IBU KOTA LAMA - 3
Meski Kyoto merupakan kota besar, warna dedaunan tetap saja indah.

Rumpun-rumpun pohon cemara di Gosho dan villa kekaisaran Shugakuin, juga pohon-pohon di keluasan taman kuil-kuil kuno semuanya menarik perhatian para wisatawan. Seperti juga barisan pohon yanagi yang dedaunannya menjulur-julur ke tanah di pusat kota, sepanjang tepian sungai Takase. Di Kiya, Gojo, dan Horikawa, pepohonan yanagi tumbuh amat rimbun. Ranting-rantingnya menjulur seolah hendak menggapai tanah. Betapa lembutnya mereka, pepohonan yanagi ini. Dan reranting cemara merah di Kitayama mensketsa lingkaran-lingkaran halus saat satu sama lain saling bersentuhan.

Sekarang, telah tiba musim semi di ibu kota tua. Rimbunan daun muda membentuk pola-pola warna di beberapa tempat di Higashiyama dan Hieizan.

Pepohonan di Kyoto dengan penampilannya yang mencolok memberikan keindahannya demi kecantikan dan kebersihan kota. Di tempat-tempat tertentu seperti Gion, rumah-rumah kecil yang suram dan sudah sangat berumur berdiri sebelah menyebelah, sepanjang jalan sempit yang tak pernah tampak kotor.

Di daerah sekitar Nishijin pun, di mana tokotoko kecil yang menjual kimono berdempet-dempet namun sudah putus asa menghadapi peluang bisnis, jalanan tampak bersih. Bahkan debu pun tak pernah dibiarkan melekat di pintu-pintu kisi. Di Kebun Raya pun tak ditemukan kertas bersebaran. Angkatan militer Amerika pernah membangun rumah-rumah di Kebun Raya, dan tentu saja melarang orang-orang Jepang untuk masuk. Tapi sekarang setelah pendudukan selesai, kebun-kebun pun dikembalikan pada pemerintah.

Tn.Otomo Sosuke yang tinggal di Nishijin suka menikmati perjalanan di bawah pohon-pohon kusu no ki di kebun raya. Pohon-pohon itu tidak begitu tinggi, dan jalanan di bawahnya tak begitu panjang. Tapi sudah menjadi kebiasaan sebelum masa pendudukan bahwa ia suka berjalan-jalan ke sana, terutama saat daun-daun mulai bertunas. Saat sedang duduk di tengah suara bising alat-alat tenun, Tn. Sosuke sering bertanya-tanya apa yang telah dialami pohonpohon itu. Tentu saja pihak militer masa pendudukan tidak menebangnya.

Tn.Sosuke telah lama menanti-nanti pembukaan kembali Kebun Raya. Jalan kecil yang biasa dilaluinya, di mana dari situ ia bisa memandang Kitayama, ada di bagian luar kebun, di tepi sungai Kamo.

Meski Kebun Raya terletak dekat sungai Kamo, Tn.Sosuke selalu melewatkan waktu satu jam untuk melangkah ke tempat yang jauh. Ia tengah melamunkan perjalanan-perjalanan itu saat istrinya datang memanggil. Ada telepon dari Tuan Sada. Tampaknya ia ada di Saga.

Takichiro Menelepon dari Saga Tn.Sosuke melangkah ke meja counter.

Tn.Sosuke, pengusaha tenun, berusia empat atau lima tahun lebih muda daripada Tn.Sada sang pedagang grosir. Tidak hanya dalam urusan bisnis, secara pribadi pun mereka bergaul dengan baik. Di usia muda memang mereka biasa disebut teman yang tidak menyenangkan; tapi seiring perjalanan waktu sebutan itu pun menghilang.

Tn.Sosuke mengangkat telepon. Ini Otomo. Sudah lama tidak jumpa, ya

Ah, Otomo, suara Tn.Takichiro bergema.

Kau sedang apa di Saga tanya Tn.Sosuke.

Aku mengasingkan diri di sebuah biara yang sunyi.

Maafkan aku, tapi aku memberanikan diri untuk menasihatkan bahwa situasi sekarang agak mengkhawatirkan. Tn.Otomo berbicara dengan kesopanan yang dibuat-buat. Aku telah mendengar berita tentang biara-biara yang seperti itu.

Tidak, yang ini betul-betul biara. Ada seorang kepala biarawati yang sudah tua dan...

Nah, itu bagus. Hanya seorang kepala biarawati tua. Kalau untukmu, Sada, gadis muda hanya akan...

Konyol! Tn.Takichiro tertawa. Aku mau minta tolong padamu hari ini.

Ya

Apakah boleh aku langsung saja datang ke rumahmu

Tentu saja. Silakan! Tapi Tn.Sosuke curiga. Aku tak ada rencana pergi. Kau bisa mendengar suara alat tenun kan

Ya, karena itulah aku ingin bicara denganmu. Suara itu terdengar menyenangkan.

Kau kira apa Apa lagi yang harus kukerjakan selain ini jika alat-alat itu tak bisa lagi digunakan Ini bukan biara.

Kurang dari setengah jam, mobil Tn.Sada Takichiro telah sampai di toko Tn.Sosuke. Mata Tn.Sada tampak bersinar cerah saat ia membuka bungkusannya dengan cekatan.

Nah, aku ingin kau membuat tenunan sesuai dengan pola ini, katanya sambil membentangkan desainnya.

Oh Tn.Sosuke menatap wajah tamunya itu. Obi ini cukup trendi buatmu... menyolok. Hmmm... ini untuk seorang perempuan yang tinggal di biara itu ya

Tidak. Tn.Takichiro tertawa. Ini untuk anak gadisku.

Benarkah Aku yakin ia pasti akan terkejut jika melihatnya. Tapi, apakah kau merasa bahwa ia pernah memakai pakaian seperti ini

Sebenarnya Chiekolah yang memberiku beberapa buku tentang lukisan Klee agar aku mendapat inspirasi.

Klee Siapa itu Klee

Ia itu pelukis yang mempelopori gerakan abstrak. Lukisannya begitu lembut, luar biasa. Bisa dikatakan bahwa karya-karyanya mempunyai kualitas mimpi, yang akan mampu bicara bahkan pada seorang wanita tua Jepang sekalipun. Aku terus mempelajari lukisan-lukisan itu sampai aku mampu menghasilkan pola desain ini. Tak seperti desain tradisional Jepang kan

Ya, begitulah.

Aku membayangkan bagaimana jika ini nanti dibuat obi. Maka kupikir aku perlu memintamu untuk menenun pola desain ini untukku. Rasa bangga Tn.Takichiro belumlah padam.

Beberapa saat Tn.Sosuke mengamati desain itu.

Hmmm, hebat! Warnanya selaras... bagus. Kau belum pernah menggambar desain yang betulbetul merupakan pembaharuan sebelumnya; meskipun begitu, ini terasa begitu tenang. Akan susah untuk membuat tenunannya. Tapi, kami akan mencoba dengan sungguh-sungguh mencurahkan perasaan dalam mengerjakannya. Aku lihat desain ini menunjukkan rasa hormat anak gadismu pada kedua orang tuanya dan juga sebaliknya, rasa cinta kalian berdua kepadanya.

Terima kasih. Sekarang, orang-orang dengan mudah menggunakan kata dari Bahasa Inggris, seperti ide atau sense. Sekarang bahkan warna-warna yang biasa digunakan adalah yang mengacu pada kaidah yang sedang menjadi mode di barat.

Barang-barang yang seperti itu malah tidak berkualitas.

Aku sangat tidak suka jika kosakata barat mulai digunakan. Bukankah sejak zaman kuno Jepang sudah memiliki warna-warna yang kaya keelokan Bahkan warna hitam pun mempunyai corak-corak yang halus, kata Tn.Sosuke sambil mengangguk. Ya, aku juga sedang memikirkan itu hari ini. Ada beberapa pembuat obi seperti Izukura. Mereka mempunyai bangunan pabrik modern bergaya barat setinggi empat lantai. Nishijin bisa jadi juga seperti itu nantinya. Mereka membuat lima ratus potong obi setiap hari dan para pegawainya pun akan segera ikut ambil bagian dalam manajemen perusahaan. Usia rata-rata para pegawainya antara dua puluh hingga tiga puluhan. Industri rumah tangga seperti tempatku ini, dengan alat tenun manual, akan lenyap dalam dua puluh atau tiga puluh tahun kedepan.

Menggelikan!

Jika ada yang tetap bertahan, tidakkah ini karena usaha pemerintah yang telah menganggapnya sebagai Kekayaan Budaya yang Tidak bisa Dinyatakan secara Jelas Wah, bahkan orang-perseorang seperti kamu, Sada, dengan Klee-mu atau apa pun yang lain...

Aku menerangkan tentang Paul Klee, tapi itu belum semuanya. Aku mengurung diri di biara itu selama sepuluh hari Eh, dua minggu. Selama itu aku memeras otak siang dan malam. Apakah warna-warna dan polanya kelihatan rumit tanya Tuan Takichiro.

Sangat rumit dan halus. Selaras dengan sikap orang Jepang. Tn.Sosuke buru-buru melanjutkan. Aku akui bahwa ini betul-betul karyamu. Kami akan menenun sebuah obi yang indah untukmu berdasar pada pola ini. Akan kukirimkan desain ini pada sebuah toko yang kukenal bagus agar mereka mempunyai pola ini dan agar pembersihan dan penyisiran katun dapat dirancang dengan akurat. Kukira aku akan menyuruh Hideo untuk menenunnya ketimbang aku sendiri yang melakukan. Ia anak sulungku. Kau tahu kan

Hm, ya.

Tenunannya jauh lebih teliti dibanding tenunanku, kata Tn.Sosuke.

Hm, itu terserah pertimbanganmu. Aku sendiri menyebut diriku sebagai pedagang kimono, tapi yang kukerjakan tak lebih sekadar mengirimkan barang-barang ke kota-kota kecil.

Ah, jangan berkata begitu!

Bagaimanapun, aku tahu ini bukanlah obi untuk musim panas. Ini untuk musim gugur. Tapi... aku ingin melihatnya secepat mungkin.

Aku mengerti. Bagaimana dengan kimono sebagai setelannya

Sejauh ini aku hanya berpikir tentang obi.

Karena kau pedagang grosir, kukira kau bisa meng-ambil apa saja yang kau suka di antara barangbarang stokmu. Jadi, tak masalah mana yang kau pilih lebih dulu. Kau membuat ini untuk persiapan pernikahan anak gadismu

Tidak. Tidak. Wajah Tn.Takichiro mulai memerah, seolah pertanyaan itu adalah tentang dirinya sendiri.

Kerajinan tenun tangan konon merupakan suatu keterampilan yang sulit diwariskan sampai tiga generasi. Bahkan jika sang ayah adalah penenun yang sangat ulung, katakanlah ia mempunyai tangan seniman, maka kemampuannya itu tidak perlu diwarisi anak-anaknya. Bukan berarti bahwa si anak akan dengan sengaja mengabaikan tugasnya dan menggantungkan diri pada keahlian ayahnya. Meski ia berusaha bersungguh-sungguh, namun jika tak berbakat maka akan kelihatan bedanya.

Biasanya anak kecil pertama-tama diajari menggulung benang ketika ia berusia empat atau lima tahun. Lalu saat menginjak usia sepuluh atau dua belas tahun, mulailah ia menerima pelatihan, menjadi pegawai magang tukang tenun. Nah, setelah menjalani masa magang ini barulah ia bisa menjadi penenun dengan menerima gaji. Karena alasan itulah maka jika sebuah keluarga memiliki banyak anak, itu akan sangat membantu keberhasilan usaha tenun keluarga. Seorang nenek usia enam puluh atau tujuh puluh tahun bahkan masih bisa menggulung sutra dalam rumahnya, sehingga di beberapa rumah, biasa ditemui seorang nenek dan cucu perempuannya yang tengah duduk sambil mengerjakan tugas bersama.

Di rumah, istri Tn.Sosuke yang sudah tua biasa membelit-belitkan atau melilitkan benang pembuat obi. Duduk bekerja tiap hari dengan tatapan menunduk membuatnya tampak lebih tua daripada usia sebenarnya dan membuatnya selalu diam.

Tn.Otomo memiliki tiga putra yang menenun obi dengan alat tenunnya masing-masing. Dengan memiliki tiga mesin penenun tentu saja membuat mereka lebih baik daripada pengrajin tenun pada umumnya. Beberapa toko hanya memiliki satu alat tenun, bahkan ada pula yang hanya bisa menyewa alat itu. Keahlian Hideo melampaui ayahnya. Ia bahkan juga dikenal di antara pedagang grosir dan penenun lainnya.

Hideo, Hideo, Tn.Sosuke memanggil anaknya. Tapi tampaknya ia tak mendengar. Tak seperti pabrik besar yang memiliki mesin tenun tak terhitung banyaknya, tiga alat tenun dari kayu di toko Tn.Sosuke tak menimbulkan suara ribut. Tn.Sosuke merasa bahwa ia sudah memanggil keras-keras; tapi tampaknya suara itu tak mencapai tempat Hideo, di mana ia tengah duduk di sisi paling jauh dekat taman, asyik menenun obi bergaris yang sulit polanya.

Bu, coba panggilkan Hideo kemari, Tn.Sosuke berkata pada istrinya.

Ya. Lalu wanita tua itu menyeka pangkuannya dan melangkah turun menuju ruang masuk. Sambil melangkah menuju tempat Hideo, ia sedikit memukul punggungnya dengan kepalan tangan untuk mengendurkan ketegangan setelah duduk dalam waktu yang lama.

Setelah menghentikan buluh penyangga alat tenun, Hideo menengok ke arah ayahnya, tapi ia tidak segera bangkit. Mungkin ia merasa lelah, tapi karena melihat ada pelanggan di sana, tak bisa ia melenturkan lengan-lengannya atau meregangkan punggung. Akhirnya, diusapnya wajahnya dan mendekati ayahnya dan Tn.Takichiro.

Terima kasih atas kedatangannya. Maafkan saya karena tempatnya berantakan. Ia menyambut Tn.Takichiro sambil merengut. Keletihan sehabis bekerja tampak masih membekas di wajah dan seluruh tubuhnya.

Tuan Sada ini telah membuat desain sebuah obi. Menurut pertimbangan ayah, lebih baik kau saja yang mengerjakannya.

Ini untuk anak gadis Anda Chieko Untuk pertama kalinya Hideo mengangkat wajahnya yang kelabu ke arah Tn.Sada.

Ekspresi Hideo tampak tak begitu ramah untuk ukuran orang Kyoto. Mengetahui hal itu, sang ayah mencoba memintakan maaf untuknya.

Hideo kelelahan setelah bekerja sejak tadi pagi.

Sungguh mengagumkan jika ia bisa begitu asyik dengan pekerjaan.

Tn.Takichiro berusaha untuk menghiburnya.

Ah, ini hanya obi bergaris; tapi saya sungguh asyik mengerjakannya. Maafkan saya. Hideo menundukkan kepala.

Tak apa. Penenun memang musti begitu. Tn.Takichiro menganggukkan kepala dua kali.

Bahkan barang yang sepele pun bisa dikenali dari ciri-cirinya sebagai hasil kerja toko kami. Jadi, menyusahkan juga memang jika selalu mengutamakan ketelitian, kata Hideo sambil tetap menunduk.

Hideo, Tn.Sosuke menyisipkan sikap tegas dalam ucapannya. Desain Tuan Sada ini berbeda. Beliau mengurung diri di sebuah biara di Saga demi niatnya menggambar desain ini. Dan ini tidak untuk dijual.

Sungguh Hmm... sebuah biara di Saga...

Beliau akan menunjukkannya kepadamu.

Tn.Takichiro telah datang ke toko Tn.Otomo dengan semangat tinggi; tapi begitu melihat sikap Hideo semangat itu jauh menyusut.

Ia membentangkan hasil karyanya di hadapan Hideo yang hanya terdiam. Bagaimana menurutmu tanya Tn.Takichiro dengan malu-malu.

Hideo mengamati tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Apakah ini tidak bagus

Hideo belum juga menjawab.

Tn.Sosuke kehilangan kesabaran saat melihat kelakuan anaknya yang tetap diam, keras kepala. Hideo, apakah kau tidak merasa telah bersikap tidak sopan dengan tetap diam begitu

Hm. Ia masih belum mengangkat kepala. Saya adalah seorang pengrajin tenun. Jadi saya betul-betul mengamati desain Tuan Sada. Ini bukan karya yang sepele. Obi ini untuk Chieko, bukan begitu

Ya, begitulah, sahut ayahnya mengangguk. Ia curiga dengan kelakuan Hideo yang tak wajar.

Ini tidak bagus, ya Tn.Takichiro mengulangi; dan nada bicaranya menjadi lebih keras.

Ini bagus, suara Hideo kalem. Saya tak pernah bilang kalau ini buruk.

Kau memang tak mengatakannya; tapi dalam hatimu... sinar matamu bilang begitu.

Betulkah

Apa maksudmu... Tn.Takichiro berdiri dan menampar wajah Hideo. Hideo tak mencoba menghindar.

Pukul saja saya sesuka hati Tuan. Saya tak pernah membayangkan untuk berkata bahwa desain Anda buruk. Mungkin karena tamparan itu maka wajah Hideo jadi lebih hidup.

Hideo membungkuk dalam-dalam dan minta maaf, tak merawat pipinya yang merah.

Tuan Sada, maafkan saya.

Tn.Takichiro tak bicara, sehingga Hideo pun melanjutkan, Mungkin Anda tersinggung atau sakit hati, tapi saya tetap akan menenun obi ini.

Untuk itulah aku datang kemari... memintamu mengerjakannya.

Tn.Takichiro berusaha menenangkan dadanya yang bergolak. Maafkan aku. Aku lebih tua dan seharusnya lebih bisa maklum. Karena memukulmu tanganku malah jadi sakit.

Seharusnya tadi saya pinjamkan tangan saya.

Karena kulit pengrajin tenun terasa kasar.

Mereka berdua tertawa, tapi meski begitu kesusahan di hati Tn.Takichiro tak juga menghilang.

Sudah berapa tahun ya aku tidak memukul orang Cukup lama. Aku tak bisa ingat. Yah, aku meminta kau agar memafkan aku. Inilah yang aku pinta darimu, Hideo. Ketika kau melihat desainku, mengapa wajahmu tampak aneh Bisakah kau katakan sejujurnya

Ya. Hideo kembali mengerutkan kening. Saya ini anak muda dan hanya pekerja, jadi saya tak memahami banyak hal. Tapi Anda bilang tadi kalau Anda mengurung diri di sebuah biara di Saga untuk menggambar desain. Bukan begitu

Ya, tadi pun saya masih berada di biara itu.

Coba kuingat. Kira-kira sudah dua minggu, sejak...

Cukup! Hideo bicara kuat-kuat. Pulanglah!

Aku tak bisa tenang di rumah.

Desain obi ini tampak cemerlang, mencolok dan inovatif; tapi saya merasa ini agak menggelisahkan. Saya heran bagaimana Anda bisa menggambar desain seperti ini. Itulah mengapa saya membelalak saat memandangnya... Dalam pandangan pertama, ia membangkitkan minat. Tapi ia tidak memiliki harmoni keramahan hati. Ini penuh kemarahan dan... mengerikan.

Wajah Tn.Takichiro berubah pucat, bibirnya gemetar. Kata-kata tertahan di rongga dada.

Mungkin ada serigala atau cerpelai berkeliaran di sekeliling biara sunyi itu. Bukannya saya bermaksud untuk mengatakan bahwa Anda terpesona oleh keberadaan mereka, tapi...

Cepat-cepat Tn.Takichiro meraih kembali desain rancangannya itu, merapatkannya ke lutut, dan menatap pemuda di depannya itu dengan sungguhsungguh. Yah, terima kasih atas apa yang telah kau sampaikan. Kau memang pemuda yang mengesankan. Terima kasih. Aku akan mempertimbangkan kembali desain ini sekali lagi dan menggambarnya ulang. Buru-buru Tn.Takichiro menggulung desain itu dan menyelitkannya pada saku.

Jangan! Sebenarnya ini sudah baik. Kalau nanti sudah jadi ditenun, saya akan memiliki perasaan yang berbeda. Kain dan benang celupan akan membuat warnanya...

Terima kasih, Hideo. Maukah kau menenunnya setelah aku mampu mengungkapkan kehangatan kasih sayangku pada anak gadisku pada corak desain ini Tn.Takichiro mohon diri, pergi keluar dari pintu gerbang.

Di luar, ada sungai kecil yang keberadaannya tampak sesuai dengan ibu kota itu. Rerumpunan rumput tua tumbuh sepanjang tepiannya, meliuk ke permukaan arusnya. Di dekat situ ada tembok bercat putih, mungkin masih merupakan bagian rumah Tn.Otomo.

Tn.Takichiro menggumpalkan desain obinya dalam saku. Ia keluarkan, lalu dilemparkannya ke sungai itu.

Ny.Shige merasa bingung setelah menerima telepon yag tak diduga-duga dari Saga, memintanya supaya datang ke Omuro bersama Chieko untuk melihat bunga- bunga. Selama ini, ia belum pernah keluar bersama suaminya untuk melihat-lihat bunga.

Chieko, Chieko, Ny.Shige memanggil anak gadisnya itu, seolah meminta bantuan. Ini ayahmu menelepon. Maukah kau menerimanya

Chieko meraih gagang telepon, mendengarkan suara ayahnya, sedang tangannya bergayut pada bahu ibunya.

Ya, saya akan mengajak ibu. Tunggulah kami di tempat upacara minum teh di muka Biara Ninnaji. Ya... sesegera mungkin kami akan ke sana.

Chieko meletakkan gagang telepon. Sambil tersenyum, ia berkata pada ibunya. Ayah mengundang kita untuk melihat-lihat bunga. Saya sendiri kaget, ayah mengajak Ibu juga.

Mengapa harus mengajakku

Kata ayah, bunga sakura di Omoro sedang mekar-mekarnya.

Chieko terus mendesak ibunya yang masih ragu-ragu itu sepulang mereka dari berbelanja. Ny.Shige masih tampak curiga.

Sakura fajar dan sakura ganda di Omuro mekar di akhir-akhir, setelah bunga- bunga di tempat lain dalam kota mekar. Mungkin jejak-jejak terakhir bunga sakura masih tertinggal di ibu kota.

Rerumpunan pohon sakura di dalam gerbang utama sebelah kiri Ninnaji begitu lebat berbunga.

Bangku-bangku besar berderet sepanjang jalan kecil di antara rerumpunan pohon sakura, dan di sana ada keributan dari orang-orang yang minumminum dan bernyanyi dengan suara riuh. Beberapa wanita desa menari penuh keriangan, ketika para pemabuk tertidur, mengorok. Beberapa pria bahkan menggulingkan bangku-bangku itu.

Aku tak tahan melihatnya. Ini keterlaluan. Tn.Takichiro bangkit, meratapi pemandangan itu. Ketiganya tak pergi menerobos rimbunan pohonpohon sakura itu. Tn.Takichiro sudah mengenal bunga-bunga sakura yang tumbuh di Omuro itu, jauh sebelumnya.

Asap membubung di antara pepohonan, di belakang taman. Itu berasal dari pembakaran sampah yang ditinggalkan para pelancong.

Kita harus pergi ke tempat lain yang lebih sunyi, bukankah begitu, Bu tanya Tn.Takichiro.

Saat mereka bergegas pergi, dekat beberapa bangku mereka melihat enam atau tujuh gadis Korea yang mengenakan pakaian khas negerinya memukul tambur sambil menarikan tarian Korea di bawah pohon-pohon cemara tinggi di seberang rerumpunan pohon sakura. Ini tentu pemandangan yang lebih serasi. Orang sepintas lalu bisa melihat pohon-pohon sakura yang tumbuh di gunung dari sela-sela pohon cemara.

Chieko berhenti untuk menonton tarian Korea.

Ayah memang lebih baik ke tempat yang lebih sepi. Bagaimana dengan Kebun Raya

Mungkin itu ide yang bagus. Yang perlu kau lakukan memang hanya datang, sekali pandang ke arah bunga-bunga sakura di sini, dan selesailah tugasmu di musim semi ini. Tn.Takichiro melangkah keluar dari gerbang utama dan masuk ke dalam mobil.

Kebun Raya baru saja dibuka bulan April. Sekarang, jadwal keberangkatan kereta dari Kyoto ke Kebun Raya ini bertambah sering.

Jika di Kebun Raya masih ramai, jalan-jalan saja ke dekat sungai Kamo, kata Tn.Takichiro pada istrinya.

Mobil mereka melaju ke arah pusat kehijauan kota itu. Daun-daun muda yang tumbuh membelakangi rumah-rumah tua tampak lebih hidup daripada yang membelakangi rumah-rumah baru.

Kebun Raya itu terbentang luas di seberang pintu gerbang di muka jalan berbatas tepi pepohonan. Tepian sungai Kamo ada di sebelah kiri.

Ny.Shige menyelipkan tiket masuk ke dalam obi. Hatinya terbuka saat melihat pemandangan yang terbentang seluas itu. Hanya pucuk-pucuk gunung yang terlihat dari kota kimono itu, dan Ny.Shige bahkan jarang keluar ke jalan di muka tokonya.

Bunga-bunga tulip bermekaran, mengelilingi air mancur di muka Kebun Raya.

Ini bukan pemandangan yang normal di Kyoto, seru Ny.Shige. Tak aneh bila orang-orang Amerika membuat rumah di sini.

Kukira rumah-rumah itu dibangun lebih jauh di belakang, kata Tn.Takichiro.

Saat mereka mendekati air mancur, terlihat percikannya yang lembut berhamburan di udara, meskipun tak ada angin kencang. Sebuah rumah kaca yang luas melingkar dengan rangka besi berdiri jauh di sisi kiri air mancur. Mereka bertiga memandang ke arah tanaman-tanaman tropis yang tumbuh di dalamnya. Tapi mereka tidak masuk, karena hanya punya sedikit waktu berjalan-jalan.

Sebuah pohon cemara Himalaya besar yang tumbuh di sebelah kanan jalan kecil tengah menumbuhkan kuncup-kuncup baru. Dahan-dahannya yang bagian bawah terbentang tepat di atas permukaan tanah. Meski disebut sebagai pohon bihun, hijau muda pucuk-pucuk daunnya tak mengesankan kemiripan dengan bihun; malahan mereka membangun suasana seperti dalam mimpi.

Tuan Otomo dan putranya tentu telah memberi penilaian yang terbaik untukku, seru Tn.Takichiro tiba-tiba. Aku telah banyak mengirimkan karyakaryaku. Pengamatan mereka tentu sudah jeli; mereka bisa melihat ke dalam hati. Ny.Shige dan Chieko sama sekali tak tahu apa yang dikatakan ayahnya seorang diri tadi.

Ayah kenal dengan Hideo tanya Chieko.

Aku dengar ia pengrajin tenun yang bagus, kata Ny.Shige. Tn.Takichiro selalu tak suka jika didesak untuk menceritakan sesuatu secara mendetail.

Mereka pergi menyusuri sebelah kanan air mancur. Di ujung jalan itu ada tempat bermain untuk anak-anak. Terdengar nada-nada ceria anakanak, mereka merayakan suasana hati. Di tanah terdapat tumpukan tas anak-anak.

Saat keluar Tn.Sada berbelok ke kanan, ke arah naungan pepohonan, tak disangka-sangka jalan itu menurun menuju padang bunga tulip. Bunga-bunga tulip yang tengah mekar sungguh tampak elok sehingga Chieko hampir saja memekik. Merah, kuning, putih, dan ungu, dengan keunguan tsubaki hitam. Masing-masing meramaikan tempatnya sendiri-sendiri.

Kalau melihat pemandangan seperti ini, ayah jadi ingin mendesain kimono dengan pola bunga tulip. Ayah pikir, ini akan tampak menggelikan, sang ayah mendesah.

Sambil terus memandang ke arah padang tulip, Tn.Takichiro terkagum-kagum sendiri: jika rantingranting yang murung di pucuk-pucuk pohon sugi Himalaya disebut mirip burung merak yang tengah membentangkan bulu-bulu ekornya, dengan apa seseorang akan membandingkan bunga tulip aneka warna yang mekar begitu banyaknya di sini

Warna-warna itu seperti melukisi langit dan lukisan itu terpantul kembali pada bunga-bunga di masing masing tangkainya.

Ny.Shige perlahan meninggalkan suaminya, mendekati anak gadisnya. Chieko merasa aneh, tapi wajahnya tak menunjukkan kesan itu.

Ibu, sekelompok orang di muka padang tulip putih itu kelihatannya sedang mengadakan miai, bisik Chieko saat ia memandang sekilas ke arah pasangan muda yang pertemuan pertamanya terjadi di hadapan bunga-bunga itu.

Ya, sepertinya begitu.

Jangan melihat ke arah mereka, Ibu. Lalu Chieko menarik lengan baju ibunya.

Sebuah kolam dengan ikan mujair berenang-renang di dalamnya berkilauan di muka padang bunga tulip.

Tn.Takichiro bangkit dari bangku dan berjalan ke tengah padang untuk bisa melihat bunga-bunga tulip dari dekat. Ia menghentikan langkah, melayangkan pandangnya ke arah serumpun bunga. Lalu dihampirinya kembali istri dan anaknya.

Bunga-bunga dari barat memang tampak bercahaya, tapi aku bosan melihatnya. Tentu ayah paling suka dengan rumpun bambu.

Ny.Shige dan Chieko berdiri.

Padang bunga tulip itu berada dalam lembah, dikelilingi pepohonan.

Chieko, bukankah Kebun Raya itu didesain seperti kebun-kebun gaya Barat Tn.Takichiro bertanya pada anak gadisnya itu.

Saya tak tahu pasti, tapi saya pikir ada benarnya juga, jawab Chieko. Bisakah kita tinggal sedikit lebih lama, demi ibu

Tn.Takichiro melangkah di antara bunga-bunga, seolah ia telah mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

Tuan Sada Sebuah suara memanggil. Saya, Tuan Sada!

Ah, Tuan Otomo, dan Hideo juga ikut, kata

Tn.Takichiro. Betapa ini sebuah kejutan.

Sayalah yang terkejut. Tn.Sosuke membungkuk dalam-dalam. Saya menyukai jalanan dengan pohon kusu no ki di sekitarnya. Jadi, saya menunggu-nunggu pembukaan kembali taman ini. Pohonpohon itu berusia antara lima puluh hingga enam puluh tahun, dan saya selalu berjalan-jalan santai di bawah teduhnya. Tn.Sosuke kembali menundukkan kepala. Maafkan jika anak saya itu begitu kasar kepada Anda tempo hari.

Namanya juga anak muda.

Anda langsung dari Saga

Ya, tapi anak dan istri saya datang dari rumah dan bertemu saya di sini.

Tn.Sosuke melangkah maju untuk menyambut Chieko dan ibunya.

Hideo, bagaimana menurutmu bunga-bunga tulip ini Tn.Takichiro bertanya agak keras.

Bunga-bunga itu hidup. Sikap Hideo masih tampak kasar.

Hidup Itu sudah tentu. Tapi aku mulai lelah melihat mereka... bunga-bunga yang mengerikan.

Bunga-bunga itu hidup. Hidup mereka singkat, tapi kehidupan mereka mencolok mata. Tahun berikutnya mereka akan menghasilkan kuncup baru dan merekah... sebagaimana kehidupan yang alami. Tn.Takichiro kembali merasa bahwa Hideo telah sengaja memotongnya.

Mataku tak terbiasa melihatnya. Aku tak suka pola tulip pada kimono atau obi, tapi jika seniman besar melukisnya, bahkan bunga tulip pun bisa menjadi karya dengan kehidupan abadi, kata Tn.Takichiro sambil melihat ke samping. Beberapa desain kuno juga seperti itu. Beberapa di antara karya-karya itu bahkan lebih tua daripada ibu kota ini sendiri. Tak seorang pun bisa menghasilkan sesuatu karya yang seperti itu lagi. Yang bisa mereka kerjakan tak lain hanyalah menyalin karya-karya itu... Bukankah pohon-pohon di sini pun bahkan lebih tua daripada usia ibu kota

Saya tak mempunyai pemikiran serumit itu. Pengrajin tenun yang sehari-harinya hanya mendengar suara bising alat tenun kayu tak memikirkan hal-hal setinggi itu. Hideo menundukkan kepala. Tapi ini hanya contoh. Ketika anak gadis Anda berdiri di depan patung Miroku di Biara Koryuji, betapa ia tampak jauh lebih cantik.

Sudah kau katakan itu pada Chieko Itu pasti akan membuatnya senang. Memalukan jika aku yang memikirkan hal seperti itu.

Itulah mengapa saya bilang tulip-tulip ini hidup. Suara Hideo terasa bertenaga. Mereka berbunga hanya dalam satu musim yang singkat; tapi bukankah mereka bermekaran dengan mengerahkan sepenuh tenaganya Sekaranglah saatnya bagi mereka.

Itu benar. Tn.Takichiro menengok ke arah Hideo.

Saya menenun obi, saya tak berpikiran bahwa obi itu akan dipakai untuk kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti juga sekarang, saya menenun obi yang mungkin hanya membuat gadis yang mengenakannya bahagia selama satu tahun.

Itu sikap yang bagus.

Saya memang seperti itu. Tidak seperti Tatsumura.

Tn.Takichiro tak berbicara.

Itu adalah pikiran yang mendorong saya untuk mengatakan bahwa-bunga bunga tulip itu hidup. Sekaranglah saat mereka berjaya, tapi akan segera banyak mahkota bunga yang berguguran.

Ya, begitulah.

Bahkan mahkota-mahkota yang jatuh... eh, guguran bunga-bunga sakura punya keelokan. Kalau tulip bagaimana ya

Maksudmu adalah bagaimana kelihatannya jika mahkota bunga tulip bersebaran, begitu tanya Tn.Takichiro. Aku merasa agak dibuat jijik dengan bunga-bunga yang seperti itu. Warnanya terlalu mencolok dan mereka tampak tak mempunyai

rasa. Tentu saja, karena aku lebih tua.

Mari kita pergi, Hideo mengajak Tn.Takichiro. Saya telah melihat berbagai macam pola obi sebelumnya; tapi desain yang kini datang ke toko kami tak menggambarkan bunga yang hidup. Itu telah membuka kedua mata saya.

Mereka berlima mendaki undak-undakan batu dari padang bunga tulip di lembah. Di sisi undakanundakan, beberapa rumpun semak Azalea Kirishima menggerumbul ke atas, lebih menyerupai tanggul daripada pagar. Semak itu tidak sedang berbunga, tapi rimbunan daun hijau yang lembut jadi mirip bunga-bunga tulip ketika tengah mekar.

Di puncak anak tangga, ada dua taman peoni yang tak dikenal, sekarang mereka belum berbunga.

Hieizan pun tampak di sebelah timur.

Orang bisa melihat Hieizan, Kitayama, dan Higashiyama hampir dari seluruh tempat di kebun raya ini, tapi Hieizan di sebelah timur tampak seolah-olah menandai pintu masuk utama menuju Taman Peoni.

Mungkin ini karena kabut tebal, tapi bukankah Hieizan kelihatan berada di dataran rendah Tn.Sosuke bertanya.

Ini kabut musim semi lembut... Tn.Takichiro memandangnya beberapa saat. Ya, tapi tidakkah kabut tebal ini membuatmu berpikir tentang musim semi yang singkat

Ya.

Kabut tebal membuatku menyadari bahwa musim semi akan segera berakhir.

Ya, Tn.Sosuke menimpali. Musim ini berlalu dengan cepat. Sedang aku tak sering lagi melihatlihat bunga.

Tak ada hal baru yang bisa dilihat.

Keduanya berjalan sambil membisu beberapa saat.

Otomo, sebelum kita pergi, ayo kita berjalan melewati jalanan dengan pohon-pohon kusu no ki yang katamu begitu kau sukai itu, kata Tn.Takichiro.

Terima kasih. Ayo! Bagiku sudah cukup dengan berjalan di antara pepohonan itu. Saat berjalan masuk tadi aku melewatinya. Kata Tn.Sosuke sambil berkeliling ke arah Chieko. Chieko, sini, berjalan bersama kami.

Ujung-ujung ranting pohon kusu no ki bergabung, memusat di atas jalanan. Kuncup di ujung ranting-ranting masih tampak lemas, berwarna merah pucat. Hanya angin lembut yang bertiup; tapi di sana-sini ranting mendesau lemah. Mereka berlima tak banyak berbicara, tapi pikiran mereka teradukaduk di bawah bayang pepohonan.

Begitu mendengar bahwa Hideo membandingkan Chieko dengan patung Buddha di Nara dan Kyoto yang paling dihormati, dan berkata bahwa Chieko masih lebih cantik, Tn.Takichiro tak bisa melupakannya. Apakah Hideo menjadi begitu tertarik dengan Chieko

Jika Chieko menikah dengan Hideo, keluarga pengantin pria kelak akan membutuhkan Chieko untuk bekerja di perusahaan tenun. Apakah ia akan bekerja menggulung benang di sana, sejak pagi hingga malam seperti halnya ibu Hideo Ketika Tn.Takichiro menengok ke belakang, dilihatnya Chieko sibuk bercakap-cakap dengan Hideo. Terkadang tampak gadis itu menganggukkan kepala.

Dengan pernikahan, bukan berarti pengantin wanita harus menjalani hidup di rumah keluarga Otomo, keluarga pengantin pria. Tn.Takichiro berpikir bahwa adalah mungkin bagi Hideo untuk tinggal di rumahnya sebagai menantu.

Chieko adalah anak tunggal. Jika ia meninggalkan rumah, betapa ibunya, Ny.Shige, akan merasa kesepian.

Tapi Hideo sendiri adalah putra tertua, dan Tn.Otomo pernah berkata bahwa Hideo lebih ahli dalam menenun daripada ayahnya sendiri. Meskipun begitu, masih ada dua putranya yang lebih muda.

Lagipula, bisnis keluarga Takichiro mengalami banyak penurunan sehingga bahkan Tn.Takichiro pun tidak bisa mengusahakan perubahan bentuk ruang sebelah dalam toko bergaya lama tersebut. Tapi ia, bagaimanapun juga, adalah seorang pedagang kain grosir di lingkungan Nakagyo, dan bukan pengrajin tenun. Perusahaan Tn.Otomo dikenal sebagai industri kerajinan rumah tangga tanpa satu pun pegawai luar. Sifat dasar perusahaan ini mewujudkan diri dalam penampilan ibu Hideo, Ny.Asako, dan juga dengan keberadaan dapur mereka yang sederhana. Meski Hideo adalah putra tertua, sikap Tn.Otomo menandakan bahwa ia memiliki kemungkinan untuk menawarkan putranya agar diterima di tengah keluarga Sada sebagai suami Chieko.

Hideo pria yang baik dan bisa diandalkan, kata Tn.Takichiro, menjajaki daya tangkap rekannya itu. Ia masih muda, tapi benar-benar bisa dipercaya.

Terima kasih, kata Tn.Sosuke sambil lalu. Tapi itu hanya sejauh urusan dagang. Ia bekerja keras, tapi kasar jika berhadapan dengan orang lain. Ia sungguh tak stabil.

Itu tak ada salahnya. Aku juga seperti itu. Ia benar-benar menghardikku... Sikap Tn.Takichiro jadi terasa menyenangkan.

Maafkan saya jika ia berbuat seperti itu. Tn.Sosuke menundukkan kepalanya perlahan. Ia memang tak akan mendengarkan apa pun yang kita katakan, kecuali jika ia mulai menyetujui.

Itu tak apa. Tn.Takichiro mengangguk. Mengapa kau hanya mengajak Hideo hari ini

Jika adik-adiknya juga aku ajak, tentu saja mesin tenun akan berhenti bekerja. Lagipula, Hideo itu keras kepala. Jadi kupikir dengan berjalan-jalan di antara pepohonan kusu no ki akan sedikit menenangkan sikapnya.

Jalanan ini memang menyenangkan. Otomo, sebenarnya aku mengajak istri dan anak gadisku ke sini karena... mmp, itu pesan Hideo.

Apa Tn.Sosuke terbelalak, dengan ragu-ragu menatap lawan bicaranya. Kau ingin melihat reaksi anak gadismu, bukan begitu

Tidak. Tidak. Yang ditanya buru-buru membantah.

Tn.Sosuke melihat sekeliling. Chieko dan Hideo berjalan beberapa langkah di belakang. Ny.Shige bahkan berjalan sendiri jauh di belakang.

Saat mereka berjalan keluar dari pintu gerbang Kebun Raya, Tn.Takichiro berkata pada Tn.Sosuke, Kumohon naiklah mobil kami. Nishijin itu dekat. Sementara itu, kami akan berjalan sepanjang tepian sungai.

Tn.Sosuke ragu-ragu, tapi Hideo mendesak ayahnya agar masuk dulu ke dalam mobil, sambil berkata, Ayah, kita terima saja kebaikan hati Tuan Sada.

Saat Tn.Sada berdiri memandang kepergian mereka, Tn.Sosuke duduk tegak di dalam mobil untuk memberikan penghormatan. Tapi gerak-gerik Hideo begitu ringannya sehingga seseorang tak dapat membedakan apakah ia membungkukkan kepala ataukah tidak.

Ia pemuda yang menyenangkan. Tn.Takichiro mengingat kejadian waktu ia memukul wajah Hideo. Dengan menahan senyum, ia berkata pada anak gadisnya, Kau dan Hideo pasti telah bicara panjang lebar. Apakah benar ia pemalu di hadapan gadis-gadis

Kedua mata Chieko menatap malu-malu. Di jalanan antara pepohonan kusu no ki tadi Saya hanya mendengarkan saja apa katanya. Saya heran mengapa ia berbicara begitu banyak. Mengapa ia harus mengungkapkan semua itu kepada saya

Apakah bukan karena ia menyukaimu Kau paham benar itu, ya kan Ia bilang kau lebih cantik dibandingkan Miroku di Chuguji atau di Biara Koryuji. Ayah pun kaget. Anak yang keras kepala itu telah mengungkapkan sesuatu yang menakjubkan.

Karena terkejut, Chieko tak mampu berucap sepatah kata pun. Wajahnya memerah, mencapai pangkal lehernya.

Apa yang kau bicarakan dengannya tanya sang ayah.

Tentang nasib para pengrajin tenun di Nishijin.

Nasib Sang ayah tampak larut dalam pikirannya.

Nasib memang kedengarannya sulit dibicarakan. Tapi, ya, kami memang bicara tentang nasib mereka, jawab Chieko.

Di luar kebun raya, barisan pohon cemara tumbuh sepanjang tanggul sungai Kamo. Tn.Takichiro melangkah turun ke sela-sela pohonan sampai ke dasar sungai. Dasar sungai Kamo menyerupai padang rumput muda yang panjang dan sempit. Suara air yang mencurah dari sebuah bendungan tiba-tiba terdengar.

Sekelompok orang yang sudah tua dudukduduk di rumput dengan menggelar bekal makan siangnya masing-masing. Tampak pasangan-pasangan muda berjalan berdampingan.

Di tepian jauh sungai itu ada semacam titian, tepat di bawah jalanan. Melampaui tinggi pohonpohon sakura dengan beberapa daun mudanya, di tengah-tengah, ada gunung Atagoyama. Dan di belakangnya adalah gunung Nishiyama, dengan satu sisi lerengnya yang tak terlindung tampak membentang. Dari atas sungai, tampaklah Kitayama, seolah-olah sangat dekat.

Apakah kita akan duduk di sini tanya Shige. Dari atas jembatan Kitaoji seseorang bisa melihat sepintas lalu ke arah kain sutra Yuzen yang dibentangkan di bawah matahari di dataran sungai.

Musim semi yang menyenangkan, seru Tn.Takichiro pada istrinya yang juga sedang menatapnya. Bu, bagaimana menurutmu pemuda itu, Hideo

Apa maksudmu bilang bagaimana menurutmu

Bagaimana jika ia kita bawa ke rumah untuk menikah dengan Chieko

Apa Mengapa kau begitu tiba-tiba membicarakan masalah itu

Ia pemuda yang menyenangkan, iya kan

Ya, tapi kau perlu bertanya pada Chieko untuk hal-hal yang seperti itu.

Chieko kan selalu bilang bahwa ia patuh sepenuhnya. Tn.Takichiro menatap anak gadisnya itu. Iya kan Chieko

Kau tak bisa memaksakan pendapatmu pada seseorang seperti dalam masalah pernikahan. Sang ibu pun menengok ke arah Chieko.

Chieko menundukkan pandangnya. Bayangan Mizuki Shinichi muncul dalam pikiran. Shinichi saat masih kanak-kanak. Seorang bocah festival dengan bulu mata yang dijuntaikan dengan indahnya, memakai pemerah bibir, juga perias wajah. Mengenakan pakaian kekaisaran kuno dan mengendarai kendaraan hias saat diadakan Festival Gion. Tentu saja waktu itu, Chieko pun masihlah seorang gadis kecil.