MISA ARWAH & PUISI-PUISI LAINNYA - 24
Lelaki renta dalam jubah mori itu

belum ingin percaya pada penglihatannya.

Sesam, sesam, ia bergumam

dengan bibir kering, dalam nada jeri,

entah untuk kali yang keberapa.

Mata itu mata yang sedih

dan ada yang melintas di sana:

Juga keledaiku

(dua hari lalu ia bertanya,

melempar protes ke arah wajah

Arab Hitam yang menjual peta kepadanya).

Celakalah kedua tangan para peragu!

Si Arab menjerkah.

Maka orang tua ceking itu pun kembali

menghitung segala yang ia miliki

yang akan tidak ia miliki:

seekor keledai putih, sebuah pelana,

dan sebilah belati retak

untuk mengguratkan apa saja

yang masih dikenangnya

pada pokok-pokok mahogani.

Sesam, sesam.

Seperti ada jurang yang tiba-tiba terbentang

antara kedua tungkainya yang lunglai

dengan gua karang di hadapannya.

Mungkin ia putus asa. Atau sekadar

merasa heran kepada hidup

yang senantiasa mengajak berkelakar.

Ia menunduk. Hatinya sakit

dan ludah yang menggumpal

dalam mulutnya terasa pahit.

Seorang orang asing telah memiliki

segala yang pernah kumiliki,

mungkin itu yang ia pikirkan. Mungkin bukan.

Boleh jadi ia justru takjub

dan mulai percaya pada keajaiban kata-kata:

Di ujung rute ini, Saudara, akan kau temui

sebenar-benarnya kebahagiaan.

Demikian Arab Hitam itu meyakinkannya.

Dan ia tahu, tak pernah ada muslihat

di antara mereka.

Sesam, sesam, ucap

lelaki tua dalam jubah mori itu

sekali lagi, sambil membalik badannya

ke arah laut, ke arah maut,

di mana semestinya

tiap-tiap kegilaan dipulangkan.

/2013