Agar sebelum tangkainya dipatahkan ragu
Sempat kita kekalkan sebait rasa yang lugu.
Selarik doa yang perlahan-lahan kita amini.
Maka Tuhan yang jauh kita dekap erat
Dengan kesedihan yang belum sempat dikerat.
Air mata-Nya kita gunakan menghadirkan cinta
Atau sekadar menyiram tanaman-tanaman melata.
Dari mana baiknya kita mulai mengeja kehilangan
Kepak burung, patahan malam atau sebaris kenangan
Demikianlah pesan yang kita hadirkan sekarang
Adalah rasa lapar yang kita unduh dengan sukacita
Lalu kita bubuhkan ihwal paling mangsi pada tinta
Agar lapang arah garis kehilangan menjengkal karang.
(Naimata, Juli 2009)