angin kumbang ngajar layangan.
wong mlarat dadi pikiran
kegembang dadi bayangan.
mimpimu berlubang
di atap rumahmu
malam sobek di matamu
kau hitung malam lalu
tentang rasa takut dan malu
yang memburumu
tapi usia adalah angka judi
yang bicara untung-rugi.
malam kembali tumbuh
di tubuhmu
bulan gendut memanggilmu.
dengan setengah malu-malu
kau mengintipnya dari sarungmu.
kau berharap bulan itu
menggenapi mimpimu.
maka bulan pun menggenapi tidurmu.
angin mengusap-usap tubuhmu
langit begitu jauh
malam lambat dan jemu
harapan menyembunyikan wajahnya dari rasa malu.
aih mak....
ana pribasane gabah wutah ning leleran
lakonana sabar lan nerima
wong sabar langka alane
malah dadi ning becike.
tapi malam sudah lama meninggalkanmu
sebelum padi-padi tumbuh
di perutmu
dan musim yang kautinggalkan
di kampungmu.
dan malam kembali tumbuh di kepalamu
bulan padam
bintang-bintang mati
jalan temaram
kota pulas
lampu-lampu kamar padam
seekor kecoa melintas
di aspal hitam.
dan dari arah barat
sedan melindasnya.
waktu berhenti.
suara sedan menjauh.