SEDUCING CINDERELLA - 3
Lucie bergelung di ujung sofanya, menarik lutut ke dadanya. Ia memegang buku di kedua tangannya, meskipun matanya menatap baris-baris berwarna hitam, pikirannya tidak menyerap sepatah katapun.

Perutnya mengejang. Ia belum makan malam karena terlalu gugup. Yang terus terang aneh karena itu hanya Reid. Sahabat baik kakaknya. Pria yang praktis pernah tinggal di rumahnya ketika ia masih kecil. Pria yang ia impikan menjadi bagian terbaik dalam dekade kedua hidupnya...pria yang sangat mungkin menjadi pria terseksi yang pernah dilihatnya dan yang gambaran tubuh setengah telanjangnya seperti terbakar sendiri di dalam kelopak matanya karena setiap kali ia menutupnya Reid disana menunggu untuknya dan sekarang Reid menginap di rumahnya

Whoa! Bernafas, girl, bernafas. Ia menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya pelan, merasa sedikit lebih baik.

Awalnya Lucie bersikeras daripada pindah ke kamar suite hotel bersama Reid, Reid pindah ke apartemennya. Itu tidak masuk akal untuk mereka berdua menginap di luar, dan dengan begitu sangat kecil kesempatan dirinya diserang fans berat Reid. Reid muncul setengah jam yang lalu, ia menunjukkan kamar tamunya, lalu meninggalkannya untuk menginap.

Tiba-tiba suara nyaring dari "The Pia Colada Song" memecah kesunyiannya. Ia ambil ponsel di meja kopi. "Hai, Nessie, ada apa"

"Apa kau serius memberikan Dr. Jerkface nomerku Karena dia bilang dia mendapatkannya darimu, tapi kurasa itu tidak mungkin benar. Maksudku, aku lebih senang berpikir bahwa pria yang sudah disukai oleh teman baikku selama bertahun-tahun meminta darinya nomer teleponku, dia akan bilang padanya untuk pergi saja menyingkir."

"Ness"

"Atau setidaknya, memberikannya alasan kenapa dia tidak mengajakku pergi keluar."

Lucie menutup mata dan menaruh kepala di lututnya. Dengan semua kegilaan tentang kepindahan Reid yang membuatnya lupa sama sekali. "Apa yang terjadi"

"Aku bilang padanya bahwa aku berkencan dengan seseorang tapi kau belum tahu karena itu masih baru."

Ia menghela nafas lega. "Terima kasih. Maaf, dia mengejutkanku dengan pertanyaan itu dan aku tak tahu apa yang harus dikatakan."

"Kapan kau akan bilang padanya tentang perasaanmu atau melupakannya"

"Vanessa..."

"Aku tahu kau tak senang ketika aku membicarakan ini, tapi ayolah. Kau tak bisa menunggu seumur hidupmu untuk pria ini dan memutuskan suatu hari dia menyukaimu."

"Yah, aku tahu, hanya saja" Lucie mendengar Reid membuka pintu kamar tidurnya menyusuri lorong. "Hei, aku harus pergi, tapi aku akan menelponmu besok, oke" Sebelum temannya bisa bicara, ia menutup telepon, membungkam nada deringnya, dan meletakkkannya di meja.

"Apa yang kau baca"

Suaranya yang dalam bergema di ketenangan rumahnya, rumah pria bebas yang terdengar keluar dari tempat. Ia melihat saat Reid berjalan ke arahnya tidak memakai apapun kecuali celana pendek atlet yang menggantung rendahhampir terlalu rendah hingga tidak senonohdi pinggulnya. Di satu sisi Reid seharusnya di ujung yang berbeda dari sofa, tapi ia entah mengapa kehilangan akal dengan gangguan dari tubuh berototnya yang telanjang.

"Kalau kau tetap membuka mulutmu seperti itu, Lu, kau pasti akan menangkap lalat," Reid menyeringai.

Mengatupkan rahangnya, dengan sangat malu Lucie kembali pada buku di depannya yang mungkin saja ditulis dalam bahasa Ibrani. Ia selipkan rambut basahnya di belakang telinga dan membersihkan tenggorokannya. "Kau seharusnya memakai baju ketika kita tidak sedang terapi."

"Kenapa Semakin sedikit aku pakai semakin nyaman diriku. Aku memakai celana pendek sebagai kesopanan untuk kebaikanmu."

Ia terkesiap. Ketika Reid tertawa, ia menyadari itulah reaksi yang diinginkannya. Menyipitkan matanya, ia lemparkan buku ke arah Reid, yang dia tepis dengan kibasan tangannya. Betapa Menyebalkan.

"Tenang, Luce. Tidak ada salahnya menghargai orang yang memiliki fisik yang menarik. Bahkan, itu adalah pelajaran pertama."

Lucie mendengus. "Bagaimana caranya memelototi seseorang dengan benar"

"Tidak. Bagaimana caranya membuat seseorang memelototi dirimu."

Tiba-tiba Lucie membutuhkan minuman dan langsung melesat ke dapur. Ia hampir positif punya sebotol wine diAha! Mengambil pembuka botol dari laci, ia bekerja cepat untuk membuka dan menuang segelas besar Moscato wine, lalu menghabiskan dengan cepat. Kemudian menuang lagi. "Apa kau sering minum wine"

Lucie melompatlagidan berputar untuk bertatapan dengan Reid, gelas di satu tangan, botol di tangan lainnya. "Bisakah kau berhenti menyelinap seperti itu Dan tidak, aku tidak biasanya minum wine. Ini hanya hadiah natal dari seorang pasien."

"Aku tidak menyelinap. Kau yang melompat. Mungkin wine bukanlah ide yang buruk." Dia memperhatikan apartemennya selama semenit, membebaskan dirinya untuk gelas kedua tanpa penonton. "Apa kau punya cermin panjang di sekitar sini"

"Di kamarku, tapi"

"Sempurna. Ayo." Reid meraih botol darinya dan menuntunnya ke kamar.

"Apa yang kau lakukan"

"Aku sudah bilang, pelajaran pertama: berpakaian untuk menarik perhatian."

Lucie takut untuk meminta klarifikasi, dan malah memilih meneguk wine. Setelah mendudukkannya di tempat tidur Reid memeriksa lemarinya dan mulai menggeledah pakaiannya. Lucie berpikir secara objektif, untuk bilang pada Reid menjauh dari barang-barangnya, tapi alkohol sudah meringankan beban di bahunya dan ia memutuskan untuk melihat apa yang dilakukan Reid.

"Jadi katakan padaku Luey, apa yang spesial dari pria ini Kenapa dia menjadi sasaran kita bukan orang lain"

"Kenapa itu penting" ia bertanya, memutar-mutar tangannya saat menatapnya kembali. "Bisakah kubilang aku menyukainya dan tinggalkan saja begitu"

Saat Reid memindahkan hanger dari satu sisi ke sisi yang lain, kadang menarik garmen keluar, tapi mengembalikan lagi dengan gumaman menghina, ia memperhatikan gerakan otot-otot di bahu dan punggungnya. Lucie pernah melihat Stephen dengan T-shirt ketat ketika dia kadang menggunakan ruang PT untuk olahraga cepat, tapi dia sama sekali tidak seperti Reid. Dimana Stephen memiliki tubuh seorang pelari, ramping berotot, tubuh Reid jelas berbeda. Dia tidak lebar atau besar sekali seperti pegulat gadungan di TV, tapi tubuh mediumnya tidak memiliki satu ons pun lemak di dalamnya, dan setiap incinya merupakan tempat untuk otot-otot yang terbentuk dengan indah. Tentu saja bukan hal yang sulit untuk melihatnya melakukan apapun, tidak masalah walau biasa, dalam keadaan tanpa baju.

"Tidak. Tidak cukup bagus. Kau harus melakukan sesuatu yang sangat tidak konvensional dan drastis untuk mendapatkan pria ini. Jadi aku ingin tahu kenapa dia. Aku harus tahu apa yang kukerjakan di sini jika aku akan membantumu."

Lucie menggigit bibirnya dan bertanya-tanya apakah ia berani bilang padanya. Bahkan Vanessa tidak tahu, tapi seharusnya jika ia akan membaginya dengan orang lain, pastilah Reid orangnya. Bagaimanapun, dia di rumahnya untuk alasan yang terlihat yaitu membantunya dalam usaha untuk berkencan, dan nantinya menikah, dengan Stephen. Plus, dia akan pergi dalam beberapa bulan kedepan jadi itu bukan seperti dia akan berada di dekatnya untuk menguasai rahasianya yang luar biasa menyedihan sampai selamanya.

Membuka laci mejanya Lucie mengeluarkan halaman majalah yang berkerut. Itu adalah halaman penuh iklan untuk perusahaan real estate, menampilkan keindahan rumah kolonial dengan keluarga ideal berdiri di depannya. Sang suami berdiri dengan bangga dengan istrinya, satu tangan mengelilingi pinggangnya, tangan lainnya di bahu anak laki-lakinya. Saudara perempuannya berdiri di depan sang ibu yang sedang menggendong bayi di tangannya. Pasangan klasik Amerika dengan dua anak dan anjing shih tzu yang setia di kaki mereka.

"Ini," ia berkata, memberikan majalah. "Aku menyimpannya selama tiga tahun. Ini yang aku mau."

Reid berbalik, mengambil majalah, dan memperhatikannya dengan alis berkerut. "Aku tidak paham. Apakah dia tinggal di rumah seperti ini atau apa Jika itu yang kamu mau, aku bisa bilang padamu, bahwa itu tidak"

"Bukan, bukan rumahnya. Seluruhannya. Kehidupan yang sempurna. Atau hampir sempurna karena semua orang tahu tidak ada yang sempurna, tapi aku ingin mendekati sempurna saat aku mandapatkannya dan iklan itu meneriakkan Hampir Sempurna."

Reid menggosokkan tangan di pangkal janggutnya. "Oke, aku bisa melihat yang kau maksud, tapi seberapa sesuainya Mann dalam hal ini"

"Stephen cocok denganku dalam segala hal. Kami menikmati musik yang sama, selera film dan makanan yang sama. Kami di bidang yang sama, jadi kami tahu bagaimana saat kau butuh bekerja sampai malam kadang-kadang. Dan juga keinginan bersama kami untuk menolong kesembuhan orang lain dari cedera fisik.

Reid memotong ocehannya dan mengembalikan majalahnya. "Baiklah aku mengerti. Jadi, kalian cocok satu sama lain. Tapi sebuah hubungan membutuhkan lebih dari sekedar kesamaan bidang bermain. Bagaimana dengan chemistry Gairah Cinta"

Bagaimana dengan semua itu Semua itu beresiko, begitulah. Ia sudah pernah menjalaninya dan itu membuatnya langsung masuk jurang.

Mantan suaminya menyebabkan dia menjadi wanita yang hancur. Lucie percaya dia mencintainya dan sungguh menginginkannya meskipun ada perbedaan. Dia bilang cinta mereka mengalahkan perbedaan. Ketidak samaan pendapat itu akan memberi bumbu dalam pernikahan mereka.

Rupanya dia juga berpikir tidur dengan wanita lain beberapa bulan setelah pernikahan mereka akan sama saja.

Ia tidak pernah sangat tersakitisangat bodohketika ia masuk saat mantannya sedang melakukan semacam hippie tantric sex dengan wanita gimbal yang menyaingi Bob Marley. Dia bahkan tidak terlihat bersalah. Tidak, dia sebenarnya mengulurkan tangan menyambut dan meyuruh dirinya untuk bergabung. Ia hampir muntah saat itu juga sebelum lari dari ruangan itu, dan mengakhiri pernikahan.

Itulah saat ia memutuskan untuk tidak akan pernah percaya bahwa cinta adalah segalanya yang dibutuhkan agar sebuah hubungan berhasil. Lucie menghilangkan istilah "ketertarikan lawan jenis" dari kamusnya dan bersumpah untuk tidak bersama dengan orang yang tidak benar-benar sesuai dengannya. Jika cinta nantinya masuk kedalamnya, itu hanya akan menjadi sebuah bonus.

Tapi ia tidak dapat memberitahu Reid semua itu. Dia pasti akan berpikir bahwa ia gila.

Melihat foto yang Lucie telusuri dengan ujung jari di sekitar rambut gelapnya yang digambarkannya sebagai Stephen. Dia bahkan memiliki penampilan yang sama. "Kita belum memiliki kesempatan untuk menggali hal itu." Ia meletakkannya di laci dan mendorongnya sebelum menatap Reid dengan percaya diri.

"Tapi aku tahu jika saja aku bisa membuatnya

melihatku...membuatnya memberikan kami kesempatan...kami akan memiliki chemistry lebih dari yang kami tahu."

Reid menyilangkan tangan di dadanya dan menatap matanya selama satu atau dua menit, seperti sedang menunggu dirinya berhenti dan memutuskan ia tidak benar-benar percaya apapun yang sedang dikatakannya. Tapi itu tidak akan terjadi karena ia sudah mempercayainya. Seluruhnya dan semuanya. Akhirnya, Reid memutus keheningan yang canggung.

"Luce, jangan tersinggung," dia bicara dengan menunjuk lemarinya, "tapi pakaianmu payah."

Kata-kata sudah ada di ujung lidahnya untuk membela tentang pakaiannya, tapi didetik terakhir ia hanya mehela nafas, bahunya agak merosot. "Aku tahu. Seperti itu, kan"

Reid meneliti piyama yang dipakai Lucie cukup lama hingga Lucie menundukkan kepalanya, memikirkan sesuatu tidak pada tempatnya.

"Ada yang salah"

"Apa kau selalu memakai celana flannel dan tank top longgar untuk tidur"

"Bukan berarti itu menjadi urusanmu..." Oh, bibirnya mulai kebas. Hebat. Ia menyeringai. "...tapi ya. Benar." Senyum terpancar di wajah Reid, menampilkan gigi putih yang rapi menakjubkan. "Senyum yang cantik," ia berbisik keras.

"Cantik Kurasa aku baru saja dikebiri. Oke, ayo," dia bicara sambil mengambil gelas winenya.

"Hei!"

"Hanya sebentar, aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Setelah itu kau boleh menghabiskan sebotol. Jika aku beruntung, kau adalah jenis wanita yang senang menari di atas meja ketika sedang terpengaruh alkohol."

Ia terlalu kacau oleh gambaran itu hingga tidak menolak ketika Reid mengambil tangannya dan membimbingnya melintasi ruangan. Membayangkan dirinya berputar di atas meja tanpa mempedulikan dunia membuatnya tertawa. "Tidak," Lucie bicara diantara

cekikikannya. "Kurasa aku cenderung tertidur daripada gila ketika minum wine. Maaf mengecewakanmu."

Ketika mereka sampai pada cermin panjang antik di sudut ruangan,

Reid memiringka sudutnya supaya tidak terpotong pada leher saat Reid berdiri di belakangnya. Leluconnya beberapa saat yang lalu menghilang di tenggorokannya ketika Lucie bertemu dengan pandangan intensnya pada bayangan mereka. Lucie membeku ditempat, tidak bisa menggerakkan satu ototpun, saat ia melihat tangan Reid yang besar bergerak keluar dari sudut pandangnya dan menuju tubuh bagian depan Lucie.

Sentuhan pertama Lucie menarik nafas tajam. Reid menekan kain sempit di tank top longgar perutnya, panas dari telapak tangannya meresap kedalam kulitnya menetap jauh di dalam perutnya. Dengan pelan tangannya berpindah ke atas merendahkan punggungnya, ibu jarinya nyaris hilang di bawah gundukan payudaranya. Ketika akhirnya mereka bertemu di tengah punggungnya, kain pakaiannya ditarik kencang di sekujur tubuhnya.

"Nah," dia bicara dengan anggukan kecil. "Apa yang kau lihat"

Ia menghisap bibir bawahnya diantara gigi dan menggelengkan kepalanya. Lucie tak pernah percaya diri untuk menunjukkan seluruh tubuhnya. Ia tidak memiliki lekuk tubuh atau payudara penuh dan pinggul yang menarik para pria. Diantara masalah itu dan sentuhannya yang mengacaukan otaknyaatau mungkin itu karena wineia tak mampu memberi Reid jawaban lebih dari sekedar helaan nafas frustasinya.

"Baju renang."

Butuh beberapa menit untuknya merespon pernyataan sembarangan Reid. Jika itu bisa dianggap sebagai sebuah pernyataan. Mungkin dua kata adalah sebuah kalimat. Atau istilah. Tunggu, apa yang dia bilang

"Apa"

"Dimana baju renangmu Aku ingin kau memakainya jadi kita bisa melihat tubuhmu dan bukan pakaian yang kau pilih untuk menutupinya."

"Aku tidak akan memakai baju renang."

"Tidak apa-apa," Reid menyilangkan tangannya. "Bra dan celana dalam juga bisa."

Mulutnya ternganga. Apakah Reid serius ia meneliti kilau kasar di mata coklatnya. Sial. "Aku akan mengambil bajuku." Lucie menggerutu dalam perjalanannya ke lemari besar di sepanjang dinding.

"Ide Bagus. Aku akan menunggu di luar sementara kau ganti. Tapi Luce..." ia menghentikan menggeledah laci atasnya dan melirik melalui bahu padanya. "jika lebih dari tiga menit, aku akan berasumsi kau pengecut dan aku akan mendatangimu."

Lucie menyipitkan matanya di belakang kacamatanya. "Apa kau selalu mengancam orang lain sampai mereka menuruti keinginanmu"

"Tentu saja tidak. Aku belum pernah merasa perlu untuk mengancam sampai bertemu dirimu," dia bicara dengan senyum ala model. "Tiktok."

Lucie meraup segenggam penuh kaos kaki dari laci dan melemparkan ke kepala Reid. Sayangnya dia menunduk dan mengelakmemegang bahu yang cedera dan tertawaberhasil menghindari ketiga rudal kapas sebelum Reid menutup pintu di belakangnya.