Perintah Allah untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam dan larangan Nya untuk berpecah belah, menunjukkan bahawa hal itu mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan kekuatan kaum Muslimin. Allah subhanahu wa taala berfirman yang ertinya:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,
Surah Ali Imran : 103
Menumbuhkan kesedaran kaum Muslimin terhadap pentingnya persatuan adalah sesuatu yang sudah sangat mendesak untuk segera dilaksanakan. Fakta perpecahan yang melanda sebahagian besar kaum Muslimin dewasa ini, jika tidak mendapat perhatian yang serius akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak dan memporak-perandakan barisan kaum Muslimin. kemungkinan logiknya akan melemahkan perjuangan umat Islam. Elemen penting persatuan umat yang perlu difahami adalah kesedaran yang tinggi tentang hakikat persaudaraan dalam Islam.
Ukhuwah (persaudaraan ) dalam Islam dibangunkan di atas landasan iman, bukan berdasarkan pertalian darah, suku, hubungan kekerabatan, apalagi nasionalisme kebangsaan. Allah s.w.t berfirman yang ertinya:
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.
(Al-Hujarat : 10)
Sementara itu Rasulullah bersabda, ertinya:
Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain.
(Hadis riwayat Bukhari-Muslim)
Jelaslah sekarang bahawa setiap Muslim pada asalnya adalah saudara bagi Muslim yang lain. Oleh karena itu hak-hak ukhuwah di antara mereka harus dijaga dengan baik agar tidak menimbulkan kesalah fahaman yang dapat menumbuhkan benih-benih perpecahan yang sekaligus melemahkan barisan perjuangan kaum Muslimin.
Maratibul ukhuwah (tingkatan- ukhuwah) dalam Islam ada tiga, iaitu :
Pertama: Selamat dan terjaganya kaum Muslimin dari gangguan tangan dan lisan. Sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa salam :
Muslim itu adalah siapa saja yang saudaranya Muslim selamat dari gangguan lidah dan tangannya. (Hadis riwayat Ahmad)
Setiap Muslim harus mampu menjaga tangan dan lidahnya agar jangan sampai menyakiti saudaranya seiman. Menyakiti sesama Muslim dengan tangan berimplikasi pula menyakiti fizikal mereka dengan jalan apa pun.
Oleh sebab itu mengganggu kaum Muslimin dengan tangan mewakili seluruh bentuk gangguan secara jasmani. Sedangkan menyakiti Muslim dengan lidah adalah menyakiti perasaan mereka, karena menyakiti kaum Muslimin dengan lidah mewakili seluruh bentuk gangguan rohani.
Rasulullah sallallahu alaihi wa salam bersabda :
Ertinya : Janganlah kalian saling hasad, saling menipu, saling benci, saling memboikot, dan jangan pula sebahagian kalian menjual di atas jualan saudaranya yang lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara, Muslim itu saudara bagi Muslim yang lain : Dia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya dalam kesulitan, tidak meremehkannya. Takwa itu di sini sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali cukuplah bagi seseorang dianggap berbuat jahat jika dia meremehkan saudaranya Muslim, setiap Muslim terhadap Muslim yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.
(Hadis riwayat Muslim)
Kedua : Mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri Rasulullah s.a.w bersabda, Ertinya : Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri
(Hadis riwayat Bukhari-Muslim )
Seorang Muslim tidak akan sempurna keimanannya hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Seorang Muslim yang mencintai saudaranya akan memperlakukan saudaranya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri. Dia suka jika saudaranya turut merasakan kesenangan yang dia rasakan dan tidak suka jika saudaranya tertimpa suatu musibah, yang mana jika musibah tersebut menimpa dirinya dia pun tidak menyukainya.
Sesungguhnya martabat Iman yang paling kukuh adalah cinta dan benci karena Allah s.w.t.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a : Siapa yang cinta dan benci karena Allah s.w.t, menolong dan memerangi kerana Allah subhanahu wa taala, maka sungguh dia telah berhak mendapat derajat wali Allah s.w.t, dan seorang hamba tidak akan mendapatkan manisnya Iman, walaupun banyak ibadah Solat dan Puasanya, hingga dia melakukan hal tersebut. (Hadis riwayat. At-Thabrani).
Ketiga : Mengutamakan saudara seiman di atas kepentingan peribadi.
Allah subhanahu wa taala berfirman, ertinya : Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(Surah Al-Hasyr : 9)
Ayat di atas mengisahkan apa yang pernah terjadi antara kaum Ansar dan kaum Muhajirin. Keberhasilan Islam dalam menebarkan wangi aroma syariat Allah s.w.t sampai ke seluruh muka bumi sangat ditentukan oleh kesedaran yang tinggi terhadap hakikat persaudaraan atau ukhuwah di antara mereka.
Di masa-masa awal pertumbuhannya Rasulullah s.a.w telah berhasil menanamkan pada diri para sahabat sikap ithar (mengutamakan kepentingan saudara seiman di atas kepentingan
diri sendiri ) secara merata. Hal inilah yang kelak menjelma menjadi sebuah kekuatan raksasa lalu memporak-perandakan kan benteng pertahanan kaum kuffar dan musuh-musuh Allah yang lain.
Bukanlah pembohong orang yang mendamaikan jiran tetangga berselisih. Dari ummi kalthum, Rasulullah s,a,w bersabda bukanlah pembohong orang yang mendamaikan saudaranya dan jiran tetangganya yang berselisih. Lalu dia menyampaikan kebaikan atau menyatakan kebaikan. Hadis riwayat Bukhari