Sandiwara dan Perang - 3
Selain sebagai hiburan, sandiwara modern juga dapat dijadikan alat politik. Hal ini secara terang-terangan terjadi pada masa pendudukan Jepang. Pemerintah pendudukan Jepang bercita-cita menyatukan seluruh Asia dalam satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Jepang. Selain itu, mereka menginginkan agar masyarakat Asia mendukung peperangan yang sedang dijalankan melawan tentara Sekutu. Eksploitasi hasil bumi serta mobilisasi manusia adalah wujud dari cita-cita Jepang tersebut. Dalam memperlancar pelaksanaan kebijakan mereka tentang kemakmuran bersama Asia Timur Raya di bawah pimpinan Jepang, pemerintahan militer Jepang memberikan perhatian besar untuk mengambil hati rakyat dan bagaimana mengindoktrinasi mereka . Salah satu alat yang dimanfaatkan Jepang guna menarik simpati rakyat Jakarta adalah melalui media sandiwara . Di sini, sandiwara mengalami perubahan fungsi, dari sarana hiburan pada masa kolonial, berubah menjadi sarana propaganda yang efektif untuk mengindoktrinasi masyarakat Jakarta.

Kajian tentang peranan dan aktivitas sandiwara pada masa pendudukan Jepang di Jakarta cukup menarik untuk diangkat. Tidak banyak peneliti sejarah yang memberi perhatian khusus pada masalah kegiatan sandiwara pada masa Jepang ini. Padahal, sandiwara modern pada masa pendudukan Jepang, di setiap geraknya berperan besar sebagai kendaraan untuk memengaruhi pikiran masyarakat Jakarta dalam mendukung peperangan.

Fokus spasial penelitian ini adalah wilayah Jakarta secara luas dan mengambil tempo dari 1942 hingga 1945. Jakarta dipilih sebagai batasan spasial kajian ini karena kota ini merupakan daerah yang subur bagi pertumbuhan serta perkembangan sandiwara. Jakarta adalah daerah sandiwara pertama, di atas Surabaya dan Medan .

Selain itu, pertumbuhan perkumpulan-perkumpulan sandiwara, berbagai siaran sandiwara radio, penulisan naskah sandiwara di Jakarta, serta dinamika mereka yang dimanfaatkan untuk propaganda perang pada masa ini menarik untuk dikaji lebih mendalam. Tahun 1942 dipilih karena tahun tersebut merupakan masa awal Jepang menduduki wilayah Indonesia, khususnya Jakarta. Kemudian tahun 1945 dipilih sebagai tahun berakhirnya pembahasan karena tahun tersebut menunjukkan berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia, termasuk Jakarta.

Penulis menggunakan studi kepustakaan untuk menelusuri dan mencari informasi mengenai permasalahan kajian ini. Studi pustaka dilakukan pada beberapa perpustakaan, seperti Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan STSI Bandung, Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UI, Perpustakaan Usmar Ismail Sinematek Indonesia, dan Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin. Kesulitan yang dihadapi dalam membahas peristiwa sejarah pada masa pendudukan Jepang adalah sulitnya mencari sumber-sumber yang terbilang baik. Kebanyakan sumber masa Jepang (sumber sezaman) telah rusak dan sangat terbatas.

Dalam menelusuri informasi mengenai fokus kajian ini, penulis dibantu beberapa buku yang memuat masalah sejarah pendudukan Jepang serta buku-buku tentang sejarah kesenian dan hiburan, khususnya masalah sandiwara modern. Buku yang ditulis oleh Aiko Kurasawa, berjudul Mobilisasi dan Kontrol; Studi Tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa (1942-1945) menjadi modal awal penulis. Buku ini menjelaskan tentang bagaimana pemerintahan Jepang melakukan kontrol terhadap rakyat Indonesia di Jawa. Sandiwara (Aiko mengistilahkannya drama) merupakan pembahasan karya ini pada salah satu bagian dalam bab ke-V. Selanjutnya, Aiko menjelaskan secara singkat tentang propaganda yang dilancarkan melalui sandiwara di Jawa pada masa pendudukan Jepang. Sumber acuan pertama ini cukup membantu untuk menarik benang merah dari usaha pemerintah pendudukan Jepang dalam mengontrol kegiatan sandiwara. Selain itu, sumber ini sangat berguna untuk penelusuran lebih jauh mengenai sumbersumber primer yang dibutuhkan.

Artikel yang ditulis oleh Kamajaya dalam Majalah Budaya Jaya, nomor 122, tahun ke 11, bulan Juli 1978, dengan judul Sandiwara di Zaman Jepang, yang merupakan tulisan seorang seniman sandiwara yang hidup pada masa pendudukan Jepang, turut membantu. Berdasarkan pengalaman dan daya ingatnya, Kamajaya mencoba menceritakan kegiatan sandiwara pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tulisan dari Kamajaya sangat membantu penulis untuk melihat keadaan sandiwara dan kebijakan pemerintah pendudukan Jepang di wilayah Jawa, yang berpusat di Jakarta, menurut pandangan pelaku sejarahnya. Imajinasi penulis serasa dituntun oleh tulisan Kamajaya ini. Artikel ini sebagian besar merupakan hasil pengalaman dan ingatan si penulis. Karya ini memiliki kelemahan dalam hal fakta sejarah karena kurang ditunjang oleh data sezaman. Penelitian kali ini dimaksudkan untuk menutupi kelemahan tersebut.

Sebuah buku yang berjudul Film Indonesia Bagian I (1900-1950), karya Taufik Abdullah, S.M. Ardan, dan Misbach Yusa Biran, menjadi modal penulis berikutnya. Buku ini pada salah satu bagiannya membahas keadaan sandiwara di Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Meskipun tidak terlalu implisit membahas persoalan sandiwara pada masa pendudukan Jepang, tetapi buku ini menjadi modal utama selanjutnya untuk penelusuran lebih jauh atas sumbersumber yang berkaitan dengan permasalahan seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang, terutama kegiatan sandiwara di Jakarta. Fokus buku ini adalah tentang film di Indonesia, mengenai sandiwara pada masa pendudukan Jepang hanya digambarkan secara umum saja.

Selanjutnya penulis menggunakan buku yang ditulis oleh Jakob Sumardjo, berjudul Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia, sebagai bahan acuan. Buku ini cukup memberikan gambaran umum tentang keadaan sandiwara panggung dan perkembangan penulisan naskah sandiwara pada masa Jepang, namun kajian buku ini terlalu melebar dan berkutat pada permasalahan yang umum sekali. Penelitian kali ini bermaksud untuk melihat propaganda Jepang yang direpresentasikan melalui media sandiwara.

Dari beberapa buku dan karya tulis tersebut, penulis kemudian memburu sumber-sumber primer. Sumber primer yang terbilang sangat berguna adalah surat kabar Asia Raya. Koran harian yang terbit selama masa pendudukan Jepang ini berguna untuk menelusuri jejak-jejak sandiwara modern di Jakarta melalui iklan-iklan pertunjukan yang dipublikasikan. Di samping itu, artikel-artikel pendek yang dimuat dalam koran ini bermanfaat untuk membayangkan apa yang terjadi di masa itu. Majalah-majalah yang terbit pada masa pendudukan, seperti Keboedajaan Timoer, Djawa Baroe, Pandji Poestaka, dan Kan Po juga memuat laporan-laporan pertunjukan, lakon-lakon, dan peristiwa politik yang terjadi. Di samping itu, penulis menemukan dua buku yang penting pada masa itu, yaitu buku Fadjar Masa karya Hinatu Eitaroo, seorang propagandis di bidang sandiwara, serta Panggoeng Giat Gembira yang terdiri dari tiga jilid ditulis oleh beberapa pengarang lakon masa Jepang. Buku ini memuat lakon-lakon propaganda politik dan laporan kegiatan sandiwara pada masa ini.

Menurut Tambajong , kesenian adalah karya kreatif yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, hasil perwujudan pikiran dan perasaan dari kemampuan seseorang terhadap segala hal yang dilihat, dirasa, dan dijiwai. Kesenian sendiri terdiri atas empat kelompok, yaitu seni rupa, seni pertunjukan, seni sastra, dan seni media rekam . Seni pertunjukan terbagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu seni pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan modern. Sandiwara dalam penelitian ini termasuk ke dalam kelompok seni pertunjukan modern. Sandiwara modern mempunyai beberapa ciri khas, yaitu pertunjukan dilakukan di tempat khusus (sebuah gedung); penonton harus membayar; unsur cerita erat hubungannya dengan peristiwa sezaman; bahasa yang dipergunakan adalah Bahasa Melayu Rendah, Bahasa Melayu Tinggi atau Bahasa

Indonesia; ada pegangan cerita tertulis atau bahkan naskah sandiwara yang tertulis . Selain itu, sandiwara modern adalah produk masyarakat kota.

Sandiwara menurut Ki Hadjar Dewantara adalah pengajaran yang dilakukan dengan perlambang. Menurutnya, istilah sandiwara diciptakan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunegara VII. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa, yaitu sandi yang artinya rahasia, dan wara yang artinya pengajaran . Sandiwara tidak hanya mengenai kegiatan di atas panggung, tetapi juga bersentuhan dengan karya sastra (naskah) dan kegiatannya di radio. Hasanuddin WS menyebutkan bahwa sandiwara adalah karya seni dua dimensi, yaitu sebuah karya seni yang dapat dipandang sebagai karya sastra (naskah atau teks) dan seni pertunjukan. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan .

Pada saat Jepang menduduki hampir seluruh Asia, seni pertunjukan dimanfaatkan oleh Pemerintah Militer Jepang untuk membantu menerangkan tujuan-tujuan dari terbentuknya Lingkungan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya. Pada masa pendudukan Jepang, bukan hanya sandiwara yang mempergunakan media panggung saja yang dimanfaatkan sebagai propaganda, tetapi juga sandiwara yang mempergunakan media radio dan naskah-naskahnya. Sandiwara radio adalah sandiwara yang disiarkan melalui media radio, sedangkan naskah sandiwara adalah teks suatu karya sandiwara, baik yang ditulis tangan, diketik, maupun dicetak, yang dipergunakan oleh para aktor dan aktris untuk mempelajari peran mereka .

Sebelum masa pendudukan Jepang, sandiwara dikenal publik dengan istilah stambul, bangsawan, opera, dan tonil. Stambul adalah hiburan atau pertunjukan sandiwara dengan mempergunakan Bahasa Melayu serta lagu-lagu Melayu, baik mars, waltz, dan polka maupun lagu-lagu dansa populer lainnya dengan latar belakang kisah 1001 Malam. Bangsawan, yaitu sandiwara rakyat populer di Sumatra Timur sebelum perang, umumnya memainkan cerita-cerita kerajaan dan para pemainnya mengucapkan dialog dengan bernyanyi. Opera adalah sejenis pementasan sandiwara yang pengucapan dialognya dilakukan dengan bernyanyi dan diiringi musik . Tonil secara harfiah berarti pertunjukan, dari kata resapan Belanda (tooneel) .

Selanjutnya penulis menggunakan istilah sandiwara untuk menyebut kesenian ini, dengan alasan istilah sandiwara adalah istilah yang digunakan dan populer di kalangan masyarakat pada masa pendudukan Jepang. Pemerintah militer Jepang sengaja menghilangkan istilah yang berbau Barat dan memakai istilah sandiwara yang berasal atau asli dari Bahasa Indonesia (Jawa). Terdapat tiga unsur yang saling menentukan dan berhubungan dalam kegiatan sandiwara pada masa pendudukan Jepang, yaitu kebijakan politik pemerintah Jepang, keadaan perang pada masa itu, dan aktivitas seniman sandiwara. Pemerintah Jepang menyadari bahwa seni ini memiliki potensi yang cukup besar sebagai media komunikasi. Oleh sebab itu, mereka menyediakan dana demi lancarnya rencana propaganda ini dan pelaksanaannya diawasi secara ketat melalui penyensoran .

Setiap kegiatan seni memiliki fungsi. Fungsi dari kesenian menurut Edi Sedyawati, yaitu sebagai penyalur kekuatan adi-kodrati; penyalur bakti, baik kepada Tuhan maupun pemimpin; melestarikan warisan nenek moyang; sarana atau komponen pendidikan; kegiatan bersenang dan berhibur; dan sarana pencaharian hidup . Sandiwara yang akan dibahas dalam kajian ini menyangkut dua fungsi, yaitu penyalur bakti kepada pemimpin dan kegiatan bersenang dan berhibur. Pada masa awal kehadiran sandiwara modern di Indonesia (masa kolonial), fungsi yang paling menonjol adalah bersenang dan berhibur. Artinya, sandiwara tidak diarahkan oleh penguasa sebagai kendaraan untuk menunjang ideologi serta kehendak politiknya. Pada masa pendudukan Jepang, fungsi seni sandiwara ini adalah sebagai penyalur bakti kepada pemimpin. Artinya, sandiwara diarahkan untuk mendukung peperangan serta cita-cita politik Jepang, tanpa mengabaikan fungsi yang ditujukan untuk bersenang dan berhibur. Fungsi penyalur bakti kepada pemimpin ini berhubungan dengan propaganda. Menurut Qualter, propaganda adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja oleh beberapa pihak atau kelompokkelompok lain dengan menggunakan media komunikasi, dengan tujuan bahwa pada setiap situasi yang tersedia, reaksi dari mereka yang dipengaruhi akan seperti yang diinginkan oleh si propagandis . Dalam usaha mengindoktrinasi masyarakat Jakarta melalui media sandiwara, pemerintah sengaja menciptakan tema-tema propaganda. Tema-tema ini selalu berubah pada setiap tahun dalam masa pendudukan.

Dalam pembahasan awal buku ini, penulis ingin mengetahui keadaan sandiwara modern di Jakarta pada masa kolonial. Ini berkaitan dengan awal mula sandiwara modern Indonesia. Kemudian penulis ingin mengetahui lebih jauh tentang aktivitas sandiwara modern pada masa pendudukan Jepang di Jakarta, wujud propaganda yang dilancarkan melalui media sandiwara tersebut, serta pengaruhnya bagi masyarakat Jakarta.

Sudah menjadi suatu keharusan bagi sebuah karya ilmiah bahwa keteraturan, ketelitian, serta sistematika dalam penyusunan merupakan ukuran apakah karya ilmiah tersebut berkualitas atau tidak. Untuk memenuhi ukuran tadi, karya ini disusun dalam organisasi penulisan terlebih dahulu agar teratur dan sesuai dengan hasil yang diharapkan. Organisasi penulisan ini tersusun menjadi bab-bab yang saling berkaitan satu sama lain. Bab pertama berisi fokus masalah, historiografi, dan kerangka pemikiran konseptual dalam bentuk uraian. Bab kedua membicarakan keadaan sandiwara sebelum pendudukan Jepang di Jakarta. Pada tahapan ini akan dibahas masa awal kegiatan sandiwara modern di Jakarta, serta perkumpulan-perkumpulan mana saja yang berdiri dan mengadakan pementasan di Jakarta. Selain itu akan dibicarakan juga perkembangan film Indonesia yang banyak berpengaruh terhadap eksistensi sandiwara di Jakarta. Sebelum masa pendudukan Jepang, kegiatan sandiwara mengalami pasang surut karena pada masa ini film menjadi saingan utama sandiwara, padahal tahun 1925-1937 kegiatan pertunjukan sandiwara mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Tahun 1940dimulai dengan sukses film Terang Boelan (1937)film Indonesia mengalami perkembangan awal yang pesat. Pada saat itu orang-orang dalam perkumpulan sandiwara banyak yang berpindah profesi ke dunia film. Hal ini menyebabkan kegiatan dalam sandiwara mengalami kemunduran hingga akhir masa kolonial. Bab ini juga diperlukan untuk melihat proses pembaharuan yang dilakukan dalam sandiwara modern Indonesia, untuk kemudian memandang keadaan sandiwara modern pada masa pendudukan Jepang. Bab ketiga mengetengahkan eksistensi dan peranan sandiwara sebagai alat propaganda pada masa pendudukan Jepang di Jakarta. Sandiwara mengalami perubahan dalam hal fungsinya. Sandiwara bukan hanya jadi sarana hiburan, tetapi juga dijadikan wadah propaganda oleh pemerintah pendudukan Jepang untuk mendukung peperangan yang sedang dijalaninya. Pada masa ini kegiatan sandiwara kembali mengalami kemajuan yang disebabkan oleh beberapa faktor pendukung. Dalam bab ini juga dilihat perkumpulan-perkumpulan mana saja yang berdiri atau mengadakan pementasannya di Jakarta, kegiatan pertunjukan mereka, sandiwara radio yang disiarkan oleh radio Jakarta, penulisan naskah sandiwara, serta hubungannya dengan propaganda pemerintah. Bab keempat merupakan kesimpulan dari hasil penelitian sandiwara pada masa pendudukan Jepang di Jakarta.