MEMORIA - 23
Kautemukan aku di antara jemari hujan

Memahat waktu bersama air dan topan.

Kaususun doamu sebagai penghangat tubuhku

Telah kauleburkan cangkirku yang pernah beku.

Menyalakan doa dengan api rindu

Hanya namamu yang bergetar merdu.

Doamu menjelma sebait madah,

Adakah namaku jadi syair terindah

Dahaga bumi luntur setelah gemuruh

Masihkah kau bertahan di sana

Gadis kecilku, jangan sampai kau terjatuh

Bening matamu memijarkan makna.

Sampaikan pada Tuhan doaku yang senyap.

Engkaulah malaikat-Nya yang tak bersayap.

(Naimata, Juli 2009)