THE HALF BLOOD PRINCESS - 22
Mereka bilang aku terlihat seperti mama, dalam balutan lamung pene dan kre alang, pakaian tradisonal kami, rambutku di gerai dan dihiasi bando bunga yang terbuat dari kuningan, mereka benar, aku terlihat sama seperti wanita dalam potret di ruang tamu yang tersenyum lepas penuh kebahagiaan, bukan wanita tanpa ekspresi yang kukenal. Sebelum acara pertunangan ini, Ni menemaniku berdandan di kamar, dia menangis terus menerus, kupikir kecengenganku kudapat darinya

Ni, semuanya baik-baik saja, ini yang terbaik. Aku mencoba menenangkannya dengan mengenggam tangannya, tapi dia tak mampu menghentian derai air matanya, seorang tante, kami menyebutnya aya, memasuki kamarku, dia istri om-ku yang tertua, om dalam bahasa kami disebut puto.

Putomu ingin bicara, Lala Aya Zailah, namanya, berbicara dalam suara yang begitu lembut, dia ciri khas wanita bangsawan sejati, cantik dan lembut, dia lalu mengajak nenekku keluar dan meninggalkanku bersama Puto Aiman, menyusul belakangan Puto Aidan masuk dengan wajah gusarnya, dia selalu terlihat seperti itu. Keduanya duduk mengapitku, Puto Aidan menggenggam tanganku.

Kamu putri kami satu-satunya katanya dalam suara serak, suaranya memang serak dan dalam, gonggo, kami menyebutnya. Kami tak memiliki putri lagi, dan hari ini pun kami harus melepaskanmu Puto Aidan memiliki dua orang putra, sementara Puto Aiman kurang beruntung, istrinya, Aya Sagena, tak bisa memberikannya keturunan, hingga dia mengangkat anak salah satu putra puto Aidan, Binar, sepupu kecilku yang masih tiga tahun, yang tertua, Bintang sekarang berumur Sembilan tahun, keduanya belum bisa akrab denganku, karena perbedaan usia, tentu saja, tapi dalam tradisi kami sepupu itu memiliki hubungan seperti saudara kandung. Kekeluargaan kami sangat erat hubungannya.

Maafkan Puto Ghie, ini semua salah Puto hingga kamu mengalami hidup seperti ini, nyaris tak mengenal keluarga hidup dalam kekosongan, Puto Aidanlah yang mengenalkan mamamu pada Arian, dia ayahmu, Arian membawa Ayara bersamanya, membawa Ayara pada kehidupan yang suram, Arian melakukan kekerasan seksual pada mamamu, entah seberapa sering, hingga terakhir dia menyuruh teman-temannya melakukan hal yang sama pada mamau, padahal ketika itu, dia jelas-jelas tau, bahwa mamamu tengah mengandung anaknya, Puto tak menyangka, bahwa orang yang Puto bawa pulang ke rumah memperkenalkannya sebagai sahabat pada seluruh keluarga malah menghancurkan kehidupan adik sahabatnya sendiri, bukan salah Ayara bila dia jatuh cinta pada orang yang salah, Arian memiliki pesona, tapi tidak memiliki hati, disaat Puto mengetahui yang dia lakukan Puto mendatanginya, memberinya sedikit pelajaran tepat beberapa saat sebelum dia menikahi seorang wanita yang juga menjadi korbannya, Puto menghabiskan waktu 36 jam dalam sel sebelum keluarga membayar jaminan, kami menutupi apa yang terjadi pada Ayara, pura-pura semuanya baik-baik saja, membiarkannya tinggal jauh dari rumah, kami pura-pura tak tau bahwa dia memiliki putri, kami memberikan segalanya tapi itu salah, tak ada kata yang bisa kami ucapkan selain maaf untuk menebus segalanya, Lala Puto Aidan mengelus rambutku, dan Puto Aiman memelukku sekilas, Puto Aidan memberiku selembar foto lama, di foto itu aku melihat senyum bahagia empat remaja, Puto Aiman, Puto Aidan, mama dan seorang pemuda yang memeluk bahu mama dengan wajah sempurna, terlihat serasi bersama mama. Simpanlah, pemuda itu adalah ayahmu, kami tak ingin mengakuinya seandainya bisa. Ada penyesalan dalam suara Puto Aidan tapi tentu saja itu tak berguna, dan maaflah yang bisa melupakan segalanya.

Lala semoga kamu bahagia dengan Lalu Gavner, dia pria baik, sebenarnya, itulah satu-satunya cara, dengan menikahinya maka kamu akan memperoleh kembali gelarmu, seorang wanita yang dalam kasus ini Ayara, apabila memiliki anak dengan pria tak bergelar bangsawan maka anaknya tak bisa memperoleh gelar itu, tapi keluarga tak mempedulikan bagaimanapun juga ada darah kami mengalir padamu Puto Aiman memelukku dan mencium keningku, begitu juga Puto Aidan, dan mereka mengantarkanku menemui calon tunanganku, aku berterima kasih pada mereka karena telah mengantikan tugas seorang ayah untuk mengantarkan putrinya pada pria yang akan selanjutnya akan menjaganya di kehidupannya kelak, walaupun ini hanya purapura tapi aku merasa adegan ini sangat emosional, aku menatap tamu dan tersenyum pada mereka, kulihat kakek dan nenekku dianatara para keluarga, mereka memberiku tatapan dan senyum penuh kasih sayang, seandainya aku mengenal mereka sejak dulu, seandainya aku merasakan kasih sayang ini sejak awal, tapi segala sesuatu memang telah digariskan untuk terjadi pada waktu yang telah ditetapkan, seperti sekarang, saat sebuah cincin tunangan kuno yang telah jadi bagian dari keluarga Gavner turun temurun berada dalam jariku, aku tau kehidupanku takkan pernah sama lagi.