Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 26
aku tak bisa memamerkan ke tetangga bahwa seorang aparatur sipil negara juga bisa menulis puisi

mereka akan mengolok-olok, pegawai yang remunerasinya tinggi sudah kelebihan banyak waktu dan makan gaji buta padahal sejak reformasi birokrasi dimulai, tak ada kenaikan inflasi enam persen setahun dan dalam sepuluh tahun martabak mini yang satunya seribu rupiah sudah menjadi tiga ribu rupiah

pasar bebas mengolok-olok kondisi makro ekonomi

pasar bebas mengolok-olok asumsi APBN

sulit kukatakan pembelaan, sejak gayus tertangkap menonton sharapova

semua pegawai kementerian keuangan adalah dari perpajakan

aku tak bisa mengatakan ke tetangga dengan bangga perbendaharaan indeks korupsinya nol

pertumbuhan ekonomi cepat dan lambat tergantung realisasi anggaran

tapi jalan-jalan pantura rusak,

dibenahi setiap tahun, setiap tahun juga rusak kembali

tapi jembatan-jembatan putus,

dibangun setiap tahun, setiap tahun juga putus kembali

kesalahan terbesar manusia adalah mental dilarang memakan khuldi, tetapi yang dilarang justru dilakukan

aku tak tahu, setelah umurku 56 nanti berjanggut, berjambang, dan uban-ubanku kian

memanjang

apa aku akan menjadi pak tua bijak yang mengajari musa melubangi kapal dan

membunuh anak-anak

atau aku akan menjadi bayangan selamanya bayangan