Topan dan badai menggemuruh.
Mengabadikan duka ribuan tahun
Yang luput dari ingatan.
Sejarah yang selalu ingin dipendam,
Meski kehidupan tak hanya disusun dari bahagia.
Kusinggahi topan dan gemuruh badaimu
Agar dentumnya juga menghantam hatiku.
Bukankah kekuatan berawal dari nikmat berbagi
Kubiarkan topan dan badai itu tetap menggemuruh,
Tapi matamu memancarkan bening lautan teduh.
Sementara di hatiku,
Sebongkah cinta sedang bertahan
Di antara gemuruh yang kian gaduh!
(Naimata, Oktober 2009)