MISA ARWAH & PUISI-PUISI LAINNYA - 23
Hari telah malam,

tetapi mereka pernah juga di sana.

Duduk berdiam-diaman

di atas sebuah kursiyang mestinya

untuk selonjor seorang diri.

Gampang betul, pikir yang perempuan,

mengenali bulan suasa yang bersembunyi,

atau liuk ombak yang menjompak.

Tapi siapa benar mengerti

makna detak-jantungnya sendiri

Dan yang lelaki merunduk kembali.

Tak jadi dia bertanya:

adakah hantu-hantu belaka, cintaku,

yang berumah di pohon besar itu

Mestikah kita beranjak dari sini

Tiba-tiba kedengaran suara, mungkin semacam

gencatan senjata, atau nota damai

buat sunyi yang telah jadi tikai.

Tidak. Kita hanya

perlu berhenti, sentak yang lain.

Bukan berhenti, katakanlah,

manusia butuh waktu.

Tapi apa yang waktu beri

kecuali fantasi yang berubah jadi jeri

Hari depan belum juga kelihatan.

Maka hari depan itu, cintaku,

adalah jerit sedih camar putih

yang selamanya tergulung angin

di mulut karang.

/2011-2013