agar masa depan kami bersinar seperti matahari
dan kehidupan kami tumbuh ke arah pelangi.
Dari rahim pagi, benih doa kami tumbuh
ke arah surga. Sebelum Tuhan menjatuhkan tulah.
Sebelum bumi gelap dan menjadi abu.
Dari rahim pagi, benih doa kami merekah;
Semerbaknya memancarkan wangi matahari.
Kuntumnya merekahkan segenap pelangi.
Dan selalu, setiap pagi, kala kami membuka mata,
kami tahu, Tuhan menjawab doa kami.
Entah ya entah tidak
tapi benih doa kami terus berjatuhan.
(Naimata, Oktober 2009)