MALAM MERUNJUNG - 3
Belum saatnya malam datang, tetapi gelap mulai merangkak mendesak matahari membenam diri lebih cepat ke kaki langit.

Syahrazad mondar-mandir gelisah. Si tukang cerita tak terlihat sejak pagi tadi. Hampir separuh cerita yang dia ceritakan kepada raja dibelinya langsung dari si tukang cerita. Kini, seakan mengutuk nasibnya dan nasib semua perempuan di negeri ini, tukang cerita itu menghilang begitu saja. Hanya meninggalkan tikar yang masih tergelar di dekat gerbang kota, yang kini ditiduri seekor anjing betina dengan empat anaknya.

Tukang cerita itu penuh teka-teki. Suatu kali ia pergi hanya meninggalkan sebutir mutiara dan Syahrazad terpaksa menyusun cerita tentang pedagang rempah dari Sumatra yang menikahi seorang putri dengan kulit seputih salju dan baris gigi yang bersinar seperti mutiara. Beruntung raja menyukai ceritanya. Sebelum ia tahu ke mana kapal saudagar itu akan berlayar, ayam istana berkokok dan pagi tiba. Syahrazad selamat, dan esoknya tukang cerita itu muncul kembali, nyengir memamerkan baris giginya yang sekuning kunyit lalu berkata, Kamu tidak membutuhkan bantuanku.

Tolonglah, Syahrazad nyaris bersujud di hadapan tukang cerita yang kumal itu. Nyaris ia lupa kalau dirinya adalah permaisuri di negeri ini. Tapi apa artinya itu, jika setiap malam bisa jadi adalah malam terakhir bagi kepalanya untuk tetap bertengger di atas pundaknya

Ribuan perempuan di negeri ini menggigil tiap pagi tiba. Membuka jendela kamar mereka takuttakut sambil melirik ke halaman depan istana. Di sana, seorang algojo berdiri seperti malaikat maut, dengan roman penuh nafsu dan sebilah pedang di tangan kanannya. Lalu pagi beranjak siang, tak ada eksekusi, dan legalah mereka. Syahrazad selamat sekali lagi dan setidaknya, giliran mereka mundur sehari lagi.

Semakin hari ia semakin gila. Ia semakin curiga pada cerita-ceritaku. Aku tidak tahu berapa malam lagi aku bisa terus begini, kata-kata menyemb ur keluar dari mulut manis Syahrazad. Untuk pertama kali dia menunjukkan kegugupannya.

Kamu bisa pergi denganku, tukang cerita itu kembali nyengir, memamerkan gigi kuningnya. Di sana, di balik bukit itu, ada sungai yang sudah beribu tahun kering. Ada ceruk yang telah dilupakan semua orang. Di dalamnya hidup kawanan ular

28 Huda Tula

berbisa. Tapi aku sudah berkawan dengan mereka. Jauh lagi ke dalam ada sebuah pintu. Di balik pintu itu, Tuan Putri, aku bisa membawamu ke sana. Kau akan menjadi permaisuri, dan orang-orang akan memanggilku Tuan Raja.

Jawabanku tetap sama, Tukang Cerita. Hubungan kita di sini hanya sebagai pembeli dan penjual.

Kau menjual ceritamu dan aku yang membelinya.

Apakah aku tak lebih bernilai dari cerita-ceritaku, Tuan Putri

Apakah kepala kami, perempuan-perempuan di negeri ini, tak lebih bernilai dari cerita-ceritamu,

Tukang Cerita

Kau lebih bernilai dari segala-galanya.

Maka mulailah si tukang cerita bercerita.