Tiba-tiba saja aku datang
Jatuh pada dunia yang berlatar putih
membawa seikat
kenangan bertali rindu juga sembilan
belas baris puisi
Lalu kutemukan wajahku serupa orang-orang malang dari masa lalu
Manusia-manusia yang mati oleh ambisi
Seperti pejalan kaki yang tak menemukan mata air aku
terjebak, pingsan di antara kaktus-kaktus bergetah pahit
membawa luka yang lama dalam perjalanan-perjalanan yang
juga tak kalah lama
Dalam haus ini aku ingin
minum dari bibirmu
bibir yang tak henti bernyanyi dan mendendangkan puisi
#2
Tiba-tiba saja aku menemukan
kembali diriku jatuh babak belur di
tebing harapan terjerembab ke
jurang kesedihan
Seperti doa yang selalu menyebut dirinya sendiri
pada suatu tempat dalam labirin hati aku selalu
ingin diam lama berenang di rindang telaga
matamu