THE HALF BLOOD PRINCESS - 29
Untunglah Gazka mau diajak kerjasama, dia membawa Gavner keluar rumah agar dia tak tau bahwa aku menyiapkan kejutan untuknya. Ternyata, merancang romantic candelight dinner bukan hal yang mudah, aku sama sekali tak punya ide, dan akhirnya aku menyontek ide menu di situs divinedinnerparty, jadi menu malam ini adalah; Skewers of Melon, Jamn, and Mini Mozzarella as appetizer, Rack of Lamb with Herbes de Provence and Roasted Tomatoes as Main Dish, dan Nutella Mousse as dessert, juga champagne dan strawberry, aku sebenarnya tak ingin memasukan champagne, tapi Eve memaksa, ya sudahlah. Eve tak banyak membantu di dapur, Nanny-lah yang terbaik untuk ini, dan aku lebih banyak ngerecokin daripada membantu, Nanny senang, setidaknya Gavner bisa membuatku turun dapur, kata Nanny wanita yang baik adalah wanita yang mau memasak untuk pasangannya, aku berusaha untuk itu.

Nanny, boleh kan, malam ini tinggalin aku berdua saja dengan Gavner Aku mau semuanya sempurna, aku mau dia benar-benar merasakan bahwa aku berusaha untuk mencoba mencintainya..Aku memohon.

Tentu saja sayang

***

Aku merasa deg-degan, hanya berdua saja dengan Gavner, aku memeriksa ulang

menunya, lilin-lilinnya juga musik dan tentu saja diriku sendiri, berulang kali aku memandang cermin, membolak-balik tubuhku memeriksa segalanya, apakah aku berjerawat, apakah hidungku berminyak, atau apa poniku jatuh sempurna menutupi dahiku, aku merasa agak konyol, tapi sebenarnya aku hanya ingin terlihat sempurna, itu saja.

Aku mendengar suara mobil masuk, dan buru-buru berlari menyambut Gavner di pintu, tak lupa kusambar syalku, itu untuk menutup matanya nanti.

Heysapaku lembut, Gavner tersenyum.

Sebelum mengejutkannya aku malah terkejut, dia membawakanku seikat bunga.

Aku nggak tau bunga favoritmu apa, tapi kupikir mawar pink dia memandangku, sepertinya cocok dengan gaunmu, you look beautiful tonight. Aku menerimanya dengan hati yang harus kuakui, yeah agak berbunga, bukankah semua cewek selalu suka bunga dan merasa istimewa bila dihadiahkan bunga

Mau merayakan sesuatu malam ini tanyaku agak malu.

Mawar, Gavner yang terlihat luar biasa menawan, dan suasananya yang romantis membuatku bersemu secara alami, Gavner masih belum mengerti tapi aku dengan cepat mengikatkan syal di matanya, aku menuntunnya ke taman belakang di dekat kolam, suara merdu Ronan Keating mengalun merdu dalam lagu If Tomorrow Never Comes.

Ghie, kamu mau ngerjain aku ya Ini pasti ide Gazka

Sssssstttttt

Kenapa mesti pake acara nutup mata segala Kamu banyak nanya ya

Oke, aku diam! Tapi janji ini bukan sesuatu hal yang konyol!

Yeah I promise

Kami berhenti melangkah, karena kami sudah berdiri di samping meja dengan menu yang contekan resepnya baru dipraktekan tadi.

Oke, sekarang aku bakalan buka penutup mata kamu

Jangan bikin kejutan yang konyol

Iya, aku janji dan setelah penutup matanya terbuka, Gavner mengedarkan

pandangannya ke segala arah, memandang takjub dan tersenyum, lilin-lilin mengapung indah di kolam membentuk kata Je Taime, itu artinya aku mencintaimu dalam bahasa Prancis, yeah Gavner berdarah setengah Prancis.

Merci Ghie Gavner mengusap kepalaku, dengan canggung dia memelukku pelan.

Aku tersenyum padanya.

Suka

Sangat, aku tau kamu udah berusaha untuk malam ini, merci beaucoup

Aku senang melihatnya tersenyum, matanya terlihat berbinar, sangat indah dan alunan lembut lagu Tonight I Celebrate My Love membuat Gavner langsung punya ide romantis.

Wanna dance

Aku mengangguk setuju dan menyambut uluran tangannya, kami mulai berdansa, satunya tangannya mengenggam tanganku dan satu lagi berada di pinggangku, dengan kikuk kuletakkan satu tanganku di bahunya, rasanya aneh, rasanya ini seperti yang seharusnya tapi ini juga membuatku merasa bersalah, tapi cepat-cepat kutepis rasa bersalahku, aku memiliki janji yang tak bisa kuingkari.

Suasana dan lagu ini membuatku tersinggung Komentar Gavner, seperti ingin membuat lelucon tapi karena keluar dari bibir Gavner alih-alih terdengar konyol itu malah terdengar serius. Sadar aku tak tau harus bereaksi bagaimana, dia melanjutkan untuk berbicara Pernah nonton film Beauty and The Beast Suasana ini mengingatkanku pada saat Belle dan Beast berdansa, Beast yang mengerikan dan kasar berdansa dengan si cantik Belle di purinya yang dingin, sedingin hatinya yang kesepian, Beast bukanlah monster yang mengerikan Beast hanya seorang pangeran malang yang dikutuk, Beast hanya makhluk yang kurang beruntung, tapi Belle membawa kebahagiaan untuk hidupnya yang suram, membuatnya lupa atas segala kemalangannya. Kamu seperti Belle dan aku seperti Beast, yang kurang hanyalah tidak ada lilinlilin dan poci teh yang bisa bicara.

Tapi kamu bukan pangeran yang dikutuk menjadi makhluk besar mengerikan.

Tapi aku dikutuk dengan cara yang berbeda, cara yang sangat tak menyenangkan, aku kesepian, nyaris tanpa kasih sayang dan yang pasti, tanpa perlu dibilangin lagi kamu sudah tau apa itu. Tolong jangan kasihani aku Ghie

Aku mengangguk dan memberinya senyum penuh pengertian

Hmmmmau nyoba masakan aku Opsssebenarnya ini masakan Nanny.

Gavner bertindak bak pangeran sejati, dia menarikkan kursi untukku dan mempersilahkanku duduk. Gavner tersenyum disaat-saat tertentu, dan dia lebih banyak tersenyum ketika aku tak melihatnya, aku mencuri-curi pandang untuk melihatnya tersenyum, dan dia akan berhenti tersenyum ketika dia sadar aku melihatnya. Gavner seharusnya bisa tersenyum lepas dan tertawa bebas, seharusnya dia tak menahan senym dan tawanya, dia agak terlalu keras terhadap dirinya sendiri.

Ghiesemuanya lezat, cuma, rasanya ini lucu, tampangku mungkin bukan tampang lokal, tapi sejujurnya aku lebih suka makanan lokal, tapi terima kasih, aku suka usahamu, lain kali maukah kamu memasak masakan tradisonal khas kita Jangan liat tampangku liat siapa aku yang sebenarnya. Gavner tertawa kecil, dia masih saja menahan tawanya.

Oke, aku pengen belajar masak, kayaknya menyenangkan, tapi apa aku boleh minta

satu hal

Apa

Aku pengen lihat kamu yang bisa tersenyum dan tertawa lepas.

Buat agar aku bisa tersenyum dan tertawa lepas,oke

Dan dia tersenyum, sebuah senyum lebar yang manis, yang memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Gavner sangat mempesona. Semoga melihat senyumannya akan membuatku sedikit demi sedikit jatuh cinta padanya.

***

Setelah makan malam Gavner mengajakku untuk duduk-duduk di bangku taman, rasanya agak kurang nyaman, dengan segera dia menuju kamarnya dan mengambil selimut serta sebuah bantal, sebuah kotak berpita terlihat dari balik selimut yang ketika kulihat cepat-cepat disembunyikannya, aku pura-pura tak melihatnya. Gavner mengajakku berbaring, akupun berbaring disampingnya, dia menggenggam tanganku, aku tersenyum padanya, dia menatap takjub ke langit, dia selalu terpesona dengan langit di malam hari, akupun mengikutinya, aku berhenti memandang wajahnya dan mulai memandang bintang-bintang di langit, malam ini langit sangat indah, taburan bintang berkilauan di angkasa dan bulan tersenyum malu-malu memancarkan cahaya temaramnya.

Kamu percaya dengan keajaiban bintang jatuh yang bisa mengabulkan keinginan Tanyaku pelan.

Aku suka keajaiban, tapi aku belum pernah mendapatkan keajaiban itu

Jika ada bintang jatuh apa kamu mau seenggaknya minta sesuatu, anggaplah itu sebagai sebuah

Jika keajaiban itu benar-benar ada, aku hanya akan minta satu hal

Apa

Aku ingin agar kamu bisa mencintaiku dan semoga ini adalah keajaiban, pada saat Gavner mengucapkannya sebuah bintang jatuh melintas, cahaya keperakannya seakan menggores langit dengan kejaibannya. Aku memandangnya, dia memandangku, apakah ini pertanda agar Gavner bisa mempercayai keajaiban Tak ada yang berkata-kata, tapi ketika Gavner menyentuh bibirku dengan bibirnya, aku tidak menolak, tapi malah membalasnya, dan mencoba untuk menikmatinya, Gavner berhenti dan dia tersenyum kali ini dia mengabulkan keinginanku, dia telah memberiku senyum terindahnya, senyum lepas penuh kebahagiaan. Sekali lagi Gavner menciumku dan kali inipun aku membalasnya, aku mencoba merasakan ciumannya,manis, sedikit manis dan agak misterius, agak seperti campuran antara rasa coklat dan kopi. Tapi ditengah ciuman itu alarm pengingat di smart phone-ku berbunyi, Gavner dengan cepat menyambarnya, dia ingin menghentikan nada membosankan yang mengganggu itu, tapi ternyata apa yang terbaca di layar rupanya mengganggunya, aku sudah tau yang tertulis di sana My Dear Dantes Bday bagaimana bisa aku sebodoh ini tak mengganti namanya.

Gavner menatapku, sesaat aku meresahkan bagaimana sikap Gavner, tapi dia malah tersenyum dan mengusap rambutku lalu mencium keningku.

Ghie, beri dia surprise party, buat dengan sepenuh hati seperti kamu membuatkannya untukku malam ini. Dan Gavner meninggalkanku masuk, sebelumnya dia meletakkan kotak kecil berpita di pangkuanku.