MISA ARWAH & PUISI-PUISI LAINNYA - 25
Di sini, di tempat ini,

pernah kulihat napasku turun

begitu lembut ke bahumu.

Dan angan-angan,

dan kasih orang belia,

dan kisah hantu-hantu

tak lagi menggertak kita.

Dunia, meski sejenak, telah jadi

sebuah kolam surgawi:

Segala-sesuatu berenang perlahan

dalam bentuk-bentuknya yang murni.

Ingatan-ingatan tak sibuk bertengkar, seakan

enggan pertahankan diri.

Anjing bermata satu dari kolong ranjang ternyata lucu,

ya, katamu

Selucu kepiting Cina di sudut itu, balasku

Tapi di sini terlalu gelap...Dan, karena kau, aku harus

menangis.

Mengapa kita harus tak mengerti, pada saat kita harus

mengerti

Seorang laki-laki tua

yang memancarkan cahaya kudus

dari baskom tembaga di kepalanya

pernah datang ke dalam mimpiku.

Dan bagai menerakan salib abu

di kening tujuhbelas orang putranya

ia lekatkan sehelai daun jeruk pada dahiku

sebelum berkata

dalam suara yang selembut rumput basah:

Jangan sedih. Ini kuberikan waktu untukmu.

Tetapi waktu, Bapa, bukankah justru waktu

Tetapi laki-laki tua itu hanya pergi

Serupa padri durhaka

ia tebar warta dengan satu tangan

dan ia tabur serbuk lepra

dengan tangannya yang lain.

Tetapi jauh, begitu jauh

dari sihir kantuk sekalian mimpi,

pernah kulihat nafasku turun

begitu lembut ke bahumu

dan angan-angan,

dan kasih orang belia,

dan kisah hantu-hantu

yang tak mencekik kita.

Di sini, di tempat ini,

apakah sebenarnya pernah,

apakah waktu

/2013