Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 3
aku pikir aku akan mati, kau juga berpikir demikian dan aku menulis baris puisi paling pedih yang dapat kutuliskan;

tak melihatmu lagi bak tak kulihat rasi-rasi bintang yang selalu menuntunku untuk pulang

bila kuingat akan kubatalkan janjiku, untuk membawamu pergi ke mata jitu karena kematianku, tentu air mata menggumpal sebesar gundu, berkilau

dan kubayangkan dirimu terduduk, sebuah foto

senyumku

mayatku tak ditemukan

sejak mula lahir, aku adalah pengembara

kulubangi kapal, kubunuh anak nakal;

aku adalah orang paling paham masa depan

aku begitu berhak atas takdir orang lain

kecuali takdirku sendiri, yang tak dapat kutentukan

aku ingin hidup bersamamu, seribu tahun tak cukup untuk mengucap setelah selamanya

kupahami betul kutukan tuhan, kematian adalah pasti

tetapi meninggalkan adalah cara burung-burung yang tak mengucapkan salam ketika bermigrasi pergi adalah isyarat daun-daun ketika bertahan di ujung ranting yang rapuh

kubayangkan, kau yang bersedih itu memimpikanku setiap malam

mengigau, mengucapku pada kalimat yang dalam

aku tak lagi bisa membisikkan puisi-puisi, dan

menciummu

ketika kau membuka mata, kulihat dunia jauh lebih indah di sana dunia tanpa aku adalah pagi tanpa bunyi air mendidih dunia tanpa kamu, ah, aku tak akan lagi punya dunia