HAKIKAT DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB TERHADAP PEMERINTAHAN UTSMANI - 3
Beberapa sosok syetan berwujud manusia dari orang-orang Eropa berpikir tentang akibat yang akan menimpa mereka, jika pemerintahan Saudi periode awal ini memperluas pengaruhnya. Mereka melihat bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintahan Sa'ud akan mengancam kepentingan mereka di kawasan Timur secara umum. Oleh sebab itulah, tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan pemerintahan ini. Merekapun menempuh berbagai cara untuk menghancurkan pengaruh dakwah Salafiyah ini. Di antaranya adalah;

Pertama: Penebaran publik opini di tengah negeri Islam melawan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka bangkitlah orang-orang yang berkeyakinan dengan bid'ah dan khurafat, bangkit melawan dakwah yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Perlawanan ini bukan hanya datang dari satu sisi atau dari satu pihak tertentu, melainkan dari semua sisi. Serangan ini datang dari para Syaikh yang memegang pengaruh yang diberikan orang awam dan orang-orang bodoh pada mereka, mereka menginginkan terus melanjutkan bid'ah-bid'ah dan khurafat itu dengan sangkaan bahwa itu semua adalah bagian dari agama. Serangan juga datang dari para pemuja kuburan, dari orang yang banyak mengambil faedah dari kotak-kotak orang yang bernadzar, datang dari orang yang menyandarkan hidupnya atas makanan dan harta yang diberikan kepada mereka pada peringatan orang-orang yang meninggal dunia dan dari ziarah-ziarah. Datang juga dari orang-orang yang meyakini, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebarkan agama baru yang berttentangan dengan apa yang selama ini menjadi adat dan tradisi mereka. Orang-orang seperti ini bertebaran di mana-mana di seluruh pelosok pemerintahan Utsmani, bahkan di hampir semua belahan dunia Islam.. Ini semua terjadi setelah Inggris dan Perancis -musuh Islam itu- menyebarkan fatwa yang mereka ambil dari para ulama suu' (ulama jahat) yang memfatwakan bahwa yang didakwahkan oleh pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah rusak. [ ]

Kedua: Mereka menebarkan fitnah antara gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pemimpin pemerintahan Utsmani. Orang-orang Inggris dan Peranciss menebarkan racun ke dalam pikiran Sultan Mahmud II, bahwa gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bertujuan untuk memerdekakan Jazirah Arabia dan memisahkan diri dari Khilafahah Utsmaniyah kemudian setelah itu menyatukan dunia Arab serta mencabut panji khilafah daan kepemimpinannya dari pemerintahan Utsmani serta membangun Khilafah Arabiyah. Sultan merespon fitnah yang disebarkan musuh. Padahal tidak sepantasnya dia melakukan itu. Apa yang pantas dilakukan adalah, hendaknya dia meragukan nasehat bohong ini dan mengirimkan para pemuka pemerintahan untuk melakukan investigasi dan meneliti masalah ini. Sultan tidak menyadari bahaya dari pembenaran terhadap kabar keji yang diarahkan pada gerakan Islam yang murni. Sangat disayangkan dengan menuruti usulan-usulan musuh yang mengharuskan agar gerakan itu diberangus sebelum dia membesar. Pemerintahan Utsmani telah mengeluarkan biaya yang besar dan mengerahkan demikian banyak orang untuk memberangus gerakan ini. [13]

Pemerintahan Utsmani merencanakan langkah-langkahnya untuk memerangi pemerintahan Saudi periode awal. Mereka mulai menugaskan penyelesaian masalah ini pada beberapa gubernur yang bertetangga dengan pemerintahan Saudi. Langkah ini diambil dengan dua tujuan; (1) membendung perluasan wilayah Saudi di wilayah timur arab dan (2) untuk melemahkan gubernur-gubernur itu dan untuk mengeruk sumber penghasilan mereka hingga tetap menjadi gubernur yang lemah sehingga akan terus tunduk pada pemerintahan Utsmani. Maka untuk pertama kalinya, perintah untuk melawan pemerintahan Saudi diberikan kepada gubernur Baghdad sebab dia adalah gubernur yang paling dekat ke wilayah Najd. Namun sang Gubernur Baghdad sedang disibukkan dengan adanya guncangan yang terjadi di dalam negerinya. Tentaranya sangat lemah dan sangat tidak mungkin untuk melakukan serangan pada pemerintahan Saudi. Serangan mereka berkali-kali mengalami kegagalan, saat harus membendung serangan di perbatasan Irak. Maka pemerintah Utsmani segera mengarahkan pandangannya pada gubernur Syam dengan harapan dia bisa berhasil dan tidak mengalami kegagalan seperti apa yang dialami oleh gubernur Irak. Ternyata kegagalan yang diderita gubernur Syam jauh lebih menyedihkan dari apa yang dialami oleh rekannnya gubernur Irak. Tatkala pemerintahan Utsmani telah putus asa terhadap kekuatan para gubernurnya yang berada di Baghdad dan Syam [ ], dia mengalihkan pandangannya ke Mesir. Pemerintahan Utsmani meminta pada gubernurnya Muhammaad Ali pada tahun 1807 M., untuk melakukan serangan ke negeri Arab dengan tujuan "membersihkan dan membebaskan Haramain Syarifaian" dari tangan orangorang Saudi serta mengembalikan kekuasaan pemerintahan Utsmani yang hampir hilang di Jazirah Arabia. Namun Muhammad Ali tidak memenuhi permintaan pemerintahan Utsmani ini kecuali pada tahun 1811 M., setelah dia berhasil melepaskan diri dari para Beik Mamluk pada pembantaian Qal'ah. [ ]

Sesungguhnya para pengikut dakwah Salafiyah tidak pernah menuntut khilafah dan sama sekali tidak pernah mengatakan penentangan bahwwa dirinya tidak tunduk padanya. Namun sesungguhnya, perselisihan itu hanya ada dalam dua hat yang asasi. Pertama. permintaan para pengikut gerakan Salafi tentang adanya keharusan untuk komitmen para jemaah haji dalam berpegang teguh dengan manhaj Islam dan mencabut semua hat yang keluar dari manhaj Islam. Kedua, adanya perasaan pemerintahan Utsmani yang tidak berdaya di depan kekuasaan gerakan Wahhabi atas kota-kota Suci yang berada di Hijaz. Sebab mereka tahu, bahwa ketidakmampuan mereka ini berarti penurunan wibawa dan posisi mereka secara politik. [ ]

Al-Jabarati menerangkan bahwa sikap gerakan Wahhabi terhadap jama'ah haji yang datang dari Syam adalah, "Janganlah mereka datang kecuali dengan syarat yang telah disyaratkan atas mereka. Janganlah mereka datang dengan membawa usungan, gendang, suling dan senjata dan semua hat yang dianggap bertentangan dengan syariah. Maka tatkala mendengar itu semua, mereka kembali dan tidak jadi melaksanakan haji dan pada saat yang sama tidak meninggalkan kemungkaran-kemungkaran yang mereka lakukan. [ ] Dia juga menyebutkan sikap yang sama yang dilakukan oleh jamaah haji yang datang dari Mesir. [18]

Sedangkan perintah Sultan Utsmani hanya terbatas pada Muhammad Ali adalah tuntutan untuk memerangi pemerintahan Saudi dan dengan dorongan dari surat-surat yang dikirim oleh Syarif di Jeddah serta dengan adanya konspirasi dan dorongan yang demikian kuat dari Inggris untuk membebaskan Haramain serta memberikan nasehat untuk rakyat dan para pelaku bisnis. [ ] Permintaan itu berulang dan masih berkisar pada tuntutan agar Haramain dibebaskan. Setelah kekuatan militer mampu menguasai negeri Hijaz, dan setelah mengalami beberapa kali kekalahan saat berhadapan dengan pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Sultan Mahmud II mengirimkan sebuah edaran ke Mesir yang dibacakan di mesjid yang menyebutkan bahwa Haramain telah bisa dikuasai kembali. [ ] Ini semua memberikan petunjuk bahwa Sultan Utsmani tidak memiliki tujuan lain kecuali hanya untuk mengembalikan Hijaz ke dalam pangkuan pemerintahan Utsmani.

Sangat mungkin peperangan terhenti hingga di sini, sebab kekuatan Muhammad Ali telah menguasai kota-kota di Hijaz. Dan Muhammad Ali setelah itu diangkat untuk menjadi penguasa baru di Hijaz yang membuatnya harus pergi meninggalkan Mesir menuju Hijaz, dan tragisnya lagi dia mengusir Syarif Ghalib yang telah membantu pasukannya dan telah membantunyya untuk bisa memasuki Hijaz. [ ] Sementara itu, para pemimpin dakwah Salafiyah Saudi telah menawarkan proses damai pada Muhammad Ali. Namun Muhammad Ali memberikan syarat yang sangat sulit untuk direalisasikan. Dalam penolakannya itu juga terkandung ancaman. Al-Jabarati meriwayatkan apa yang dikatakan oleh Muhammad Ali dengan mengatakan; "Adapun perjanjian damai itu kami tidak segan menerimanya, namun dengan beberapa syarat. Yaitu hendaknya belanja perang yang kami gunakan sejak awal perang hingga surat perjanjian itu ditandatangani, diganti. Semua yang diambil dari mutiaramutiara dan harta simpanan yang ada di dalam kamar yang mulia juga harus dibawa. Demikian juga harga barang yang telah mereka belanjakan harus dibawa. Barulah setelah itu datang menemui saya dan melakukan perjanjian dengan saya. Dan selesailah perjanjian damai setelah itu. Namun jika ini tidak dipenuhi dan tidak mau datang dengan membawa apa yang kami minta...maka kami akan datang menemuinya."