kulihat hujan memeluk kampungku.
anak-anak berlarian mendekap hujan.
dari sudut gang, diseka air di mukanya;
pandangannya kuyup, bibirnya kuyup, hatiku kuyup,
melihat hari depan tumpah dari mataku.
jaman bergolak ke desa-desa
bermukim di setiap lipstik remaja.
hatinya tergenang, matanya kabut,
selokan-selokan ngalirkan orok bayi;
seorang gadis mabuk birahi,
penampungan-penampungan doa,
seorang ibu seakan putus lengan meraih anaknya.
bau oplosan di ladang pengangguran
menotok dada dan telinga para pertapa.
dari rumah kudengar ricak
matahari hanyut dalam riak
oktober gugur dari mata para kekasih
yang tersesat di lambung malam.
hujan nepi pada sunyi
karat mimpi;
gadis-gadis bisu dikurung kelambu kebebasan
o, apakah kebebasan
Ini ibu Budi. Siapa bapak Budi
lalu mereka menghujani kemaluannya dengan airmata.