LAUT TAK BIRU DI SEBERANG TAKIR - 28
jika ia melihat daun2 jambu kuning-kering,

dan daun2 jambu itu gugur dihalaman rumahnya,

sebenarnya ia melihat airmatanya sendiri:

berguguran. kemudian, ia merasa dadanya pechah.

sementara itu, airmatanya berkochak resah

melilit pipinya.

jika ia teringat ombak2 liar di pantai chendering,

dan ombak2 liar itu mengechaikan batu waja,

sebenarnya ia teringat peristiwanya sendiri:

berkechaian. kemudian, ia merasa kepalanya terbelah.

sementara itu, uratjiwanya bergerak gelisah membelit nadinya.

ditepi jendelakacha tempat ia duduk

pernah liwat sebuah keretapi 5 senja berturut-turut,

berturut-turut pula 5 senja keretapi itu pernah membawa

seorang soldadu muda. tapi, tak siapa tau

soldadu muda itu membawa bahagia-jujur

mengembara disisinya.

senja pertama: keretapi liwat memuat wajah soldadu

senja kedua: keretapi liwat memuat senyum soldadu

senja ketiga: keretapi liwat memuat lambaian pertama

senja keempat: keretapi liwat memuat lambaian kedua

senja kelima: keretapi liwat meninggal sekeping surat biru.

ia tidak lagi akan duduk ditepi jendelakacha

melihat daun2 jambu kuning-kering yang gugur

mengingat ombak2 liar yang mengechaikan batu waja

menunggu keretapi lalu membawa soldadu. kerana, ia tau

surat biru itu mengandungi kata menyembilu mengelana dihatinya.

1969