suara yang masuk melesat
kemudian menabuh gendang-gendang telingaku semaunya
Ia kukuh membawaku pada masa silam
Tanpa peringatan,
menerobos dan mengintimidasi
Dipaksanya aku percaya, bahwa ia dan akulah pemilik suara itu
Di luar, hujan gerimis menderai halus pada daun dan cabang pohon
merembes lewat kaca jendela bersama sisa semilir dan dingin angin
Sementara bulan yang merah muda menyinar ke dalam kamar,
membias gerimis mencipta melakolia yang durhaka
Aku tak bisa menyaksikan apa-apa setelah
luka yang lama
dalam perjalanan rantau yang juga lama
Setelah batu yang beku
tak lagi bisa kutafsirkan sebagai obat waktu
Aku menutup luka yang ngalir
meraba dada yang bata panas
terbakar api berlama-lama
Ketika jam dinding mulai terdengar berdetak
menepikan sepi, dingin, gerimis dan angin malam-malamku
Tiba-tiba kutemukan lagi suara itu kini
mengalir lunglai perlahan
meminggirkan aku, menepikan bisu
suara yang semakin tabuh dan makin riak meliat dalam telinga
yang belakang aku tahu : suara ibu dan masa kecilku