tahun 2009 atau 2010, bahkan musik dan ilustrasinya juga telah jauh lebih dulu rampung pada tahun-tahun tersebut. Beberapa alasan sepele membuat buku ini tertunda. Alasan-alasan yang selalu mengganggu saya. Pada intinya, saya sedang ragu dengan beberapa puisi yang saya tulis.
Pernah terbersit dalam pikiran saya untuk memusnahkan file-file tulisan saya yang berupa puisi, lalu saya memulai menulis lagi dari awal. Ada banyak sekali puisi di folder komputer saya yang hanya selesai dibuat judulnya, hanya berupa fragmen yang tidak utuh, puisi-puisi yang judulnya tidak ada, atau puisi-puisi yang hanya tercecer dengan onggokan kata-kata yang sama sekali tak utuh. Begitulah. Saya bukan orang yang rajin menulis, terutama menulis puisi. Beberapa imaji dan tangkapan ide di jalan kebanyakan hanya saya catat sebagai kilatankilatan kata yang saya simpan di catatan, di note dalam handphone atau di lembaran-lembaran file notepad di dalam komputer. Saya tidak rajin, saya malas, dan saya selalu gagal menjadi seorang penyair yang mengabdikan diri penuh pada puisi, seperti yang dilakukan kawankawan penyair lainnya.
Beberapa teman saya lihat sering memublikaskan tulisannya, dalam seminggu selalu ada yang menulis di koran, selalu ada yang menulis di catatan facebook atau mengunggah di blog-nya. Saya ingin seperti mereka, tapi lagi-lagi saya merasa bukan orang yang rajin.
Saya sempat ingin membatalkan penerbitan buku ini. Dengan alasan keraguan pada puisi-puisi saya. Namun demi mengingat beberapa orang yang sudah banyak membantu, niat itu saya urungkan. Octora Guna Nugraha dengan sepenuh hati telah membuat ilustrasi dari tafsirannya tentang puisi di buku ini. Ari KPIN bahkan telah melibatkan banyak sekali orang untuk menggarap musik puisi ini. Ia mengajak anak-anak di sanggarnya untuk membuat lagu dan mengaransemen puisi-puisi yang ada. Alangkah jahatnya saya jika membatalkan kerja mereka, kerja-kerja yang begitu intens, tulus, dan bergairah di bidangnya masing-masing. Akhirnya saya menguatkan diri. Saya membuka kembali folder-folder yang dulu direncanakan, mencetaknya di lembaran-lembaran HVS lalu mengelompokkan mana yang layak dan mana yang tidak layak. Standar saya hanyalah mana puisi saya yang benar-benar selesai dan mana yang belum.
Alhasil, inilah puisi-puisi yang saya anggap setidaknya selesai saya tulis. Beberapa puisi yang pernah saya tayangkan di blog, facebook, twitter atau di beberapa media cetak ini telah saya sunting kembali, melalui apa yang pantas dan tidak pantas saya tulis, apa yang harus dan tak harus saya dokumentasikan. Inilah hasilnya. Puisi-puisi yang tak jadi saya musnahkan dan semoga menjadi tonggak baru setidaknya bagi diri saya secara pribadi.
Ke depan, saya ingin terus menulis puisi. Menulis lagi, sebab di luar keasyikan saya menulis novel, cerpen, esai atau catatan pribadi di blog, puisi selalu menjadi tulisan yang paling spesial bagi saya. Puisi selalu memanggil-manggil, meminta saya duduk manis di depan komputer, mengetik dengan lebih rajin. Atau meminta saya membeli pensil dan bolpoin untuk menulis di buku harian.
Akan banyak sekali lembar kertas yang habis jika saya menuliskan semua orang yang memberi saya insiprasi dalam menulis dan
menerbitkan buku ini. Maka sejak awal, sebelum saya mengucapkan terima kasih, saya meminta maaf untuk beberapa nama yang mungkin luput saya tulis. Percayalah, namamu saya tulis indah di dalam hati saya. :D
Terima kasih tak terhingga untuk Octora Guna Nugraha yang langsung merespons baik dan serius untuk ajakan saya berkolaborasi menerbitkan buku dan ilustrasi. Terima kasih dan jabat tangan erat untuk Ari KPIN sekeluarga dan sanggarnya yang telah dengan tibatiba hadir, menyanyikan puisi saya, dan lalu menerima dengan hangat ajakan kerja sama mencipta buku ini. Maaf sebesar-besarnya untuk segala keterlambatan dan kemalasan saya.
Untuk Kang Ajat Sudrajat yang memberi saya tumpangan dan support yang luar biasa bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Untuk sahabat-sahabat di Indie Book Corner, editor-editor tercinta dan krukru yang selalu memaksa saya untuk segera menyelesaikan buku ini.
Untuk Anindra Saraswati yang selalu menjadi pembaca pertama dan koreksi bahasa untuk semua karya saya, juga untuk dukungan yang tiada hentinya. Untuk Ika, Anne, Dafi, Imam, Nina, Ramli yang ramai di studio IBC. Untuk Renggo, sahabat saya sejak awal di Jogja yang membantu solusi publikasi dan selalu memberi dukungan serta gagasan baru bagi saya dan Indie Book Corner. Untuk Uki yang membuat cover ini menjadi sangat manis dan membuat saya merasa jatuh cinta pada buku saya sendiri. Untuk Bagustian Iskandar dan teman-temannya, yang sudah banyak membantu. Untuk Mbak Ade Usman yang juga telah banyak memberi masukan. Untuk Nuran Wibisono yang siap menjadi pembicara pada launching buku ini. Tak lupa untuk Saut Situmorang dan Katrin Bandel yang telah menjadi teman diskusi yang baik dengan limpahan pengetahuan yang membuat saya banyak belajar.
Terima kasih untuk orang-orang yang banyak memberi inspirasi, teman-teman diksusi yang asyik, teman-teman nongkrong dan diskusi hingga larut, teman-teman di Front Perjuang Pemuda Indonesia, di Wartapasar, KOMIK UPN, Indonesia Buku, Tikungan Indonesia, Media
Sastra, serta teman-teman komunitas di Lombok; Akar Pohon, Rumah Sungai, Rabu Langit, Tinta Putih. Untuk semua sumber ide, gagasan. Untuk segala Rahasia Semesta yang tak bisa diungkapkan. Jadilah selalu rahasia! Semua yang tak bisa disebutkan satu per satu. Selamat membaca, dan mengapresiasi!
Irwan Bajang