KEPULANGAN KELIMA - 26
Duduk di bawah jam dinding yang berdetak ada

suara yang masuk melesat

kemudian menabuh gendang-gendang telingaku semaunya

Ia kukuh membawaku pada masa silam

Tanpa peringatan,

menerobos dan mengintimidasi

Dipaksanya aku percaya, bahwa ia dan akulah pemilik suara itu

Di luar, hujan gerimis menderai halus pada daun dan cabang pohon

merembes lewat kaca jendela bersama sisa semilir dan dingin angin

Sementara bulan yang merah muda menyinar ke dalam kamar,

membias gerimis mencipta melakolia yang durhaka

Aku tak bisa menyaksikan apa-apa setelah

luka yang lama

dalam perjalanan rantau yang juga lama

Setelah batu yang beku

tak lagi bisa kutafsirkan sebagai obat waktu

Aku menutup luka yang ngalir

meraba dada yang bata panas

terbakar api berlama-lama

Ketika jam dinding mulai terdengar berdetak

menepikan sepi, dingin, gerimis dan angin malam-malamku

Tiba-tiba kutemukan lagi suara itu kini

mengalir lunglai perlahan

meminggirkan aku, menepikan bisu

suara yang semakin tabuh dan makin riak meliat dalam telinga

yang belakang aku tahu : suara ibu dan masa kecilku