Rasulullah lalu bersabda, Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya
Istri almarhum menjawab, Saya mendengar dia mengatakan sesuatu, Rasulullah. Namun, sulit dipahami, lantaran kalimat yang diucapkannya terpotong-potong.
Bagaimana bunyinya tanya Rasulullah lagi.
Istri sahabatnya tersebut melanjutkan jawabannya, Suami saya mengatakan, Andaikata lebih panjang lagi, andaikata yang baru, andaikata semuanya. Hanya itu yang tertangkap, sehingga kami tidak paham, apa maksudnya.
Rasulullah tersenyum dan berkata, Sungguh, apa yang telah diucapkan suamimu itu benar.
Beliau kemudian menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi. Suatu hari, sahabatnya tersebut sedang bergegas pergi ke masjid untuk melaksanakan Shalat Jumat. Di tengah jalan, ia bertemu dengan orang buta yang bertujuan sama. Si Buta kesusahan menemukan jalan, lantaran tidak ada yang menuntunnya. Sahabat Rasul pun membimbingnya hingga tiba di masjid.
Tatkala hendak mengembuskan napasnya yang terakhir, ia menyaksikan pahala amal salehnya itu. Ia pun berkata, Andaikan lebih panjang lagi. Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.
Si istri sahabat lalu bertanya, Apa maksud ucapan lainnya, ya Rasulullah
Nabi pun berkisah.
Adapun ucapan kedua almarhum terkait dengan peristiwa pada hari berikutnya. Ketika itu, ia hendak pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan udara di luar sangat dingin. Di tepi jalan, ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil kedinginan. Kebetulan, almarhum membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Ia pun mencopot mantel yang lama dan diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.
Menjelang saat-saat terakhirnya, almarhum melihat balasan amal kebajikannya itu, sehingga ia pun menyesal dan berkata, Andaikan
yang baru yang kuberikan kepadanya, dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.
Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya, sabda Rasulullah.
Kemudian apa maksud kalimat yang ketiga, ya Rasulullah tanya sang istri makin ingin tahu.
Dengan sabar Nabi menjelaskan, Ingatkah kau pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang separuh diberikan kepada musafir itu.
Ketika almarhum akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separuhnya, pasti akan kuberikan semuanya.
Hingga saat ini, kita masih suka bermalasan dan beramal dengan setengah-setengah, seakan-akan ibadah tersebut bukan untuk kita sendiri.
Padahal, Allah telah mengingatkan, Jika engkau berbuat baik berarti engkau berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika engkau berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. (Al-Isra: 7) Wallahu alam.
26 Februari 2014