A SHOULDER TO CRY ON - 22
DAMARA menerobos masuk ke kamar apartemen tempat ia dan Anggun biasa bertemu.

Jantungnya berdetak begitu cepat sejak ia mendengar isak tangis Anggun di telepon. Mata Damara menebarkan pandangan cemas ke sekeliling apartemen mencari-cari sosok Anggun.

Anggun terlihat duduk di sofa di ruang tengah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar, sementara isak tangis terdengar jelas di telinga Damara. Ia bergegas menghampiri Anggun, tanpa banyak pertimbangan Damara langsung meraih tubuh gemetar Anggun ke dalam pelukannya.

"Kamu jangan takut, aku ada di sini sekarang," kata Damara, seraya mendekap tubuh gemetar Anggun.

Anggun menangis sejadi-jadinya di pelukan Damara. Baru pertama kalinya Damara melihat Anggun seperti ini. Perempuan angkuh itu kini begitu rapuh. Damara tidak tahu jelas apa yang sebenarnya dirasakannya pada Anggun sekarang. Perasaannya pada Anggun memang sudah banyak berubah sejak Imelda mengisi hatinya, tapi saat menghadapi Anggun dengan kerapuhannya, Damara tidak bisa benar-benar menghilangkan semua rasa yang dulu pernah ada.

Ada perih yang terasa saat Damara membelai lembut wajah Anggun. Luka memar tampak jelas di wajah halus Anggun menyulut amarah dalam diri Damara, membuat Damara ingin melakukan apa pun untuk lebih menyakiti orang yang sudah membuat Anggun seperti ini.

"Kita nggak bisa biarin ini semua! Kita harus bikin perhitungan sama suami kamu!" tegas Damara, bangkit berdiri. Kemarahan mulai menguasai dirinya.

"Jangan, Mar... Aku nggak mau kamu buat masalah sama dia." Anggun menarik tangan Damara, menahan Damara agar tidak pergi. "Kamu nggak tahu siapa dia, Mar."

"Aku nggak peduli siapa dia! Aku hanya peduli sama kamu. Aku mau buat orang itu berpikir dua kali bila akan menyakiti kamu lagi."

Anggun mengeratkan pegangannya pada lengan Damara, mata sembapnya menatap penuh permohonan.

"Aku mohon, Mar... Aku nggak mau kamu terluka. Dia berani membayar orang untuk melukai bahkan membunuh kamu. Terlebih setelah dia tahu bahwa kamu alasan aku menggugat cerai. Aku nggak mau kamu melakukan hal bodoh dengan mendatangi dia."

"Tapi, aku nggak bisa..."

Cepat-cepat Anggun memeluk Damara, membuat Damara berhenti meneruskan kalimatnya.

"Aku cinta kamu, Mar. Aku nggak mau hal buruk terjadi sama kamu."

Tidak ada yang dapat dilakukan Damara lagi. Ia hanya diam membiarkan tubuhnya berada dalam pelukan Anggun, pelukan yang entah mengapa kali ini membuatnya begitu lemah.

***

Imelda menatap bayangannya dalam cermin, sesosok wanita pucat berwajah lusuh dengan lingkaran hitam di sekitar matanya menatap balik padanya. Imelda mengerjapkan matanya, seakan tidak percaya wanita di dalam cermin adalah pantulan dirinya. Imelda menghela napas pelan, menyisiri rambutnya yang berantakan dengan jari-jari tangannya. Ia tidak bisa terlalu lama seperti ini, pasti ada banyak hal yang perlu dikerjakannya. Tugas-tugas dan pekerjaan yang seperti biasa sudah dijadwalkan tanpa sepengetahuannya.

Cukup bagi Imelda menenggelamkan diri dengan semua sakit yang dirasakannya akibat terlalu ceroboh membiarkan dirinya memercayai ketulusan cinta. Sakit ini tidak akan dibiarkannya terus terasa. Tidak di saat ia ingin mengangkat wajah dengan tegak di depan Damara, tanpa membuat Damara tahu betapa sakit rasanya memaksa diri berhenti mencintai orang yang begitu dicintai.

***

Danu duduk di sisi tempat tidur rumah sakit tempat ayahnya dirawat sambil mengupas kulit jeruk dengan begitu telaten. Lelaki yang terbaring itu menatap Danu dengan penuh rasa terima kasih.

"Besok Danu pulang, Pa. Danu harus sekolah, sebentar lagi Ujian Nasional... tapi habis ujian Danu pasti balik lagi ke sini."

Ayah Danu mengangguk pelan. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan lelaki itu setelah serangan stroke yang dialaminya. Ia tidak dapat berbicara dengan jelas, sebelah tangan dan kakinya tidak dapat bergerak dengan sempurna, membuatnya hanya bisa seadanya merespons kata-kata Danu.

"Danu udah bayar semua tagihan rumah sakit, jadi Papa nggak usah khawatir... Papa bisa tetep tinggal di rumah sakit ini selama Danu pulang," jelas Danu, seraya memberikan jeruk yang sudah dikupas dan dibersihkan pada ayahnya.

"Pa... Papa nger... ti," kata ayah Danu terbata-bata. "Teri... ma ka... sih."

Ayah Danu mengusap tangan Danu dengan gerakan kaku, seakan dengan melakukan itu ia ingin mengatakan bahwa semua yang dilakukan Danu untuknya sangat berarti. Ada yang aneh saat Danu merasakan elusan tangan ayahnya, seperti merasakan apa yang selama ini dirindukannya setelah sekian lama, sesuatu yang mengubah kebencian menjadi rasa sayang.

"Kak Damara yang ngasih semua biaya Papa. Sekarang memang hanya uang Kak Damara yang ada di sini, tapi Danu janji akan bawa Kak Damara ke sini untuk Papa."

Ayah Danu kembali mengangguk, kali ini air mata menggenang di kelopak matanya. Tanpa katakata ia menunjukkan keharuannya, keharuan seseorang yang merasa bersalah dalam penyesalannya.

Danu bisa merasakan itu semua. Ia tahu ada banyak penyesalan di mata ayahnya, saat menatapnya. Hingga Danu merasa tidak ada lagi alasan untuk membenci ayahnya. Akan selalu ada kata maaf untuk sebuah kesalahan, bukan Andai Damara mengerti ini semua.

***

Tepat pukul tujuh malam, Damara berjalan menuju parkiran gedung kantornya. Hari ini Damara sengaja pulang cepat atas permintaan Anka. Ada sedikit perayaan di rumah, perayaan ulang tahun Anka sekaligus merayakan hari ia resmi berhenti kerja di kafe. Danu juga sore ini akan pulang dari Bandung, jadi mungkin ini salah satu upaya Anka untuk mendamaikan Damara dan Danu.

Damara membuka pintu mobilnya, dengan refleks menoleh ke belakang saat merasa ada yang mengawasinya. Tapi tidak ada seorang pun di dekatnya, padahal tadi Damara dengan jelas menangkap gerak-gerik mencurigakan. Mengabaikan semuanya, Damara memutuskan masuk dan mulai melajukan mobilnya.

Di tengah jalan tatapan Damara tertumbuk pada deretan toko perhiasan, dan terpikir akan sangat baik jika ia menghadiahkan sesuatu di hari ulang tahun Anka. Damara menepikan mobilnya di depan toko perhiasan kecil itu, lalu membeli kalung perak berbandul lingkaran dengan permata kecil di tengahnya. Kalung termanis yang pernah dibeli Damara.

Damara kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir, setelah memasukkan kotak kecil berisi kalung yang sudah dilengkapi kartu ucapan selamat untuk Anka ke dalam sakunya.

Sekali lagi, Damara tidak memperhatikan sekelilingnya.

***

Anka meletakkan sepiring besar ayam goreng tepat di samping fruit cake berukuran sedang. Meja makan yang biasanya kosong, kini terlihat penuh dengan berbagai macam sajian yang sengaja disiapkan Anka sejak tadi sore untuk merayakan ulang tahunnya.

Selesai menata meja makan, Anka duduk di sofa menanti para penghuni rumah pulang. Danu mengabarkan ia baru saja sampai di terminal bus, sementara Damara sedang dalam perjalanan pulang.

Jika rencana Anka berjalan dengan baik, mungkin Damara dan Danu bisa kembali akur seperti dulu.

***

Mobil Damara berhenti tepat di depan pagar rumah. Baru saja Damara menjejakkan kakinya hendak turun untuk membuka pagar, tiga laki-laki bertubuh besar sudah berdiri di depannya tanpa alasan.

Bingung dengan keberadaan tiga orang laki-laki yang berdiri nyaris mengimpitnya, Damara hanya menatap mereka bergantian, mencoba mengenali.

"Lo Damara, kan" tanya salah satu dari ketiga laki-laki itu.

Tanpa menunggu jawaban, laki-laki itu langsung memukul perut Damara. Aksi laki-laki itu diikuti kedua temannya, memukul dan menendang semua bagian tubuh Damara yang terjangkau oleh mereka.

Damara jelas tidak bisa melawan, ketiga orang itu memukulnya tanpa memberinya waktu untuk siaga, tanpa memberi sedikit jeda untuk bergerak dan balas menyerang.

Damara merasakan pukulan-pukulan yang diterimanya menyesakkan dadanya, darah hangat dan asin mengalir dari mulutnya saat salah satu laki-laki itu menghajar keras rahangnya. Pandangan Damara mengabur seketika.

***

Gelas di tangan Anka terlepas dari pegangannya, membentur lantai dengan suara nyaring. Serpihan kaca bertebaran di sekitar kaki Anka. Apa yang dilihatnya di luar sana membuat tangannya serasa tidak mampu menggenggam apa pun. Anka melesat ke luar, mengabaikan perih akibat serpihan kaca yang menusuk kakinya. Apa pun yang terasa saat ini tidak begitu penting dibanding apa yang sedang terjadi pada Damara di luar sana.

Jantung Anka seperti berhenti berdetak saat melihat Damara terkapar tak berdaya di atas aspal. Kernyit kesakitan terlihat jelas di wajah lebam Damara. Kemeja putih yang dipakainya ternodai bercak-bercak darah.

"Kak Damara...!" pekik Anka, seraya menerobos tubuh besar orang-orang yang memukuli Damara.

Anka meraih tubuh lemah Damara, berusaha membopong tubuh Damara. Tapi Anka jelas tak sanggup, hingga ia hanya bisa terduduk seraya menopang kepala Damara yang terkulai.

"Minggir!" hardik salah satu laki-laki bertubuh besar pada Anka.

"Nggak! Jangan pukul Kak Damara lagi... aku mohon..." ratap Anka, mengeraskan rangkulannya ke tubuh Damara. "Jangan..."

"Minggir!!" Sekali lagi suara dingin itu terdengar keras di telinga Anka.

Anka menggeleng cepat, pipinya sudah basah oleh air mata.

Kesal dengan kekeraskepalaan Anka, salah satu dari laki-laki bertubuh besar itu menarik Anka, berusaha melepaskan pegangan Anka dari Damara.

Anka meronta sekuat tenaga menolak melepaskan Damara, sementara tangan kuat laki-laki itu menyentakkannya menjauh. Anka menjerit sekeras-kerasnya sebagai usaha terakhir untuk mengakhiri penganiayaan terhadap Damara, berharap di lingkungan sepi ini ada yang mendengar jeritannya dan datang untuk menolong. Tapi sampai tenggorokan Anka sakit, tak ada seorang pun yang datang.

Damara kembali harus menerima pukulan dan tendangan dari ketiga laki-laki itu. Anka sendiri tidak tahu mereka siapa, dan apa alasan mereka tega menganiaya Damara sedemikian rupa.

Damara terlihat sudah tak sadarkan diri, tubuhnya menelungkup diam tanpa perlawanan, sementara tendangan bertubi-tubi mendarat di tubuh lemahnya.

Sekuat tenaga Anka melepaskan diri dari laki-laki yang memeganginya, berlari menghampiri Damara. Anka berdiri di depan tubuh Damara, merentangkan lengannya menghalangi laki-laki bengis itu.

"Berhenti!!" teriak Anka bercampur isak.

"Minggir lo, anak kecil!"

Hardikan itu terdengar lagi, tapi apa pun yang terjadi kini Anka bertekad tidak akan menyingkir selangkah pun. Ia tidak akan membiarkan orang-orang itu melukai Damara lagi.

"Pengin mati lo, hah!"

"Kalo berani, pukul saja saya! Jangan pukul orang yang sudah tak berdaya," tantang Anka dengan suara gemetar.

Sialnya, ketiga laki-laki itu bukan termasuk orang yang berpikir dua kali untuk memukul atau melukai wanita. Mereka menatap Anka bengis, tangan-tangan mereka mengepal seakan siap melayangkan pukulannya pada wajah Anka. Jantung Anka berdetak begitu cepat, membayangkan jika orang itu benar-benar melukainya.

Dengan sisa keberaniannya Anka memejamkan matanya, tetap memosisikan diri sebagai tameng Damara, seraya memohon kekejian ini akan berakhir saat ia membuka mata.

***

Danu berlari cepat menuju rumahnya, ketika beberapa puluh meter dari tempatnya berjalan ia melihat Anka berdiri di depan rumah menghadapi tiga laki-laki bertubuh besar. Entah apa yang membuat Anka harus berhadapan dengan orang-orang seperti itu, Danu tidak punya waktu untuk memikirkannya.

Hingga akhirnya Danu melihat tubuh kakaknya terkapar di jalan aspal dan Anka berdiri di depan Damara, menghalangi orang itu menyentuh Damara. Tatapan mata mereka seakan siap melumat Anka. Salah satu laki-laki itu bahkan sudah siap mengayunkan kayu seukuran stik soft ball ke arah Anka.

Di tengah napas tersengalnya, Danu melesat menghampiri Anka dan memeluk gadis itu.

Seketika hantaman kayu mendera keras punggung Danu dan membuat pandangannya gelap. Dadanya terasa sesak dengan nyeri yang begitu menyiksa, bunyi berderak membuat Danu mengira tulang iganya telah patah dan menusuk organ dalam tubuhnya. Tapi di tengah deraan rasa sakit yang luar biasa, ia tetap berusaha berdiri untuk melindungi Anka dari hantaman selanjutnya.

"TOLOOONG!!!" Kali ini Anka berteriak lebih kencang dan lantang.

Teriakan minta tolong Anka yang melengking dan berulang-ulang akhirnya membuahkan hasil. Beberapa orang dari ujung jalan berlari mendekati mereka. Mau tidak mau ketiga laki-laki itu bergegas masuk mobil dan melajukan mobil mereka dengan cepat.

Danu melepaskan pelukannya pada Anka, lalu menyandarkan tubuhnya ke sisi mobil Damara. Berusaha menormalkan tarikan napasnya yang terhambat oleh rasa sakit.

Dengan wajah sangat khawatir, Anka langsung berlutut merangkul tubuh Damara yang tak bergerak. Air mata pilu kembali mengalir dari matanya sementara ia mengusap lembut dan tulus wajah Damara.

Sekarang, mendadak rongga dada Danu kosong melihat apa yang dilakukan Anka terhadap Damara. Anka terlihat begitu mengkhawatirkan Damara hingga tidak sadar keberadaan Danu di belakangnya, seseorang yang sudah menjadi tameng untuknya.

Rasa nyeri dan sesak yang dirasakan Danu terasa semakin parah.