Para sarjana, secara resmi, tidak begitu memperhatikan persoalan-persoalan itu, yang penyelidikannya masih banyak menghadapi rintangan. Para penyelidik bebas masingmasing mengembangkan suatu teori, yang bersifat sangat pribadi, berdasarkan penyelidikan-penyelidikan dengan tekun dan sabar.
Suatu Alfabet, Yang Berumur 15.000 Tahun
Bukti di bidang argeologi, bahwa orang-orang purbakala telah menggunakan suatu alfabet di jaman Neolitik (= Jaman Batu yang ke dua), diduga telah diketemukan di Perancis pada permulaan abad ini. Pada tanggal 1 Maret 1924 Claude Fradin dan cucunya lakilaki, Emile, sedang berjalan-jalan di luar kota di sekitar desa kecil Glozel, di dekat Ferriere sur Sichon, di Allier. Tiba-tiba mereka melihat benda-benda aneh; mereka sangat heran menemukan batu-batu bata, tanda-tanda peringatan terukir, dua bua alat pemotong, dua buah kapak kecil dan dua buah kerikil datar yang masing-masing ada tulisannya.
Dan itu merupakan permulaannya. Dr. Morlet, yang bertempat tinggal di daerah itu, di beritahu tentang penemuan yang misterius itu. Dia merupakan orang, yang selalu merasa sangat tertarik pada keanehan, pada hal-hal yang belum, hal-hal yang luar biasa, dan dia lanjutkan penggaliannya. Demikianlah dia kemudian dapat menggali lebih dari seratus buah tanda peringatan, alat kerja dari batu kecil, barang-barang pecah belah dengan corak yang belum pernah dijumpai dimana-pun, dan akhirnya kerikil-kerikil datar yang terukir. Akhli-akhli yang sudah terkenal, seperti Camille Julian dan Salomon Reinach, menyatakan, bahwa benda-benda yang telah diketemukan itu berasal dari jaman 15.000 tahun yang lalu. Pada benda-benda tertentu, beberapa orang sarjana melihat adanya susunan-menurut-garis huruf-huruf yang menyerupai alfabet, seperti V W L H T I K O C J X. Akan tetapi, tidak lama kemudian, penemuan di Glozel itu mendapat tantangan keras dari para akhli dari Lembaga Internasional mengenai Antropologi, dan dari Identite judiciaire Perancis. Mereka menyatakan bahwa semuanya itu merupakan penipuan, dan menentukan, bahwa benda-benda galian itu tidak merupakan benda antik.
Terlepas dari tulisan, yang meragukan dan ditentang itu, orang-orang purbakala nampaknya mempunyai suatu berbendaharaan-kata dan bacaan, yang jauh dari luas daripada kepunyaan kita sekarang. Orang-orang Indian Amerika mempunyai nama yang berlainan untuk tanaman yang sama, atau pohon yang sama, menurut musimnya, sedangkan kita sekarang menyatakan perobahan sebatang pohon yang sama dimusim rontok dan musim semi, cukup dengan menggunakan daka sifat didepan nama pohon itu.
Bacaan yang tidak tertulis
Penemuan berguna dari alfabet, dan yang menyusulnya, yaitu bacaan, merupakan langkah pasti menuju keperadaban. Orang-orang Sumeria dan Mesir, yang jelas telah mengembaangkan tata cara mereka menulis pada jaman 4000 tahun sebelum Masehi, maju dengan pesatnya setelah pengembangan itu.
Anggapan demikian itu, rupa-rupanya tidak berlaku sama sekali bagi peradapan Bangsa Inca. Dalam kenyataanya, orang-orang Inca, yang benar-benar melaksanakan separuh jumlah macam tumbuh-tumbuhan yang kita kenal dan yang telah membangung jalanjalan besar yang terpanjang di dunia, tidak mempunyai tata cara menulis.
Mengapakah bisa ada keadaan, bahwa kebodohan, yang tidak masuk akal itu, terdapat pada Bangsa yang berkembang demikian pesat, keadaan itu kelihatannya disebabkan, karena mereka, berdasarkan ketakhyulan mereka, mempunyai rasa takut terhadap tulisan. Sebuah cerita kuno bangsa Inca mengatakan, bahwa, setelah terjadinya bencana wabah yang membinasakan, sebuah Sabda Dewa melarang digunakannya tulisan, diserta ancaman hukuman siksa yang mengerikan.
Untuk mengatasi persoalan tidak adanya alfabet, maka orang-orang Inca kemudian menggunakan tali Quipu dengan banyak mata ikatan yang berwarna-warni, dan dengan jarak yang berbeda-beda antara mata ikatan yang satu dengan yang lainnya. Karen adanya cara dan alat yang aneh itu, maka mereka mempunya bacaan....... tanpa mempunya tulisan.
Makhluk logam, yang mengerikan, Menyerang para Argonaut
Dibidang teknik masih banyak hal-hal yang mengejutkan dijumpai oleh para akhli sejarah. Beberapa buah bukti membuat kita beranggapan, bahwa manusia moderen jaman sekaran ini hanyalah menemukan kembali apa yang telah diketahui oleh manusia jaman dahulu.
Banyak cerita kuno, yang menunjuk kearah itu. Plato, misalkan, mengatakan, bahwa daedalus, ayahikarus, rupa-rupanya membuat mesin-mesin serupa manusia yang dapat bergerak sendiri. Yang mungkin dapat kita sebut Robot. Dan akhli falsafat yunani itu melanjutkan berkata, bahwa mesin-mesin itu demikian cepat bergeraknya, dan tak dapat berdiam diri, sehingga harus diadakan penjagaan agar mereka tidak berlari pergi. Sayangnya adalah, bahwa Plato tidak menjelaskan secara terperinci tentang alat-alat, yang menyebabkan mesin-mesin itu dapat bergerak sendiri. Apakah daya gerak itu berasal dari mekanisme yang telah disempurnakan ataukah karena digunakannya baterai
Menurut cerita kuno Yunani tentang penaklukan Golde Fleece (kulit domba emas), maka para argonaut yang datang di Kreta, diperingatkan oleh Medea, si ahli nujum, bahwa sebuah makhluk logam, yang mengerikan, akan menyerang mereka. Apakah yang dimaksudkan oleh medea itu robot, seperti dinyatakan oleh seorang penyelidik bebas Inggris Arthur Waight
Komputer pada jaman purba
Dalam tahun 1900, para penyelam bunga karang dekat Antikitera, menemukan bekasbekas sebuah perkakas dari logam, yang sudah berkarat, didasar laut. Para sarjana mulamula mengira, bahwa apa yang telah diketemukan itu merupakan sisa-sisa pesawat ruang angkasa dari tahun 65 sebelum Masehi. Dalam tahun 1959, seorang sarjana Inggris, Solla Price, menimbulkan suatu kejutan dunia, ketika dia dalam bulan Maret 1962 membuat pengumuman sebagai berikut: Kelihatannya, bahwa benda itu benar-benar merupakan se buah Komputer, yang dapat menentukan dan menguraikan gerak matahari, bulan, dan mungkin juga gerak planit-planit.
Sarjana akhli itu merasa dirinya sangat rendah, dan hanya dapat menyatakan kekaguman dan hormatnya kepada nenek moyang kita, yang telah memiliki ilmu pengetahuan demikian tinggi, walaupun rasa hormat itu disertai dengan sedikit rasa takut.
Dalam bulan Juni 1959 dia menulis dalam Scientific American sebagai berikut: Adalah sangat menakutkan untuk mengetahui, bahwa dekat sebelum peradaban mereka yang tinggi itu runtuh, Bangsa Yunani kuno telah dapat mencapai apa yang baru sekarang kita capai, bukannya hanya dalam cara berfikir, melainkan juga dalam ilmu pengetahuan Teknologi.
Apa yang nyata terjadi di Yunani kuno itu, terjadi juga di Amerika Kuno. Seorang penulis yang bernama Gareilaso de La Vega, seorang anak laki-laki dari seorang laki-laki Spanyol dan wanita puteri bangsa Inca, menguraikan pada permulaan abad ke 17, bahwa bangsa Inca di lembah Rimac mempunyai sebuah patung yang berbicara dengan menjawab pertanyaan-pertannyaan seperti sabda Dewa Apollo di Delphi.
Sayangnya, Garcilaso adalah tidak cermat, dan dia sama sekali tidak bercerita tentang caranya patung itu bekerja, walaupun kesemuanya itu mengigatkan kita kepada kompyuter-modern kita.
Mesin Penyelidik Waktu Memang Pernah Ada.
Pada waktu ini, para sarjana beranggapan, bahwa s ebuah mesin untuk menyelidiki waktu, adalah merupakan suatu gagasan yang gila-gilaan. Walaupun demikian, beberapa orang menyatakan, bahwa orang-orang purbakala telah mempunyai alat semacam itu.
Kita menjumpai jejak adanya alat-alat itu dalam bermacam-macamcerita kuno. Menurut tulisan Franciscus Picus dalam bukunya yang berjudul The Book Of Six Sciences (= Buku tentang enam Macam Ilmu Pengetahuan), maka cermin Al-Muchevi dapat memantulkan suatu pemandangan atau gambaran tentang waktu.
Bagaimana mungkin bagi para Dewa Mesir dan yunani untuk meramalkan keadaan waktu yang akan datang, atau untuk membayangkan kembali hal-hal yang telah lampau Clement V Durel, seorang sarjana Inggris, memberi cara pemecahan yang segar mengenai persoalan itu. Dia berkata sebgai berikut: Semua fakta, dari waktu yang telah lampau, dari waktu sekarang, dan dari waktu yang akan datang, berada dalam ruang waktu empat dimensi, yang merupakan suatu semesta alam tanpa waktu lalu ataupun waktu sekarang, dan statis seperti suatu kumpulan film, yang dapat dipasang di gulungan proyektor film.
Selama pemerintahan Alexander Yang Agung, sabda Dewa Ammon-Ra dilengkapi dengan sebuah mesin otomatis untuk menyelidiki waktu. Pada suatu hari Alexander meminta nasehat dalam hubungan hari depannya sendiri. Nasehat-jawaban berbunyi sebagai berikut: Akan diberikan kepada anda untuk menguasai semua negeri. Ramalan itu kemudian ternyata benar, sebab penakluknya datang untuk menguasai hampir seluruh dunia yang diketahui.
Jaman Industri Dari Orang-orang Jaman Dahulu
Adalah pernah suatu jaman industri prasejarah, sebagaimana dinyatakan oleh para sarjana tertentu, yang tidak Ortodox Dalam mitologi Yunani yang mula pertama, kita jumpai Vulkan, Dewa Api pandai besi, yang tempat kerjanya terletak digunung Etna di Sisilia. Selanjutnya, orang-orang pra-sejarah itu mengenal empat peredaran waktu, yaitu jaman emas, jaman perak, jaman tembaga dan jaman Besi.
Besi dan tembaga merupakan dua macam logam, yang amat sulit untuk dibuat dan untuk dikerjakan. Tembaga, suatu campuran yang sangat keras, untuk sebagian terdiri dari timah. Dimanakah dan kapankah timah itu diketemukan Ilmu pengetahuan jaman sekarang tidak memberikemungkinan untuk menjawab pertanyaan itu.
Pada waktu itu tempat persediaan timah terdapat di Gaul, di Etruria, di Cornwall, di Bohemia dan di Spanyol, sedangkan kuningan terdapat di Sinai, portugal, Kreta, Spanyol dan Siprus. Bagaimanakah orang-orang jaman pra-sejarah itu dapat mengumpulkan hasil tambang yang dibutuhkan untuk membuat tembaga, dari daerah terpencar itu
Masih ada lagi pertanyaan lain: Bagaimanakah nenek moyang kita itu dapat mengatur pemanasan tungku-tungku sampai temperatur 1000 derajat yang dibutuhkan untuk campuran logam tembaga itu
Teka-teki yang menjemukan
Para akhli penyelidikan Amerika menganalisa sebuahbenda dari jaman pra-sejarah, dan menemukan bahwa para penduduk Amerika Utara gunakan tungku-tungku, yang mampu mencapai temperatur setinggi 9000 derajat celsius.
Lain-lain misteri mengganggu para sarjana kita. Sebuah ikat pinggang terbuat dari logam, didalam makam Jenderal Cina Chow Chu, yang hidup dalam abad ke 3, terbuat dari 5% logam Mangan, 10% logam kuningan dan 85% logam aluminium baru diketemukan dalam tahun 1875 oleh Oersted, dan lagi hanya dalam bentuk bubuk, sehingga penggunaannya harus dilakukan melalui proses khemis. Apakah dengan demikian, kita hanyalah menemukan kembali sesuatu yang telah diketahui oleh orang Cina 1700 tahun yang lalu
Dan ini ada lagi teka teki yang membingungkan ilmu pengetahuan, tihang Kutb Minar di
Delhi, yang tingginya tujuh setengah meter dan beratnya 6 ton. Tihang itu berasal abad ke 5 dan, walaupun demikian sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda berkarat, sekalipun telah 15 abad mengalami bermacam-macam cuaca tanpa perlindungan.
Manusia Angkasa Luar Mempelajari Planit
Kita Dengan Menggunakan Tape-recorder
Satu diantara problema-problema besar, yang kita hadapi pada waktu ini, adalah kubus Dr. Gurit, yang diketemukan dalam sebuah tambang batu-bara dalam abad ke 19. Benda itu kelihatannya telah berumur beberapa juta tahun, dan pembuatannya dilakukan dengan mesin. Oleh siapa Kapan Demikian banyak pertanyaan tanpa jawaban!
Untuk tujuan apakah diadakannya benda-benda itu Jacques Bergier dalam bukunya, yang berjudul Les Extra-Terretres dans lHistoire, menulis sebagai berikut: Menurut pendapat saya, itu semua merupakan alat pengumpul bahan semacam pita rekaman, akan tetapi jauh lebih sempurna. Siapakah yang telah membuat alat-alat perekam demikian Dan dengan tujuan apakah alat-alat itu dibuat
Menurut tulisan Jacques Bergier, maka benda itu tidak diciptakan oleh otak manusia; penciptanya harus mempunyai kecerdasan otak, yang jauh lebih tinggi; mungkin sekali penciptanya datang dari galaksi lain. Orang-orang angkasa luar, yang ingin mengetahui kehidupan dan penghidupan apa yang ada di bumi ini, mungkin telah menempatkan alatalat perekam di tempat-tempat tertentu di seluruh dunia, dengan tujuan untuk dapat memperoleh sebanyak mungkin bahan tentang apa yang terjadi di planit kita ini.
Benda, yang diketemukan oleh Dr. Gurit itu, disimpan di dalam Museum Salzburg, dan kemudian hilang secara aneh! Siapakah yang telah mengambilnya Jacques Bergier, dalam bukunya termaksud di atas, mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: Mungkin sekali benda itu telah dimiliki kembali oleh mereka, yang tadinya telah menempatkannya di bumi kita ini.
Suatu Pusat-perindustrian Lima-ribu Tahun Yang Lalu
Marilah kita kembali pada soal-soal yang lebih nyata. Pembuatan benda-benda dari logam, memberikan dugaan kepada kita, tentang pasti adanya pabrik-pabrik yang layak.
Walaupun pikiran modern tidak menyetujui dugaan demikian, namun kita terpaksa menerima sebagai suatu bukti, adanya kenyataan, bahwa di Medzamor, Armenia, Dr. Korioun Meguertchian telah menggali keluar sebuah pabrik pengolahan logam, yang diperkirakan berumur 5.000 tahun.
Terpencar di sekitar tempat itu terdapat banyak pisau, paku, anak panah, gelang dan cincin dari logam. Lain-lain penyelidik, setelah Dr. Meguertchian, menemukan sebuah bengkel penuangan besi, di mana orang-orang pra-sejarah itu mengerjakan timah-hitam, seng, manggan, baja, dan lain-lain logam lagi.......
Para sarjana, yang tadinya meragukan adanya tungku-tungku pembakaran atau pencairan logam, kini menjumpai bahan bukti yang nyata; dua-puluh lima buah bangunan tungku telah diketemukan. Menurut perhitungan, seharusnya paling sedikit terdapat dua-ratus buah.
Penemuan-penemuan itu merobah sama sekali pengertian para sarjana mengenai prasejarah. Seorang ahli arkheologi Amerika, Richard Helffson, bertanya-tanya: Masih dapatkah dibenarkan, kalau kita menyebut suatu jaman sebagai Jaman Tembaga, kalau Jaman itu telah mempunyai suatu pusat perindustrian, yang sudah sama rumitnya dengan perindustrian kita sekarang
Sebuah Tempayan Antik Terbuat Dari Tanah Bukan, Akan Tetapi Sebuah Lampu listrik!
Hasil produksi industri mensyaratkan adanya sumber-sumber tenaga teknis yang tinggi. Itu merupakan suatu kebenaran yang nyata, dan diketemukannya benda-benda tertentu belum lama berselang, menuju ke arah pembuktian, bahwa orang-orang pra-sejarah setidak-tidaknya telah mengenal listrik.
Tepat sebelum pecahnya Perang Dunia II, seorang ahli arkheologi Jerman bernama Wilhelm Konig, yang bekerja di Bagdad, menggali beberapa buah tempayan terbuat dari tanah dengan bagian lehernya dilapisi aspal, yang memagari batang-batang logam, yang tertanam dalam silinder-silinder kuningan. Konig mengejutkan dunia ilmu pengetahuan, ketika dia menyatakan, bahwa tempayan-tempayan itu merupakan baterei listrik yang sudah berumur 2.000 tahun.
Sebentar setelah berakhirnya Perang Dunia, seorang insinyur bernama Willard Grey, bersama dengan General Electric Company, mengadakan suatu percobaan untuk menguji kebenaran pernyataan Konig. Setelah dibuatkan tiruan dari baterei yang ditemukan, maka dia kemudian mengisinya dengan sulfat-tembaga untuk menggantikan larutan-baterei aslinya, yang telah menguap. Segala sesuatunya berjalan dan bekerja dengan sempurna. Dengan demikian, maka pernyataan Konig kelihatannya dapat dibuktikan.
Ditambah lagi, dua buah penemuan yang semacam telah menunjukkan, bahwa orangorang jaman pra-sejarah juga sudah mengenal pekerjaan melapisi dan menyepuh dengan elektrolisis, yang baru mulai diketahui dalam abad 19. Tempayan-tempayan berlapis logam, yang telah diketemukan juga di dekat Bagdad, menunjukkan, bahwa lampu-lampu itu digunakan untuk menyepuh dengan elektrolisis.
Akhirnya, bekas-bekas dari pekerjaan melapisi diketemukan juga pada benda-benda pecah belah yang sudah berumur 4.000 tahun, yang diketemukan dalam gubug seorang akhli sihir Nigeria.
Kekutan/Tenaga, YangDikenal Dengan Nama kembar Mithra-Varuna
Sebuah dokumen Hindu kuno, Agastya Samhita, yang diambil dari perpustakaan Pangeran Ujjain, menguraikan pembuatan baterei sebagai berikut: Tempatkanlah sebuah pelat tembaga yang sangat bersih dalam sebuah lodong dari tanah liat. Isilah kemudian lodongnya dengan sulfat tembaga, dan selanjutnya dengan serbuk gergaji basah. Setelah itu, tarohlah sehelai lembaran seng dicampur dengan air rasa di atas serbuknya untuk menghindari proses mengutub. Sentuhannya akan menimbulkan suatu tenaga, yang dikenal di bawah nama kembar Mithra-Varuna. Air, yang diseberangi oleh aliran itu, akan pecah menjadi Pranavayu dan Udanavayu. Kalau seratus buah lodong demikian dirangkai, maka rangkaian itu diduga dapat memberikan suatu sumber tenaga, yang sangat aktif dan berguna.
Arti yang tepat bagi Mithra-Varuna adalah kathode-anode, dan bagi Pranavayu dan Udanavayu masing-masing adalah oxigen dan hidrogen.
Sebuah Lampu Abadi Memelihara Keadaan Waspada Atas Mayat Seorang Gadis Romawi
Seorang sarjana Australia, Robbert Briggen, tetap berpendapat, bahwa orang-orang jaman pra-sejarah mempunyai pengetahuan, yang lebih maju daripada ilmu pengetahuan modern, karena mereka memiliki lampu-lampu abadi.
Dalam bulan April tahun 1485, mayat seorang gadis bangsawan dari jaman Romawi kuno dikeluarkan dari tempat pekuburannya di Appian Way. Ketika para penyelidik memasuki tempat pemakamannya, mereka terkejut menemukan sebuah lampu, yang menyala sejak 1.500 tahun yang lalu.
Dengan cara bagaimanakah para nenek moyang kita itu telah membuat lampu-lampu semacam itu Misteri itu masih tetap merupakan misteri, akan tetapi sejumlah sarjana masih tetap berusaha untuk memecahkan persoalan itu. Beberapa orang diantara mereka, seperti Briggen, mengemukakan pendapat, bahwa tenaga yang digunakan untuk bekerjanya lampu itu, mungkin sekali telah hilang dari muka bumi, akan tetapi tentu saja tidak ada bukti untuk menguatkan teori-teorinya itu.
Suatu Jaman-atom Di Dalam Jaman-prasejarah.
Dari listrik ke atom hanya terdapat jarak sepanjang satu langkah, yang rupanya telah dilalui oleh orang-orang jaman pra-sejarah itu tanpa mengalami kesulitan.
Dokumen yang paling tua, yang kita miliki, mengenai pengetahuan nenek moyang kita tentang atom, yaitu Emerald Table of Hermes (Meja Zamrud dari Hermes), yang menurut perhitungan seorang sarjana dari abad 18, Sigismond Bacstrom, telah berumur kira-kira 4.500 tahun.
Kita tidak mengetahui, siapakah orangnya yang telah menghasilkan karya itu, yang dimulai dengan kata-kata sebagai berikut: Seperti keadaan di atas, demikian juga keadaannya di bawah, dan apa yang ada di bawah adalah seperti apa yang ada di atas, untuk kemudian menunjukkan suatu keajaiban dari adanya satu karya yang sama.
Apakah arti kalimat, yang kelihatannya seperti ramalan itu Kata-kata seperti keadaan di atas , yaitu cakrawala dengan bintang-bintang dan galaksi-galaksinya, dinyatakan semacam dengan apa yang ada di bawah, yang dimaksud sama dengan atom dengan elektron-elektronnya, yang berputaran mengelilingi proton-proton. Penulis tanpa nama dari Emerald Tableitu, dengan demikian telah menekankan soal satunya alam-semesta dan soal persatuan atom.
Dalam Emerald Table itu dia lebih lanjut menguraikan sebagai berikut: Adanya semua benda disebabkan oleh Yang Satu, karena itu maka segala sesuatu berasal dari Benda Yang Satu itu. Pisahkanlah secara hati-hati dan cermat bumi dari apinya, yang halus dari yang kasarnya. Benda itu naik dari bumi menuju ke langit, dan turun lagi ke bumi dan karena itu, maka yang atas dan yang bawah bertambah besar kekuatannya. Itu adalah merupakan kekuasaan, yang mempengaruhi semua kekuatan, yang akan menguasai segala apa yang baik, dan akan menyebarkan segala apa yang kasar, sebab demikianlah diciptakannya dunia.
Dua gagasan pokokyang diketahui dengan baik oleh dunia modern_mengisi keseluruhan tulisan itu, yaitu bahaya yang terkandung dalam pecahnya atom, yang terus menuju ke bom nuclear, dan analisa mengenai sifat bergetar dari segala sesuatu.
Dari Lukretius .... Sampai ke Einstein.
Dipelajarinya atom secara cermat dan sungguh-sungguh, mengenai bahaya dan kekuatannya, yang dibuktikan oleh apa yang termuat pada Emerald Table, jelas merupakan bukti adanya penyelidikan selama ratusan tahun oleh nenek moyang kita.
Pengetahuan itu diteruskan sampai ke jaman Yunani dan Latin kuno. Kira-kira 2.500 tahun yang lalu, Demokritus menyatakan pendapatnya, bahwa sebenarnya, yang ada hanyalah atom dan ruangan.
Teori itu dihidupkan lagi oleh Leucipus dalam abad ke 5 sebelum Masehi, dan kemudian lagi oleh Epicurus dalam abad ke 3 sebelum Masehi.
Penyair Latin terkenal, Lukretius, mengembangkan teori mengenai atom itu dalam buku karyanya, yang berjudul De Natura Rerum (= Mengenai Sifat dari Benda-benda). Dalam Buku I dari karyanya, yang termasyhur itu, lebih dari 2.000 tahun sebelum Einstein, dia menyatakan sebagai berikut:
Tidak ada sesuatu, yang pernah diciptakan dari ketiadaan, dan hanya merupakan hasil dari kekuatan gaib. Sebab, kalau kini manusia tetap diperbudak oleh rasa takut dan khawatir, maka hal itu disebabkan karena dia melihat banyak keajaiban di bumi dan di langit, yang sama sekali tidak dapat dimengertinya, dan dianggapnya sebagai kejadian yang ditimbulkan oleh kekuatan gaib...
Oleh karena adanya suatu puncak atau batas terakhir, yang dicapai oleh kesatuan pokok itu, dan yang sudah tidak lagi dapat ditangkap oleh pengelihatan kita, maka kesatuan itu jelas tidak mempunyai pecahan-pecahan atau bagian-bagiannya, dan dia telah mencapai bentuk kekecilan yang terakhir, suatu bentuk yang paling kecil. Dia tidak pernah ada, dan tidak mungkin bisa ada secara sendirian ataupun sebagai pecahan, karena dia sendiri merupakan suatu bagian integral/pelengkap dari suatu unsur lain, yang tidak mungkin ada tanpa adanya dia; pada unsur itulah kemudian menggabung bagian-bagian integral lainnya untuk membentuk benda. Dan oleh karena bagian-bagian integral itu tidak dapat ada secara sendirian, maka bagian-bagian itu harus berkumpul menjadi satu untuk membentuk suatu kesatuan, yang tidak dapat dibagi-bagi.
Karenanya, maka kesatuan-kesatuan dasar itu masing-masing merupakan suatu kesatuan sederhana, yang tidak dapat ditembus, dan yang erat hubungannya satu sama lain; mereka membentuk suatu keseluruhan, yang terdiri dari bagian-bagian sejenis, dan tidak dapat dihancurkan. Kesatuan-kesatuan itu bukanlah merupakan suatu susunan heterogen, yang terdiri dari bermacam-macam bagian, akan tetapi justru sebaliknya, mereka masingmasing merupakan suatu kesatuan, yang terdiri dari bagian-bagian integral, yang tak dapat dipecah-pisahkan ataupun di perkecil, dan merupakan unsur pokok dari benda. Dan lagi, kalau andaikata tidak ada batas mengenai kecilnya sesuatu, maka benda yang lebih kecilpun akan tersusun dari bagian-bagian, yang tidak terbatas jumlahnya, oleh karena, tiap-tiap kali, setiap bagian dari sesuatu yang kita bagi, selalu dapat dibagi lagi! Dan karenanya, perbedaan apakah yang ada antara suatu susunan benda dan benda atau unsur yang terkecil Perbedaan itu tidak mungkin ditentukan, sebab, bagaimanapun juga tidak terbatasnya luas alam semesta, namun benda yang terkecilpun juga tersusun dari bagianbagian, yang banyak jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena adanya alasan yang masuk akal, yang tidak membenarkan atau tidak memungkinkan kita berpendapat demikian, maka kita harus menyerah dan mengakui, bahwa ada bagian terkecil yang sudah tidak mungkin dibagi lagi, yaitu, yang telah mencapai batas kekecilannya. Dan karena badan terkecil itu ada, maka kita harus mengakui pula, bahwa unsur, yang terbentuk dari badanbadan terkecil itu, juga nyata padat dan abadi.
Akhirnya, andaikata sifat kreatif dari semua benda itu mengandung pengertian secara umum, bahwa setiap benda dapat dipecah atau dibagi dalam bagian-bagian kecil yang tidak terbatas jumlahnya, maka bagian-bagian itu juga tidak dapat lagi menyusun kembali sesuatu, karena bagian-bagian kecil yang tak terbatas jumlahnya itu, yang masing-masing sudah tidak mempunyai bagian-bagian lagi, tidak mungkin lagi mempunyai sifat-sifat yang disyaratkan untuk dapat menyusun lagi, yaitu: bermacam-macam hubungan, kepadatan, guncangan, perjumpaan, yang kesemuanya merupakan gerakan-gerakan untuk dapatnya terbentuk setiap benda.
Dunia Luas Di Dalam Kehampaan Setiap Atom.
Kita ketemukan lagi jejak-jejak ilmu pengetahuan kuno di bidang atom di India. Karangan-karangan Brahmana, yang berjudul Vaisesika dan Nyaya, dan buku-suci Yoga Vasischta, semuanya membicarakan soal susunan unsur.
Ada dunia luas di dalam kehampaan setiap atom, yang berbeda-beda seperti debu di dalam sinar cahaya matahari.
Dengan pena seorang penyair, penulis tanpa nama dari Yoga Vasishta menguraikan susunan atom secara mentakjubkan. Akan tetapi perumusan cendikiawan Hindu itu, Ulika, tidak sejalan. Menurut pendapatnya, 2.500 tahun yang lalu, maka segala sesuatu disusun dari unsur-unsur benih. Oleh karena lebih bijaksana daripada kita, dan karena sadar akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh tenaga atom, maka orang-orang jaman kuno itu tidak mengungkapkan rahasia-rahasia ilmu pengetahuan atom kepada umum untuk menjaga agar jangan sampai atom itu digunakan untuk maksud-maksud pembinasaan.
Lebih dari seribu tahun yang lalu, seorang Cina menulis: Adalah merupakan suatu perbuatan dosa terbesar, kalau kita membuka rahasia ilmu pengetahuan kita kepada para perajurit.
Dunia Seakan-akan Digetarkan Oleh Demam.
Orang-orang kuno mengetahui persoalan atom, akan tetapi, apakah mereka mampu untuk mengadakan peledakan atom
Para sarjana telah menggunakan banyak waktu untuk dapat memberikan jawaban yang tepat mengenai pertanyaan itu, sebelum diketemukannya sebuah tulisan Hindu Drona Parva, yang memberikan uraian tentang peledakan bom atom sebagai berikut:
Sebuah proyektil, yang menyala dengan kilauan api tanpa asap, diluncurkan. Suatu kegelapan-pekat tiba-tiba menggelapkan langit. Asap-awan mengguntur di udara teratas, dan melepaskan suatu guyuran darah. Terbakar oleh panasnya senjata itu, dunia seakanakan gemetar karena terserang demam.
Golongan orang-orang tidak baik, akan merasa heran dan terkejut mengenai tingginya ilmu pengetahuan kuno, akan tetapi para sarjana modern jaman sekarang, misalnya akhli ilmu alam Frederick Soddy, bertanya pada diri sendiri sebagai berikut: Apakah kita dalam ceritera-ceritera kuno itu tidak dapat menemukan hal-hal, yang dapat membenarkan pendapat, bahwa manusia-manusia pendahulu suatu bangsa yang sudah dilupakan, bukannya hanya memiliki tingkat ilmu pengetahuan yang baru akhir-akhir ini kita peroleh, melainkan juga mempunyai kekuatan, yang kini belum kita punyai
Bekas-bekas adanya radio-aktivitet buatan memang benar-benar telah diketemukan di banyak bagian di dunia selama diadakannya penggalian-penggalian di daerah-daerah bangunan purbakala. Di India, suatu kerangka telah digali kembali, yang menunjukkan adanya suatu tenaga radio-aktif yang kuat. Penemuan itu akan menguatkan pendapat, bahwa dalam jaman pra-sejarah telah ada ledakan-ledakan atom.
Sebuah Kapal-laut Hilang Beserta awak-kapal dan Muatannya, Setelah Lepas dari Pantai Pulau Malta.
Beberapa orang akhli-gaib tertentu tetap berpendapat, bahwa banyak di antara mumimumi diisi dengan tenaga radio-aktif, dan bahwa semua penyakit, yang diderita oleh para akhli tentang Mesir, bersumber pokok pada adanya sinar radio-aktif. Dan, untuk menguatkan pendapat mereka itu, mereka menunjuk pada dua buah bukti, yang menentukan, yaitu dua buah kecelakaan tenggelamnya kapal laut, yang terjadi dalam keadaan yang sungguh-sungguh aneh.
Peristiwa, yang pertama, terjadi pada permulaan abad ke 19. Dalam tahun 1821, seorang jenderal Prussia, von Minutoli, pergi ke Italia dengan disertai oleh seorang insinyur Italia, yang bernama Segato. Selama lebih dari satu tahun dia menyelidiki piramida bertingkat di Sakkara, yang, sebagaimana kita ketahui, telah dibangun oleh Imhotep atas perintah Pharaoh Djoser. Dia berhasil memasuki beberapa ruangan dalam piramida di sana dia telah banyak mengumpulkan benda-benda perlengkapan makam, seperti benda-benda ajimat, lambang-lambang kegaiban, barang-barang mebel dan lembaran-lembaran papirus. Pada tanggal 7 Oktober 1822, di sebuah lorong besar dalam piramida, dia menemukan sebuah peti mati yang pecah, yang di dalamnya terdapat mumi Raja Djoser, atau salah seorang terdekatnya.
Pada akhir tahun 1822, von Minutoli memuat benda-benda yang tak terhitung banyaknya, yang telah ia temukan di Sakkara, dalam sebuah kapal yang telah disewa oleh Raja Prussia. Terjadilah kemudian suatu perdebatan atara para akhli purbakala Prussia di satu fihak dan para penguasa Mesir di lain fihak. Salah seorang petugas Mesir, yang berkewajiban mengawasi benda-benda purbakala, berusaha menasehati von Minutoli agar supaya jangan membawa pergi muminya, dengan kata-kata sebagai berikut:
Anda menanggung menghadapi suatu bahaya yang serius. Banyaklah sudah terjadi kecelakaan yang sangat membahayakan; setiap orang, yang telah mengangkut sebuah mumi, telah menjumpai kesulitan yang membahayakan .
Akan tetapi von Minutoli merupakan seorang ilmiah, dan selalu bertindak berdasarkan pikiran sehat; adalah bertentangan dengan sifatnya, untuk percaya demikian saja pada ceritera-ceritera kuno, yang tak masuk akal. Demikianlah mumi itu tetap diangkut ke atas kapal, yang kemudian mengangkat sauh dan mulai berlayar pada tanggal 3 Januari 1823.
Pada tanggal 10 Januari 1823, von Minutoli, yang tetap tinggal di Kairo untuk melanjutkan penyelidikannya, mendengar, bahwa kapal pengangkut mumi itu telah hilang dengan semua awak kapal dan muatannya setelah lepas dari pantai pulau Malta.
Tenggelamnya Kapal Titanic Yang Misterius.
Kecelakaan, yang ke dua, terjadi satu abad kemudian. Pada tanggal 14 April 1912, kapal Titanic, yang menjadi kebanggaan perusahaan angkutan laut White Star Line, pada waktu perjalanannya yang pertama dari London menuju New York, membentur sebuah gunung es di sebelah Selatan dari Newfoundland, dan tenggelam dengan sebagian besar awak kapal dan penumpang-penumpangnya.
Tenggelamnya kapal Titanic itu, yang masih tetap merupakan bencana pelayaran yang paling mengerikan dalam abad ini, menyebabkan kematiannya 1.675 orang manusia. Apakah yang sebenarnya telah terjadi
Bagaimanakah Raksasa Lautan Pasifik itu, yang pada waktu itu dianggap sebagai sebuah kapal laut yang paling indah, serta paling besar dan paling aman, di dunia, dapat mengalami nasib demikian buruk dan tenggelam Usaha-usaha penyelidikan, yang kemudian diadakan, tidak pernah berhasil untuk menjelaskan sepenuhnya sebab-musabab bencana itu.
Jadi, para penyelidik tidak pernah dapat menemukan sebab-sebabnya, mengapa Kapten Smith, yang memegang komando atas kapal itu, bertindak demikian aneh. Smith merupakan seorang pelaut yang hebat, sangat berpengalaman dalam perjalanan pelayaran mengarungi samudera, dan dia mengenal jalan-laut dari London ke New York seperti telapak tangannya sendiri. Akan tetapi, pada hari terjadinya bencana itu, dia mempunyai tindak-perbuatan yang sangat aneh, di antaranya yang paling jelas adalah, bahwa dia telah mengambil jalan yang tidak umum dan telah berlayar dengan kecepatan melampaui batas; dan lagi, bahwa dia, secara tidak masuk akal, tidak mau minta pertolongan kapal lain, yang berlayar juga di daerah itu. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah adanya kenyataan, bahwa para penyelidik telah dapat mengumpulkan keterangan dari para penumpang, yang tidak menjadi korban bencana, bahwa Kapten Smith tidak memberitahukan cara menyelamatkan diri sampai pada saat yang terakhir.
Segala sesuatunya menunjukkan, bahwa Kapten Smith telah kehilangan kesadarannya.
Walaupun demikian, semua kenyataan itu sama sekali belum memberikan suatu penjelasan. Kenyataan-kenyataan itu malahan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain. Apakah sebenarnya yang menimbulkan keadaan, di mana Kapten Smith seakan-akan kehilangan ingatan itu Dalam suatu usaha maksimal untuk menemukan suatu penjelasan, yang masuk akal, mengenai kejadian-kejadian aneh itu, beberapa orang wartawan, yang telah ditunjuk untuk mengikuti penyelidikan sebab-musabab bencana itu, berhasil mengemukakan suatu dugaan, yang sangat mengejutkan.
Pada waktu terjadinya bencana itu, Titanic mengangkut 2.200 orang penumpang, 40 ton kentang, 1.200 botol aer-belanda, 7.000 karung kopi, 3.500 butir telor, dan lain-lainnya .... dan sebuah mumi Mesir.
Mumi itu adalah milik seorang pengumpul Inggris, Lord Canterville, yang menyuruh mengangkutnya dari London ke New York, di mana sedang diadakan pameran bendabenda Mesir kuno. Mumi itu adalah mayat seorang tukang ramal, yang hidup dalam jaman Amenophis IV; makamnya telah diketemukan di Tell el-Amarna.
Mumi itu, seperti halnya mumi-mumi Mesir lainnya, mengenakan sangat banyak bendabenda ajimat. Terutama di bawah kepalanya, terdapat sebuah amulet, yang berisi gambar Dewa Osiris, disertai tulisan, yang berbunyi sebagai berikut: Bangunlah dari tidur anda, yang nyenyak; sorot mata anda akan mengalahkan segalanya, yang dilakukan terhadap anda.
Tambahan lagi, benda antik itu, karena nilainya yang luar biasa, tidak dimuat dalam ruangan barang-barang. Ditutup rapat dalam sebuah peti kayu, yang kokoh kuat, mumi itu ditaroh di belakang tempat komando Kapten Smith.
Dalam Magic Egypt (= Mesir yang gaib), London tahun 1961, John Newbargton menulis sebagai berikut: Mummi itulah, yang menyebabkan kegilaan Kapten Smith. Mumi itu pasti diperlengkapi dengan sistim perlindungan berdasarkan pemancaran radioaktif, yang juga telah merusak semua alat pelayaran dari kapal Titanic .
Apakah Lantai Makam-makam Mesir Dilumuri Dengan Uranium
Selanjutnya John Newbargton menyatakan, bahwa orang-orang Mesir, sejak permulaan jaman Kerajaan Kuno, telah menjadi akhli di bidang pengambilan dan penggunaan uranium. Dan, menurut pendapatnya, rahasia mengenai kutukan para Pharaoh yang tersohor itu, terletak di situ. Walau kelihatannya terlalu berlebih-lebihan, namun pendapat dan dugaan Newbargton itu telah diperkuat oleh seorang akhli atom Spanyol termasyhur, Luis Bulgarini.
Dalam tahun 1949, Bulgarini berkata sebagai berikut: Saya kira, bahwa orang-orang Mesir kuno telah mengetahui hukum-hukum mengenai tenaga radio-aktif. Orang-orang cerdik pandai dan para pendeta mereka tentu sudah mengenal uranium. Mudahlah dibayangkan, bahwa mereka menggunakan pengetahuan mereka itu untuk melindungi benda-benda, yang mereka anggap suci. Mereka dapat juga melumuri lantai makammakam dengan uranium, atau mungkin juga mereka telah menggunakan batu-batu bangunan, yang mengandung radium, yang telah mereka ambil dari lapisan bumi yang mengandung uranium. Tenaga radio-aktif dari uranium itu mungkin masih mampu membunuh orang pada jaman sekarang, atau setidak-tidaknya mengganggu kesehatan badan.
Lembah Tambang-Tambang Emas.
Para pemuka teori yang sangat berani itu, berpendapat, bahwa beberapa dokumen, yang berasal dari jamannya para Pharaoh, membuktikan bahwa orang-orang Mesir kuno telah membuka tambang di negeri mereka, dan telah mengambil sejumlah besar emas dari galian mereka. Karena emas dan uranium terdapat dalam susunan batu karang yang sama, maka merupakan suatu kepastianlah, bahwa mereka telah juga mengambil uranium.
Beberapa papirus menyebut tambang-tambang, yang dibuka dan dikerjakan sejak permulaan jaman kuno. Salah satu dari tambang-tambang itu terletak di dekat desa kecil Oumgrayat, yang pada jamannya para Pharaoh disebut Akita. Lagi pula, tambang itu jauh daripada habis isinya: tambang itu kini masih ada, dan para akhli memperkirakan, bahwa sepanjang jaman kuno itu telah seratus ribu ton biji logam diambil dari lorong-lorong di bawah tanah itu.
Sebuah papirus, yang sekarang disimpan di Museum Turin, minta perhatian tentang adanya tambang-tambang di Akita, dan menunjuk pada gunung-gunung, dari mana telah diambil emas. Menurut dokumen itu, Pharaoh Seti I telah menyuruh mengambil emas dari gunung-gunung merah itu kira-kira pada tahun 1400 sebelum Masehi.
Di samping itu semua, sebuah tulisan kuno, yang diketemukan di dekat desa Kouban, memberikan uraian terperinci mengenai gagalnya suatu usaha untuk membuka tambang pada jaman pemerintahan Ramses II. Tulisan itu menyebut, bahwa usaha itu dilakukan di suatu daerah, yang disebut Lembah tambang-tambang emas.
Emas Dalam Keadaan Berlimpah-limpah Di Mesir
Dalam Jaman 3000 Sampai 2000 Tahun Sebelum Masehi
Memang bukan papirus, atau dokumen jaman kuno, atau tulisan kuno, yang menyebut secara jelas nama uranium, dan juga tidak ada disebut secara tegas tentang adanya hukum-hukum radio-aktivitas. Akan tetapi tidak sulitlah untuk menggambarkan, bahwa orang-orang Mesir kuno menggunakan nama-nama lain untuk uranium. Bagaimanapun juga, adanya dan berlimpahlimpahnya endapan-endapan, yang mengandung emas, di Mesir pada jamannya para Pharaoh, seharusnya merupakan peringatan bagi kita, untuk tidak membuang teori dan pendapat itu dengan pandangan rendah.
Penggalian-penggalian tertentu, yang belum lama berselang diadakan, terutama yang telah dilakukan oleh seorang akhli purbakala, yang bernama Quibell, telah menyebabkan diketemukannya beberapa buah batang emas di dalam makam-makam pra-sejarah, yang terdapat di dekat desa yang kini bernama El-Kab. Penemuan, yang sangat penting itu, memberikan bukti yang tidak dapat dibantah, bahwa orang-orang Mesir kuno sudah mengusahakan tambang-tambang emas, malahan mereka telah melakukannya pada jaman sebelum dibangunnya piramida-piramida yang megah.
Selain daripada itu, lembaran-lembaran emas, yang bertuliskan huruf-huruf, telah diketemukan di Tell el-Amarna. Setelah mengadakan penelitian yang saksama, seorang Amerika yang akhli mengenai soal-soal Mesir, menyatakan benda-benda itu sebagai surat-surat dari seorang raja Babilonia, yang ditujukan kepada Amenophis III; dalam surat itu raja Babilonia meminta sejumlah emas kepada Amenophis, yang dia butuhkan untuk pembangunan sebuah kuil, seperti yang telah dilakukan pada masa yang lalu, untuk ayahnya dan untuk Raja Kapadosia. Permintaan itu membuktikan dengan jelas, bahwa para Pharaoh sudah mempunyai persediaan emas dalam jumlah besar sejak jaman 3000 tahun sebelum Masehi.
Sebagaimana kita ketahui, emas dan uranium sering diketemukan dalam lapisan batukarang yang sama. Karenanya, tidak ada alasanlah untuk menolak teori, yang menyatakan, bahwa orang-orang Mesir kuno telah mengenal uranium dan hukum-hukum tentang radio-aktivitas. Hukum-hukum itu mungkin dirahasiakan, dan hanya diketahui secara terbatas di kalangan para pendeta dan akhli sihir; orang-orang itulah, yang kemudian, untuk melindungi mumi-mumi tertentu, mungkin telah menaroh benda-benda ajimat dengan radio-aktivitas, yang mampu membunuh mereka, yang hendak berbuat jahat terhadap makam-makam mumi itu.
Peta-peta Piri Rais Yang Mengagumkan.
Ilmu pengetahuan jaman kuno memasuki semua daerah di dunia; akhli-akhli tertentu menyatakan dengan tegas, bahwa nenek moyang kita mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang alam semesta dan benar-benar menguasai batas-batas daratan dari bumi kita.
Setelah diketemukannya peta-peta seorang laksamana Turki, yang bernama Piri Rais, maka para sarjana mulai mempunyai gambaran tentang luasnya ilmu pengetahuan pada jaman kuno. Apakah yang menyebabkan peta-peta itu bernilai demikian tinggi
Piri Rais menggambar peta itu dalam abad ke 16 berdasarkan 200 buah peta dari sebuah atlas kuno, yang disebut Bahriye atau Buku mengenai Lautan. Dua buah peta Piri
Rais, masing-masing dari tahun 1513 dan 1528, disimpan di Museum Nasional Turki.
Apa yang mengherankan mengenai peta-peta itu adalah, bahwa mereka menunjukkan adanya pengetahuan geografis yang terperinci, yang tidak ada pada jaman sebelum abad ke 19!
Peta, yang berasal dari tahun 1513, menggambarkan pantai Perancis dan Spanyol, sebagian dari Amerika Selatan, Laut Atlantik dan bagian Barat dari Afrika. Peta tahun 1528 menunjukkan gambar Gronland, Labrador, sebagian dari Kanada, New foundland dan sebagian dari pantai Amerika Utara.
Pada waktu itu bagaimanakah luas pengetahuan kita tentang ilmu bumi Para penyelidik Dunia Baru, Christopher Columbus, Vespucci dan Magellan, telah menemukan kepulauan Bahama, Porto Rico dan Haiti dari tahun 1492 sampai tahun 1498, pantai Brasilia dalam tahun 1501, dan Laut Pasifik dalam tahun 1519.
Walaupun demikian, namun Meksiko, yang baru diketemukan dalam tahun 1520, dan Peru, yang baru diketemukan dalam tahun 1531, sudah terdapat pada peta tahun 1513, yang dibuat oleh Laksamana Turki itu! Antarktika atau Kutub-Selatan, yang baru diselidiki dan dipelajari dalam abad ke 19, dan yang kini masih tetap menjadi obyek penyelidikan, SUDAH tergambar pada peta tahun 1528 buatan Piri Rais!
Apakah Christopher Columbus Telah Menggunakan Peta-peta Piri Rais
Siapakah yang merencanakan peta-peta Piri Rais Jawabannya mungkin dapat diketemukan dalam ulasan, yang ditulis oleh Laksamana Turki itu, mengenai atlas Bahriye.
Dalam suatu pertempuran di laut melawan Spanyol dalam tahun 1501, Rais telah menangkap seorang pelaut Spanyol, yang membawa peta-peta yang jarang terdapat. Ketika ditanyai, si pelaut itu menjelaskan, bahwa dokumen-dokumen itu digunakan oleh
Columbus pada waktu dia menemukan Amerika, dan bahwa dokumen itu berasal dari
sebuah buku dari jaman Alexander Yang Agung. Setelah membaca buku itu, Christopher Columbus berangkat, dan menemukan kepulauan Antillen dengan menggunakan kapal-kapal beserta awak kapalnya, yang telah dia peroleh dari Pemerintah Spanyol.
Riwayat itu, yang pada umumnya sesuai dengan laporan-laporan resmi tentang adanya seorang pelaut Spanyol bernama Alonso Sanchez de Huelva, yang memberi keterangan kepada Columbus mengenai benua Amerika, yang telah dia ketemukan sendiri sebelum Columbus telah diakui sendiri kebenarannya oleh Laksamana Piri Rais sebagai berikut:
Untuk merencanakan peta ini, saya telah menggunakan sebagai bahan kira-kira sejumlah 20 buah peta kuno dan 8 buah Mappa Mundis, atau dalam bahasa Arabnya Jaferiye, yang dibuat dalam jamannya Alexander Yang Agung, dan yang menggambarkan seluruh daratan bumi yang berpenghuni
Dengan demikian, maka peta-peta itu sebenarnya berasal dari jaman pra-sejarah, dan merupakan petunjuk bagi perhubungan-laut antar benua, yang tentunya telah mencapai tingkat perkembangan yang jauh lebih tinggi daripada dugaan umum.
Karenanya, maka atlas Bahriye, yang telah digunakan oleh Piri Rais sebagai bahan dasar bagi pembuatan petanya, sebenarnya hanyalah merupakan turunan dari peta-peta yang jauh lebih kuno lagi.
Bagaimanakah dapat terjadi, bahwa manusia telah membuat peta-peta seperti itu, pada jaman ribuan tahun yang lalu Seorang akhli membuat peta bangsa Amerika, yang bernama Arlington Mallery, telah membuat suatu kesimpulan, yang mengejutkan, sebagai berikut: Peta-peta ini tidak akan mungkin dibuat dengan ketepatan yang demikian cermat, tanpa adanya tuntutan hasil pengintaian dari udara! .
Peta-peta Cakrawala, Yang Dipahat Pada Batu.
Kalau demikian, apakah mungkin orang-orang angkasa luar, yang membawa peta-peta itu dan kemudian memberikannya kepada orang-orang bumi jaman kuno Ataukah memang nenek moyang kita sudah mempunyai pengetahuan tentang astronomi.... dan juga tentang ilmu penerbangan
Para akhli purbakala telah menemukan jejak tentang semangat dan nafsu, yang dirasakan oleh manusia jaman pra-sejarah, untuk mempelajari cakrawala. Kita telah menemukan ukir-ukiran peta cakrawala di La Filouziere, Vendia dan Britania. Lobang-lobang kecil, yang dibuat pada batu-karang, melukiskan gambar susunan
bintang Waluku dan Kartika. Bekas-bekas gambaran atau ukiran lain terdapat di Goutzi di Ukraine, di Canchal de Mahoma dan di Bri-de-las-Vinas di Spanyol. Beberapa buah di antara yang sangat tua, berasal dari jaman 35.000 tahun sebelum Masehi.
Pengetahuan itu dibawa dan diteruskan oleh orang-orang Yunani kuno.
Pada waktu terjadi pembicaraan antara Solon dengan seorang Mesir, yang tua dan bijaksana, si orang tua itu menceriterakan secara panjang lebar kepada Solon, sebuah ceritera kuno tentang Phaethon, putera Helios (= Matahari) dan peri laut Climene. Phaethon mendapat idzin dari ayahnya untuk mengendarai Kereta Perang Matahari selama satu hari. Dia memegang tali-kekang kuda-kuda angkasa itu. Akan tetapi, karena ketakutan melihat pemandangan susunan bintang Bimasakti di langit, maka dia kehilangan pengamatan atas keretanya, yang menukik turun terlalu rendah dan membakar gunung-gunung, kemudian meluncur ke atas lagi dan berada dalam bahaya bertubrukan dengan susunan bintang-bintang. Pada saat itulah Zeus, yang takut kalau alam semesta akan hancur, menghantamnya dengan halilintar.
Orang tua bijaksana dari Mesir itu memberikan arti kepada ceritera kuno itu sebagai berikut: Apa yang tadinya kenyataan, kini menjadi dongeng kuno. Akan tetapi ceritera itu berarti, bahwa badan-badan cakrawala telah menyimpang dari perjalanan biasanya, dan bahwa terjadi kebakaran-kebakaran besar di bumi, yang akan selalu terjadi lagi pada waktu-waktu tertentu.
Hal itu telah dibuktikan oleh ilmu-pengetahuan geologi dewasa ini: Sebuah meteorit yang sangat besar, yang jatuh di Arizona 50.000 tahun yang lalu, menimbulkan suatu ledakan dahsyat, yang menyebabkan terbentuknya kawah Barringer dengan ukuran lebar 1.600 meter. Seperti itu juga, di Kanada, kawah Chubb, yang berukuran lebar 3.220 meter, ditimbulkan oleh suatu kecelakaan-bintang lain, yang terjadi 30.000 tahun yang lalu
Seorang Cina Telah Berada Di Bulan 4.300 Tahun Sebelum Datangnya Orang-orang Rusia Dan Amerika.
Orang-orang jaman pra-sejarah, dengan menggunakan pengetahuan mereka di bidang astronomi, mungkin telah mampu mengadakan penyelidikan-penyelidikan di ruang angkasa.
Jalannya sangat panjang, dan seakan-akan dibungkus dalam kegelapan, demikianlah diterangkan oleh Chu Yan, seorang penyair bangsa Cina dari abad ke 3 sebelum Masehi. Dalam riwayat Cina kuno diceriterakan soal petualangan yang luar biasa dari Hou Yih, seorang insinyur dalam jaman kerajaan Yao, yang memutuskan 4.300 tahun yang lalu, untuk pergi ke bulan dengan naik burung kahyangan. Selama dalam perjalanan, burung itu menunjukkan kepada si petualang saat-saat yang sebenarnya tentang terbitnya matahari, titik tertinggi yang dicapai matahari, dan terbenamnya matahari. Setelah itu,
Hou Yih menjelaskan, bahwa dia terus berlayar mengikuti aliran udara yang bercahaya. Apakah yang dimaksud dengan aliran itu mungkin tempat pengeluaran gas sebuah roket
Dia tidak lagi merasakan gerakan berputar dari matahari, berkata yang punya ceritera. Para astronaut jaman sekarang mengatakan, bahwa tidak mungkinlah untuk mengetahui dengan tepat perjalanan matahari setiap harinya, kalau kita berada di angkasa-luar.
Dan apakah yang telah dilihat oleh insinyur Cina itu di bulan Dia melihat tepi-langit yang tampaknya membeku. Untuk melindungi diri terhadap udara yang membeku, dia membangun Istana yang sangat dingin . Isterinya, Chang Ngo, menyusulnya ke satelite, yang digambarkannya sebagai sebuah bola bercahaya, yang berkilauan seperti kaca, berukuran sangat besar, dan yang sangat dingin keadaannya.
Semua yang dilihat dan dialami oleh para petualang ruang angkasa jaman pra-sejarah, adalah cocok dengan apa yang dialami oleh para astronaut modern.
Kumpulan Dongeng-dongeng Kuno , yang diceriterakan pada jamannya Hou Yih dan Chang Ngo, menyinggung soal adanya kapal udara di laut pada siang maupun pada malam hari. Kapal itu dapat berlayar di laut, dan juga dapat terbang di udara dengan sama baiknya; keadaan itu menunjukkan tentang adanya suatu ilmu pengetahuan teknik, yang setidak-tidaknya, sama majunya dengan pengetahuan kita.
Penyair Chu Yan, yang sudah kita kenal, memberikan suatu gambaran tentang kemungkinan diadakannya perjalanan antar-bintang: Saya berseru kepada pengendali matahari untuk berhenti. Dan sebelum sinarnya yang terakhir, kami mempercepat keberangkatan kami. Jalannya sangat panjang, dan seakan-akan dibungkus dalam kegelapan. Dan selama waktu itu saya cepat-cepat menuju ke impianku yang hilang.
Rahasia Api Abadi Di Pemandian-panas Jaman Pra-sejarah.
Sayangnya, tulisan syair, yang baru saja kita baca, tidak menguraikan secara teknis cara bekerjanya kapal-kapal ruang-angkasa pada jaman itu.
Mengenai persoalan itu, Andrew Thomas mengakui, bahwa Haman de Sheikh Bahai telah mewariskan kepada kita sebuah gambaran mengenai tempat pemandian umum Isfahan di Persia jaman kuno, dan, mungkin agak aneh, uraian itu mungkin dapat menolong kita untuk memecahkan rahasia misteri itu.
Dia melanjutkan: Tempat-pemandian yang luas itu diperlengkapi dengan air panas oleh sebuah bangunan, yang terdiri dari sebuah tungku terbuat dari logam istimewa, yang hanya membutuhkan api lilin saja untuk memanasinya. Apakah logam itu merupakan suatu campuran yang tidak kita kenal Atau, mungkinkah ada suatu mekhanisme tertentu, yang dapat memperbesar daya-panas api-lilin dengan seribu kali lipat atau lebih.
Pendapat itu dikuatkan oleh pengumuman Isfahan, yang diterbitkan oleh pemerintah Iran Di Teheran dalam tahun 1962, dan yang kemudian dikutip oleh si penulis Australia Andrew Thomas itu sebagai berikut:
Sangat boleh jadi, seseorang menggali ke dalam dasar-tungku, dan menemukan rahasianya; dengan pemecahan rahasia itu, pada suatu ketika akan diketemukan caranya menimbulkan api-abadi, yang akan dapat digunakan sebagai bahan-bakar bagi roket-roket bulan.
Para Dewa, Yang Sering Mengunjungi Bumi.
Mungkin dapat diperoleh sekedar penjelasan mengenai persoalan itu dalam kebudayaan bangsa Hindu.
Dalam tulisan-naskah Samaranagama Sutradhara disebut soal makhluk-makhluk kahyangan, yang turun ke bumi; mungkinkah ada hubungan antara peradaban, yang jauh ini, dan dunia tertentu di angkasa-luar
Menurut Professor Hariyappa dari Universitas Misore, maka Dewa-dewa itu sering turun ke bumi, dan beberapa orang mempunyai hak istimewa untuk mengunjungi para Dewa itu di langit. Dalam mempelajari Rig Veda, sebuah naskah suci lain di India, Professor Hariyappa mengatakan adanya kemungkinan saling hubungan antara semua planit pada jaman yang telah jauh berlalu.
Manuskrip Hindu Mahabharata menyinggung adanya kehidupan di lain-lain planit sebagai berikut: Tidak terbataslah luasnya ruangan, yang dihuni oleh makhluk-makhluk sempurna dan Dewa-dewa. Tempat tinggal mereka, yang sangat indah, tidak ada batasnya.
Akan tetapi, kalau para Dewa - atau makhluk-makhluk ruang angkasa pernah turun ke bumi untuk mengajarkan secara serius ilmu pengetahuan tinggi kepada manusia pada jaman ribuan tahun yang lalu, mengapakah kita sekarang tidak dapat lagi mengadakan hubungan dengan mereka
Di Negeri Orang-orang, Yang Mengetahui Segala-galanya.
Ilmu-pengetahuan, menurut dongeng yang ada, yang dimiliki oleh manusia pra-sejarah, dinyatakan telah mencapai tingkat ketinggian yang benar-benar mengagumkan.
Dalam hubungan itu, ceritera kuno mengenai Apollonius dari Tyana, memberikan gambaran baru tentang misteri Ilmu-pengetahuan pada jaman pra-sejarah.
Siapakah Apollonius itu Riwayat hidup luar biasa dari orang mengagumkan itu, ditulis oleh Praetor Philostratus atas perintah Ratu Romawi Julia. Menurut penulisnya, Apollonius di lahirkan dalam tahun empat sebelum Masehi, di Kapadosia. Pada waktu masih sangat muda, dia telah membuktikan mempunyai kecerdasan otak, yang jauh melebihi kecerdasan orang pada umumnya, dan guru-gurunya selesai melengkapi pendidikannya ketika dia berumur empat-belas tahun; dia telah memiliki pengetahuan yang sangat luas. Pada usia 16 tahun dia mengucapkan janji, yang menyebabkan dia dapat diterima di Sekolah Pythagoras.
Perjalanannya yang lama dan luar-biasa, yang penuh dengan kejadian-kejadian aneh, ketika seorang pendeta Apollo memberikan kepadanya sebuah peta, yang diukir pada tembaga, yang menunjukkan jalan ke Kota para Dewa, suatu daerah di Tibet-India; menurut orang-orang Yunani, di situlah tempat tinggal orang-orang, yang mengetahui segala-galanya.
Dengan bekal peta, yang dia miliki, filosof Yunani yang bernama Apollonius itu, memulai perjalanannya. Setelah sampai di Nineveh, dia berjumpa dengan seorang lakilaki muda bernama Damis, yang menawarkan diri untuk menjadi penunjuk-jalannya. Setapak demi setapak, pada waktu ke dua orang itu mendekati tempat-tujuan, terjadilah peristiwa-peristiwa yang luar-biasa; jalan di belakang mereka kelihatannya lenyap mencair, dan daerah pedusunan tampak bergerak mengalir.
Pada suatu hari mereka berjumpa dengan seorang anak laki-laki, yang menyapa mereka dalam bahasa Yunani sebagai berikut: Selamat datang kepadamu, Apollonius. Pemimpin kami, Larchas, telah menantimu.
Orang muda pandai-bijaksana itu menjumpai seribu hal yang aneh-aneh: Lobang-lobang, yang mengeluarkan lajur-lajur terang, seperti proyektor; batu-batu yang memancarkan sinar dalam gelap, yang menerangi kota, dan yang mendadak menjadi gelap.
Akan tetapi, apa yang paling aneh baginya adalah soal melayang-layang di udara, dan adanya sebuah pesawat yang mematuhi semua perintah orang-orang Tibet itu.
Philostratus menggambarkan robot-robot itu sebagai berikut: Didorong oleh kekuatankemauan, mereka berpindah-pindah tempat di sekitar tempat yang suci, digerakkan oleh dirinya sendiri, mereka menanggapi isyarat-isyarat, yang bagaimana kecilnya-pun, dari para Dewa.
Melihat keheranan Apollonius, Larchas berkata kepadanya: Engkau sekarang berada di antara orang-orang, yang mengetahui segala-galanya.
Para Penguasa-gaib Dari Alam-semesta.
Siapakah orang-orang, yang mengetahui segala-galanya itu Menurut Apollonius, mereka hidup di bumi dan di luar bumi, pada waktu yang sama. Apakah uraian itu harus kita artikan, bahwa mereka selalu mengadakan hubungan dengan peradaban angkasa luar
Pengertian itu mungkin dapat menjelaskan ucapan aneh, yang dikatakan oleh Larchas: Alam-semesta merupakan sesuatu yang hidup.
Akan tetapi saatnya telah tiba bagi filosof Yunani itu, untuk barangkat. Dia menempuh jalannya kembali, setelah dia menerima tugas untuk membebaskan daerah Barat dari kekuasaan Romawi.
Marilah kita mengikutinya lebih lanjut. Ketika dia sampai di Roma, yang berada di bawah pemerintahan Nero, dia diajukan ke muka pengadilan. Apa yang dia katakan, terdengar aneh bagi orang-orang Romawi, yang menuduhnya sebagai seorang pengacau. Ketika Jaksa membuka rontal (= surat gulungan), di mana tertulis tuduhan-tuduhan terhadap Apollonius, terjadilah suatu keajaiban: dokumen itu ternyata bersih tidak ada tulisannya!
Apollonius dibebaskan dengan segera, dan setelah itu dia selalu diperlakukan oleh orangorang Romawi dengan hormat dan rasa takut.
Di bawah pemerintahan Domitian, Apollonius, yang terus-menerus dituduh melakukan kegiatan-kegiatan anti-Romawi, diajukan lagi ke depan Pengadilan: Anda boleh menahan badan saya, akan tetapi jiwa saya tetap bebas, demikianlah dia berteriak kepada Kaisar Domitian, dan lagi, badan saya pun anda tidak dapat menahan. Setelah ucapannya itu, dia menghilang dengan suatu kilatan cahaya.
Dengan demikian berakhirlah sudah riwayat hidup Apollonius. Tidak ada yang mengetahui, apa yang selanjutnya terjadi dengan dia, setelah keadaan yang tidak masuk akal itu.
Mungkinkah dia telah naik ke cakrawala, dan berdiam di sana, di antara para penguasa gaib dari alam-semesta
Yang menguatkan adanya kemungkinan itu adalah adanya dua kenyataan, yaitu, bahwa Kaisar Romawi Karakalla mempersembahkan tempat-suci kepadanya, dan bahwa dia dipuja sebagai Dewa di Ephesus dalam abad ke III.