Sungguh, tak dapat terbayangkan bagaimana suasana yang terjadi di dalam Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tatkala gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter mengguncang Aceh, disusul dengan terjangan badai tsunami tiga minggu lalu.
Ratusan orang memenuhi Masjid Raya Baiturrahman, tak lama setelah tsunami datang untuk berlindung. Mereka berlarian memasuki masjid untuk menyelamatkan diri. Mereka juga tak peduli dengan alas kaki penuh lumpur, saat menapak memasuki lantai marmer yang biasanya sangat licin dan mengilap itu.
Tak satu sentimeter pun air memasuki masjid ini, meski air masih dapat menghancurkan rumah yang jaraknya beberapa puluh meter di dekat Masjid Raya. Mungkin karena terlalu traumanya ratusan orang terhadap terjangan gelombang tersebut, masjid raya Baiturrahman sempat dijadikan tempat berlindung selama beberapa hari.
Ratusan mayat pun dievakuasi ke dalam masjid raya, karena saat itu tak ada tempat lain yang cukup memungkinkan untuk menampung semua mayat tersebut. Sebuah pemandangan tragis pun terlihat kala itu. Masjid yang biasanya sangat bersih dan menjadi pujaan rakyat Aceh berubah total menjadi sebuah tempat yang sangat mengerikan dengan ratusan mayat berserak di dalamnya.
Aktiviti ibadah di Baiturrahman kemudian lumpuh secara total, sehingga tak dapat digunakan selama beberapa hari termasuk tak menyelenggarakan salat Jumaat yang jatuh tepat pada akhir tahun 2004 Masehi.
Tak hanya sekali ini masjid yang juga dikenali sebagai masjid Raya dijadikan sebagai tempat berlindung penduduk Banda Aceh. Pada peristiwa banjir besar 1980-an hingga menggenangi hampir seluruh Kota Banda Aceh, air juga tak memasuki lantai dalam masjid. Waktu itu masjid raya juga dijadikan sebagai tempat berlindung. Bezanya, pada banjir besar beberapa puluh tahun lalu itu sama sekali tak menyebabkan korban jiwa.
DALAM konteks ini, terdapat dua versi soal pembangunan pertama Masjid Raya Baiturrahman ini. Versi pertama menyebutkan, Masjid Raya Baiturrahman dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada 1612 Masehi lalu atau pada tahun 1022 Hijriyah.
Sementara versi lainnya menyebutkan bahwa masjid ini dibangun pada zaman Kerajaan Aceh yang dipimpin Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tahun 1292 M. Namun masjid ini sempat terbakar habis oleh penyerangan Belanda pada bulan Safar 1290 H atau April 1873 M. Empat tahun setelah masjid Baiturrahman tersebut terbakar, tepatnya pada Maret 1877, Gubernur Jenderal van Lansberge berjanji akan membangun kembali masjid ini di lokasi yang sama. Janji tersebut kemudian direalisasikan oleh Jenderal Mayor Vender Heyden selaku Gubernur Militer Aceh waktu itu.
Tepat pada Kamis 9 Oktober 1879 M, diletakkanlah batu pertama pembangunannya yang diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Masjid Raya Baiturrahman ini siap dibangun pada 1881 M dengan jumlah kubah hanya satu buah. Pada 1935 M, masjid raya ini kemudian mengalami perubahan dan diperluas pada bagian kanan serta kirinya, dengan tambahan satu kubah pada bagian kanan dan kiri. Pekerjaan ini dilakukan oleh Jawatan Pekerjaan Umum (pada waktu itu disebut B.O.W.) dengan biaya sebanyak 35.000 gulden.
Perluasan dan rehabilitasi bangunan kemudian dilakukan kembali pada 1958, dan peletakan batu pertama perluasan dilakukan langsung oleh Menteri Agama waktu itu, KH. M. Ilyas. Pada perluasan kali ini, dua buah kubah dibuat lagi serta penambahan dua menara di kanan kirinya.
Dengan perluasan kedua ini, Masjid Raya Baiturrahman kemudian memiliki lima kubah. Upaya memperindah masjid raya kemudian dilakukan menjelang penyelenggaraan MTQ ke-12 pada Juni 1981. Pembangunan pelatar, perkarangan, air pancur, serta taman semakin memperindah masjid kebanggaan warga Aceh ini.
LUAS bangunan induk masjid berukuran 56 x 34 meter dengan tambahan serambi muka seluas 12,5 x 10,5 meter. Bahagian dalam bangunan ini disokong oleh 136 buah tiang bundar dan 32 buah pilar persegi empat.
"Saat terjadi gempa, kami sedang melakukan sarapan pagi di depan masjid. Karena terlalu besarnya gempa, semua orang yang sedang sarapan semuanya terjatuh dan telungkup di atas tanah. Hanya menara utama di depan masjid yang retak-retak akibat gempa itu, untungnya tak ada orang di bawahnya," kata Muhammad Jamal (32) kepala satpam Masjid Raya Baiturrahman.
Saat tsunami datang, beberapa satpam dan pengurus masjid sedang berada di luar masjid dan berdiri di atas tempat wuduk yang terletak agak tinggi atau sejajar dengan lantai masjid. "Saat itu saya melihat ratusan jenazah bersama puing terbawa arus air yang datang hingga tiga kali. Saya berusaha menarik jenazah yang mendekat dan menariknya ke dekat tempat saya berdiri," kata operator masjid raya, Heri Anshari (35).
Karena terlalu banyaknya korban di Banda Aceh dan sekitarnya akibat terjangan tsunami, jumlah jamaah di masjid ini pun turun drastik. Berdasarkan Sekretaris Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman, Tengku Ridhwan Johan, jumlah jamaah saat Jumatan tiap minggunya mencapai 15.000 orang. Sementara pada saat Jumat pertama pasca tsunami jumlah jemaah hanya mencapai 6.000 orang, itu pun termasuk para relawan dari luar Aceh.
Percaya atau tidak, kejadian tersebut memang benar adanya. Kasih sayang Allah rupanya masih tercurah bagi warga Aceh hingga Masjid Raya Baiturrahman ini sama sekali tak berterjejas diterjang Tsunami sekalipun. Allahku Akbar. Allah Mahabesar