Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 29
siapa pun kita, terlahir untuk mengatur dunia manis dan pahitnya takaran cokelat dalam adonan sebelum dipajang di etalase sampai laut yang berombak meninggi dan menghampiri toko di pusat kota itu tapi pukul tiga sore, belum ada roti yang baru kita hanya memberi sebuah kata maaf seperti kepada pagi yang terlelap sendirian tanpa seorang pun teman, juga kepada jalan

yang baru saja disapu setelah hujan

siapapun kita, terlahir untuk menggulung terigu dan menenunnya menjadi bolu atau dadu mereka yang mengenalkan ketakutan itu bercerita, ada lagu yang terdengar terus-terusan; sultan sumbawa telah mati, sultan sumbawa telah wafat

selama satu menit kemudian, kita bimbang memutuskan

terus berjualan, atau menutup toko ikut melayat istana dalam loka yang teramat dekat mengerikan bila segera diruntuhkan masyarakat lalu kita dengar bunyi bel atau lonceng tidak mungkin palestina yang sudah ditaklukkan

karena derap kaki kuda, hanya ada dari bukit semongkat

karena itulah mendadak, sontak aku berteriak

kepadamu

tolong jadi pedang dan perisaiku

kita mungkin akan segera menjadi tamu-tamu terusir

dalam beberapa alasan, aku tak dapat menjelaskan

kenapa aku tetap ingin mendekapmu sebagai apapun kamu

suara-suara pintu yang mulai didobrak, kaca jendela yang mulai dipecahkan, dan api yang mulai

berkobaran

tolonglah, ikut lari bersamaku ini sudah revolusi yang direncanakan bertahun-tahun

tetap tinggal di sini, barangkali kepala kita akan melayang

sedikit nasib baik, kita berakhir dengan tangan terikat

dan melihat para lelaki yang bernafsu menjadi sultan baru

memaksa kita membuatkan roti setiap minggu

dalam beberapa alasan lain, aku ingin memintamu menunggu

seorang penyelamat akan mengambil kunci ini dan kembali, dengan atau tanpa kata-kata yang jujur sekali pun menyambut para tamu yang bebas memilih

manis dan pahitnya takaran cokelat bekas milik kita