Semua santri di pondok memang dibebaskan untuk membaca berbagai macam buku. Mereka bebas meminjamnya di perpustakaan milik pondok. Selama ini bapaknya memang menerapkan sistem yang terbuka terhadap santri-santrinya. Mereka disediakan fasilitas buku yang cukup lengkap, tidak hanya buku-buku agama, tapi juga buku-buku pengetahuan umum seperti filsafat, sosiologi, politik, ekonomi, hukum, science, sastra, bahasa dan sebagainya, tidak peduli apakah ia verstehen ataukah erkleren , apakah ia ekuivok ataukah univok7, tak peduli apapun genre-nya. Tidak kurang dari dua puluh ribu buku di perpustakaan ini. Dengan pesantren ini, bapaknya bercita-cita mencetak generasi muda yang tidak hanya memiliki ketakwaan, tapi juga berilmu pengetahuan.
Di era modern dan global, sebagaimana di jelaskan oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam Megatrend 2000, berbagai macam sarana kebutuhan manusia bisa diakses dengan mudah di banyak tempat, sehingga manusia tidak akan bisa terlepas dari pengaruh global. Lari dari pengaruh global sama saja lari dari masalah. Dunia membutuhkan orangorang berilmu dan bijak yang bisa mengimbangi pengaruh orang-orang yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsunya. Dalam Al Quran orang yang seperti ini dinamakan Ulul Albab. Sebagaimana firman Allah, Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul albab jelas bapak Ibnu dalam salah satu ceramah dihadapan santrisantrinya di sebuah acara milad pesantrennya yang ke sepuluh beberapa waktu yang lalu.
Tiba-tiba Ibnu ingat perkataan Prof Abdus Salam, seorang muslim pemenang hadiah nobel berkat teori unifikasi gaya yang disusunnya. Profesor tersebut berkata: Al Quran mengajarkan kita dua hal, tafakur dan tasyakur. Tafakur adalah merenungkan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang ada di alam semesta beserta isinya, inilah yang pada zaman sekarang dinamakan science. Sedangkan tasyakur ialah memanfaatkan nikmat dan karunia Allah yang telah diberikan kepada manusia. Sebagai wujud syukur adalah memanfaatkan ilmu yang dipelajarinya untuk kemaslahatan ummat manusia.
Ibnu berdiri di depan rak buku yang berisi ilmu-ilmu sosial, tiba-tiba ada yang menyapanya,
Hei, lagi cari buku apa Mr Ibnu Hajar
Halah kamu Lal, ngagetin aja!
He, sorry bos! By the way, gimana bedah bukumu kemarin
Sukses
Alhamdulillah. Tapi aku kecewa kamu nggak datang Hei, jangan begitu Aku kan kemarin ke Jogja, disuruh bapakmu
memborong buku di Shopping Centre. Baru pulang tadi pagi jam 4
Emang kamu memborong buku apa saja
Ya biasalah... disana kan hanya ada buku-buku karangan orang Indonesia dan terjemahan. Tak ada yang berbahasa asing
Kenapa kamu nggak pesan di Amazon.Com aja Kita bisa membeli buku-buku baru yang lebih berkualitas
Hei, jangan begitu... Sebagai orang Indonesia kita juga harus cinta produk dalam negeri. Seperti apapun itu. Lagipula ini kan kehendak dari
Ustadz Ridha
Ehmm.. emang bapak bilang apa sama kamu
Beliau bilang... sebagai orang Indonesia kita juga harus peka terhadap kondisi bangsa kita sendiri. Jangan mentang-mentang sudah bisa mengakses produk-produk luar negeri lantas kita lupa produk dalam negeri. Bukankah dengan kita tahu produk-produk bangsa sendiri, kita jadi tahu seperti apa kondisi bangsa kita Itu berarti kita faham dengan lingkungan kita. Kita mengerti realitas sosial yang ada. Dengan begitu kita memiliki kesadaran untuk memperbaiki kekurangan yang ada, dan mempertahankan khasanah yang telah ada
Begitu ya Ibnu manthuk-manthuk. Padahal sering sekali bapaknya mengatakan hal itu padanya.
Tapi ada buku bagus loh... Aku membacanya dalam perjalanan dari
Jogja kesini tadi malam. Enam jam aku baca selesai
Emang buku apa
Novel
Tema-nya
Cinta
Ah kayak nggak tahu aku aja kamu Lal ! Aku kan nggak suka novel kayak gituan. Lebih baik aku baca Hamlet-nya Shakespiere atau
Alchemist-nya Paul Coelho
Tapi yang ini beda, Nu
Apanya yang beda Paling-paling mendengung-dengungkan
romantisme dan melankolisme. Itu bukan karakterku sama sekali, Lal
Ya sudah, aku tak memaksa
Emang apa judulnya
Katanya nggak mau...
Bukan begitu, aku cuma pengin tahu judulnya
Dibawah naungan-Mu
Pengarangnya
Ghazali Ar Rusyd
Wah, aku malah lebih tertarik sama nama pengarangnya. Mungkin orang tuanya ingin anaknya seperti Imam Al Ghazali dan Ibnu Rusyd kali ya
Iya, menggabungkan dua tokoh besar yang dalam hidupnya pernah berbeda pendapat. Mereka berdebat seru tentang filsafat dalam Islam. AL Ghazali dengan bukunya Tahafut Al Falasifah dan Ibnu Rusyd dengan bukunya Tahafut at Tahafut al Falasifah. Kedua buku yang tidak akan dilupakan sepanjang sejarah ummat Islam
Wah... aku lihat wacanamu dari hari ke hari semakin hebat saja. Bagi-bagi dong dengan sahabatmu ini
Jangan meledek gitu dong... Mana mungkin kepintaranku bisa dibandingkan denganmu! Jika kau sebesar gunung, aku hanyalah sebutir debu
Ya, kau laksana padi, semakin berilmu semakin merunduk Ah jangan berkata begitu. Aku tidak mungkin punya sedikit ilmu seperti ini kalau tidak menjadi asisten pribadi dari anaknya pemilik pesantren ini
Hehe... sudahlah. Justru aku yang beruntung mendapat sahabat sepertimu. Kita tak perlu membedakan status kita disini. Oke Oke. Kau sudah mengatakan itu lebih dari seratus kali Ibnu tersenyum.
Oh iya, aku hampir lupa. Dua hari lalu sebelum aku ke Jogja, ada surat masuk. Dari pengurus Rohis SMA Negeri 6. Mereka mau mengadakan acara training motivasi untuk para anggota Rohis. Acaranya sabtu sore sampai ahad sore minggu depan. Kau diminta mengisi acara itu
Berapa sesi
Cuma satu sesi. Sabtu malam habis isya. Temanya tentang
Leadership
Kalau begitu hubungi panitianya kalau aku bisa
Oke bos
Mana Term of Reference-nya
Wah aku taruh di kamarku. Ya nanti malam habis sholat isya aku serahkan padamu
Oke, never mind
Yaudah, aku pamit dulu ya mau makan nih, lapar
Kamu itu emang kerjaannya makan terus. Yaudah sana!
Hehe... yaudah see you
Segera Ibnu mencari buku yang ingin ia baca di rak yang khusus berisi buku-buku ilmu sosial. Sepuluh detik ketemu. Ia mengambil buku Das Kapital, Kritik der politischen Oekonomie terbitan Hamburg tahun 1867 yang sudah dicetak ulang. Ada pula terbitan bahasa Inggrisnya, Capital, A critique of political ecomony terbiatan Penguin Classics London 1992. Tapi ia lebih memilih dalam bahasa aslinya. Dimatanya, buku terjemahan biasanya terlalu banyak reduksi. Ia tidak ingin membaca buku terjemahan, kecuali kalau memang benar-benar tak ada buku aslinya. Itulah yang diajarkan bapaknya padanya dengan tujuan agar ia selalu termotivasi untuk belajar banyak bahasa. Kalau Willian Sidis mampu menguasai 200 bahasa sepanjang hidupnya, ia bercita-cita menguasai sepuluh persennya saja, 20 bahasa asing. Ia fikir hal itu sudah cukup untuk menjadi seorang ilmuwan berkelas internasional.