Ayah Anka tersenyum seraya memasukkan beberapa barang ke jok belakang mobil, sementara Anka berdiri di sampingnya dengan seragam sekolah lengkap siap berangkat.
"Acara di panti asuhan hari ini, Ka, bukan besok," jawab ayah Anka. "Lagian, perginya nggak lama kok, nanti sore Ayah sama Ibu mungkin langsung pulang."
Anka cemberut. Entah kenapa kali ini Anka ingin sekali ikut bersama orangtuanya ke Bandung, padahal biasanya saat orangtuanya mengunjungi panti asuhan tempat mereka tinggal dulu, Anka enggan ikut.
"Riko belum jemput, Ka" tanya ibu Anka, saat melewati Anka yang berdiri di samping mobil.
Ibu Anka juga memasukkan beberapa barang lagi ke bangku belakang. "Kamu nggak telepon dia Ini sudah cukup siang loh, Ka. Atau... kamu nggak usah nunggu Riko, ikut Ibu sama Ayah saja, biar kami antar kamu ke sekolah dulu."
"Ibu sama Ayah nanti pulang jam berapa" tanya Anka lagi, mengabaikan ucapan ibunya.
Ibu Anka tersenyum, lesung pipit tersungging cantik di wajahnya. Ibu Anka mendekati Anka lalu membelai rambut putri semata wayangnya.
"Kamu itu udah besar, Ka. Waktunya mandiri, belajar jaga diri sendiri... Jangan manja ah..."
Anka tidak menjawab, malu sendiri dengan sikap kolokannya. Tidak lama, Honda Jazz hitam menepi di depan pagar rumah Anka.
Riko keluar lalu mengangguk hormat saat melihat ayah dan ibu Anka. "Pagi, Om, Tante..." sapa Riko sopan.
Ayah Anka hanya mengangguk sambil tersenyum membalas sapaan Riko. Akhirnya dengan enggan Anka mencium kedua tangan orangtuanya untuk pamitan.
"Ayah, Danu bilang nanti malam dia mau ke sini buat nemenin Ayah main catur, Anka batalin apa nggak"
"Jangan... jangan dibatalin," cegah ayah Anka. "Ayah sudah lama nggak main sama Danu. Bilangin Danu supaya menunggu sampai Ayah pulang."
"Iya, Yah. Nanti Anka bilang ke Danu... Anka berangkat ya." Anka membalikkan badannya, tapi sebelum sempat berjalan menyusul Riko ke mobilnya, ayah Anka menarik tangan Anka.
"Ka... Ayah tetap lebih suka kamu pergi ke sekolah pakai sepeda bareng Danu, daripada dijemput Riko." Anka mencibir, sementara ayahnya hanya tersenyum melihat ekspresi tidak suka Anka. "Ya... Ayah cuma berpendapat. Udah... sana jalan, nanti kamu telat."
Anka melangkah menuju mobil Riko. Sambil lalu, dari kaca spion mobil Riko yang bergerak menjauh, Anka melihat mobil ayahnya keluar dari gerbang rumah. Entah mengapa ada perasaan ganjil dalam diri Anka hari ini, sampai-sampai melihat orangtuanya pergi saja membuatnya risau.
***
Damara berdiri di beranda hotel di lantai dua belas. Pandangannya berkeliling menatap Jakarta dari ketinggian di pagi hari. Angin segar menerpa wajahnya, mengibas-ngibaskan dasi biru tua bergaris-garis yang terikat sempurna di kerah kemeja putihnya.
Tangan cantik dengan kuku dihiasi nail art motif bunga sakura merangkul Damara dari belakang. Si pemilik tangan memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya di punggung Damara dengan damai. Damara hanya diam, membiarkan punggungnya dipeluk erat oleh si wanita yang masih mengenakan piama hotel.
"Aku senang sekali bisa di sini, semalam sama kamu..." kata wanita itu lirih.
Dengan gerakan pelan, Damara melepaskan rangkulan tangan wanita itu, membalikkan badan dan menatap dengan ekspresi datar. Wanita berusia 32 tahun dan lebih tua 3 tahun dari Damara itu adalah Anggun Damariva, pengusaha salon kecantikan dan spa yang terbilang sukses.
"Aku harus pergi. Pagi ini aku ada meeting dengan klien." Damara melangkah melewati Anggun, kembali masuk ke kamar hotel.
Anggun mengikutinya, kembali meraih punggung Damara. "Kalau kamu mau, aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu nggak perlu bekerja sekeras ini... Aku masih pengin kamu di sini!"
Damara kembali melepaskan rangkulan Anggun, membalikkan badannya seraya menatap Anggun dengan tajam. "Kita sudah terlalu sering membahas soal ini! Dan kamu tahu kan, jawabannya apa" tandas Damara.
"Oke, oke. Aku ngerti. Aku nggak bisa halangi kamu pergi," kata Anggun, balas menatap Damara dengan pandangan arogan. "Aku tahu... kasus perceraian model muda itu sedang jadi prioritas kamu... Tapi harus kamu ingat, Mar, aku nggak suka kamu terlihat dekat dengan model itu!"
Damara tidak menanggapi, sudah terbiasa dengan reaksi wanita itu. Anggun tersenyum puas melihat sikap diam Damara.
"Aku percaya kamu cukup bijaksana dalam mengambil keputusan... Pokoknya, aku senang kamu masih bisa nemenin aku semalam." Anggun mencium pipi kiri Damara dengan bibir merahnya.
Damara tidak bereaksi. Otaknya menyarankan untuk membiarkan Anggun melakukan apa pun yang ia mau. Tak berapa lama Damara meraih tas kerja dan kunci mobilnya dari atas tempat tidur hotel lalu berjalan cepat-cepat meninggalkan Anggun yang masih berdiri dengan begitu angkuhnya.
Di setiap langkahnya Damara menyesalkan banyak hal. Menyesalkan kelemahan dirinya, menyesalkan ketidakberdayaannya, menyesalkan pilihannya, dan menyesalkan semua hal yang harus ia lalui dalam kehidupannya selama ini.
***
Sepeda Danu masuk ke pelataran rumah Anka. Sabtu malam ini Danu sudah berjanji menemani ayah Anka bermain catur. Untuk ukuran zaman sekarang, agak aneh memang ada remaja seusia Danu yang gemar bermain catur. Awalnya Danu juga tidak terlalu mengerti aturan mainnya. Hanya saja sejak mengenal ayah Anka, dan mengetahui ayah Anka sangat senang dengan permainan ini, Danu mulai mempelajarinya dari seorang kakek berusia 60 tahun, tetangga sebelah kontrakannya dulu.
Anka berdiri di teras depan rumahnya, sesekali berjalan mondar-mandir seakan gelisah menunggu seseorang. Menunggu Riko pastinya, pikir Danu.
"Hai, Ka, ngapain lo mondar-mandir di sini Nunggu Riko jemput malam Mingguan" tanya Danu, mengganti kata sapaannya.
Anka tidak menjawab. Ia hanya melihat Danu sekilas dan kembali menatap ke ujung jalan kompleks yang lumayan sepi.
Danu mendekati Anka dan melihat raut kecemasan di wajah gadis itu. "Bentar lagi Riko juga datang, nggak usah segitu senewen kali, Ka."
Kali ini kata-kata Danu berhasil membuat Anka melayangkan tatapan galaknya. "Gue nggak nunggu Riko, Danu!" sergah Anka jengkel.
"Jadi lo lagi nungguin siapa" tanya Danu heran.
"Gue lagi nungguin Ayah sama Ibu."
"Emang ayah sama ibu lo ke mana" tanya Danu lagi. "Bukannya ayah lo udah janjian mau main catur sama gue malam ini"
Anka mengabaikan pertanyaan Danu. Ia berjalan ke kursi rotan di teras depan dan mengenyakkan tubuhnya. Sekali lagi menatap ujung jalan sambil menghela napas panjang lalu ganti menatap handphone di genggamannya dengan lesu.
"Telepon nggak diangkat-angkat lagi..." gumam Anka risau.
"Emang mereka ke mana sih, Ka Kok kayaknya lo khawatir banget" Danu duduk di samping Anka.
"Ke Bandung, ada acara di panti asuhan."
"Macet kali, Ka. Ini kan weekend, pas tanggal gajian lagi." Danu mencoba menenangkan Anka yang dia tahu mudah panik dan cemas.
Hampir setengah jam Danu menemani Anka menunggu di teras depan, menahan serbuan nyamuk-nyamuk lapar, sementara Anka sibuk dengan kegelisahannya sendiri.
"Di sini banyak nyamuk, Ka..." keluh Danu, seraya menepuk nyamuk gemuk yang hinggap di tangannya. "Kita nungguinnya di dalam aja yuk, sambil nonton DVD kek, apa kek."
Anka tersenyum kecil, melihat penderitaan Danu menjadi sasaran nyamuk-nyamuk kelaparan.
"Iya deh kita nunggu di dalam. Kebetulan gue baru beli DVD yang belum sempat gue tonton."
"Nah, gitu dong, itu baru Anka yang asyik! Udah... ayo masuk, gue udah hampir kehabisan darah nih disedot nyamuk melulu." Danu segera berdiri, merangkul pundak Anka dan mengajak masuk bersamanya. "Ntar ambilin camilannya kaastengel bikinan ibu lo ya, gue udah kangen nih."
Duduk nyaman di sofa empuk di ruang keluarga Anka memang jauh lebih baik ketimbang menjadi pendonor darah bagi nyamuk-nyamuk lapar di luar sana.
"Ka, emang malam ini lo nggak jadi pergi sama Riko" tanya Danu, saat Anka kembali dari dapur membawa dua gelas es sirop jeruk dan stoples berisi kaastengel.
"Nggak jadi, kaki Riko keseleo waktu latihan basket tadi siang," jelas Anka.
Danu tersenyum lebar. Tanpa banyak tanya lagi, ia memasukkan tangan ke stoples untuk mengambil segenggam kaastengel yang langsung dimakannya dengan perasaan bahagia.
Sayangnya saat-saat menyenangkan itu, khususnya bagi Danu, tidak berlangsung lama. Baru satu jam Danu tertawa bersama Anka saat menonton DVD drama komedi Hollywood, merasakan kembali kedekatan mereka seperti saat-saat sebelum Anka dekat dengan Riko, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Handphone Anka berbunyi. Dengan cekatan Anka meraih handphone-nya. Wajahnya semakin ceria saat mendapati nama ayahnya di layar handphone.
"Halo, Ayah..."
Tapi sedetik kemudian ekspresi wajah Anka yang ceria sontak berubah penuh tanya. "Iya saya sendiri..." Detik selanjutnya raut wajah Anka diliputi kepanikan dan kengerian luar biasa disusul pekik tertahan. "Di mana!"
Handphone-nya terlepas begitu saja dari genggamannya. Wajah Anka memucat, tatapannya mendadak kosong.
"Kenapa, Ka Ayah lo bilang apa" tanya Danu, khawatir melihat ekspresi Anka. "Yang tadi telepon ayah lo, kan"
Anka menggeleng lemah, air mata mulai merembes dari sudut matanya.
"Lo kenapa, Ka" Danu semakin cemas.
"Ayah sama ibu gue, Nu..." Suara Anka tidak bisa keluar, tenggorokannya tersekat. "Ayah sama ibu gue..."
"Iya... ayah sama ibu lo kenapa"
"Me-mereka... mereka kecelakaan..."
Danu tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Anka. Syok. Berita yang ia dengar dari Anka membuatnya kosong sesaat. Isak tangis Anka yang semakin keras mengembalikan Danu ke dunia nyata, menuntutnya memosisikan diri sebagai sahabat yang bisa diandalkan. Paling tidak untuk saat ini, Danu bisa menenangkan Anka dengan membiarkan gadis itu menangis di bahunya, sebelum benar-benar mendampingi Anka menghadapi kenyataan mengerikan di depannya.
***
Anka keluar dari ruang dokter dengan langkah limbung. Ia merasa kakinya tidak benar-benar berpijak pada lantai rumah sakit. Dinding koridor rumah sakit yang dingin seperti bergerak hendak mengimpitnya, membuat Anka terpaksa menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah sakit, mencegah tubuhnya roboh di tengah koridor.
"Ka, Anka... lo baik-baik aja, kan"
Suara Danu terdengar samar-samar di telinganya, sama seperti kenyataan tragis yang entah mengapa harus terjadi pada dirinya. Setelah menerima telepon yang mengabarkan ayah dan ibunya mengalami kecelakaan di jalan tol menuju Jakarta, hidup Anka jungkir balik. Belum sempat Anka mencerna kabar mengejutkan itu, ia harus menerima fakta yang lebih mengerikan, membuyarkan usahanya untuk meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baikbaik saja.
Kalau kabar kecelakaan saja sudah sangat mengguncang Anka, bisa dibayangkan bagaimana terpuruknya gadis yang belum genap berusia 18 tahun ini, saat dokter mengatakan ayahnya tidak tertolong karena pendarahan hebat di kepala, sementara ibunya tidak sadarkan diri di ruang ICU. Anka sempat berpikir, lebih baik rasanya berada di posisi ayahnya yang tidak lagi merasakan apa-apa, ketimbang masih bernapas hanya untuk merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang dicintai.
Merasa kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang tubuh, Anka merosot perlahan, terduduk di lantai di depan ruang dokter. Ia menyusupkan kepala di antara kedua lututnya, menyembunyikan air mata dan semua kepiluan di setiap gurat wajahnya dari orang yang lalulalang. Anka terisak, rasa sesak di dadanya terasa sangat menyiksa.
Hingga Anka merasakan tangan Danu memegang bahunya lalu duduk tepat di hadapannya.
Dengan lembut Danu memeluk Anka, menyandarkan kepala Anka di dadanya. Tanpa kata-kata Danu membelai rambut Anka, seakan mengerti Anka membutuhkan sandaran, bukan pertanyaan.
Anka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah semua kejadian ini, memikirkannya saja ia tidak sanggup. Ia tidak punya siapa-siapa kecuali kedua orangtuanya. Anka sama sekali tidak siap. Tragedi ini terlalu kejam dan terlalu mengerikan untuk menjadi nyata.
Tangisan Anka semakin hebat. Anka merasa tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang selain menangis dan menangis. Seakan menangis bisa menjadi jeda sesaat sebelum ia benar-benar menghadapi mimpi buruk yang tiba-tiba menjelma.
"Di sini gue nggak akan jadi orang yang sok ngerti apa yang lo rasain. Gue tahu cuma lo sendiri yang bener-bener ngerti apa yang lo rasain. Tapi selain ngerti perasaan lo sendiri, cobalah buat ngerti perasaan orang-orang di sekitar lo, orang-orang yang peduli sama lo, Ka..." - Danu