pernah kulihat napasku turun
begitu lembut ke bahumu.
Dan angan-angan,
dan kasih orang belia,
dan kisah hantu-hantu
tak lagi menggertak kita.
Dunia, meski sejenak, telah jadi
sebuah kolam surgawi:
Segala-sesuatu berenang perlahan
dalam bentuk-bentuknya yang murni.
Ingatan-ingatan tak sibuk bertengkar, seakan
enggan pertahankan diri.
Anjing bermata satu dari kolong ranjang ternyata lucu,
ya, katamu
Selucu kepiting Cina di sudut itu, balasku
Tapi di sini terlalu gelap...Dan, karena kau, aku harus
menangis.
Mengapa kita harus tak mengerti, pada saat kita harus
mengerti
Seorang laki-laki tua
yang memancarkan cahaya kudus
dari baskom tembaga di kepalanya
pernah datang ke dalam mimpiku.
Dan bagai menerakan salib abu
di kening tujuhbelas orang putranya
ia lekatkan sehelai daun jeruk pada dahiku
sebelum berkata
dalam suara yang selembut rumput basah:
Jangan sedih. Ini kuberikan waktu untukmu.
Tetapi waktu, Bapa, bukankah justru waktu
Tetapi laki-laki tua itu hanya pergi
Serupa padri durhaka
ia tebar warta dengan satu tangan
dan ia tabur serbuk lepra
dengan tangannya yang lain.
Tetapi jauh, begitu jauh
dari sihir kantuk sekalian mimpi,
pernah kulihat nafasku turun
begitu lembut ke bahumu
dan angan-angan,
dan kasih orang belia,
dan kisah hantu-hantu
yang tak mencekik kita.
Di sini, di tempat ini,
apakah sebenarnya pernah,
apakah waktu
/2013