar." kata Niken keluar kamar sambil masih tertawa-tawa.

Begitu Pandu keluar kamar, Niken yang tak sabar langsung menggandengnya keluar rumah.

"Pamitan sama ibumu, cepat. Aku tadi sudah."

Sambil jalan, karena masih ditarik-tarik dengan paksa oleh Niken, Pandu berpamitan "Bye Bu. doakan aku kembali utuh ya." gurau Pandu. Habisnya Niken seperti menarik-narik kambing ke balai penyembelihan binatang.

"Ada apa sih" tanya Pandu saat mereka sudah ada di mobil Niken. "Nih baca nih" kata Niken menunjukkan sepucuk surat berkop Universitas

Indonesia.

Pandu lalu membaca surat itu dengan cermat. Sampai di alinea terakhir, dia lalu tersenyum.

"Wah selamat, Fei, kamu lolos PPKB! Nggak usah ikut UMPTN! Hebat. Jarang lho orang yang lulus PPKB buat FKUI!" kata Pandu berteriak-teriak.

"Makanya itu aku pengen merayakan hari bersejarah ini. Catat, ini tanggal 15 Mei."

"Nggak cuma kamu lho yang lolos PPKB." kata Pandu serius. "Siapa lagi" tanya Niken.

"Aku." kata Pandu sambil menunjuk dirinya sendiri. "Kamu Yang benar, Ndu" tanya Niken nggak percaya.

"Eh, nggak percaya. Aku juga baru mendapat suratnya kemarin. Mau aku ambilkan di rumah" tanya Pandu. "Aku malah mendapat keringanan uang SPP untuk tahun pertama dari Depdikbud. Nanti tahun kedua tergantung evaluasi prestasiku di tahun pertama di ITB, begitu katanya."

"Wah. selamat yah. Ini betul-betul perlu dirayakan. Kamu mau ke mana Ada ide" tanya Niken.

"Kamu kan yang dari tadi teriak-teriak ingin jalan-jalan. Aku kirain kamu sudah ada rencana mau ke mana" tanya Pandu geli.

"Aku kan cuma tanya kamu ingin ke mana. Siapa tahu kamu punya ide lebih baik. Kan baik aku menawarkan, kan Kalo nggak ada ide ya aku kembali ke rencanaku semula."

"Memangnya menurut rencana jahatmu semula kamu mau ke mana" "Jahat Ada deh." kata Niken sambil mengedipkan sebelah matanya. "Oke lah. Aku ikut saja." kata Pandu lalu memejamkan matanya.

"Sialan, kamu malah bobok lagi. Dasar tukang ngorok!" Niken mulai mengomel lagi.

"Memangnya aku tadi ngorok" tanya Pandu serius. "Wah, keras sekali..." kata Niken sambil tertawa geli. "Seriusss!" tanya Pandu lagi.

"Serius!" jawab Niken ikut-ikutan pasang tampang serius.

Pandu lalu diam saja. Malu, dong.

"Memangnya kenapa sih kalo ngorok" tanya Niken.

"Nggak enak saja. Selama ini kan aku bobok sendirian, jadi ngorok juga nggak masalah. Tapi misalnya aku menginap di tempat orang, atau kalau udah kawin nanti, kan kasihan istriku kalau aku ngorok setiap malam. Bisa nggak bisa bobok dia."

Niken tambah kencang ketawanya.

"Culun sekali kamu, Ndu. Kamu pasti tadi capek aja, jadi mengorok. Waktu sebulan aku di rumahmu aku kadang-kadang keluar kamar ambil minum, kamu juga tenang-tenang saja koq tidurnya. Lagipula, kurasa kau butuh istri yang seperti aku." kata Niken sambil tersenyum.

"Kenapa"

"Begitu kepalaku menempel bantal, aku pasti langsung tertidur. Makanya sebelum menyentuh bantal aku pasti bikin puisi dulu. Kalo nggak bisa-bisa batal nggak bikin puisi melulu setiap hari." "Tapi bagaimana bisa kawin sama kamu Kita pacaran saja nggak." kata Pandu.

"Lho Kita tu nggak pacaran tho" tanya Niken bengong. "Bagaimana sih Kan kamu dulu yang bilang nggak mau pacaran dulu." "Lha trus yang kemarin di ruang soundsystem, kamu kira aku ngapain" "Kamu kan cuma datang mengomentari laguku... "

"Ah, Pandu, kamu emang bodoh sekali! Kamu nggak mau ya pacaran sama aku"

"Lho Apa aku pernah bilang nggak mau Aku justru yang selama ini bilang cinta ! Ingat laguku kemarin lusa "

Niken lalu terdiam. Pas dia lagi mau berbicara sepatah kata, kebetulan Pandu juga mau mengatakan sesuatu.

"Kamu duluan, deh." kata Niken sambil mengganti persneleng empat. "Nggak. Kamu saja duluan."

"Aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi kecuali kamu, Ndu. Akhir-akhir ini aku sering merasa kesepian banget di rumah. Jadi inget cici, mama, papa. Aku merasa beruntung masih punya kamu. Rasanya Tuhan mengirimkan kamu pada saat yang tepat."

"Fei awas sepeda motor!" teriak Pandu. Niken kaget. Rupanya dia tak sadar melamun.

"Kamu melamun ya" tanya Pandu setelah Niken meminggirkan mobilnya. Niken menggarukgaruk kepalanya yang nggak gatal.

"Bahaya nich Kamu berhenti dulu lah kalo mau ngobrol. Atau aku yang nyetir ya Kamu mau ke mana sih" usul Pandu.

"Yah sudah, kita berhenti di sini dulu aja. Mumpung di bawah pohon rindang. Angin semilir lagi. Wah. Seandainya aku bawa buku puisiku, bisa bikin puisi nih" gumam Niken melantur. "Fei, kamu pakai parfum ya" tanya Pandu.

"Nggak." kata Niken sambil mencium-cium bajunya. "Kenapa memangnya"

"Wangi."

"Wangi Swear deh aku nggak pake parfum."

"Nah kan,... kamu nggak bisa bilang kita selama ini pacaran, karena aku saja nggak tahu bahwa tanpa parfum tu kamu wangi sekali. Aku baru tahu sekarang. Dan aku suka sekali. Aku ingin tahu hal-hal kecil seperti ini yang aku belum tahu. Misalnya, apa film kesukaanmu, apa makanan kesukaanmu, siapa cinta pertamamu, dan bahkan kamu belum sempat menjawab pertanyaanku yang dulu, siapa tokoh idolamu selain Sun Tzu."

"Aku juga nggak tahu banyak tentang kamu di hal-hal yang kecil seperti itu, rasanya kita cuma perlu lebih banyak meluangkan waktu berdua. Seperti sekarang ini. Atau seperti waktu di dalam ruang soundsystem. Bicara dari hati ke hati. Itu kan yang namanya pacaran Tapi, kalo kamu cuma ingin tahu aja, film kesukaanku 'Gone with the wind', makanan favoritku bakmi, tokoh idolaku selain Sun Tzu adalah cici, dan cinta pertamaku, tentu saja kamu. Pakai acara tanya segala."

"Memangnya kamu nggak pernah naksir siapa-siapa sebelum aku" tanya Pandu. "Nggak." Niken menggeleng mantap. "Kamu pernah naksir cewek ya" tanya Niken.

Pandu mengangguk. "Bu Fani, guruku waktu SD kelas dua." "Hah! Guru SD Ah, kamu yang benar saja"

"Bener! Bu Fani tu sabaaarrr sekali. Aku inget aku sempat sering datang ke sekolah pagi-pagi sekali, sengaja cuma ingin membersihkan kelas, demi ingin mendapat pujian Bu Fani sewaktu dia masuk ke kelas. Tapi cuma sebentar saja sih naksirnya, karena terus aku tahu Bu Fani sudah punya suami. Kalau aku ingat-ingat lagi, bodoh sekali aku. Seandainya saja waktu itu dia belum punya suami, trus memangnya aku bisa apa Akunya masih anak kelas 2 SD!" "Wah... kamu centil juga ya kelas 2 SD sudah pakai acara naksir-naksiran segala Aku waktu SD kan masih benci sekali sama semua cowok di sekolahku". "Masa' nggak pernah ada satupun orang yang kamu kagumi, Fei Seperti Bu Fani-ku gitu"

Niken berpikir sebentar. "Nggak. Kamu yang pertama kali bikin aku seperti ini." jawabnya mantap.

"Kamu nggak keberatan pacaran sama aku, Fei" "Memangnya kenapa, Ndu"

"Kamu nggak pernah merasa, sering kali pas aku boncengin kamu naik sepeda, atau kita jalanjalan berdua, selalu saja dapat tatapan aneh dari orang-orang Mereka seperti melihat ikan pacaran sama burung, yang nggak punya tempat di mana-mana untuk bersama. Ikannya nggak bisa tinggal di udara, burung nggak bisa tinggal di air."

"Jadi kamu merasa nggak nyaman jalan sama aku" tanya Niken. "Bukan begitu maksudku." "Lalu"

Pandu bingung mesti menjawab bagaimana tanpa menyinggung perasaan Niken.

Memang nyata-nyata perbedaan kulit mereka begitu jelas.

"Baiklah, Ndu. Aku mengerti." kata Niken sambil hendak menstater mobilnya lagi.

"Lho, tunggu dulu." kata Pandu merebut kunci mobil dari tangan Niken. "Sabar dong, non. Aku masih bingung mau ngomong apa."

"Kenapa mesti bingung Tinggal ngomong saja. Bilang saja, Fei, aku nggak nyaman pacaran sama kamu." Niken cemberut.

"Aku nggak bisa bilang begitu karena aku belum pernah benar-benar pacaran sama kamu. Lagian aku sudah bilang, bukan begitu maksudku. Aku cuma pengen kamu jujur sama aku. Kalo aku jawab duluan, apa aku merasa nyaman, kalau kamu merasa nggak nyaman, nantinya kamu nggak enak bilang terang-terangan, karena aku sudah duluan bilang nggak papa." "Jadi kamu nggak papa"

"Pandangan orang-orang itu sesuatu yang nggak bisa dihindari, kemana pun kita pergi. Aku sih selalu merasa nyaman, karena aku tahu persis cewek yang aku boncengin atau yang jalan bareng aku ini manis sekali, dan orang-orang itu cuma iri karena nggak bisa boncengin atau jalan bareng cewek semanis kamu." "Ah, gombal!" Jawaban Pandu tadi cukup untuk membuat pipi Niken panas karena malu.

"Lho Kamu tadi kan tanya, tuh sudah aku jawab. Koq malah aku dibilang gombal, ya sudah deh."

"Jadi menurutmu aku ini manis" tanya Niken lagi. Rupanya masih belum puas dipuji dia. Ingin pipinya tambah merah.

"Memangnya nggak pernah ada orang yang bilang kamu itu manis sekali" tanya Pandu.

Niken menggeleng.

"Yah sekarang aku kasih tahu. Waktu pertama kali aku melihatmu, dengan tampangmu yang sok judes di kelas waktu itu, kamu sudah keliatan manis. Makin aku mengenalmu, kamu terlihat semakin manis di mataku."

"Ngomong-ngomong soal mata, pertama kali lihat kamu di kelas waktu itu, satu-satunya yang menarik perhatianku cuma matamu. Wulan waktu itu bilang mata kamu tajam kayak mata elang. Lalu aku perhatikan, memang iya. Sorot matamu tajam sekali, tapi kalau kamu memandangku terlihat begitu lembut." "Koq setelah itu kamu sering panggil aku mata jangkrik Memangnya matanya jangkrik seperti mata elang"

"Naaaah. aku nggak mau mengakui kalo matamu tu yang terindah yang pernah aku lihat.

Terutama sama Wulan. Gengsi dong."

"Jadi kamu juga cuek dengan pandangan aneh orang-orang itu"

"Aku sudah biasa koq. Kalo jalan-jalan sama Wulan juga begitu. Kalau lagi iseng, aku kagetin mereka, 'Ngapain lihat-lihat!' Lagipula mereka pasti melihat kita begitu serasi, Ndu, makanya mereka seperti itu. Mereka iri melihat pundakmu yang pas sekali buat kepalaku. Juga tanganku yang pas sekali melingkar di pinggangmu kalau kamu boncengin." kata Niken tersenyum.

"Fei, diinget-inget yah, ini tanggal 15 Mei, tanggal yang bersejarah. Karena mulai hari ini, Fei Fei resmi jadi calon istri Pandu." "Apa! Calon istri!" "Nggak mau"

"Aaa. aku. Tapi." Niken gelagapan.

Pandu ketawa sekeras-kerasnya. Niken jadi bingung. Dipukul-pukulnya pundak Pandu.

"Awas kamu ya Ndu. Kamu mempermainkan aku!"

"Nggak, aku nggak akan pernah mempermainkan kamu. Aku serius koq. Aku pacaran cuma ingin sekali. Kamu sudah pas sekali buatku, Fei. Kamu bahkan jauh lebih bagus dari kriteria cewek yang selama ini aku dambakan. Aku nggak ingin kehilangan kamu." kata Pandu sambil menepiskan poni di dahi Niken. "Aku bersyukur kamu masuk dalam hidupku, Ndu. Kamu memperkenalkan sisi lain di diriku yang aku sendiri tadinya nggak kenal. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku bener-bener bakal kawin sama si Jimmy. Aku nggak akan dapat kesempatan untuk mengenal apa itu cinta, dan betapa indahnya saat-saat bersamamu seperti ini."

"Bagus kalau begini..." kata Pandu lagi. "Malam-malam nanti aku nggak akan lagi dengar suara tuyul!" goda Pandu teringat akan komentar sadis Niken kemarin lusa.

Niken tersenyum. "Kamu yang tuyul, perampok!"

"Koq bisa"

"Merampok semua isi hatiku. Nggak tersisa sedikitpun. Padahal waktu pertama kali aku lihat kamu tuh kesannya kamu cowok playboy, yang punya banyak cewek di mana-mana." "Hah Playboy Jadi aku punya tampang playboy"

"Iya."

"Huh. Tampang ganteng-ganteng begini dibilang tampang playboy."

"Lha justru karena ganteng itu"

"Jadi kamu setuju dong kalo aku ganteng" goda Pandu.

"Nggak tau, ah. Kamu suka sekali memutar-balikkan kata-kataku."

"Ya sudah deh kalo emang aku punya tampang playboy. Tapi aku nggak lho.

Kamu saja beruntung bisa jadi pacar pertamaku lho. Dan yang terakhir, I hope"

"Oke, sudah cukup rayuan gombalnya. Sekarang aku harus ngebut karena kalau tidak kita akan terlambat." kata Niken sambil menstater mobilnya lagi setelah merebut kunci kontaknya dari tangan Pandu.

"Mau ke mana sih kita"

"Sudah aku bilang, liat saja nanti."

Ternyata tadi Niken mengajak Pandu ke gereja. Misa Sabtu sore. Ada-ada saja Niken. Pakai acara rahasia-rahasiaan segala tadi. Cuma mau ke gereja saja. "Mau ke mana nih Sekarang aku nggak ada rencana mau ke mana-mana lagi. Mau makan di mana" tanya Niken.

"Kamu mau ke gereja saja pake mengedipkan mata segala. Dasar. Aku kirain mau ke mana. Pantas kamu rapi sekali. Untung aku juga pakai baju rapi." Pandu setengah mengomel.

"Ya kalo kamu tadi aku liat nggak pakai baju yang rapi ya aku suruh ganti lagi dong. Ayo nih, ke kiri atau ke kanan Mau ke mana kita" kata Niken sampai di ujung Jalan Pemuda.

"Makan nasi goreng babat suka" tanya Pandu.

"Suka dong. tapi mampir ke Kenanga yah, aku mau ganti sandal saja. Nggak enak pakai sepatu begini. Panas." Pandu mengangguk.

Sambil membuka pintu rumahnya, Niken berkata, "Kamu duduk di sofa ruang tengah sana.

Empuk."

"Fei, aku boleh pinjam telfonnya" tanya Pandu.

"Boleh aja. Itu wireless di meja." tunjuk Niken. "Aku tinggal masuk kamar dulu ya." lanjut Niken.

"Sudah selesai telefonnya" kata Niken saat keluar kamar lagi. "Sudah. Makasih ya."

"Dengerin radio saja ya, bosan aku dengerin CD kamu." pinta Pandu waktu mereka sudah di mobil lagi.

"Bagus juga, ini Boss FM jam segini biasanya adanya acara kuis. Aku sering iseng ikutan jawab sendiri, tapi nggak pernah ikutan telefon. Males. Aku bisa diledekin anak-anak Boss kalo salah jawab."

". Acara kuis hari ini kita tunda lima menit, karena permintaan dari sohib karib kita. Niken, kalo kamu dengerin, yang satu ini buat kamu." "Hah Koq bisa begini" batin Niken bingung sambil mengeraskan volume radionya. "Itu suara Mbak Merlina. Biasanya dia kan nggak memandu acara kuis. Lagian apa-apaan kasih salam ke aku, tumben amat Koq tahu bisa kalo aku bakal dengerin radio malam ini"

Dia langsung sadar. "Pasti Pandu!" katanya sambil menatap wajah cowok yang duduk di sampingnya itu.

Pandu sedang asyik menikmati lagu "Nothing else matters"-nya Metallica itu sambil ikut nyanyi.

"Hey," kata Niken sambil menguncang-guncangkan tubuh Pandu. "Ini kerjaan kamu yah" tuduhnya.

"Yee ge-er amat. Yang namanya Niken kan nggak cuma kamu. Tapi ini lagu bagus, jangan dipindah channelnya." kata Pandu.

Niken mengerutkan keningnya. "Kalau bukan Pandu, lalu siapa Yah mungkin saja Niken yang lain", pikirnya.

So close no matter how far

Couldn't be much more from the heart

Forever trusting who we are

And nothing else matters

Never opened myself this way

Life is ours, we live it our way

All these words I don't just say

And nothing else matters

"Niken sayang," Suara Pandu muncul dari radio!, pekik Niken dalam hati. Nah! Dia lalu menatap tajam mata Pandu yang tersenyum-senyum aneh.

"Inget waktu aku proklamasi cinta di tengah lapangan, kira-kira setahun yang lalu Aku masih menyimpan kertasnya. Sekarang aku akan proklamasi sekali lagi, kali ini aku serius, dan ini untukmu. Oh, ya. Lagu Metallica yang di background ini juga requestku."