MISA ARWAH & PUISI-PUISI LAINNYA - 21
Demi rasa pahit di mulut orang-orang saleh

dan luka bakar yang tersembunyi

di punggung tanganmu,

jangan bangunkan diriku

bila camar-camar masih beterbangan.

Jangan bangunkan, sebelum kegelapan menjeratku

dengan jala apinya yang tenang.

Kelak jika saatnya tiba, mimpi-mimpi itu

akan berjatuhan dengan sendirinya

dari kelopak mataku, bagaikan serbuk halus

yang luruh dari pohonan.

Udara terlalu sesak, Ahmed, terlalu sesak

dengan bau kapur barus ingatan

dan amis khayal tentang hari depan,

sedang jalan mana saja yang kutempuh

tak pernah kehabisan persimpangan.

Barangkali setiap keping batu

yang diratakan menjadi jalan

memang tahu sebait pengasih, dan selebihnya:

hasrat untuk menyesatkan.

Dalam tidur yang hampir sama panjang

dengan umur waktu, berkali-kali

kusaksikan burung simurg naik ke langit

dan ular-ular tanahdengan racun ungu

pada taringnyamerambati dinding parit.

Adakah, adakah perbedaan keduanya

di hadapan Awal dan Akhir

Di langit tak ada peradilan

tak ada Langit dan orang tak diadili.

Demi sengatan dingin yang ganjil ini

serta bau hangus kayu

yang tak terkebas dari gamismu,

jangan bangunkan diriku

bila mereka yang berumah masih akan kembali

dan yang tiada berumah

masih tidak kembali.

/2013