sembari memburu lewat reinkarnasi sejak kakek
buyutku berkali-kali menjelma puisi
menjadi laut, batu, pohon juga kelelawar
betapa rindu aku pada perjamuan suci kita kucari
kau sembari menulis jutaan kitab suci
aku menjelma batu, kau menjelma
ilalang aku jadi rimba, kau meraung
jadi harimau aku berubah laut, kau
merupa pasir aku menjelma kabut,
kau membumbung bukit
aku tumbuh berpohon, kau menitis awan
betapa serasi hidup kita yang tak
pernah berdekatan, meski sangat
mungkin untuk berpelukan ooh
kau yang aku buru beribu-ribu tahun
pada bangkai malam juga panas
yang merayap di kulit berkeringatku
ratusan bahkan ribuan kali reinkarnasi
kuburu kamu
meski pertemuan kadang tak berani aku resapi
aku lahir di tigris tumbuh di
andalusia mengalir di jawa
menetas di bali bergulung di
antartika menggigil di eropa
mampus aku di gaza bangkit
lagi aku di kutub utara
aku telah melebur menjadi api, memanjat gunung menjadi angin
menapaki sungai dengan menjelma air
oh, tuhan betapa rindu ini rindu semesta jauh sebelum masehi
semenjak kita berjanji untuk berpisah setelah aku makan khuldi