tak melihatmu lagi bak tak kulihat rasi-rasi bintang yang selalu menuntunku untuk pulang
bila kuingat akan kubatalkan janjiku, untuk membawamu pergi ke mata jitu karena kematianku, tentu air mata menggumpal sebesar gundu, berkilau
dan kubayangkan dirimu terduduk, sebuah foto
senyumku
mayatku tak ditemukan
sejak mula lahir, aku adalah pengembara
kulubangi kapal, kubunuh anak nakal;
aku adalah orang paling paham masa depan
aku begitu berhak atas takdir orang lain
kecuali takdirku sendiri, yang tak dapat kutentukan
aku ingin hidup bersamamu, seribu tahun tak cukup untuk mengucap setelah selamanya
kupahami betul kutukan tuhan, kematian adalah pasti
tetapi meninggalkan adalah cara burung-burung yang tak mengucapkan salam ketika bermigrasi pergi adalah isyarat daun-daun ketika bertahan di ujung ranting yang rapuh
kubayangkan, kau yang bersedih itu memimpikanku setiap malam
mengigau, mengucapku pada kalimat yang dalam
aku tak lagi bisa membisikkan puisi-puisi, dan
menciummu
ketika kau membuka mata, kulihat dunia jauh lebih indah di sana dunia tanpa aku adalah pagi tanpa bunyi air mendidih dunia tanpa kamu, ah, aku tak akan lagi punya dunia