GOING TO HEAVEN - 3
Sore hari, pukul empat tiga puluh. Ibnu berjalan menuju perpustakaan Pondok. Didalam perpustakaan ia melihat seorang santri sedang menenteng kitab Fathul Qarib, ada yang sedang membaca Ihya Ulumuddin, ada yang sedang membaca Tafsir Ibnu Katsir, sementara tergeletak di atas meja kitab tafsir Al Maraghi, Jalalain, Al Manar, dan Al Qurthubiy. Ada pula yang sedang sibuk membaca At Turats wa Tajdid, ada yang tampak berjalan membawa Sirah Ibn Hisyam dan Thabaqat Ibn Saad, ada yang sedang sibuk membuka-buka kamus Hans Wehr, disampingnya tertumpuk kamus Al Munjid, Al Maurid, Lisanul Arab dan Al Munawir. Sementara temannya yang lain ada yang membaca The Crusade, Orientalism, Global Paradox dan Critique of Pure Reason.

Semua santri di pondok memang dibebaskan untuk membaca berbagai macam buku. Mereka bebas meminjamnya di perpustakaan milik pondok. Selama ini bapaknya memang menerapkan sistem yang terbuka terhadap santri-santrinya. Mereka disediakan fasilitas buku yang cukup lengkap, tidak hanya buku-buku agama, tapi juga buku-buku pengetahuan umum seperti filsafat, sosiologi, politik, ekonomi, hukum, science, sastra, bahasa dan sebagainya, tidak peduli apakah ia verstehen ataukah erkleren , apakah ia ekuivok ataukah univok7, tak peduli apapun genre-nya. Tidak kurang dari dua puluh ribu buku di perpustakaan ini. Dengan pesantren ini, bapaknya bercita-cita mencetak generasi muda yang tidak hanya memiliki ketakwaan, tapi juga berilmu pengetahuan.

Di era modern dan global, sebagaimana di jelaskan oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam Megatrend 2000, berbagai macam sarana kebutuhan manusia bisa diakses dengan mudah di banyak tempat, sehingga manusia tidak akan bisa terlepas dari pengaruh global. Lari dari pengaruh global sama saja lari dari masalah. Dunia membutuhkan orangorang berilmu dan bijak yang bisa mengimbangi pengaruh orang-orang yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsunya. Dalam Al Quran orang yang seperti ini dinamakan Ulul Albab. Sebagaimana firman Allah, Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul albab jelas bapak Ibnu dalam salah satu ceramah dihadapan santrisantrinya di sebuah acara milad pesantrennya yang ke sepuluh beberapa waktu yang lalu.

Tiba-tiba Ibnu ingat perkataan Prof Abdus Salam, seorang muslim pemenang hadiah nobel berkat teori unifikasi gaya yang disusunnya. Profesor tersebut berkata: Al Quran mengajarkan kita dua hal, tafakur dan tasyakur. Tafakur adalah merenungkan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang ada di alam semesta beserta isinya, inilah yang pada zaman sekarang dinamakan science. Sedangkan tasyakur ialah memanfaatkan nikmat dan karunia Allah yang telah diberikan kepada manusia. Sebagai wujud syukur adalah memanfaatkan ilmu yang dipelajarinya untuk kemaslahatan ummat manusia.

Ibnu berdiri di depan rak buku yang berisi ilmu-ilmu sosial, tiba-tiba ada yang menyapanya,

Hei, lagi cari buku apa Mr Ibnu Hajar

Halah kamu Lal, ngagetin aja!

He, sorry bos! By the way, gimana bedah bukumu kemarin

Sukses

Alhamdulillah. Tapi aku kecewa kamu nggak datang Hei, jangan begitu Aku kan kemarin ke Jogja, disuruh bapakmu

memborong buku di Shopping Centre. Baru pulang tadi pagi jam 4

Emang kamu memborong buku apa saja

Ya biasalah... disana kan hanya ada buku-buku karangan orang Indonesia dan terjemahan. Tak ada yang berbahasa asing

Kenapa kamu nggak pesan di Amazon.Com aja Kita bisa membeli buku-buku baru yang lebih berkualitas

Hei, jangan begitu... Sebagai orang Indonesia kita juga harus cinta produk dalam negeri. Seperti apapun itu. Lagipula ini kan kehendak dari

Ustadz Ridha

Ehmm.. emang bapak bilang apa sama kamu

Beliau bilang... sebagai orang Indonesia kita juga harus peka terhadap kondisi bangsa kita sendiri. Jangan mentang-mentang sudah bisa mengakses produk-produk luar negeri lantas kita lupa produk dalam negeri. Bukankah dengan kita tahu produk-produk bangsa sendiri, kita jadi tahu seperti apa kondisi bangsa kita Itu berarti kita faham dengan lingkungan kita. Kita mengerti realitas sosial yang ada. Dengan begitu kita memiliki kesadaran untuk memperbaiki kekurangan yang ada, dan mempertahankan khasanah yang telah ada

Begitu ya Ibnu manthuk-manthuk. Padahal sering sekali bapaknya mengatakan hal itu padanya.

Tapi ada buku bagus loh... Aku membacanya dalam perjalanan dari

Jogja kesini tadi malam. Enam jam aku baca selesai

Emang buku apa

Novel

Tema-nya

Cinta

Ah kayak nggak tahu aku aja kamu Lal ! Aku kan nggak suka novel kayak gituan. Lebih baik aku baca Hamlet-nya Shakespiere atau

Alchemist-nya Paul Coelho

Tapi yang ini beda, Nu

Apanya yang beda Paling-paling mendengung-dengungkan

romantisme dan melankolisme. Itu bukan karakterku sama sekali, Lal

Ya sudah, aku tak memaksa

Emang apa judulnya

Katanya nggak mau...

Bukan begitu, aku cuma pengin tahu judulnya

Dibawah naungan-Mu

Pengarangnya

Ghazali Ar Rusyd

Wah, aku malah lebih tertarik sama nama pengarangnya. Mungkin orang tuanya ingin anaknya seperti Imam Al Ghazali dan Ibnu Rusyd kali ya

Iya, menggabungkan dua tokoh besar yang dalam hidupnya pernah berbeda pendapat. Mereka berdebat seru tentang filsafat dalam Islam. AL Ghazali dengan bukunya Tahafut Al Falasifah dan Ibnu Rusyd dengan bukunya Tahafut at Tahafut al Falasifah. Kedua buku yang tidak akan dilupakan sepanjang sejarah ummat Islam

Wah... aku lihat wacanamu dari hari ke hari semakin hebat saja. Bagi-bagi dong dengan sahabatmu ini

Jangan meledek gitu dong... Mana mungkin kepintaranku bisa dibandingkan denganmu! Jika kau sebesar gunung, aku hanyalah sebutir debu

Ya, kau laksana padi, semakin berilmu semakin merunduk Ah jangan berkata begitu. Aku tidak mungkin punya sedikit ilmu seperti ini kalau tidak menjadi asisten pribadi dari anaknya pemilik pesantren ini

Hehe... sudahlah. Justru aku yang beruntung mendapat sahabat sepertimu. Kita tak perlu membedakan status kita disini. Oke Oke. Kau sudah mengatakan itu lebih dari seratus kali Ibnu tersenyum.

Oh iya, aku hampir lupa. Dua hari lalu sebelum aku ke Jogja, ada surat masuk. Dari pengurus Rohis SMA Negeri 6. Mereka mau mengadakan acara training motivasi untuk para anggota Rohis. Acaranya sabtu sore sampai ahad sore minggu depan. Kau diminta mengisi acara itu

Berapa sesi

Cuma satu sesi. Sabtu malam habis isya. Temanya tentang

Leadership

Kalau begitu hubungi panitianya kalau aku bisa

Oke bos

Mana Term of Reference-nya

Wah aku taruh di kamarku. Ya nanti malam habis sholat isya aku serahkan padamu

Oke, never mind

Yaudah, aku pamit dulu ya mau makan nih, lapar

Kamu itu emang kerjaannya makan terus. Yaudah sana!

Hehe... yaudah see you

Segera Ibnu mencari buku yang ingin ia baca di rak yang khusus berisi buku-buku ilmu sosial. Sepuluh detik ketemu. Ia mengambil buku Das Kapital, Kritik der politischen Oekonomie terbitan Hamburg tahun 1867 yang sudah dicetak ulang. Ada pula terbitan bahasa Inggrisnya, Capital, A critique of political ecomony terbiatan Penguin Classics London 1992. Tapi ia lebih memilih dalam bahasa aslinya. Dimatanya, buku terjemahan biasanya terlalu banyak reduksi. Ia tidak ingin membaca buku terjemahan, kecuali kalau memang benar-benar tak ada buku aslinya. Itulah yang diajarkan bapaknya padanya dengan tujuan agar ia selalu termotivasi untuk belajar banyak bahasa. Kalau Willian Sidis mampu menguasai 200 bahasa sepanjang hidupnya, ia bercita-cita menguasai sepuluh persennya saja, 20 bahasa asing. Ia fikir hal itu sudah cukup untuk menjadi seorang ilmuwan berkelas internasional.