bila aku istirah
aku kunyah laparku
bersama waktu yang tumbuh di tubuhku.
waktu menggelinding di setiap tikungan
aku seret tahun demi tahun dengan hati yang kosong.
bentuk wajahmu yang mulai pudar,
o, masa depan yang gaib.
tangan-tangan ajaib
menggapaiku dalam kecemasan.
kesedihan keluar dari pori-poriku
aku melihat wajah-wajah buruh meleleh disengat matahari
orang-orang berjalan miring
dan hari menjadi putih
lalu kulihat masa depan mengintipku
duduk menatap masa lalu.
sejenak, aku ingin istirah di sini
menikmati segelas kopi
dan merampungkan setumpuk catatan
yang belum kulunaskan.
tapi takdir memaksaku
untuk segera berkemas dari rindu
mengusir hantu-hantu masa lalu
dan selekasnya pergi meninggalkan malam,
bulan, dan gugusan kenangan
yang melayang-layang di kepalaku.