Dara, cewek pertama yang berhasil kucium pipinya di kelas lima SD (dan aku dapat hadiah tamparan setelah itu) dan Dudi adalah teman sebangkuku di SMP, rasanya ini seperti salah satu episode dalam reality show konyol yang menjadikan segala sesuatu yang terjadi seperti sebuah lelucon, hey, camera dan para crew keluarlah, aku sedang tak ingin dikerjai!
Siapa tanya Mama sambil matanya tak bisa lepas dari layar TV yang sedang menyiarkan infortainment, gossipnya itu-itu mulu, kalo bukan siapa pacaran dengan siapa, paling siapa putus dengan siapa, atau siapa menggugat siapa.
Orang nganter undangan ma jawabku datar.
Buat mama
Bukan! Buat aku
Yang nikah siapa
Temen
Iya, temen kamu yang mana
Mama mau tau aja deh
Phillo sini mama mau liat undangannya, besok kalo kamu nikah biar undangannya lebih bagus dari undangan yang udah-udah kamu terima, kamu ini mah, kuliah aja belom kelar-kelar, pacar nggak jelas, mama mesti nunggu lama buat bisa nimang cucu.mama mulai bawel.
Aku menyerahkan undangan yang membuatku sedikit sakit hati itu.
Dara Dara yang itu
Apa sih mama
Bukannya ini cewek yang fotonya penuh-penuhin dinding kamu
Mama, aku kan fotografer, wajar lah!
Nggak wajar karena objeknya nggak tau kalo dia diam-diam di potret
Ma, aku dan Dara temenan, kita satu SD dan SMP, okaydan sampai sekarang juga masih temenan, cuma temen nggak lebih.
Kalo cuma temenan kenapa tampang kamu nelangsa gitu pas nrima undangan.
Nggak papa ma, mama kenapa sih
Mamaku kadang begitu menyebalkan, aku masuk kamar dan membanting pintu, ratusan gambar Dara yang menempel di tembok seolah menertawakanku, aku pernah nembak dia di kelas 1 SMP, tapi dia malah ngetawain aku, sama kayak sekarang. Hanya karena aku terlalu sering membuatnya tertawa bahkan disaat aku mengatakan kebenaran diapun selalu tertawa, tawa yang membuatku jatuh cinta tawa yang membuatku terluka.
Arrrrrgggghhhhtttt rasanya aku ingin memaki Dudi, bila perlu kupatahin hidung Pinokionya itu, aku pernah memukul Dudi dulu, saat SD, ketika Dara marah-marah di sekolah, karena sekolah kita hanya meraih tempat kedua karena tempat pertama dimenangkan Dudi dan temantemannya, aku memukulnya untuk Dara, tapi siapa sangka di SMP kita duduk sebangku dan tak ada dendam sedikitpun padanya, Dudi..Dudi, sedikit berhutang padanya selama sekolah, dia yang ngerjain PR-ku, dia yang nyontekin ulangan, dia yang nyelamatin aku dari ancaman tinggal kelas, dia salah satu teman yang baik, walaupun dia selalu ceramahi aku tentang bahaya rokok,
kopi, dan begadang, juga tentang masa depan, kita dua sahabat berbeda jalan, di SMP dia pemenang olimpiade ini itu sementara aku langganan dari buku dosa guru BP, kali ini aku benarbenar sudah tak tahan, apa hidup sedang mempermainkan akuAku kenal si Dudi! Aku tau rahasia terbesarnya!
Di hari perpisahan SMP Dudi, arrrgghhht aku tak ingin mengingat hari itu, hari dimana Dudi mencium pipiku tiba-tiba dan mengungkapkan cinta. Aku harus menyelamatkan Dara dari Dudi, Dudi bukanlah pangeran untuk sang putri, Dudi tak lebih dari seorangkata-kata ini tak ingin kuucapkan, terlalu kasar. Aku pernah membenci Dudi dalam hati, tapi hari-hari terlewati aku semakin mengerti, tak ada satu orangpun yang ingin memilih jadi seorang homoseksual, aku masih bisa mengingat tangisnya yang selalu ingin kuhapus dari memoriku, aku tak tau apa yang harus kulakukan, mungkinkah Dudi menemukan jalan yang benar, ataukah Dara hanya pelarian
Ataukah aku perlu melakukan aksi penyelamatan dengan menjadi pahlawan kesiangan