MISA ARWAH & PUISI-PUISI LAINNYA - 27
Seperti ujung benang sehelai

mudah luput dari lubang jarum,

adakalanya sebuah puisi

tak bisa menggenggam jiwamu.

Kepadaku pernah ada yang berkata:

Bahasa adalah tebing-tebing terjal tipis udara,

perangkap Sang Ajal di makam raja-raja,

rahasia alkemi yang dikawal ajak berkepala tiga.

Maka sebuah sajak, seharusnya

tak mengulang yang telah ada.

Pun baginya, bahasa serupa

wilayah baru yang perlu direnggut

serta diberi tanda pada peta:

Ini milikku, bahasaku, tubuh yang kuurapi

bagi denyut gaib puisi.

Namun itu terlalu rumit untukku

yang menampung bahasa

dari rembesan peristiwa sehari-hari,

gagasan yang kian tak rampung,

serta buku-buku yang sesekali

kubiarkan terbuka, tak terbaca.

Dan mungkin aku terlalu peduli

pada bunyi sayap seekor belalang

yang bergesekan dengan kaca jendela

atau kantuk yang berkeloneng

di kelopak mata orang-orang yang kukasihi

untuk bisa memahami perkataan yang lain:

Celakalah kedua tangan penyair

bila tak disampaikannya kebenaran!

Tapi apakah kebenaran,

apakah puisi

Puisi yang kupahami

adalah penerimaan akan maut

yang diucapkan dalam nada rendah.

Puisi adalah punggung yang merahasiakan

batuk seorang ayah

dari khayal riang anak-anaknya.

Puisi, bayang nyeri yang berdenyut

di dada kiri tiap-tiap manusia.

Adakalanya ia tak bisa

menggenggam jiwamu.

/2012-2013