THE HALF BLOOD PRINCESS - 26
Aku melihat Dante memandangiku, tanpa ekspresi, ketika aku melewati kelasnya, Gavner berjalan di sampingku, memegang tanganku erat, sekelompok cewek mulai berbisik-bisik, kurasa selama ini seluruh sekolah tau kalo aku dan Dante Pacaran, tapi sekarang, aku bertunangan dengan cowok lain, itu akan makin memperburuk image-ku.

Selama seminggu ini Gavner bertingkah sangat menyebalkan, setiap pagi selalu mengajakku memutar melewati kelas Dante sambil berjalan angkuh sambil menyeretku, tangannya tak pernah menggandengku, tapi mencengkramku kuat seakan dia takut aku akan terlepas dan berlari darinya, dia seperti pengidap posesif parah, dia masuk ke kelasku, duduk di bangku sampingku yang adalah bangkunya Eve, sampai bel tanda masuk kelas berbunyi, di jam istirahat dia akan menjemputku ke kelas, menyeretku ke kantin, menemaninya minum kopi sambil membaca buku-buku suram; No Exit, Mein Kampf, dan buku-buku yang takkan membuatku tertarik, setelah itu dia akan mengantarku kembali ke kelas, pulang sekolah, setelah bel berdering, dia akan menjemputku ke kelas dan menyeretku ke parkiran, akan berlama-lama di parkiran, hanya untuk membuat Dante kesal, di rumah, tidak lebih baik, aku lebih memilih mengurung diri di kamar jika Eve tak mengunjungiku, daripada menemaninya membaca buku suramnya sambil membunuh dirinya dengan asap rokok, kadang dia keluar entah kemana, mungkin kupikir ke tempat Gazka, tapi sejujurnya aku tak terlalu peduli. Aku tak bisa membayangkan bagaimana aku mengabiskan hidup dengannya.

***

Gavner merebut hati para guru dengan otak cemerlangnya, membuat para cewek kagum dengan pesona aristokrat dan wajah tampannya, dari bisik-bisik yang Eve dengar dan disampaikan padaku, bahwa para cewek ternyata iri denganku karena mendapatkan Gavner, mereka malah rela melakukan apapun agar bisa bertukar posisi denganku, dan ada seorang cewek yang mau melakukan aksi bunuh diri konyol dengan menyatakan perasaannya pada Gavner, tapi Gavner tau cara menolak dengan baik, dia malah menghadiahkan si cewek malang itu dengan hadiah kecupan kecil tanda pertemanan di pipi. Sementara para cowok tidak begitu menyukai Gavner, pertama, karena iri dan yang kedua karena dia pantas di benci

Hari ini Sabtu, sekolah sudah bubar tak kusangka Dante datang dan menghampiri.

Ghie aku mau ngomong dan Dante memegang tanganku mencoba mengajakku pergi, tapi Gavner dengan cepat menahanku, mengeggam tanganku yang lain, lebih tepatnya mencengkram dengan kuat. Dante tak bisa membawaku. Dante kesal, dan mungkin seminggu ini adalah saatnya untuk memuntahkan semua kemarahannya, dengan tiba-tiba dia mengarahkan sebuah tinju ke muka Gavner, Gavner limbung dan jatuh ke tanah, terjadi begitu cepat dan tak terduga, aku merasa ketakutan ketika kulihat Gavner tak bergerak, dia pingsan.

Beberapa anak yang masih berada di parkiran berlarian, seharusnya sekolah sudah bubar tapi anak-anak memang banyak yang betah nongkrong di sekolah, UKS sudah tutup jadi kupikir lebih baik membawa Gavner ke rumah sakit terdekat.

Ghie aku mendengar suara Dante Ghiegue nggak.

Gazka tiba-tiba muncul di tengah-tengah kerumunan terlihat begitu khawatir, dan dengan cepat meminta bantuan beberapa anak, untuk menggotong Gavner ke dalam mobil, kutinggalkan Dante dan buru-buru masuk mobil, lalu Gazka membawa mobil melaju keluar dari sekolah.

***

Aku melihat ada kekhawatiran di wajah Gazka yang terdiam, kami masih menunggu Gavner di periksa, aku berpikir itu bukan pukulan telak, seharusnya itu tak masalah, mungkin Gavner bisa sja bangkit atau menangkis serangan Dante, atau setidaknya akan lebih baik jika ada perkelahian bukan hanya satu pukulan tapi berdampak sehebat ini. Dokter sudah keluar dan kami diminta menemui Gavner.

Dia terlihat pucat dan menyedihkan, kududuk disisi tempat tidurnya, Gavner memegang tanganku, ingin kutepis tapi tak cukup tega untuk melakukan itu.

Katakan kamu mengkhawatirkan aku Katanya lemah.

Aku tak menjawab

Bilang kalo kamu mengkhawatirkan aku ulangnya lagi, aku masih terdiam.

Ka, please, tinggalin kami berdua Gazka menurut dan berlalu pergi.

Ghieplease, bilang kalo kamu khawatirin aku!

Aku tak bisa menjawabnya dan juga tak ingin

Ghie! Aku mohon kamu bilang bahwa kamu khawatirin aku dan kamu takut kalo hal yang buruk terjadi padaku.

Aku masih diam, tak sanggup menatapnya hanya menunduk, lebih mudah bagiku untuk berpura-pura menjadi manekin.

Ghie bilang, kalo kamu takut dan khawatirin aku

Aku menangis mendengar teriakannya, dia memaksa, dia suka marah, dia bertindak kasar, Gavner, bagaimana bisa ada seseorang yang mempunyai kepribadiaan sekeras ini, Ni pernah bilang, ada satu cirri khas laki-laki bangsawan kami, yaitu koro, koro adalah sifat keras seperti yang dimiliki Gavner.

Ghie bilang kalo kamu khawatir, bilang kamu khawatir! dia berteriak seperti orang tak sadarkan diri.

Aku masih tak mau meresponnya, aku bosan, aku muak, seharusnya aku iba, tapi tak ingin kulakukan, seharusnya Dante memukulnya lebih keras lagi. Dalam keadaan seperti inipun dia masih mampu bertingkah sekesar ini.

Ghie bilang kalo kamu khawatirin aku Suaranya berubah, berat dan serak, tak kusangka

Gavner menangis, aku masih tak ingin bergerak. Gavner seperti orang berkepribadian ganda Please Ghie aku mohon bilang kamu khawatirin aku! Dia benar-benar menangis, dan secara naluriah ketika kulihat air mata itu, aku memeluknya. Gavner tak berteriak atau bicara lagi dalam isakannya, tapi aku tau air matanya masih mengalir, Gavner terlalu kekanak-kanakankah

Ghie, aku tau kamu sama sekali nggak menyayangiku, salahku, sikap dan sifatkulah yang bikin semuanya jadi seperti ini, ini semua keegoisankuDia seperti tertawa tapi juga terisak. Tapi aku mohon Ghie, bila seandainya kamu nggak bisa mencintaiku, tapi seenggaknya berpura-puralah, aku mohon Gavner mencium tanganku, aku tak berani menatap wajahnya, tapi aku memaksakan diri, sinar mata itu lagi, sinar matanya yang dulu, sinar mata hazel yang mellow. Berpura-puralah untuk waktu yang tak lama, Ghie waktuku nggak lama Ghie, beberapa bulan lagi, aku sekarat Ghie Lalu Gavner terisak lagi, mau tak mau aku menangis, dan kali ini memeluknya. Inikah sebabnya dia bertindak seperti ini, seharusnya dia mengatakan sejak awal. Ghiepertama kali melihatmu, berurai air mata di pemakaman mamamu, membuatku berpikir mungkin kamu bisa jadi orang yang tepat untukku berbagi kesedihan ini, tapi ternyata aku salah, kamu bahkan tak mampu mengobati kesedihanmu, aku hanya menambahkannya, menambah penderitaanmu, Aku merasakan Gavner mencium puncak kepalaku, kali ini aku berbaring disisinya memeluknya, mencoba memahami kesedihannya.Aku menderita ALS- Amyotrophic Lateral Sclerosis, Lou Gehrigs disease, aku rasa kamu tau apa itu Ghie, sebentar lagi aku akan mengalami kelumpuhan, aku nggak ingin itu terjadi.Gavner menangis seperti anak kecil, isakannya menyayat hati, akupun ikut menangis, dan memperata pelukanku.Aku nggak mau berakhir di kursi roda, tak ingin berakhir menjadi seonggok tubuh tanpa daya di tempat tidur. Dia menangis aku tau dari isakannya, tak ingin lagi melihat air mata itu, kutatap dia kali ini bukan lagi tatapan mendelik tapi tatapan penuh pengertian, kuhapus air matanya, kubelai rambutnya, dia terlihat begitu menyedihkan, kuberikan kecupan sayang di keningnya.

Gavner, untuk kali ini aku berjanji, aku akan berusaha untuk menyayangimu, aku berjanji.Sekali lagi aku mencium keningnya, aku menangis lagi manakala dia mulai berbicara.

Kasih sayang yang tulus Ghie, bukan hanya iba.

Ya, aku janji dan aku memeluknya, malam itu aku menemaninya hingga terlelap, mencoba memahami posisinya, mencoba untuk mulai mencintainya.