DARI LANGIT - 24
REVOLuSI CINa merupakan salah satu peristiwa besar di abad ke20. Baik atau buruk, Revolusi Cina, serta Revolusi Ok tober di Rusia, menandai sebuah periode dalam sejarah modern kita, saat perpaduan komunisme dan nasionalisme menjadi kekuatan pendorong terbesar bagi perubahan sosial.

Dalam esai pendek ini saya akan membahas mengapa Revolusi Cina terjadi. Saya juga akan mencoba untuk melihat mengapa kaum Komunis muncul sebagai pemenang dalam revolusi tersebut.

Menurut Lucien Bianco, sebab utama revolusi tersebut tertanam dalam realitas sosial Cina pra1949: masalah kaum petani. Karena hubunganhubungan struktural di pedesaan (yakni penghisapan oleh kelas atas, pajak yang terlalu besar oleh nega ra feodal, dll.) kaum petani dipaksa untuk memikul bagian ter berat dari pembagian kerja dan pembagian sosial. Karena itu, dalam sebagian besar sejarah Cina modern, kaum petani menderita. Pemerintahan nasionalis/militer yang berkuasa setelah negara feodal tersebut runtuh pada 1912 gagal memecahkan persoalan ini. Persoalan sosial yang mendasar tersebut tetap tak terpecahkan: karena itu, revolusi sosial merupakan satusatunya pilihan bagi kaum petani untuk memecahkan persoalan mereka.

Bagi Bianco, imperialisme dan strategi tentara Merah juga memainkan peran penting. Imperialisme Jepang membangkitkan na sionalisme Cina, suatu perasaan solidaritas kuat yang dida sarkan pada kecintaan pada tanahair, yang dimanfaatkan oleh kaum Komunis dengan sangat baik untuk mendukung per juangan revolusioner mereka. Strategi tentara Merah dalam pe rang gerilya terbukti merupakan suatu faktor yang menen tukan baik da lam memobilisasi rakyat, terutama di pedesaan, un tuk me lawan invasi tersebut, maupun dalam menaklukkan pas ukan mili ter Guomindang dalam Perang Saudara setelah Jepang kalah.

Ringkasnya, kita dapat mengatakan bahwa bagi Bianco, sebab utama revolusi tersebut adalah struktur sosial yang ter tanam di wilayahwilayah pedesaan. Namun juga diperlukan faktorfaktor lain untuk mendorong, membentuk, dan mentransf ormasikan sebab sosial ini menjadi perjuangan revolusioner dan kemenangan kaum Komunisdan faktorfaktor ini adalah imperialisme dan strategi tentara Merah.

Seperti halnya setiap peristiwa besar dalam sejarah modern kita, Revolusi Cina merupakan sebuah peristiwa yang kompleks. tidak ada satu sebab tunggal yang bisa dianggap sepenuhnya ber tanggungjawab terhadap terjadinya Revolusi tersebut. Namun, untuk tujuan analisis kita, kita perlu menyederhanakan pe ristiwa besar dan rumit tersebut dan mencari dua atau tiga faktor untuk diberi penekanan. Dalam hal ini, saya cenderung menyetujui sebagian besar dari argumen utama Bianco. Namun, sebagaimana yang akan saya jabarkan di bawah, saya akan melihat sebab revolusi tersebut dan dampakdampaknya dari su dut pandang yang sedikit berbeda (yakni kegagalan Guomin dang), dan akan memberi penekanan pada peran impe rialis me dan kepemimpinan. Dengan kata lain, bukan hanya struk tur sosial, melainkan juga gagasan dan pilihan, yang dia nggap pen ting dalam memahami Revolusi tersebut dan dampakdam pak nya.

***

Jika kita membaca buku Bianco itu secara cermat, khususnya pada bab empat dan lima, kita akan sampai pada ke simpulan bahwa Guomindang sejak awal telah ditakdirkan gagal dalam memecahkan persoalan sosial yang mendasar ter sebut karena tujuan utamanya adalah revolusi nasional (ke satuan dan kemerdekaan) dan reformasi sosial. Baginya, kontradiksi di sektor ruralagrikultural terlalu besar: hanya revolusi sosial yang dapat membebaskan kaum petani dari penderitaan mereka yang semakin besar. Jalan tengah tidak akan berhasil. Karena itu, alasan mengapa persoalan sosial yang mendasar tersebut tetap tak terjawab, dan kemudian melapangkan jalan bagi revolusi, bersifat struktural.

terdapat beberapa kebenaran dalam penjelasan struk tural ini. Namun, menurut saya, terlalu menekankan penjelasan struk tural ini cenderung mengabaikan beberapa faktor yang juga sangat penting. Faktorfaktor ini adalah faktorfaktor pol itik dan kepemimpinan.

Pertama, faktorfaktor politik. Chiang Kaishek, dalam obsesinya untuk menyatukan negeri tersebut dalam waktu singkat setelah Ekspedisi utara, harus banyak berkompromi dengan para pemimpin militer (hsu, 1990: 572). Ia kemudian harus bergantung pada kekuatan para pemimpin militer ini sebagai basis kekuasaan Guomindang. hal ini menjadikan dia tawanan kepentingan para pemimpin militer tersebut. Selain para pemim pin militer ini, Chiang juga mendasarkan rezimnya pada du kungan para saudagar dan bisnisbisnis besar.

aliansi politik ini menghalangi Guomindang untuk secara efektif memecahkan persoalan petani tersebut. Para pemimpin militer tersebut enggan melihat reformasi radikal di pedesaan yang pada akhirnya hanya akan membahayakan kepentingankepentingan mereka sendiri. akibatnya: Guomindang tidak bisa menjalankan reformasi tanah (redistribusi tanah), yang mungkin bisa merupakan suatu pemecahan yang baik bagi persoalan sosial di pedesaan ini. Dalam hal ini, novelis Pearl S. Buck, yang lahir di Cina dan menghabiskan sebagian besar hi dupnya di sana hingga 1933, berkata:

Pemerintahan nasionalis tersebut tampak tidak dapat mel aku kan suatu reformasi nyata dalam hal distribusi tanah dan se mua usaha lain karena itu hanya bersifat memperbaiki. Pada pertengahan 1935, jelas bahwa bahaya terbesar bagi keber lanjutannya adalah pengabaiannya akan reformasi tanah. Ia telah menjadi sebuah pemerintahan dari dan bagi kelas pemilik tanah dan melawan kaum petani. (Buck, 1970: 292)

Benar bahwa Guomindang membuat beberapa kemajuan. hsu (1990: 565570) melihat bahwa terjadi beberapa perbaikan khususnyadalambidangfinansial,pendidikan,pembangunanindustri, dan transportasi. Di bidang transportasi, misalnya, pada 1936 jaringan jalan raya menghampar sepanjang 115.703 km, dibanding hanya 1.000 km pada 1921; dan dalam periode 192932, sistem jalan kereta api hampir berlipat dua. Namun hampir semua kemajuan ini segera tertelan oleh, dan menguap karena, luasnya wilayah Cina dan besarnya persoalannya. untuk memberi contoh betapa sulitnya bagi suatu pemerintahan untuk memodernisasi Cina, Profesor R.h. tawney pada 1932 berkata bahwa meskipun 10.000 mil jalan kereta api dibangun setiap tahun di Cina, negeri itu sedemikian luas sehingga memer lu kan 180 tahun sebelum Cina memiliki sebuah jaringan ja lan kereta api yang memadai sebagaimana Britania (Buck, 1970: 300).

Keluasan wilayahwilayah Cina dan besarnya masalahmasalahnya mungkin merupakan petunjuk terbaik bahwa Chiang, alihalih berkonsentrasi pada reformasi finansial dan pemb angunan militer, pertamatama harus berkonsentrasi pada pemecahan persoalanpersoalan utama di wilayah pede saan (di mana lebih dari 80% orang hidup di sana). Sebagaimana dikemukakan oleh Buck di atas, tanpa perbaikan dalam keh idupan kaum petani (melalui reformasi tanah, misalnya), se tiap langkah untuk memodernisasi negeri itu hanya bersifat perbaikan. Namun, karena berbagai rintangan politiknya, Chiang tidak melakukan apa yang harus ia lakukan: tepat sebelum Jepang datang, menjadi jelas bahwa cepat atau lambat para petani dapat dipastikan akan menerima perjuangan Ko munis untuk melakukan revolusi melawan Guomindang.

Kedua, kepemimpinan. Jika kita membebaskan diri dari determinisme politik, sangat mungkin untuk berspekulasi bahwa bahkan di bawah rintangan politik yang besar, sebuah kepemimpinan yang cerdas, berani, dan berpandangan luas bisa melindungi Guomindang dan memimpinnya untuk menghadapi para penantangnya. Namun, sayangnya, Chiang Khaisek tidak dapat menyediakan kepemimpinan seperti itu. Ia adalah seorang prajurit dan hanya memiliki pendidikan seorang prajurit. hingga tahuntahun terakhir rezimnya, tulis Pearl S. Buck, di hatinya ia tetap seorang prajurit dan belanja kebutuhan militer selalu merupakan sesuatu yang utama. Dan tidak seperti Mao Zedong, Chiang bukan seorang intelektual, juga bukan seorang teoretisi (1970: 286).

Mungkin Chiang memiliki kualitas untuk menjadi seorang komandan militer yang bagus: keberanian, ketulusan, asketisme. Namun kualitaskualitas ini tidak memadai untuk menjadi seorang pemimpin yang tantangannya bukan hanya tantangan militer, melainkan juga tantangan politik dan sosial. Menjadi seorang pemimpin yang baik di tahun 19281937 yang begitu pelik berarti menjadi seperti Pemimpin Mao di masa yanan: seorang komandan militer yang hebat, dan pada saat yang sama juga seorang intelektual yang berpandangan jauh, seorang politisi yang lentur, kawan yang bisa dipercaya, dan seorang ahli strategi yang selalu belajar dari kesalahankesalahan sebelumnya.

Selain itu, Chiang tampak tertekan karena wataknya yang penuh kecurigaan. Ia tidak mempercayai siapapun kecuali keluarganya sendiri dan beberapa koleganya, dan karena itu banyak menyingkirkan dari kepemimpinannya orangorang yang cakap dan baikantara lain hu hanmin, Wang Jingwei, Li Zongren, dan K.C. Wu; (Pearl S. Buck mencatat bahwa pada 1951 Chiang menjadi orang yang terasing tanpa sahabat).

Pendeknya, kepemimpinan Chiang tidak sesuai dengan masanya dan tantangantantangannya. Faktor ini, dan rintanganrintangan politik yang telah disebutkan di atas, memiliki andil dalam kegagalan Guomindang dalam memecahkan persoalan sosial yang mendasar tersebut. Dan karena itu, sebelum krisis yang dihamparkan oleh invasi Jepang, benihbenih revolusi telah tertanam.

***

Dengan datangnya Jepang, dan dengan segala kekejaman dan kekejiannya, benihbenih revolusi tersebut bersemai dan mendapatkan bentuk. Di sisi lain, dampak langsung dari imperialisme Jepang ini, menurut Maurice Meisner, tentu saja adalah penghancuran fondasi Guomindang:

Invasi Jepang tersebut meruntuhkan fondasi rezim Guomindang, karena kaum Nasionalis tersingkir dari kotakota besar yang menjadi sumber dukungan finansial dan politik utamame reka. Bagi Guomindang, dampak peperangan tersebut adalah kekacauan ekonomi dan korupsi birokratis yang begitu besardan, akhirnya, demoralisasi total (Meisner, 1986: 37).

Di sisi lain, perang tersebut membuka jalan bagi kaum Komunis untuk memperkuat posisinya. Sekali lagi, kesalahan Chiang merupakan bagian dari alasannya. Setelah kalah dalam peperangan di Wuhan, Chiang pada Oktober 1938 memutuskan untukmenarikdirikepedalamanselatan,Chongqing.Namun,seperti yang dikemukakan Bianco, dalam melakukan hal itu Chiang gagal melakukan satu hal yang sangat penting yang akan menjadikan strategi perang lokalnya sangat efektifyakni melakukan perang gerilya di belakang garisgaris pertahanan Jepang (1971: 149).

Kesalahan ini menjadikan wilayahwilayah luas di timur dan utara berada dalam kekuasaan pasukan gerilya ten tara Merah: mereka adalah satusatunya pihak yang tersisa yang mencoba memerangi Jepang. hal ini juga menjadikan kaum Komunis satusatunya sahabat bagi rakyat yang bisa di mintai perlindungan ketika mereka disiksa oleh orangorang Jepang atau para bandit lokal. Pendeknya, kesalahan Chiang untuk tidak melancarkan perang gerilya yang terkoordinasi mem ungkinkan kaum Komunis untuk menjadi sahabatpelindung di hati rakyat. Dengan kata lain, invasi tersebut menjadikan ka um Komunis sebagai pahlawan nasional. Merekalah para pa triot, dan karena itu dengan mudah merebut hati rakyat (setelah Jepang pergi, kesalahan ini secara militer sangat pen ting bagi tentara Merah: pada 1945 wilayahwilayah luas di utara dan ti mur berada dalam kontrol kaum Komunis).

Selain itu, kita tidak boleh lupa bahwa sebagaimana dikemukakan oleh Chalmer Johnson, invasi tersebut membangkitkan nasionalisme kaum petani, suatu nasionalisme massa yang sangat berbeda dari nasionalisme kaum intelektual. Nasionalisme kaum intelektual pada dasarnya bersifat borjuis; sebaliknya, nasionalisme kaum petani lebih primitif dan kuat, yakni nasionali sme keputusasaan (Bianco, 1971: 154). Sebagai satusatunya sahabat yang tersisa di wilayahwilayah pedalaman di be lakang garisgaris pertahanan Jepang, kaum Komunis me miliki ke sempatan untuk mengubah keputusasaan ini menjadi sebuah gerakan revolusioner. hasilnya: semakin banyak orang yang bergabung dengan gerakan perlawanan di bawah bendera ko munisme tersebut (tentara Merah). Pada 1937, menurut Bianco, terdapat 80.000 orang dalam tentara Merah; namun pa da 1945 terdapat 900.000 orang ditambah pasukan milisi yang terdiri atas 2,2 juta orang (1971: 150).

terlepas dari kesalahan Chiang tersebut, perbaikan besar posisi kaum Komunis selama invasi tersebut hendaknya juga dilihat sebagai akibat dari strategi Mao dan tentara Merah. Di sini kita dapat berkata bahwa sebagian besar fondasi faktor ini dibentuk selama periode yenan. Setelah mempelajari kesalahankesalahan di Jianxi, Mao merangkul siapa saja yang bersedia untuk ikut dalam kesadaran proletariat, terlepas dari apapun kelas sosialnya (lihat Meisner 1986: 4646).

hal ini berarti bahwa Mao mencobadan berhasilme

rangkul para petani yang terampil dan juga kaum borjuis dalam perjuangan revolusionernya; dan dengan demikian secara substansial menambah kekuatan strategisnya. Dalam periode ini Mao juga memperkenalkan metodemetode ekonomi seperti swasembada, swakarya, dan inisiatif lokal; dan mendorong gaya hidup yang didasarkan pada nilainilai seperti egalitarianisme, asketisme, kerja keras, dan disiplin diri.

Pendeknya, warisanwarisan yanan membuat kaum Komunis lebih dekat dengan rakyat, dan pada saat yang ber samaan memberi inspirasi pada rakyat untuk berpikir bahwa satusatunya harapan bagi masa depan Cina terletak pada apa yang sedang dibangun Mao.

Sulit dikatakan apakah kesalahan Chiang atau kreativitas Mao yang pada akhirnya paling punya andil bagi kemajuan pesat posisi kaum Komunis selama periode imperialisme Jepang. Menekankan yang pertama mengandaikan bahwa kita hanya melihat sejarah dari kegagalan mereka yang kalah; dan sebaliknya, menggarisbawahi yang kedua cenderung menjadikan kita membesarbesarkan superioritas para pemenang dalam proses sejarah yang tidak pasti dan kompleks. Namun mungkin ada

satu hal yang jelas bisa dikemukakan: karena kedua faktor ini, pada bulanbulan pertama setelah Jepang dikalahkan kemenangan kaum Komunis telah di depan mata.

18 Januari 1993