Sleep with one eye open, gripping your pillow tight.
"Heh Kamu tahu juga lagu ini" Pandu tak percaya. Setiap tingkah gadis ini benar-benar membuat dia surprise.
Niken pura-pura tak mendengar yang barusan Pandu bilang. Dia asyik dengan lagunya.
"Hey Kamu suka Metallica juga" tanya Pandu lagi, kali ini lebih keras, memastikan Niken mendengarnya.
"Kamu akhir-akhir ini sering tanya-tanya ke orang-orang tentang aku kan Masa' belum dengar kalo aku itu satu-satunya cewek anggota rock band kampus Kita sering manggung di acaraacara radio."
Pandu meringis. "Ketahuan deh. Darimana Niken bisa tahu kalau Pandu belakangan ini menyelediki latar belakangnya Pasti Wulan yang melapor saat Pandu tanya-tanya tentang Niken beberapa waktu yang lalu." kutuknya dalam hati.
"Nggak tuh. Nggak ada yang bilang. Kamu anggota rock band" Pandu semakin tak percaya. Apa sih yang tidak disukai gadis ini
Niken mengangguk. Dari tadi dia memang sudah mengangguk-angguk mengikuti irama lagu rock itu.
"Aku boleh ikut main band" tanya Pandu. "Aku bisa main key board, kalau kalian masih butuh pemain. Tapi aku nggak punya key board. Aku cuma punya piano usang di rumah."
"Eh, kebetulan kita memang sedang seleksi anggota baru, karena sebagian anggota band sudah kelas tiga, mereka ingin lebih banyak konsentrasi ke pelajaran. Termasuk Ronny, pemain keyboard kita. Kalo kamu emang suka musik rock, kamu boleh ikut seleksi" kata Niken menawarkan dengan gaya profesionalnya. "Kapan seleksinya"
"Rencananya sih minggu depan, hari Selasa abis pulang sekolah." "Aku pasti datang. Kamu pegang instrumen apa sih" tanya Pandu. Kali ini dia sudah siap mental dengan apapun jawaban Niken. Dia tak bakal kaget kalau jawabannya 'bass gitar' sekalipun. "Drummer. Merangkap backing vocal dan kadang-kadang solo. Tergantung lagunya."
Tuh, kan, benar. harus siap mental. Niken bisa nge-drum juga!
"Kamu bisa main musik Maksudku selain drum." tanya Pandu lagi. Mengorek keterangan lebih lanjut tak ada salahnya, kan
"Aku bisa main piano, gitar, harmonica, saxophone, trompet." Nah lho... bisa mati terkejut kalau nggak siap mental.
"Wah, Nik, jadi kamu bisa main band seorangan dong Kamu bisa main bass gitar, melodi gitar, ngedrum, main keyboard, dan vocalist. Bikin solo-band saja, lah." goda Pandu. "Hey, baru kali ini kamu panggil aku Nik." kata Niken. "Cuma Wulan yang panggil aku Nik."
"Mama papa kamu manggil apa"
Niken diam sejenak, lalu menjawab, "Niken, dong."
"Bohong. Kamu kenapa sih mesti bohong sama aku" tanya Pandu. Dia ahli mencium kebohongan, rupanya.
"Aku dipanggil Fei Fei di rumah." Niken mengaku.
Pandu tersenyum. Puas dia bisa mengetahui sedikit rahasia Niken.
"Koq Fei Fei" tanya Pandu.
"Namaku Niken Tjakrawibawa. Alias Tjan Siang Fei. Awas kamu kalo sampe ada yang tahu tentang ini. Aku harus bunuh kamu."
"Tenang aja. Swear. Aku boleh panggil kamu Fei dong" tanya Pandu nakal. "Nggak. Yang lain bakal curiga dong."
"Baiklah, kalau sendirian, aku boleh panggil Fei" tawar Pandu. Setelah berpikir sebentar, Niken mengangguk.
"Kamu sendiri Kamu waktu itu bilang serumah namanya Pandu semua. Nggak kreatif yah ayahmu"
"Bukan begitu. Emang sudah turun-temurun begitu. Ayahku juga Pandu. Kakekku pun juga Pandu. Pandu laen-laen. Aku Pandu Prasetya. Mereka kalo di rumah panggil aku Pras. Tapi di luaran namaku Pandu. Kakak-kakakku juga begitu semua."
"Oh. Enak dong punya kakak cowok semua." kata Niken, mengambang. "Kata 'enak' rasanya terlalu rendah untuk menggambarkan betapa enaknya. Kita kompak, lima bersaudara. Ngirit, juga. Bajuku ya hampir semua baju lungsuran kakak-kakakku. Aku nggak keberatan. Masih bagus-bagus, koq. Tapi mereka di luar kota semua sekarang. Tiga di Yogya, sudah menikah. Satu masih kuliah di Jakarta. Kamu sendiri, punya saudara Sori, aku belum sempat mendapat keterangan tentang kakak atau adikmu. Researchku belum selesai." kata Pandu tersenyum.
"Aku punya seorang kakak perempuan. Dulu... Sekarang sudah meninggal." kata
Niken menerawang.
"Oh. sori. aku tidak bermaksud."
"Nggak papa. Wajar kalo kamu tanya koq."
Mereka terdiam sesaat. Tak tahu harus berkata apa.
"Kenapa kakakmu meninggal Kecelakaan" tanya Pandu. Dia benar-benar cocok jadi detektif. Pertanyaannya mendetail.
Niken diam saja. Mendadak kepalanya jadi pusing, ia lalu memijit-mijit pelipisnya.
"Pusing" tanya Pandu. "Iya." jawab Niken singkat.
"Kamu pasti lapar. Sorry yah gara-gara aku, kamu ikut dihukum Pak Heri." kata Pandu penuh penyesalan.
"Nggak papa. Kamu juga belum makan. Sama kan Jadi kamu nggak layak mengasihani aku. Soal kakakku."
"Sudahlah," cegah Pandu. "Nanti kamu tambah pusing."
"Dia meninggal bunuh diri." lanjut Niken.
Pandu terdiam. Sekarang ada titik terang. Berarti puisi Niken itu.
Seolah tahu yang dipikirkan Pandu, Niken melanjutkan, "Puisiku, itu tentang cici ku. Dia meninggal tiga tahun yang lalu, saat aku masih kelas 2 SMP. Dia masih kelas 2 SMA waktu itu, seumur aku sekarang. Dia pacaran sama anak pejabat. Sombong sekali tu anak. Aku benci sama dia. Aku masih ingat, hari- hari terakhir sebelum kakak meninggal, dia menangis terus di kamar. Tiap aku dekati selalu marah-marah. Baru setelah dia meninggal aku baru tahu, ternyata dia hamil, dan cowok bangsat itu tidak mau mengakui perbuatannya. Sejak itu aku berjanji tidak akan jatuh cinta, nggak akan pacaran. Papa malah punya ide bagus. Dia bilang, kalau sudah saatnya aku menikah nanti, dia akan mencarikan jodoh untukku. Aku setuju saja. Itu lebih baik daripada pacaran."
Kali ini Pandu betul-betul terperanjat. Benar-benar kaget. Ear piece yang di telinga kirinya dilepas. Walkmannya dimatiin. Ini kasus berat, pikirnya.
"Kamu tau, nggak semua cowok itu jahat." Tidak ada yang bisa dia bilang
kecuali itu.
"Aku nggak percaya itu. Kak Tasya bukan cewek yang nakal. Jadi dia pasti benar-benar jatuh cinta, sampai seperti itu. Aku nggak mau jadi seperti dia. Karena itu aku menghindar setiap ada cowok yang suka sama aku. Jimmy misalnya. Untunglah aku sendiri juga bukan orang yang mudah jatuh cinta. Jadi aku nggak tersiksa, sama sekali."
"Oke lah kalo kamu memang bahagia seperti ini. Aku sendiri nggak bisa memberikan pendapat tentang cinta. Semua kakak-kakakku menikah atas dasar cinta. Aku sih ingin seperti mereka. Tapi aku sendiri belum pernah jatuh cinta. Belum pernah pacaran. Jadi aku nggak bisa memberikan nasehat." kata Pandu jujur.
"Kamu belum pernah pacaran!" tanya Niken tidak percaya. "Kenapa Apa susah dipercaya"
"Tentu saja. Kamu tau berapa biji cewek yang nempel kamu kayak perangko Lebih dari sepuluh. Itu yang jelas-jelas nekad. Yang nggak nekad tapi menyimpan hasrat pun banyak. Aku yakin di Yogya kamu pasti juga punya banyak penggemar."
"Ya memang tuh. Nggak tau kenapa bisa begitu. Kata Ibu itu kutukan." kata Pandu sambil ketawa lepas. "Kakak-kakakku juga mengalami kutukan yang sama. Tapi Ibu selalu wanti-wanti, cinta itu nggak boleh dibuat mainan. Kamu harus bener-bener yakin, baru boleh pacaran. Berhubung aku belum pernah merasa cocok sama satupun dari mereka, yah, aku nggak pernah pacaran." Niken manggut-manggut.
"Ada kutukan lain di keluarga Pandu. Masing-masing kakakku punya cita-cita menikah dengan wanita kaya, untuk mengangkat derajat keluarga. Nggak serius tentu, itu muncul kalo pas lagi waktu bercandaan aja. Ibu yang mewejangi untuk menomersatukan cinta, diatas segalanya. Kekayaan itu tidak menjamin kebahagiaan. Walhasil, kakak-kakakku yang sudah menikah ya menikah dengan gadis biasa-biasa saja. Walaupun mereka dikelilingi gadis-gadis cantik waktu bujangan, gadis yang dinikahi pada akhirnya nggak terlalu cantik. Tapi kakak-kakak iparku itu luar biasa baek dan sabar." "Jadi seperti apa sih cewek yang kamu idam-idamkan"
"Yang seperti ibuku. Sederhana, sabar, bijaksana. ngg. nggak tau ah, Fei! Nanti kalo aku udah nemu pasti aku kasih tahu." kata Pandu malu. "Aku sih nggak punya tipe cowok idaman. Rasanya itu bakal ditentuin Papa." kata Niken.
"Aku masih nggak percaya cewek mandiri dan terpelajar seperti kamu masih percaya perjodohan." sahut Pandu terlihat kecewa. "Tapi aku hargai pendirianmu. Aku ingin berteman denganmu, kalau boleh." "Kita cocok omong-omongan. Aku merasa klop terutama setelah ngomongin Sun Tzu tadi." kata Niken tersenyum.
"Tapi. terus terang saja aku masih dendam sama kamu karena kejadian puisiku waktu itu." lanjutnya.
"Aku udah minta maaf. Kamu mau apa lagi"
Niken berpikir keras. Lalu tersenyum licik. Niken membisikkan sesuatu ke telinga Pandu.
Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Niken mengangguk-angguk. Pandu menggeleng-gelengkan kepalanya lagi tanda tidak setuju.
"Ayolah," kata Niken. "Kamu harus buktikan kalo kamu memang serius dan tulus ingin berteman denganku. Nggak mudah mendapat kepercayaan dariku." "Baiklah, kalau itu memang harga yang harus aku tebus. Tapi kita berteman mulai saat ini Tak ada lagi dendam" tanya Pandu akhirnya. "Janji." sahut Niken mantap.
Pagi itu, Niken spesial angkut-angkut podium dan microphone ke lapangan tengah. Anak-anak sound system diam saja. Niken kalau sudah ada maunya memang nggak ada yang bisa mencegah. Semua anak berkumpul di lapangan tengah, sambil bertanya-tanya satu sama lain, apa hari ini ada upacara mendadak. Ada apa pula ini Termasuk guru-guru tidak ada yang tahu. Mereka semua berkumpul di lapangan, seperti prajurit menunggu komando dari jendral.
Tiba-tiba Pandu muncul dari kerumunan, menuju ke arah podium. "Test, test... 1, 2, 3." katanya sambil mengetuk-ngetuk microphone di hadapannya.
"Guru-guru dan rekan-rekan sekalian," lanjutnya, "Yang belum kenal saya, nama saya Pandu Prasetya, dari kelas 2C. Saya ingin membacakan sesuatu yang penting. Buat yang merasa, yah dihayati saja."
Yayangku,.
Paras wajahmu, gerak-gerikmu, selalu terbayang di mataku.
Kamu membuat aku gelisah tiap malam, tidak bisa tidur. Aku jadi nggak doyan makan gara-gara mikirin kamu.
Yayangku yang manis, aku cinta kamu. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.
Aku nggak tau mesti gimana kalo aku nggak lihat wajahmu barang sehari saja. Kau begitu lincah, senyummu begitu menggoda.
Suaramu, indah bagaikan tiupan angin malam.
Akan aku lakukan apa saja untuk mendapatkan cintamu.
Jangan buat aku patah hati. Terimalah segala rasa cintaku.
Yang sangat mencintaimu, selamanya.
Pandu.
Semua tertawa. Terutama anak-anak cowok. Sinting benar ini anak menyatakan cinta di depan umum, tak tahu malu. Walaupun ketawa-ketiwi, harus diakui, gadis-gadis yang berkumpul di situ, termasuk guru-guru wanita, sangat mengharapkan surat itu ditujukan untuk salah satu diantara mereka. Niken ketawa di ujung koridor. Cuma dia yang tahu bahwa surat itu sesungguhnya ditujukan untuk anjing mungil Pandu yang memang bernama Yayang. Walaupun malu setengah mati, Pandu merasa lega. Hari ini dia sudah berdamai dengan gadis yang bakal jadi teman sejatinya. Dia yakin itu.
Berminggu-minggu Pandu mendapat ledekan dari teman-temannya gara-gara proklamasi cintanya itu. Cewek-cewekpun banyak yang nggodain, bertanya-tanya, apakah surat itu ditujukan untuk mereka. Niken puas sekali dengan aksi balas dendamnya. Beberapa gadis jadi mundur teratur, merasa Pandu sudah memilih salah seorang dari mereka. Namun beberapa justru tambah getol mendekati Pandu, termasuk Ratna, cewek cantik dari kelas 1D. Banyak cowok yang mengejarnya, tapi kelihatannya Ratna lebih memilih untuk mendapatkan Pandu. Banyak yang meramalkan, pasangan Pandu-Ratna kalau benar-benar jadi bakal bikin sensasi. Cowoknya cakep, ceweknya cantik kayak bidadari. 'Princess', demikian julukan yang diberikan oleh teman-temannya. Sementara itu, nama besar Pandu jadi semakin melejit - walaupun melejitnya diawali dengan tragedi proklamasi cinta, tapi semakin menjadi-jadi setelah Pandu lolos seleksi menjadi anggota band di mana Niken juga bergabung. Penggemarnya jadi bertambah banyak. Termasuk cewek-cewek dari SMA-SMA lain, karena band mereka sering manggung di acara-acara yang diselenggarakan oleh stasiun radio. Seperti hari ini, mereka manggung di pelataran Universitas Diponegoro, sebagai bagian dari acara unjuk band yang diadakan oleh Boss FM.
Mereka melakukan tour band ini karena hobi dan untuk cari pengalaman saja. Mumpung masih muda ini.
Tinggal satu jam lagi sebelum mereka manggung. Aneh, Niken belum datang. Anak-anak pada gelisah. Mereka tidak bisa tampil tanpa drummer. Apalagi hari ini Niken bakal jadi vocalist utama di salah satu lagu mereka. Hendro, yang pegang melodi gitar, sekaligus penanggung jawab band, berusaha mengontak Niken ke nomer rumahnya, tapi dijawab tidak ada di rumah. Kemana pula anak satu ini
Mendengar Hendro ribut-ribut mencari Niken, Pandu diam-diam menghilang. Lho Dia berusaha mencari telepon umum. Dia tahu nomer telepon yang ada di kamar Niken. Niken yang kasih. Tapi dia sudah disumpah untuk tidak memberitahukan nomer itu ke siapapun. Cuma Wulan dan Pandu yang tahu.
"Fei"