tetapi mereka pernah juga di sana.
Duduk berdiam-diaman
di atas sebuah kursiyang mestinya
untuk selonjor seorang diri.
Gampang betul, pikir yang perempuan,
mengenali bulan suasa yang bersembunyi,
atau liuk ombak yang menjompak.
Tapi siapa benar mengerti
makna detak-jantungnya sendiri
Dan yang lelaki merunduk kembali.
Tak jadi dia bertanya:
adakah hantu-hantu belaka, cintaku,
yang berumah di pohon besar itu
Mestikah kita beranjak dari sini
Tiba-tiba kedengaran suara, mungkin semacam
gencatan senjata, atau nota damai
buat sunyi yang telah jadi tikai.
Tidak. Kita hanya
perlu berhenti, sentak yang lain.
Bukan berhenti, katakanlah,
manusia butuh waktu.
Tapi apa yang waktu beri
kecuali fantasi yang berubah jadi jeri
Hari depan belum juga kelihatan.
Maka hari depan itu, cintaku,
adalah jerit sedih camar putih
yang selamanya tergulung angin
di mulut karang.
/2011-2013