Memahat waktu bersama air dan topan.
Kaususun doamu sebagai penghangat tubuhku
Telah kauleburkan cangkirku yang pernah beku.
Menyalakan doa dengan api rindu
Hanya namamu yang bergetar merdu.
Doamu menjelma sebait madah,
Adakah namaku jadi syair terindah
Dahaga bumi luntur setelah gemuruh
Masihkah kau bertahan di sana
Gadis kecilku, jangan sampai kau terjatuh
Bening matamu memijarkan makna.
Sampaikan pada Tuhan doaku yang senyap.
Engkaulah malaikat-Nya yang tak bersayap.
(Naimata, Juli 2009)