Dalam khotbah tersebut, sang khatib memberikan contoh sebuah negara yang kaya raya dan dengan kebudayaan yang besar, yaitu Cina. Bapak perwira dengan sangat berapi-api mengatakan bahwa Cina adalah negara yang sangat kuat dan kaya, subur makmur, gemah ripah loh jinawi. Karena kuat dan kayanya, sangat banyak negara yang ingin mengeruk dan menguasai kekayaan Cina. Di antara negaranegara yang ingin menguasai Cina itu, Inggris adalah negara yang paling berambisi. Begitu tutur Pak Khatib yang perwira itu.
Namun, kata Pak Khatib, karena Inggris tidak bisa mengalahkan Cina, maka kemudian mengganti strategi; strategi menggunakan senjata diganti dengan strategi yang lebih halus. Inggris tidak menggunakan kekuatan senjata, tetapi mengganti perangnya dengan menggunakan narkoba, yaitu candu.
Maka menurut Pak Khatib, dimasukkanlah candu dalam jumlah besar dari Inggris ke Cina. Akibatnya, rakyat Cina menjadi malas. Mereka tidak lagi ingat kewajibannya untuk bekerja dan menjaga negara. Petaninya menjadi malas, pegawai negeri menjadi malas, bahkan tentaranya menjadi malas. Pendek kata, seluruh rakyat Cina, anak-anak hingga orang tua menjadi malas akibat efek dari candu atau ganja.
Karena semua warga negaranya menjadi malas, maka Cina pun akhirnya berhasil dikalahkan dan dijajah oleh Inggris. Untuk dapat merebut kembali kemerdekaannya, menurut Bapak Khatib yang terhormat, Cina harus dibantu oleh Negara Soviet atau Uni Soviet yang komunis itu. Sehingga setelah kemerdekaan dapat diraih, mereka harus menjadi negara komunis. Itulah efek narkoba bagi ketahanan dan pertahanan.
Luar biasa! Entah apa gerangan yang bertakhta di dalam ruang kesadaran khatib cum perwira tersebut sehingga dengan begitu yakin dan berapi-api, rangkaian logika yang sesat itu disampaikan tanpa keraguan sedikit pun. Dari mana rangkaian informasi itu diperoleh atau dipelajari oleh bapak perwira polisi yang menjadi khatib itu
Banyak hal fatal yang disampaikan dalam sebuah khotbah Jumat, di mana makmum akan menjalankan ibadah suci rutin setiap minggunya. Selain berbagai informasi sejarah yang jelas-jelas salah, perwira yang ditunjuk sebagai khatib Jumat dengan sangat enteng menyamakan candu dengan ganja. Parahnya, hal itu disebutkan berulang-ulang di dalam khotbah tersebut. Diulang, berapi-api, dan dengan sangat meyakinkan.
Ada kenyataan terang benderang yang dapat kita ambil dari peristiwa kampanye anti-narkotika tersebut. Khatib yang perwira polisi itu sedang menjalankan disinformasi, atau dia sendiri korban dari mekanisme besar dari disinformasi tersebut. Ironisnyadan ini yang patut mengundang prihatinperwira polisi itu menyiarkan pengetahuannya yang salah dan tidak bermutu tanpa ragu-ragu. Sebagai khotbah, apa yang disampaikannya sama sekali tidak membawa pencerahan. Khotbah itu telah keluar dari syarat khotbah Jumat yang agung, dengan demikian bisa jadi shalat Jumat siang itu tidak sah secara syarat teologis dari pandangan Islam. Dan sebagai kampanye anti-narkotika, apa yang disampaikan benar-benar bodoh, memalukan, dan menyedihkan!
Di Mana Letak Kesalahannya
Beberapa hal sembrono dalam khotbah tersebut antara lain:
Satu, Bapak nasionalisme Cina adalah Dr. Sun Yat Sen, seorang nasionalis dan bukan komunis. Partainya adalah Kuomintang, Partai Nasionalis Tiongkok dan bukan Partai Komunis. Dalam konteks pembangunan nasionalisme dan pembentukan Negara Cina yang merdeka, Dr. Sun Yat Sen yang nasionalis dan Kuomintang yang partai nasionalis menduduki tempat utama. Jadi bukan kaum komunis, apalagi komunis Soviet seperti kata bapak perwira.
Dua, dalam konteks sejarah kebudayaan, di hadapan Cina, Inggris ibarat anak kecil di hadapan kakek nenek buyutnya. Bukan dalam arti "hubungan darah" tetapi dalam pengertian "selisih umur". Inggris di hadapan sejarah kebudayaan Cina ibarat anak kecil yang gemar berteriak-teriak dengan congkak, di hadapan seorang yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan.
Sebagai bangsa dengan kebudayaan dan peradaban yang sangat tua, bangsa Cina sudah sejak ribuan tahun sebelum masehi mengenal berbagai zat psikoaktif (zat yang memabukkan) untuk berbagai maupun untuk keperluan medis atau pengobatan. Jadi adalah sesuatu yang sangat meremehkan jika khatib tersebut mengatakan bahwa bangsa Cina bisa "diracuni" dengan candu oleh Inggris.
Karena pengalamannya selama ribuan tahun berurusan dengan zat psikoaktif untuk berbagai keperluan, bangsa Cina adalah bangsa yang sudah sangat paham tentang penggunaan zat psikoaktif dalam kadar atau dosis yang tidak merugikan bagi tubuh dan kesehatan. Mereka bahkan adalah salah satu bangsa tertua yang berpengalaman mengolah berbagai tanaman kategori narkotika dalam skala dan kategori industri. Jadi rasanya Inggris tidak perlu "repot-repot" mendatangkan candu ke Cina. Apalagi dan ini yang luput dari pemahaman banyak orang termasuk bapak perwira polisi yang menjadi khatib itubangsa Cina lebih memilih untuk mengolah tanaman lain yang selain memiliki kandungan zat psikoaktif juga memiliki manfaat dan kegunaan lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Tanaman tersebut adalah ganja.
Hal tersebut mendasari kesembronoan ketiga yang disampaikan dalam khotbah itu. Dalam khotbah itu disampaikan tanpa beban, dengan tingkat simplifikasi yang benar-benar mengherankan, bahwa candu adalah materi yang sama dengan ganja. Persoalannya adalah apakah beliau benar-benar tidak tahu atau benar-benar tidak mau tahu Candu adalah entitas atau materi yang sama sekali berbeda dengan ganja.
Candu adalah bahan mentah opium dan berasal dari tanaman Papaver Somniferum. Sedangkan ganja adalah ganja. Candu adalah tanaman yang jahat bagi manusia karena jika digunakan terus-menerus akan menimbulkan berbagai efek bagi kesehatan. Jika seseorang mengonsumsi candu secara rutin dan kemudian berhenti, biasanya karena tidak ada pasokan, orang tersebut akan sakit. Sedangkan ganja adalah sahabat terbaik manusia. Jika ganja dikonsumsi terus-menerus secara teratur, ganja akan membawa kesenangan dan menghancurkan setiap kesedihan. Apabila seseorang dalam suasana hati yang senang, terbebas dari stres dan kesedihan, maka dia bisa berpikir dengan tenang, daya kreativitasnya akan lebih maksimal dan aktivitasnya bisa berjalan dengan baik. Dengan kata lain, pengguna ganja berpeluang atau berpotensi lebih produktif. Dan jika dia berhenti, tidak ada efek apa pun yang ditimbulkan bagi kesehatan.
Bangsa Cina juga lebih memilih ganja untuk dibudidayakan karena alasan lain. Ganja jelas lebih memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan keperluan medis. Namun bangsa Cina telah sejak lama memanfaatkan serat dari batang ganja baik untuk membuat kertas, kain, maupun untuk membuat tali.
Hal utama yang harus dipahami dari fenomena yang muncul dalam khotbah Jumat tersebut adalah kuatnya stigma bahwa ganja adalah jenis narkotika berbahaya yang sudah layak dan sepantasnya dimasukkan ke dalam narkotika golongan 1 (satu) di dalam undang-undang. Dengan demikian, jika undang-undang memang dirancang untuk menjaga dan menjamin keselamatan seluruh warga negara, sudah seharusnya, bahkan wajib hukumnya bagi perumus dan perancang undang-undang untuk bersikap jujur dan objektif terhadap kenyataan.
Permasalahan yang muncul atau lebih tepat dimunculkan seputar masalah ganja dari perspektif agama adalah karena ganja bisa menyebabkan mabuk dan berdampak merusak diri sendiri. Dalam hal ini, propaganda yang digunakan sama dengan argumen yang dipakai oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan kampanye anti-narkotika; bahwa ganja dapat menyebabkan kerusakan otak permanen.
Tampaknya harus ada upaya yang didasarkan pada akal sehat dan kejernihan nalar dalam menyikapi permasalahan ini. Ada baiknya kalau bahasan ini diawali dengan definisi "mabuk" dalam perspektif agama. Sehubungan dengan kuatnya logika mayoritas, maka mari kita coba mengulas pemahaman "mabuk" dalam perspektif agama Islam.
Dalam terminologi Islam, dikenal konsep haram dan halal. Segala sesuatu yang haram adalah dosa dan dilarang. Dalam Alquran, yang masuk kategori haram yaitu babi dan khamar. Khamar kemudian ditafsirkan sebagai segala sesuatu yang memabukkan. Namun pengertian atau arti dari "khamar" sebenarnya adalah minuman beralkohol. Jadi sebenarnya ganja tidak termasuk di dalamnya. Mabuk didefinisikan dengan sangat jelas, yaitu hilangnya akal sehat atau hilangnya kesadaran.
Berpijak dari definisi tersebut, kita bisa mengurai permasalahan ganja dengan seobjektif mungkin. Kenapa hal itu harus dilakukan Landasan moral kemanusiaannya jelas; hukuman yang dijatuhkan terhadap pengguna ganja sangat jauh dari rasa keadilan. Akibatnya sangat banyak tenaga produktif dari berbagai profesi dan latar belakang yang harus menyia-nyiakan waktunya dengan mendekam di dalam penjara.
Kenapa negara lebih memilih memenjarakan warga negaranya sendiri yang menggunakan ganja Apa sebenarnya dasar yang dipakai dalam menyusun undang-undang tentang narkotika itu
Dari berbagai kesaksian yang berhasil dihimpun, tidak ada satu pun yang menyatakan bahwa ganja yang dikonsumsi mengakibatkan hilangannya akal sehat dan hilangnya kesadaran. Dari kesaksian-kesaksian itu juga tidak ada yang menyatakan bahwa selama mereka mengonsumsi atau menggunakan ganja, kesehatan seseorang menjadi terganggu. Tidak ada yang mengatakan bahwa ganja merusak perilaku mereka.
Dengan mengonsumsi ganja, mereka tidak menjadi malas seperti yang selama ini lazim digembar-gemborkan. Justru sebaliknya, dengan mengonsumsi ganja, mereka menyatakan semakin bisa berkonsentrasi, semakin meningkat kreativitas, semakin meningkat daya tahan berpikir, maupun daya tahan fisiknya. Singkat kata, mereka menyatakan bahwa mereka justru menjadi semakin produktif.
Berdasarkan kesaksian-kesaksian itu, sangat sulit rasanya untuk menggolongkan ganja sebagai sesuatu yang dapat menghilangkan akal sehat dan kesadaran. Dalam pemahaman yang sama, ganja tidak bisa digolongkan sebagai sesuatu yang bisa merugikan atau merusak diri sendiri. Dan yang pasti, ganja tidak akan memunculkan perilaku yang dapat menimbulkan kerawanan sosial.
Berdustakah mereka yang bersaksi Sekadar mengada-adakah mereka Atau mereka sekadar mencari pembenaran diri