ANEKDOT RABAK - 28
Kota ni digelar Paris Van Java.

Aku hirup udara dinginnya dalam-dalam bagi menyegarkan ruang-ruang terluka dalam tubuh.

Tubuh yang pada batinnya dah hampir reput. Dihirup oksigen dan karbon dioksidanya dengan harapan ia akan keluar bersama memori-memori resah ni.

Silap.

Sangkakan kedinginan kota ni dapat menghangatkan kembali diri yang menggigil ditinggalkan.

Silap.

Aku tak mampu memadam ingatan tentang kisah lalu.

Angan aku,

alangkah indahnya jika mampu menyusuri setiap jalan di Kota Kembang ni sambil memimpin tanganmu.